Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
S2_anugerah terindah


__ADS_3

Darwin sudah berangkat ke Austria untuk mengambil alih perusahaan dari sang kakek.


Hafsah juga fokus untuk membesarkan putranya serta mengawasi usaha miliknya.


sedang di tempat lain Samuel dan Bunga fokus untuk mengejar S2 mereka.


Bunga sebenarnya bukan gadis dengan IQ jenius seperti halnya Darwin maupun Samuel.


tapi dia juga tak mau lama-lama menunda lulus dari perguruan tinggi, pasalnya dia mendapatkan beasiswa dari perusahaan milik keluarga Graham.


pagi ini keduanya sedang lari pagi, saat Samuel menyadari sesuatu. bunga yang melihat gelagat Samuel pun bingung.


"ada apa Sam? kenapa kamu terlihat seperti orang yang aneh pagi ini?"


"aku merasa kita sedang di awasi, tapi jangan menoleh saat aku mengatakannya, kamu hanya perlu tau saja," kata Samuel melirik seorang pria berjaket biru.


"kakak Vin," kata Bunga mengenal pria itu.


"kau mengenalnya?"


"dia itu orang kepercayaan dari kak Darwin, aku beberapa kali melihatnya dulu," jawab Bunga.


"owh ... ternyata pangeran mu ya," kata Samuel meledek sahabatnya itu.


"hentikan Sam, aku temui dulu ya, kamu lanjutkan olahraga mu," pamit Bunga.


Samuel tak mengira jika sudah sebulan pun, orang Darwin masih mengikuti keduanya.


Bunga pun menyapa pria itu, dan dia pun kaget melihat Bunga menghampiri dirinya.


"kakak Vin, kenapa disini, bukannya menolong kak Darwin di perusahaan," todong Bunga.


"halo nona, maaf bukan aku sengaja, tapi ini tugas yang sangat penting," jawab Vin tersenyum.


"memang dia tidak percaya dia padaku, hingga dia mengirimkan orang untuk mengikuti ku? tapi bagaimana kalian tau aku disini?"


bunga pun sedih mengetahui jika Darwin tak percaya padanya, sedang Vin pun berusaha menjelaskan.


"kami melacak di semua negara, dan untuk kepercayaan bukan seperti itu nona, bukan tuan tak percaya padamu. dia hanya tak ingin masalah terjadi pula padamu," terang Vin.


"apa dia sudah tau siapa yang membunuh orang tua angkat ku?" tanya Bunga pada Vin.


"iya nona, dan dia adalah-"

__ADS_1


"ayo kita pergi Bunga, atau kita bisa telat di jam pelajaran guru killer itu," ajak Samuel.


"tunggu sebentar Sam, om Vin akan mengatakan apa yang dia tau tentang siapa pelaku pembunuhan waktu itu," kata Bunga menolak.


"untuk apa kamu mengetahuinya, kau pun tak akan bisa melakukan apapun karena dia bukan orang sembarangan," kata Samuel jelas.


"tapi setidaknya aku tau siapa orang kejam itu, aku hanya ingin tau kenapa dia tega membunuh orang tua angkat ku,apa salah mereka!" teriak Bunga mulai menangis.


"karena Darwin mencintaimu, dan dia tak suka itu, kau itu halangan terbesarnya," jawab Samuel


"apa?" kaget Bunga mendengar jawaban dari Samuel.


sedang Samuel pun diam setelah keceplosan tentang dia yang mengetahui semuanya.


"kau mengetahui siapa dia, siapa yang membunuh orang tuaku?" tanya Bunga yang mulai mencecarnya.


"tidak, aku hanya tau tapi aku tak bisa menemukan nama, karena orang suruhannya memilih bunuh diri di banding berceritakan segalanya," jawab Samuel.


"berarti anak buah pelaku yang mati, itu anda yang menemukan terlebih dahulu," kata Vin yang juga terkejut.


"tutup mulut mu, kau tau jika bukan karena kau orang bodoh yang datang, aku juga tak akan kehilangan dia," maki Samuel.


Vin hanya diam, dia tak mengira jika Samuel yang dia, kira penakut kini sudah berubah menjadi pria yang kejam.


