
Virgoun yang mendapatkan foto gadis dari Aldo pun merasa tak asing dengan wajah itu.
dia pun mulai mencocokan foto itu dengan data yang dia miliki, tapi saat sudah melihatnya dia diam.
tubuhnya bereaksi dengan tak terduga, dia pun berlari keluar dari markas besar itu.
bahkan dia menancap gas motornya dengan secepat mungkin, dia bahkan seperti di kejar oleh waktu.
dia tak ingin kehilangan gadis itu lagi, cukup dia merasa bersalah pada keluarganya.
terlebih kakak pertamanya sudah jadi korban kegilaan dari Salsha dulu, hingga harus meninggal dunia.
dia bahkan sampai memilih pergi karena tak tahan dengan kesedihan yang di alami orang tuanya.
sesampainya di rumah sakit, Hans meminta dokter untuk melakukan tes DNA padanya dan gadis itu.
Aldo yang melihat Virgoun begitu cemas dan sedih pun menghampiri pria itu.
"ada apa Virgoun?" tanya Aldo.
"aku harap dia adikku yang hilang dua belas tahun lalu," kata Virgoun mengejutkan Aldo.
"apa, kamu gila bukannya kalian sudah menemukan jasadnya dulu?" kaget Aldo.
"itu bukan adikku, karena aku sudah melakukan tes DNA sebelum dia di kremasi, dan ternyata dia bukan Qia, terlebih wajahnya juga cocok dengan Qia kecil," kata Virgoun.
"baiklah, kita tunggu hasil tes DNA saja, tapi bagaimana bisa gadis lusuh ini bisa berakhir disini," kata Aldo yang melihat gadis itu masih terbaring di ranjang.
mereka semua masih bingung, karena dulu gadis itu hilang bertepatan dengan Salsha yang juga hilang saat kemah.
Darwin pun menelpon Aldo, dan kaget mendengar apa yang terjadi, bahkan Virgoun sudah menghubungi kedua orang tuanya untuk segera pulang.
sudah sekian lama, keluarganya tinggal di luar negeri setelah kematian Qia yang menjadi duka terbesar dalam hidup Tasya.
sedang Hans pun menerima semua perintah Joshua untuk memegang perusahaan di negara Jepang untuk mencari suasana baru.
tapi Virgoun memilih kembali dan menjadi tangan kanan Darwin dan mengabdikan dirinya pada keluarga itu.
"baiklah, besok aku akan kesana bersama papa dan mama, kamu kawal semua proses yang di lakukan oleh Virgoun, dan ambil sampel lain dan bawa ke beberapa rumah sakit untuk membuktikan jika semua benar tanpa kecurangan," perintah Darwin.
"baik bos," jawab Aldo.
mereka tak ingin luka Virgoun kembali setelah pria itu mulai bisa bangkit dan menjalani kehidupan tanpa masalah.
kini malah muncul hal yang paling di takutkan, Darwin pun akhirnya merebahkan dirinya di samping istrinya yang sudah terlelap.
sinar mentari pun muncul, pagi ini adalah hari libur, dan ponsel Darwin sudah berdering dari tadi.
"ada apa Aldo, kamu tak tau jam berapa ini, kenapa terus menelpon ku?"
"maaf tuan, semua keluarga tuan Hans datang dari Jepang, dan hasil tes juga sudah keluar dan semua hasil menunjukkan gadis itu adik kandung dari Virgoun," kata Aldo.
"apa!!" teriak Darwin kaget dan langsung terbangun.
Bunga yang juga kaget pun bangun, "kita kerumah sakit sekarang sayang," ajak Darwin panik.
bunga pun menahan suaminya yang ingin langsung pergi, "cuci muka dulu, dan gosok gigi,"
Darwin pun mengangguk dan bergegas sambil mengendong istrinya.
keduanya bahkan memakai piyama dengan motif yang sama saat ingin pergi.
__ADS_1
ternyata Adelia dan Joshua sudah berangkat terlebih dahulu, bung masih nampak malas dan lelah.
