Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
bertemu keluarga besar.


__ADS_3

Adelia pun pulang bersama pak Kim, mereka pun langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


Adelia ingin makan hotpot bersama dengan Hafsah dan sang mama. Adelia sudah di batu pak Kim menyiapkan sebuah tempat yang romantis di kebun samping rumah.


Adelia pun membantu semua pelayan, setelah itu dia duduk menunggu Hafsah dan juga mama Vena.


"Mama, papi duduk sini," panggil Adelia senang.


"Ya Tuhan gadis ini menyiapkan semuanya untuk kita, aku terharu," kata Hafsah membantu mama Vena duduk.


"Ini untuk om dan mama, aku ingin menikmati waktu bersama orang tua yang aku rindukan dan sayangi ini," jawabnya sambil tersenyum.


"Baiklah nona muda, sekarang tolong buatkan kami makanan, boleh?" tanya Hafsah memandang gadis di depannya itu.


"Papi hentikan memandang ku seperti itu, atau mama bisa cemburu, karena mama dulu pernah bilang begitu mencintai papi," kata Adelia.


Sedang mama Vena terkejut mendengar perkataan dari Adelia, bahkan Adelia menginggat hal yang dia katakan waktu dia berusia enam tahun itu.


"Ah... itu masa lalu, jangan ungkit lagi," kata mama Vena.


"Cie... mama malu," goda Adelia.


Hafsah merasa senang hingga tertawa lepas, pasalnya dia sudah begitu lama tak merasakan kehangatan seperti ini.


Setelah makan malam yang hangat, mereka bertiga memilih menikmati malam sambil minum di bawah sinar rembulan.


Adelia melihat kedekatan dan keromantisan Hafsah pada sang mama.


"Aduh... aku merasa jadi nyamuk nih diantara papi dan mama, dan kenapa pria menyebalkan ini bum menelpon juga," kata Adelia kesal sambil menyindir.


"Aduh kasihan, sini Vena ayang peluk," kata Hafsah.


"Ya papi nyebelin," kata Adelia kesal.


Tapi pak Kim datang membawa laptop dan ternyata ada Darwin yang menghubunginya melalui sambungan video.


"Malam mama dan Opa, Oma, Darwin disini," sapa bocah itu.


"Kalian baru sampai, apa kamu baik-baik saja sayang tanpa mama disana," tanya Adelia.


"Iya mama, aku baik-baik saja, Oma Laura juga ada disini, apa mama lupa," kata Darwin tersenyum.

__ADS_1


"Ya maafkanlah mama mu yang sedikit lemot, karena merindukan papa mu, dimana dia?" tanya Hafsah.


"Sedang mandi," jawab Darwin.


Adelia pun melihat ponselnya ternyata Joshua menelponnya beberapa kali.


Darwin juga sudah mengirimkan pesan pada Adelia dan mengatakan jika semua siap sesuai rencana.


Adelia pun membalasnya dengan stiker jempol dan ciuman, Darwin pun senang melihat balasan mamanya.


Joshua pun mengangkat panggilan videonya, Adelia terkejut melihat suaminya itu masih di bak mandi.


"Kamu masih berendam, awas nanti dia menciut," kata Adelia.


"Ini karena kamu tidak bisa pergi bersama kami, terpaksalah aku haeus seperti ini menenangkan dan membuat tubuhku rileks," jawab Joshua sambil meminum anggurnya.


"Baiklah jika aku disana, kamu bisa melakukan apapun padaku," tawar Adelia.


"Beneran, baiklah aku tunggu seminggu lagi, dan mungkin aku skan sibuk bersama putra kita ini,karena perusahaan opa ku bermasalah," kata Joshua.


"Baiklah, aku akan sabar dan menunggu mu menjemput ku di bandara saat aku sampai nanti," kata Adelia penuh harap.


"Pasti akan ku luangkan waktu untuk menjemput mu sayang, baiklah aku harus keluar sebelum putra kita itu membuat masalah," kata Joshua.


"Aku pun sangat mencintaimu," jawab Joshua.


Adelia pun tertawa mendengarnya sebelum mematikan sambungan video itu, sedang Hafsah melihat tingkah gadis itu.


"Lihatlah tadi dia meledek kita, sekarang dia sendiri seperti orang gila," kata Hafsah.


