
Darwin pun bergabung duduk dengan Lena, "mau kemana Aunty?" tanya Darwin sambil memakan puding mangga kesukaannya.
"Darwin jika seperti ini, kamu tak nampak seperti monster kecil yang kejam," bisik Lena.
"Aku memang bocah kecil yang manis," kata Darwin tersenyum menunjukkan giginya.
Tak lama tuan Georgio datang bersama nyonya Arsya, tuan Georgio nampak tak senang.
"Malam semuanya," sapa nyonya Arsya.
"Malam Oma buyut cantik, Darwin disini?" kata Darwin melambaikan tangan.
Melihat Darwin tuan Georgio mengendong bocah itu seperti karung beras.
"Opa buyut, aku baru selesai makan, aku bisa muntah," kata Darwin bergerak berontak.
"Maka diam Darwin, atau opa buyut akan mengikat kamu," kata tuan Georgio.
"Oma buyut tolong Darwin, hu-hu-hu," kata Darwin pura-pura menangis.
"Sudahlah sayang, turunkan cicit kita itu, biar dia menjelaskan," bujuk nyonya Arsya.
"Opa, Oma, ada apa memangnya?" tanya Adelia saat menyambut keduanya.
"Putra mu ini, ya Tuhan membuatku di hubungi interpol karena membantu kalian waktu itu, padahal aku sudah berhenti jadi penembak jitu," kata tuan Georgio.
"Itu karena opa buyut tak mau mengajariku menembak," jawab Darwin bersungut-sungut kesal.
"Nanti opa yang ajarkan Darwin, biarkan opa buyut mu menghabiskan hari tuanya dengan santai, kapan lagi dia bisa seperti itu," kata Hafsah yang baru datang.
"Ya, biarkan opa buyut kebosanan Karena tak ingin mengajariku," kata Darwin pergi.
"Hei kenapa kmu mempengaruhi bocah kecil itu, dasar anak tak berbakti," kata tuan Georgio.
Hafsah hanya tertawa mendengarnya, pasalnya Darwin akan bisa memiliki apa yang di inginkan.
"Sudah-sudah, biar papa carikan guru hebat untukmu, dan Lena kenapa masih di sini cepat berangkat," kata Joshua yang bergabung.
"Ya aku mu berangkat, tapi kartu akses belim di berikan Darwin," kata Lena
"Ha-ha-ha maaf Aunty, ini kartu akses VVIP milikku, aku belum membutuhkannya," kata Darwin mengeluarkan sebuah kartu VVIP penthouse hiburan terbesar.
"Kamu memiliki kartu itu?" tanya Joshua.
__ADS_1
"Papa mau, aku bisa membuatkannya," jawab Darwin enteng.
"Sayang kamu hamil dulu makan apa? hingga putra mu bisa sehebat ini," tanya Joshua melihat istrinya.
Adelia hanya mengangkat bahunya tak tau, sedang Darwin tertawa, "Opa buyut mau mengajari atau papa perlu cari guru lain," tanya Darwin.
"Baiklah opa ajari menjadi petarung dan juga penembak jitu," kata tuan Georgio pasrah.
Darwin tertawa menang, pasalnya dia tau jika bocah itu pasti bisa mendapatkan apa yang di inginkan.
Adelia mendapatkan telpon dari anak buahnya, dan dia marah besar mendengar laporan para anak buahnya itu.
"Maaf aku harus pergi sebentar," pamit Adelia pada semuanya.
"Mau kemana? ini sudah malam," kata mama Vena.
"Aku harus ke daerah Kebraon, Karena ada urusan ma, permisi," kata Adelia berlari keluar dan langsung masuk ke mobil sport milik Joshua.
Mobil Ferarri hitam itu membelah jalanan kota itu dengan kecepatan tinggi.
Adelia langsung berhenti di tempat yang di tuju, dia berlari mencari anak buahnya.
"Dimana? dia dimana?" tanya Adelia panik.
Mendengar itu, Adelia langsung berlari ke mobil ambulance, dia melihat gadis kecil itu menangis di sana.
Dia pun langsung menghampiri Salsha dan memeluk gadis kecil itu, "sayang di masih ada Tante di sini," kata Adelia.