Darwin pun mengusap kepala istrinya itu, dan kemudian saat mereka sampai Bunga pun sudah sadar sepenuhnya.
mereka langsung berkumpul bersama keluarga yang lain, terbyata Adel dan Joshua juga memakai piyama.
"kalian ingin pesta piyama?" tanya Aldo.
"tutup mulutmu, bagaimana semu bis terjadi," tanya Darwin pada asistennya itu.
"aku juga tak terlalu jelas, tapi anda bisa bertanya pada Virgoun yang masih membahas semuanya dengan dokter," kata Aldo.
"baiklah, om Hans dan Aunty Tasya ada di dalam?" tanya Darwin.
"iya bos,"
Adelia dan Bunga saling menguatkan, tapi tak terduga, tiba-tiba perut Adelia begitu sakit.
keringat dingin keluar karena bunga menahan rasa sakitnya, "kamu kenapa Bunga?"
"tidak tau ma, tiba-tiba perutku terasa begitu sakit dan kaku," lirih bunga.
"Darwin!" teriak Adelia mendengr jawaban bunga.
Bunga sudah meremas tangan Adelia dengan kuat, Darwin pun langsung mengendong istrinya ke bagian dokter kandungan.
tapi mereka malah memasukkan bunga ke ICU, ternyata ada komplikasi pda kandungannya.
terlebih beberapa kali wanita itu mengalami flek dan itu sangat menghawatirkan.
Bunga sudah mendapatkan perawatan intensif, Darwin terduduk lemas, dia tak mengira jika istrinya menyembunyikan semuanya darinya.
"Rivan bagaimana keadaan Bunga dan anaknya?" panik Joshua.
"apa?" kata Adelia tak percaya.
"dan kondisinya memang belum terlalu parah, tapi jika di biarkan itu bisa membahayakan ibu dan janin," jawab Rivan.
"aku butuh second opini, aku akan meminta dokter lain memeriksanya," gumam Darwin
"meski dokter lain yang memeriksa, kemungkinan hasilnya akan tetap sama," kata Rivan.
setidaknya akan banyak cara mengatasi keadaan ini!" bentak Darwin yang marah.
"aku hanya tak ingin kehilangan mereka ..." tangis Darwin.
Adelia menenangkan putranya, bunga benar-benar mengalami semua kejadian buruk dalam hidupnya.
Darwin tak bisa membayangkan bagaimana jika bunga sampai tau jika bayi mereka tak selamat.
"tolong lakukan apapun Rivan untuk menyelamatkan cucu pertama kami, jika perlu aku bisa membeli semua alat kesehatan untuknya," kata Joshua.
"baiklah, kalau begitu tolong telpon dokter kandungan sahabatku, dia bisa membantu kita, namanya dokter Nev," kata Rivan.
"baiklah aku akan menghubungi dokter itu," jawab Joshua.
Darwin benar-benar mencari second opini dari dokter lain, tapi hasilnya tetap sama.
Adelia pun meninggalkan Darwin bersama bunga, bagaimana pun dia datang untuk menemui Tasya.
"bagaimana Tasya, Hans? apa dia benar-benar putri kalian?" tanya Bunga.
__ADS_1
"iya, dan ternyata mayat yang kami kremasi itu bukan putri kami, dan selama ini apa yang terjadi padanya hingga dia mengalami hal seburuk ini," gumam Tasya memeluk Adelia.
"maafkan aku, seandainya aku tak membawa Sasha, dia tak akan mencelakai Virgoun dan semua saudaranya, bahkan kalian tak akan kehilangan Qia," kata Adelia menyesal.
"itu bukan salahmu, kamu hanya ingin menyelamatkan seorang anak, tapi anak itu saja yang keturunan iblis, dan aku juga sudah tau yang terjadi dengan keluarga mu dan mama Vina," kata Hans.
"semuanya hancur berantakan Hans, mama membenci Bunga istri Darwin, dan semua keluarga Gusman membenci mama karena buta akan cintanya pada Sasha dan menyalahkan kami untuk hilangnya Sasha," jawab Adelia.
