Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
kebenaran untuk Juan


__ADS_3

Joshua sudah tersenyum menyeringai, pasalnya dia sudah menemukan semua bukti yang di butuhkan untuk mengakhiri kejahatan Juan.


Atau lebih tepatnya menyadarkan pria itu, agar tak membuat Keluarga nya terus dalam bahaya.


Sedang di rumah sakit, Juan mengikuti Adelia dan Darwin ke ruangan rawat Novan.


Juan berjalan santai karena dia belum tau apa yang sedang menunggunya di dalam rumah sakit itu.


Saat sampai di ruang rawat itu, ketiganya kaget melihat Novan yang sedang melakukan peregangan di ranjangnya.


"Kalian yakin dia baru mengalami kecelakaan parah?" tanya Juan melihat Novan.


"Om Novan, tolong setidaknya bersikaplah seperti orang sakit, jangan begitu mencolok dengan tingkah mu," kata Darwin memegangi kepalanya.


"Aku harus segera sembuh, benar tidak tuan Juan Imanuel Marquez," kata Novan melihat pria di belakang Adelia sambil tersenyum jahat.


Tak di duga, dari belakang Lena sudah menyuntikkan obat tidur dosis tinggi untuk melumpuhkan Juan.


Juan pun langsung tak sadarkan diri, sedang Adelia buru-buru melepas sweater rajut yang dia gunakan sejak tadi.


Darwin tersenyum karena Adelia menahan dirinya selama rencana mereka tadi berjalan.


"Santai mama, kenapa begitu panik," kata Darwin melihat Adelia.


"Aku tak pernah berpelukan lagi selain dengan keluarga kita, dan tadi aku menampar pipi Joshua, ah... aku tak bisa membuat suamiku marah," kata Adelia panik.


Sedang Lena, Darwin dan Novan menahan tawa pasalnya kedua pasangan ini selalu berlebihan satu sama lain.


"Sudahlah mama, ini juga rencana kita, sekarang kita buat pria ini tidur bersama ayah kandungnya," kata Darwin.


"Baiklah, kalian berdua bawa pria ini ke ruang rawat tuan William," perintah Lena pada dua satpam rumah sakit.


"Bagaimana dengan para interpol?" tanya Adelia.


"Tentu kami memiliki izin khusus, karena opa buyut membantu kami," jawab Darwin santai.


Adelia mengangguk saja, dia mengikuti Lena untuk beristirahat di ruangan wanita itu.


Baru kali ini Adelia harus ikut berperan karena permintaan dari Joshua dan Darwin.


Tapi dia tak mengira jika orang yang selama ini membantunya, adalah musuh tersembunyi dari keluarga Gusman.

__ADS_1


"Susu ibu hamil, dan buah potong untukmu nyonya besar," kata Lena menaruh semuanya di meja.


Sedang Adelia sedang tidur di sofa, dia merasa sedikit tak nyaman dengan semuanya.


"Apa kamu sakit?" tanya Lena memeriksa kondisi Adelia.


"Tidak, hanya kehamilan ku kalo ini sedikit berat karena ada dua bayi, ngomong-ngomong kamu tak ingin menambah anak lagi?" tanya Adelia melihat temannya itu.


"Sebentar lagi, aku juga baru tahu jika aku sedang hamil," kata Lena memegangi perutnya.


"Wah kamu lebih cepat di banding aku, dan putra kita akan jadi seumuran," kata Adelia senang.


"Tentu, oh ya mau coklat batangan, kebetulan aku punya banyak," tawar Lena pada Adelia.


Adelia mengangguk dan menerima coklat itu, Keduanya pun asik makan coklat di ruangan Lena, sedang Hans dan Devina mengawasi Juan.


Darwin menunggu Joshua datang, tapi tanpa Joshua sadari ada seseorang yang mengikutinya secara diam-diam.


Joshua membawa bukti dan langsung menuju ke ruangan rawat William, dia masuk dan langsung melemparkan berkas-berkas itu.


"Apa ini Joshua," kata William terbangun.


Juan masih belum sadar, pasalnya obat tidur yang di berikan oleh Lena terlalu banyak.


"Apa maksudmu?" tanya William.


"Kamu mengenal wanita ini harusnya, dan pria di depan sana adalah putranya, apa kamu sudah melupakannya?" tanya Joshua menunjukkan sebuah foto.