Salsha langsung menangis keras saat melihat Adelia di depan matanya, Adelia langsung mengendong gadis kecil itu.
"Urus semuanya, dan makamkan semuanya dengan layak," kata Adelia.
"Baik nyonya muda," jawab anak buah Adelia.
"Salsha mau bersama keluarga Salsha Tante, Salsha tak mau sendiri," kata Salsha sambil sesenggukan.
"Tidak sayang, Salsha punya Tante, sekarang Tante adalah keluarga Salsha," kata Adelia pada gadis itu.
Dua orang menghampiri Adelia yang ingin membawa pergi Salsha, dia pun menatap mereka berdua tak suka.
"Kembalikan keponakan kami, biar dia tinggal bersama kami," kata wanita itu ingin mengambil Salsha.
"Siapa kalian, jangan berani menyentuh gadis itu jika tak ingin kalian berdua mati," ancam Adelia saat Salsha memeluknya erat.
__ADS_1
"Coba saja, karena kami lebih berhak," kata pria itu ingin merebut Salsha yang berada di gendongan Adelia.
Tak lama Joshua datang bersama Darwin, mereka terkejut melihat pemukiman kumuh itu mengeluarkan api yang cukup besar.
Adelia sedang menggendong seorang gadis kecil, Joshua pun langsung memukul orang yang ingin menyentuh keduanya.
"Jangan berani menyentuh istriku, atau kau mati," kata Joshua.
Benar saja tak lama Hans datang bersama para pengawal, mereka membantu para warga.
Dan mengamankan dua orang itu, dan memaksanya untuk mengakui kenapa begitu ingin memiliki Salsha.
Sedang Salsha sudah tenang di pelukan Adelia, Darwin tak bisa melihat wajah Salsha karena malam.
"Mama, dia sudah tidur? dan memangnya daerah ini kenapa bisa kebakaran?" tanya Darwin.
"Iya sayang, Salsha sudah tidur, daerah ini adalah daerah padat jika terjadi kebakaran maka anak cepat merembet, itulah kenapa api cepat besar," terang Adelia.
"Bisakah aku membantu mereka, kebetulan aku kemarin memiliki uang untuk membantu kaum dhuafa," kata Darwin yang duduk di samping Adelia.
"Tentu, putra mama ini adalah kebanggaan mama," kata Adelia mencium kening Darwin.
"Sayang sepertinya bocah kecil ini sudah tak ada tempat tinggal, karena keluarganya sudah meninggal dan juga dua orang tadi sudah mengaku setelah si interogasi Hans dan polisi," kata Joshua memberikan minuman hangat pada Adelia dan Darwin.
"Bisakah kita merawatnya, aku tak bisa meninggalkan gadis ini di panti asuhan," mohon Adelia.
"Kita bicarakan lagi nanti, tapi untuk saat ini kita bisa membawa dia ke rumah," kata Joshua.
Joshua melihat Darwin, dia tak ingin putranya itu merasa kasih sayang dari Adelia terbagi.
Itulah kenapa Joshua tak langsung menyetujui keputusan Adelia tentang mengajak gadis itu tinggal di rumah untuk seterusnya.
Sedang Darwin juga merasa jika Adelia begitu menyayangi gadis itu, dan Darwin tak suka kasih sayang untuknya terbagi.
Mobil mewah itu pun sampai di rumah keluarga besar Gusman, Adelia langsung menaruh Salsha di kamar lantai dua bersebelahan dengan kamarnya dan Darwin.
Sedang Darwin dan Joshua melihat itu begitu saja, "Darwin, apa kamu ingin adik perempuan?" tanya Joshua.
"Mau tapi kalau itu milik papa dan mama, jika bukan aku harus memikirkan itu baik-baik, dan aku harus melihat dia pintar apa bodoh, karena aku tak ingin punya adik bodoh," jawab Darwin sambil melipat tangannya di depan dada.
"Setuju, papa juga seperti itu," kata Joshua melakukan hal yang sama.
"Kalian berdua kenapa?" tanya mama Laura melihat kedua orang itu saling berdiri berdampingan sambil melihat lantai dua.
__ADS_1