Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
Berlatih Dengan Serius.


__ADS_3

Darwin melihat adegan romantis kedua orang tuanya, "bagaimana aku tak cepat besar, orang tiap hari lihat beginian," gumam bocah itu.


"Hallooo.... kalian melupakan putra mu di sini, jangan buat aku besar makin cepat!" teriak Darwin.


"Kamu di sini, kemari nak," panggil Adelia tersenyum.


Darwin pun berlari dan langsung naik ke punggung Joshua, Adelia tertawa melihat adegan itu.


Mereka bertiga pun berjalan di jalan setapak sambil melihat para penjual makanan.


Sedang Hafsah dan yang lain sudah pulang karena mereka harus membeli sesuatu.


"Kalian mau makan apa?" tanya Joshua pada anak dan istrinya.


"Aku mau mie ayam papa," jawab Darwin masih berada di punggung Joshua.


"Ya Tuhan, kamu begitu berat sekarang, berat badan mu naik ya," protes Joshua.


"Papa lupa jika putramu ini sudah remaja, jadi sekarang aku harus menjaga penampilan, lagi pula opa terus mengawasi berat tubuh ku," terang Darwin.


"Baiklah baiklah, sekarang ayo ke warung penjual mie ayam," kata Adelia.


Orang yang melihat keluarga itu ikut bahagia, apalagi Darwin yang begitu manja.


Saat sampai, Adelia yang memesan untuk kedua pria tercintanya itu, bahkan Adelia memesan ceker ekstra untuk dirinya.


Akhirnya mie pun datang dan mereka menikmati dengan begitu lahap, dan Adelia memesan jeruk hangat untuk mereka.


Setelah puas makan, mereka pun pergi menuju ke rumah keluarga Gusman.


Kebetulan tadi mama Laura meminta mereka pulang, karena Felix harus pulang besok ke Austria.


Karena Felix menyerahkan semuanya pada Yasmin sebagai ibu yang selama ini menjaga anak-anak.


Tapi Felix memberikan sebuah kartu ATM pada putranya Fresco untuk berjaga-jaga.


Bagaimana pun dia masih punya tanggung jawab untuk memberikan uang untuk Fresco dan Freya.


Baru juga sampai, Darwin sudah berlari masuk kedalam rumah, sedang Joshua memberikan bingkisan yang di bawa pada pak Yun.

__ADS_1


Darwin langsung duduk di samping papa Federico, dan papa Federico tau tatapan dari Darwin.


"Ehm... perasaan ku kok tiba-tiba gak enak ya, pasti akan minta sesuatu," kata papa Federico.


"Ih.. opa kok tau, aku belum bilang loh, opa tolong belikan aku mobil ya, buat berangkat ke sekolah, habis aku bosan di rumah," kata Darwin.


"Memang kamu sudah bisa menyetir mobil?" tanya papa Federico.


"Ya belum, kan ada bang Firman yang bisa mengantarku ke sekolah, boleh ya opa, mobil ini," kata Darwin menunjukkan foto mobil mewah.


"Ini mobil keluaran terbaru kan, kamu yakin mobil ini memang tak terlalu besar untuk mu," kata papa Federico mencoba membujuk cucu tunggal nya itu.


"Opa kok gitu sih, aku hanya mau mobil itu, kalau gak mau membelikan aku minta papa saja," kata Darwin ngambek.


"Aduh, jangan gitu dong, Opa bercanda, kamu pilih mau warna apa biar asisten Opa yang mengurusnya," kata papa Federico.


"Sayang kamu tak lupa sedang di hukum kan," kata mama Laura yang duduk di samping Adelia.


Mendengar itu Darwin langsung berpindah tempat dan memeluk Omanya.


Dan Langsung memeluk sambil menatap dan memohon, Joshua tertawa melihat putranya itu.


"Cih.. papa mu saja sudah kaya, kenapa tak menjual mobil papa mu saja," kata mana Laura.


Darwin langsung sedih dan melepaskan pelukannya pada mama Laura.


Darwin pun duduk menjauh dan diam sambil memasang wajah ngambek, Felix dan Ayu hanya menahan tawa melihat tingkah putra dari keponakannya itu.


"Loh kok ngambek, sayang jangan gitu lah, Oma cuma bercanda, Oma pasti belikan kok, mau warna apa," bujuk mama Laura.


"Gak jadi, Oma terpaksa begitu beliin ya, Darwin mau jalan kaki aja ke sekolahnya," kata Darwin dengan nada sedih.


"Ya jangan seperti itu sayang, nanti Oma belikan dua untukmu, kamu pilih yang mana," kata mama Laura memeluk Darwin.


Darwin pun memberi isyarat pada Joshua dengan jempolnya, sedang semua orang menahan tawanya.


Dua pria itu benar-benar mengerjai mama Laura, apalagi Darwin adalah kesayangannya.


"Dasar kalian ini," kata papa Federico memukul Joshua.

__ADS_1


"Kenapa, lumayan aku tak mengeluarkan uang untuk beli mobil, papa tau harga mobil yang di pilih Darwin, lumayan buat kantong bolong," jawab Joshua.


"Memang harganya berapa?" tanya Felix penasaran.


"Masih di kisaran tiga sampai empat milyar per mobil," jawab Joshua.


"Wah hebat juga bocah itu, tukang peras tanpa sadar, hahaha," tawa Felix.


"Opa. kamu masih berhutang padaku untuk sesuatu, jangan lupakan itu, jika tidak aku membuatmu menyesal," kata Darwin menatap tajam.


"Iya-iya opa tau," jawab Felix pasrah.


"Memang setelah lulus S1, kamu mau sekolah SMP lagi?" tanya papa Federico.


"Aku sekolah hanya butuh teman opa, aku bosan di rumah,aku ingin seperti anak-anak yang lain," jawab Darwin yang mengambil puding di meja.


"Tenang papa, dia sekolah di yayasan milik sahabatku, lagi pula itu juga sekolah internasional, jadi dia akan berteman dengan banyak anak yang mungkin sepertinya," jawab Joshua.


"Ya, aku akan mencari pertukaran pelajar, lumayan bisa keluar negri gratis," kata Darwin.


"Dasar, kamu itu mampu sekolah di luar negri, kenapa harus melakukan itu?" tanya Joshua.


"Itu tak asik saat aku bisa mendapatkan dengan mudah, aku perlu bersaing bersama anak seusia ku, aku harus melihat dunia dari sisi yang berbeda papa," kata Darwin.


"Mama setuju," jawab Adelia.


"Terserah kalian saja," jawab Joshua.


Malam itu mereka menikmati malam dengan hangat, Darwin, papa Federico, Joshua dan Felix sedang main bilyard.


Sedang para wanita memilih berbincang sambil menonton film romantis.


Hal yang jarang dirasakan karena terhalang jarak, apalagi sekarang mama Laura dan papa Federico sibuk di yayasan.


Felix terus menjadi ceng-cengan karena dia terus kalah dari tiga pria itu.


Pasalnya Darwin meski masih berusia muda, tapi memiliki fokus dan konsentrasi yang tinggi.


Dia selalu mendapat apa yang menjadi incarannya, begitupun Joshua yang memang tak pernah setengah-setengah dalam melakukan apapun, meski ini hanya sebuah permainan.

__ADS_1



__ADS_2