Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
S2_dia itu wanita ku


__ADS_3

Darwin duduk diam sambil mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.


sosok itu masuk dan tak menyadari jika ada Darwin di ruangan kamar gelap itu.


pria itu mendekati Bunga yang tertidur di ranjang, "gadis cantik, bagaimana jika aku menodai mu, apa pria seperti Samuel dan keluarganya masih mau menerima wanita kotor seperti mu," kata pria itu.


"kau bergerak mati, dan singkirkan tangan mu dari wajah wanitaku," kata Darwin menodongkan pistol ke kepala pria itu.


Neji diam, dia pun mendorong Darwin dan berlari keluar, Darwin menembak bahu dan kaki pria itu.


kini para pengawal yang mengejarnya, bahkan perlindungan sekuat itu pun bisa di terobos oleh orang asing itu.


"dasar pria bajingan," kata Darwin.


Bunga yang belum sepenuhnya tidur. kini menangis karena ketakutan, Darwin pun bergegas memeluknya.


"tenang Bunga, aku disini, aku akan selalu melindungi mu," kata Darwin.


"aku takut, tolong jangan tinggalkan aku sendiri lagi ..." tangis gadis itu.


Darwin pun memeluk Bunga, sampai gadis itu terlelap tidur, dan Darwin juga tertidur bersama Bunga.


sedang Samuel yang baru datang sempat melihat Neji yang tertembak dari rumahnya.


pria itu mengejar pria itu karena dia bisa dalam bahaya jika melawan Darwin.


tapi yang tak terduga, Sam marah dan langsung mencengkram kerah Neji yang sedang terluka.


"kau bodoh berani menyentuh wanita Darwin, kau bosan hidup hah, ini baru akibat terkecil, kau saja bisa mati dan membuat Daddy dan Ben terluka!" teriak Samuel.


"apa peduli mu, kau juga pergi bukan, dasar munafik," kata Neji.


Samuel pun memukul tengkuk pria itu hingga pingsan, kemudian baru membawanya ke rumah sakit.


keesokan harinya, Samuel baru pulang, dan dia kaget melihat Darwin yang membuat sarapan.


"mana para pelayan?" tanya Samuel yang langsung duduk dan mengambil bir dari kulkas.


"mereka sedang bersih-bersih, Samuel tolong bujuk Bunga agar mau ikut dengan ku pulang ke Indonesia, setidaknya aku bisa menjaganya disana, lagi pula Sasha juga tak mungkin melukainya lagi," kata Darwin.


"baiklah, tapi biarkan Sabrina menemani bunga, setidaknya gadis itu bisa membuatku tenang," jawab Samuel mengiyakan.


Darwin pun tersenyum senang, pasalnya dia akan semakin dekat dengan Bunga.


Samuel menghampiri Bunga yang berada di dalam kamar, dia juga tau jika Bunga berhak bahagia dengan pilihannya.

__ADS_1


"aku percaya dia akan menjagamu, ikutlah dengannya pulang, kamu akan terus dalam bahaya saat bersamaku," kata Samuel.


"kau membuangku?" tanya Bunga dengan air mata yang jatuh.


"bagaimana bisa, kita akan selalu jadi sahabat dan saudara, saat aku tak bisa menjagamu akan ada Sabrina yang menemanimu, dan juga Tante Nova yang akan menjagamu, dia adalah orang yang terlatih dan aku sengaja menempatkan dia di sisimu, jadi aku tetap bisa mengawasi mu," kata Samuel.


"baiklah, tapi jika aku merasa tak suka, aku akan datang kepada mu," kata Bunga melihat wajah Samuel.


"silahkan, aku selalu siap menerima mu kembali kapan pun itu," jawab Daniel memeluk Bunga.


Darwin tak mengira jika persahabatan keduanya begitu dalam, bahkan dirinya seakan menjadi orang ketiga di antara keduanya.


Samuel pun mengeluarkan koper bunga dan mulai membantu gadis itu bersiap.


Bunga terus melihat sosok Samuel. sedang Darwin yang tak sanggup pun memilih untuk keluar dan menunggu di luar.


saat Samuel sudah siap pergi, "tunggu," kata Bunga mengambil sebuah salib yang ada di samping ranjangnya.