"Bukankah dia sudah mengugurkan kandungannya dulu, apalagi papa terus menekannya," kata William.


"Dia memilih pergi dan melahirkan anak pertamanya itu, dia bersembunyi dari pengawasan ku, dan dia adalah putra mu," kata papa Federico yang datang dengan tuan Frenky.


"Kalian sudah tau semuanya dan memilih bungkam, kalian tau aku sangat tersiksa selama ini," kata tuan William.


"Kamu yakin om, karena aku melihatnya berbeda, om selalu menikmati hari-hari om dengan para wanita cantik," jawab Joshua tertawa.


Juan pun sadar dan mulai mendengar semua pembicaraan itu, dia pun langsung marah dan ingin menyerang saat melihat papa Federico dan Joshua di depannya.


"Aku akan membunuh kalian," kata Juan ingin menyerang, tapi dia tak bisa bergerak karena tangannya telah di borgol di ranjang.


"Tenanglah Juan, kamu harus melihat ini dengan tenang, sebenarnya siapa orang yang ingin kamu tuntut untuk balas dendam mu," kata Joshua menyingkir dari depan Juan agar bisa melihat William.

__ADS_1


Juan terdiam melihat dua orang pria yang sama di depannya, tapi kondisi William begitu menyedihkan.


"Apa kamu yakin jika ayah mu adalah Federico, jika iya seharusnya aku tak mungkin bisa mengusir ibu mu hingga menjadi kan mu seperti sekarang ini," kata tuan Frenky.


"Diam tua bangka, karena keegoisan mu aku harus melihat ibuku mati di depan mataku, dan menjalani hidup kasar di jalanan," maki Juan.


"Kamu mau apa? itu tak membuktikan apapun, karena kondisi Federico istimewa, dan yang sebenarnya adalah William itu ayahmu," kata tuan Frenky.


"Itu tak mungkin, karena aku tau benar jika ibu mengatakan jika namanya Federico bukan William," bantah Juan tak terima.


"Asal kamu tau, setelah Federico menikah, dia menetap di luar negeri, sedang yang berada di Indonesia adalah William, dan Federico kembali pulang setelah putranya Joshua berusia tiga tahun, mereka baru kembali dan tinggal sementara di Indonesia," kata tuan Frenky.


Juan terdiam, pasalnya dia dan Joshua memiliki selisih usia tak jauh.


Papa Federico menghampiri Juan, "jika kamu tak bisa menerima semuanya, aku bisa mengakui mu sebagai putraku, meski kamu adalah putra saudara ku," kata papa Federico.


"Bulsyit semuanya, aku tak butuh belas kasihan darimu, aku hanya ingin menghancurkan semua keluarga kalian," kata Juan lagi.


"Itu tak akan membuat ibumu kembali hidup, seharusnya kamu bisa membuktikan jika tanpa keluarga yang sudah membuang mu, kamu bisa sukses," kata Joshua.


"Jangan mengajariku, kamu juga sudah merebut wanita yang aku cintai," kata Juan pada Joshua.


"Kamu terlalu lamban jadi seorang pria, ada pepatah yang mengatakan, siapa cepat dia dapat, apalagi aku mempunyai janji pernikahan dengannya dari kami kecil," kata Joshua sombong.


"Hentikan Joshua, sekarang terserah padamu Juan, jika ingin balas dendam maka aku bersedia jika kamu ingin membunuhku, asal jangan sentuh keluargaku," kata papa Federico.


"Papa Jangan bilang yang tidak-tidak, jika papa mati bagaimana dengan mama," kata Joshua marah.


"Kamu bisa menjaga mereka nak, aku yakin itu," kata papa Federico membuka borgol di tangan Juan.


Juan melihat pria di depannya, dia memikirkan perkataan Joshua, dia pun berjalan keluar begitu saja.


"Kamu berubah pikiran?" tanya Joshua.


"Ya aku akan pergi dan mengejar mimpiku, kau jaga saja keluarga mu, terutama Adelia sekali kamu melukainya maka aku membawanya pergi," kata Juan.


"Sepertinya obat berhasil bos," bisik Hans.


Joshua mengangguk, setidaknya kini Juan akan berubah menjadi baik, dan mereka juga tetap bisa melacak keberadaan pria itu.


__ADS_1


__ADS_2