"Biarkan saja, dia sedang kasmaran dengan suaminya," jawab mama Vena tertawa.


"Papi selalu menggodaku, oh ya di keluarga Amadea ada siapa saja? karena aku belum pernah bertemu dengan mereka?" tanya Adelia.


"Hanya ada Opa dan Oma, dia orang tua papi, Oma begitu lembut dan penuh kasih sayang, mungkin dia akan senang saat melihatmu, sedang opa..." kata Hafsah menggantung.


"Pasti opa akan kesal karena dulu mama menikah dan meninggalkan rumah keluarganya tanpa restu, mungkin aku juga tak akan di terima, benar tidak tebakanku?" tanya Adelia sambil menghembuskan nafasnya.


"Itu tak mungkin, karena Opa mu itu begitu menyayangi mama mu, meski dia tak bisa mengekspresikan perasaan nya secara langsung," jawab Hafsah.


"Berarti dia harus bertemu Darwin, bocah itu bisa meluluhkan hati siapapun," jawab Adelia tersenyum.

__ADS_1


"Ya aku tau itu, karena bocah itu begitu mudah bergaul dan membaur bersama yang lain, serta sifatnya yang ceria membuat dirinya begitu mencolok diantara yang lain," kata mama Vena.


"Aku kadang heran, dia memiliki semua kepintaran dan IQ tinggi di usianya, itu mewarisinya dari siapa?" gumam Adelia.


"Mungkin dari Opa buyutnya, karena pria itu juga genius meski menyebalkan," jawab Hafsah.


Mama Vena hanya menggeleng pelan mendengar ucapan Hafsah, pasalnya dari muda Hafsah memang pria yang suka membangkang.


Dan kemarahan sang papa makin besar saat tau Hafsah menyimpan hati dan tak ingin menikah dengan wanita manapun.


Sedang di Austria, Darwin sudah bersiap untuk ke perusahaan bersama Joshua dan Hans.


Mereka mengunakan Limosin karena sudah di sediakan oleh kakeknya, ketiganya turun.


Darwin berjalan sambil menggandeng tangan putranya itu, tapi saat sampai di ruang direktur mereka terkejut karena melihat tuan Georgio Hiro Amadea.


"Kalian sudah datang, tolong lihatlah mereka, apa kamu bisa mengenalinya tuan Amadea?" tanya tuan Frenky Alejandro Gusman.


"Selamat pagi tuan Georgio Hiro Amadea," sapa Joshua dan Hans sopan.


"Kenapa namanya persis dan sama dengan ku?" tanya Darwin tanpa basa-basi pada Joshua.


"Memang siapa namamu?" tanya tuan Georgio.


"Namaku adalah Darwin Alexander Amadea," jawab Darwin menghampiri pria tua di depannya itu.


"Jangan bilang kamu cucu haram dari anak sialan itu," kata tuan Georgio.


"Ah... aku ingat, kamu kakek buyut yang di ceritakan Opa Hafsah, dan dia bilang kamu cerewet ternyata benar," kata Darwin di depan tuan Georgio yang mimik wajahnya merah padam.


"Joshua bawa putra mu ke ruang rapat sebelum Georgio makin marah padanya," perintah tuan Frenky.


"Baik Opa, ayo sayang pamit pada opa buyut," kata Joshua.


"Opa buyut, Darwin pamit dulu, permisi," kata Darwin sopan sambil menundukkan tubuhnya untuk memberi hormat.


"Bocah yang manis, persis seperti ayahmu waktu kecil, sekarang cepat pergi, nanti opa buyut akan menyusul kalian," kata tuan Frenky.


Darwin pun mengejek tuan Georgio sebelum pergi, tuan Frenky tertawa melihat cucu buyut nya itu.


"Kenapa bocah itu begitu berani, orang tuanya tak bisa mengajari tata Krama," kata tuan Georgio marah.

__ADS_1


"Kau tau, dia itu adalah cucu buyut kita, dia di besarkan sendiri oleh cucu perempuan mu yang sekarang adalah istri dari cucu laki-laki ku, jadi jangan terlalu keras dan dingin, apa kamu ingin di usia mu ini, kamu akan di tinggalkan lagi," kata tuan Frenky memberi penjelasan.


__ADS_2