"simpan agar kamu tetap di lindungi oleh Tuhan," kata bunga memberikan salib ke tangan Samuel.


"Tuhan pasti melindungi ku, kamu jaga dirimu di Indonesia ya, dan saat di bandara akan ada Sabrina dan Tante Nova yang menjemput mu," kata Samuel yang kembali memeluk Bunga.


Bunga pun kini berjalan keluar dengan Samuel yang mengantarnya, dan saat melihat itu Darwin berdiri.


"itu pasti," kata Darwin mengenggam tangan Bunga.


Samuel pun menyaksikan Darwin yang membawa Bunga dari sisinya, tapi dia adalah pria yang Bunga cintai.


dan Samuel yakin jika Darwin bisa membahagiakan Bunga nantinya.


mereka pun langsung menuju Bandara untuk berangkat ke Indonesia.


Mike memberikan kabar pada Sabrina tentang mereka yang akan segera take off.


selama dalam pesawat Bunga hanya memilih membaca buku, sedang Darwin membaca beberapa laporan tentang perusahaan.


setidaknya butuh hampir seharian untuk sampai di bandara internasional Juanda.


terlebih mereka transit beberapa kali, saat keempatnya turun, terlihat Sabrina dan Bu Nova sudah menunggu Bunga.


melihat dua wanita itu Bunga langsung memeluk keduanya dengan sangat erat.


"aku kangen kalian," kata Bunga.


"kami juga, sekarang kita mau kemana dulu? apartemen atau-"

__ADS_1


"dia akan tinggal di rumahku," kata Darwin.


"tidak, aku tinggal di apartemen milikku bersama Bu Nova, aku masih belum bisa tinggal dengan mu, terlebih aku belum bisa melihat kesungguhan mu," kata Bunga.


Sabrina pun diam, dia tak bisa ikut campur, pasalnya dia hanya di tugaskan untuk mengawasi bunga, bukan jadi penengah saat Bunga marah dengan Darwin.


"Bunga jangan seperti ini, aku mohon, setidaknya aku bisa tenang saat bisa melihatmu," mohon Darwin.


"maaf, tapi tolong hormati keputusanku apa itu susah," jawab Bunga.


Bunga pun pergi dengan Sabrina dan Bu Nova, Aldi menepuk bahu Darwin.


"tenang bos, setidaknya sekarang di Indonesia, dan kalian akan sering menghabiskan waktu bersama," kata Aldo membesarkan hati Darwin.


"ya kamu benar," jawab Darwin.


Sabrina pun membawa mobilnya menuju ke sebuah apartemen mewah, itu adalah apartemen hadiah dari David dan Mei.


Bu Nova susah membersihkan apartemen itu,sedang Sabrina langsung menuju ke dapur.


"kak mau minum apa?" tanya gadis itu.


"es krim boleh," jawab Bunga.


"hanya satu cup sehari," kata Bu Nova.


"iya Tante," kata Sabrina yang membawa dua cup eskrim dan juga jus mangga.


"ya Tuhan gadis ini, kamu ini gadis Brina, kenapa suka makanan manis kamu bisa gemuk," kesal Bu Nova


"biar happy Tante, soalnya aku sudah tak ketemu pria yang aku cintai nih," curhat Sabrina.


"bri, bukan mbak melarang, tapi bukankah kakak mu tak suka kamu menyukai David?" tanya Bunga.


"memang apa salahnya, dia bukan penjahat, hidup di luar negeri kan bebas," kata Sabrina.


"itu karena kamu yang terlalu polos, Samuel takut kamu terluka karena menyukai pria yang salah," kata bu Nova.


"iya deh iya, aku kalah kalau ngomong sama ibu, oh ya kak Bunga, tadi mama titip rendang kesukaan kakak, sudah aku simpan di kulkas, di makan ya nanti." kata Sabrina.


"iya, dan titip terima kasih pada Tante ya," kata Bunga.


"uh ... seandainya aku punya kakak perempuan pasti menyenangkan, tapi sayang semua kakak ku cowok gila," kata Sabrina yang memeluk bunga.


mereka pun tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2