"Samuel ceritakan semuanya, Samuel aku mohon ..."


"Bunga bangun!" teriak Samuel yang panik melihat sahabatnya itu.


"tuan bagaimana ini?" tanya Vin.


"kau bodoh, cepat cari taksi atau telpon ambulans," maki Samuel yang langsung mengendong tubuh Bunga.


Vin pun mencari taksi, kemudian mereka pun membawa Bunga ke rumah sakit.


sesampainya di sana, Bunga langsung di bawa ke ruang UGD, seorang dokter keluar dari ruangan itu.


"tolong belikan aku kopi," kata Samuel.


"tapi nona," kata Vin ingin menolaknya.


"kau tak percaya padaku, toh kau sudah sebulan ini terus mengikuti kami bukan, jadi tolong lah," kata Samuel berhasil meyakinkan pria itu.


vin pun terpaksa pergi, sedang Samuel menghampiri dokter yang sedang mencari keluarga Bunga.

__ADS_1


"saya saudaranya dokter," kata Samuel yang sudah dekat dengan dokter.


"dasar pria sialan, apa papamu mengajarimu untuk merusak anak orang, aku kecewa padamu Samuel!" kesal Dito yang juga paman dari Samuel.


"apa si uncle, aku bahkan tak pernah berciuman dengan gadis, bagaimana dia bisa hamil dengan ku," jawab Samuel kesal.


"terus bagaimana dia bisa hamil empat Minggu," kata Dito memukul Samuel.


"tunggu, empat Minggu berarti saat kami berkunjung ke Indonesia," kata Samuel menginggat sesuatu.


tak lama Vin datang dengan dua gelas kopi, Samuel memberikan kode untuk Dito berbohong.


Dito mengerti maksud Samuel, dia juga tak pernah sosok Vin di jajaran pengawal atau juga orang-orang dari keponakannya itu.


"terima kasih Vin," kata Samuel menerima kopi itu


"sama-sama tuan, dan bagaimana dengan nona? apa dia sedang sakit parah," tanya Vin pada Dito.


"kau mendoakannya seperti itu, kau jahat ya ternyata?" kata Samuel yang menikmati kopi miliknya.


"bukan seperti itu juga tuan Samuel, aku hanya khawatir padamu, terlebih tuan muda Darwin juga sudah menetap di Austria," jawab Vin.


"tenang saja, dia hanya kelelahan, dan tak perlu khawatir, yang perlu kau khawatirkan adalah tuan muda mu itu," jawab Dito.


"kenapa dokter, di sana dia sudah memiliki semuanya jadi untuk aku yang hanya pengawal kecil pun tak berguna," kata Vin


tapi sebuah telpon masuk, dan itu adalah sebuah perintah baru dan status sudah merah.


Vin pun melihat Samuel, "kau tentu boleh pergi, biar aku yang menjaganya disini."


"terima kasih tuan," kata Vin buru-buru pergi.


"apa yang kau lakukan?" tanya Dito.


"kau kira hanya Darwin yang bisa menguasai dunia digital, aku juga punya orang-orang kepercayaan di belakang ku uncle," kata Samuel menyeringai.


"sekarang apa yang ingin kamu lakukan," tanya Dito.


"tentu membuatnya merasakan apa yang dulu pernah di lakukan orang dari ayahnya, pada gadis yang aku cintai, dia juga harus tau bagaimana berjauhan dari anak kandungnya," kata Samuel melihat Dito.


"kau kejam Samuel," kata Dito pada keponakannya itu.


"orang-orang Darwin lebih kejam om, apa salahnya gadis berusia enam tahun, yang harus menyaksikan kematian orang tuanya sendiri di depan matanya, jika papa tidak bisa membalas dendam, maka aku yang akan melakukannya," jawab Samuel yang masuk ke ruangan Bunga.

__ADS_1


"kau akan merasakan semua yang gadis bodoh ku alami, dan kau juga akan sengsara seperti halnya diriku yang kehilangan cintaku," batin Samuel saat melihat Bunga yang masih belum sadar.


Samuel hanya tak mengira Bunga membohongi dirinya, dan menghabiskan waktu dengan Darwin.


__ADS_2