"tapi bukankan tadi Aldo bilang jika kalian semua disini, sekarang Darwin dan istrinya kemana, aku belum sempat mengucapkan selamat," kata Tasya mencari sosok itu.
Adelia terisak lirih, "kondisi istri Darwin buruk, dia mengalami pre-eklampsia, terlebih kondisinya begitu lemah,"
Tasya pun tak mengira hal itu bisa terjadi pada keluarga Adelia, beruntung Joshua bisa menelpon dokter itu.
dan akan datang nanti malam dengan pesawat pribadi, terlebih dokter itu juga akan membuka rumah sakit di kota kelahirannya ini.
sedang Bunga baru sadar dan melihat suaminya yang nampak sedih, "kenapa?"
"kamu menyembunyikan semuanya dariku, kenapa kamu memilih bekerja dan tak istirahat, kamu ingin meninggalkan aku," kata Darwin tak bisa menahan dirinya lagi.
bunga tersenyum, "dokter lama ku bilang jika semuanya akan baik-baik saja, aku hanya perlu menjaga mood dan juga stres, terlebih aku bisa menjalani semua ini saat bersama dengan mu di sampingku," kata Bunga.
"jangan bohong, om Rivan bilang kondisimu buruk,"
"iya karena aku lelah dan stres, aku tak menyangka akan separah ini menjadi istri seorang Darwin," senyum wanita itu mengembang.
Darwin malah makin terisak dan memeluk bunga, dan akhirnya keduanya pun saling menangis sambil berpelukan.
David Graham dan Mei yang mendengar kondisi bunga pun buru-buru mendatangi putri angkat mereka itu.
Mei dan Adelia saling berpelukan menguatkan, begitupun Joshua dan David.
Aldo menemani Virgoun yang mendampingi gadis yang ternyata saudaranya itu.
tak lama gadis itu tersadar dan ketakutan, terlebih melihat dua pria dengan badan besar di sekelilingnya.
"kalian siapa? pergi!" teriak gadis itu.
mendengar teriakan dari kamar Qia, Tasya bergegas menghampiri gadis itu.
Tasya langsung masuk dan memeluk gadis itu dengan erat, "tak apa-apa sayang, ini mama ..." tangis Tasya tak terbendung lagi.
putri yang hilang bertahun-tahun kini ada di pelukannya, dia beruntung bisa menemukan putri tercintanya.
sedang dia sudah mengikhlaskan putra pertamanya yang meninggal karena kecelakaan bersama dulu.
gadis itu mulai tenang di pelukan Tasya, "Qia ingat mama ...." tangis Tasya.
"mama jahat, kalian membuangku, kalian tidak mencariku, kalian bahkan tak tau apa yang harus aku alami selama ini," dorong Qia sekuat tenaga.
"tidak seperti itu Qia, kami mengira kamu sudah meninggal karena kami menemukan jasad di tempat kecelakaan," kata Tasya yang tak bisa menahan dirinya.
"Qia, kamu bisa marah pada papa, tapi jangan mama yang kamu salahkan, jika papa yang bisa melarang kalian dulu, mungkin kita tak mungkin terpisah dan Kami tak akan kehilangan kamu dan Harvey untuk selamanya," kata Hans dengan suara serak.
"tidak, kak Harvey tak mungkin meninggal dunia, dia yang mendorong ku keluar mobil saat gadis gila itu membunuh supir yang membawa kami," kata Qia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
tiba-tiba Qia berteriak dengan sangat keras karena rasa sakit yang dia rasakan.
Virgoun memanggil dokter untuk memeriksa kondisi adiknya itu, dan dokter pun terpaksa memberikan obat penenang untuk Qia.
"papa ... sebenarnya apa yang terjadi pada Qia dan Harvey, apa maksudnya gadis itu membunuh supir waktu itu," bingung Tasya.
__ADS_1
"maafkan aku papa ... mama ... sebenarnya aku juga sudah ingat semua ini dari lama, tapi aku tak bisa menceritakan hal mengerikan ini pada kalian," kata Virgoun berlutut di depan kedua orang tuannya.