
karena penasaran dengan anak buahnya, David dan joshua pun memutuskan untuk turun.
mereka pun menuju ke apartemen milik bunga, dan saat sampai di unit itu, Keduanya hanya bertemu dengan bu Nova yang membukakan pintu.
"selama sore, silahkan masuk pak," sapa Bu Nova
"iya terimakasih Bu, baby Ale dan Bunga mana?" tanya Joshua.
"baby ale sedang main disana, dan kalau Bunga sedang olahraga," jawab Bu Nova yang menunjukkan baby ale.
Joshua pun langsung menghampiri cucunya itu, dan menggendongnya.
sedang David melihat bagaimana Bunga berlatih beladiri, bahkan wanita itu bisa sangat mudah menggunakan pedang.
"wah sepertinya kami salah strategi," gumam David.
"boleh aku mencobanya?" tanya David pada bu Nova.
"tentu, coba saja," jawab Bu Nova.
David pun mengambil pedang yang ada, kemudian berdiri di depan Bunga dan memberi hormat.
"kita mulai, jika kamu kalah harus mengatakan apa yang kamu rencanakan tadi," kata Bunga
"tentu, dan jika kamu yang kalah kakak ipar harus membujuk kak Darwin untuk mau menyerahkan mobil roll-royce yang baru dia beli," kata David.
"tentu, itu mudah," jawab Bunga.
keduanya pun mulai saling menyerang, bahkan David sedikit kuwalahan mendapat serangan dari Bunga.
pasalnya Bunga begitu tepat dan cepat dalam setiap serangan, David lengah kemudian pedangnya jatuh dan bunga mengarahkan pedang itu ke arah leher David.
"you lose..."
David mengangkat tangan sebagai kata menyerah, "oke," jawab David.
"apa yang kamu rencanakan, terlebih mereka bertiga pengawal khusus?" kata Bunga.
"karena aku ingin kakak pulang ke rumah, ya kak Darwin mengajak dengan cara baik-baik kakak tidak mau, jadi aku inisiatif menculik kalian? tapi aku tak melihat ketiga pengawal yang aku kirim?"
"mereka sudah ke akhirat, salah sendiri mereka mau menyentuhku, dan itu salah mu sendiri," jawab Bunga.
David tak mengira jika kakak iparnya begitu dingin, bahkan begitu datar Joshua bahkan bisa melihat Adelia muda di diri menantunya itu.
"mama mertua mu ingin kamu pulang ke rumah nak?" kata Joshua.
"belum saatnya pa, karena aku masih pun satu tugas lagi," jawab bunga melihat bu nova.
"ibu baik-baik saja," kata wanita itu.
"tidak Bu, selama ibu tak mau memeluk putramu, maka aku akan menemani dirimu," kata bunga.
"aku bisa bantu, ibu tinggal bilang, aku akan menemukan pitra ibu yang hilang," kata Darwin yang baru datang bersama.
"bukan hilang nak, aku membuangnya di depan panti asuhan putra bunda, dan hari itu aku melakukan itu karena aku merasa belum sanggup jadi ibu di usia ku yang baru delapan belas tahun," kata Bu Nova.
"Aldo kamu dari sana bukan?" tanya Darwin menoleh ke asistennya itu.
tapi Aldo begitu sedih, Bahkan wajahnya nampak begitu merah, dan air mata menetes dari mata pria tampan itu.
"apa bayi laki-laki dengan kalung salib persis dengan yang ibu gunakan?" tanya Aldo.
"maafkan aku Aldo," tangis Bu Nova.
Aldo pun perlahan mendekat dan memeluk Bu Nova, "aku sudah lama menunggu ibu, Aldo ingin di peluk ibu, Aldo tidak marah, Aldo bahkan menolak di adopsi agar tetap bisa menunggu ibu," kata pria muda itu.
"tapi ibu jahat nak, karena meninggalkan mu, seharusnya jangan maafkan ibu," lirih Bu Nova.
"tidak, Aldo ingin ibu sekarang menemani Aldo, Aldo juga ingin seperti teman-teman yang lain, punya ibu yang akan menyambut putranya pulang," kata Aldo yang kembali memeluk Bu Nova.
"sayang bukannya yang begitu biasanya istri ya?" tanya Darwin berbisik di telinga istrinya.
"sudah diam, atau aku akan menghajar mu juga," ketus Bunga.
Darwin pun mencebikkan bibirnya, pasalnya Bunga sekarang begitu ketus, bukan istrinya yang manja dan penurut.
tapi itu juga adalah salahnya yang tak bisa menjaga bunga, terlebih sikapnya yang tak bisa tegas.
"sekarang pulang yuk, jika tidak kami bertiga bisa habis dengan mama," kata Joshua.
"memang kalian kenapa pa?" tanya Darwin.
"mama marah karena bunga belum mau pulang, dan kami harus bisa membawanya pulang sekarang," jawab Joshua sedih.
__ADS_1
"baiklah, tapi asal papa tau aku tadi kalah dari David dan taruhannya adalah mobil terbaru milik suamiku Darwin, jika mas Darwin tak ingin memberikan mobilnya maka aku tak bisa pulang," kata bunga.
"kamu bertarung dengan Kakak ipar mu, dan kamu mengalahkan nya David!!" marah Darwin
"maafkan aku kak..." kata David takut.
"baiklah, kamu bisa memiliki mobil roll-royce itu, toh sepertinya kakak ipar mu menyukai mobil besar," kata Darwin.
Bunga pun tersenyum, dan David tak mengira jika begitu mudah dia berhasil mendapatkan mobil milik Darwin yang selama ini di kenal pelit.
sore itu Bunga di bantu darwin dan Joshua untuk pulang ke rumah beserta semua barang-barang miliknya.
sedang Bu Nova juga ikut Aldo menuju ke rumah yang sudah Aldo beli, dan dia tak mengira jika akan tinggal bersama ibunya.
saat sampai di rumah Adelia sudah menunggu bunga bersama papa Federico dan mama Laura.
"akhirnya kamu mau pulang juga, mana sudah sangat merindukanmu?" kata Adelia.
"iya ma, maaf ya bukan aku tak ingin kembali, tapi suamiku ini belum sepenuhnya bisa melindungi kami dan menunjukkan keseriusannya padaku," jawab Bunga.
"tapi kali ini kamu sudah pulang, jadi jangan berpikiran untuk pergi lagi ya," kata Adelia.
"iya mama," jawab Bunga.
mereka pun masuk kedalam rumah, tapi langkah Bunga terhenti saat melihat sosok yang di kenalnya, wanita itu tertawa dan langsung menyapa bunga.
"apa ini menantu mu, aku mengenalnya benar tidak Bunga," kata wanita itu.
"maaf Tante, tapi aku tak ingat dengan mu, karena aku hanya menginggat orang yang lenting di hidupku, dan mas ayo kita ke atas," jawab bunga yang mengejutkan semua orang.
"ha-ha-ha kamu masih marah bunga? padahal itu hanya kesalahpahaman, jangan membuat mu buruk di mata keluarga mu," kata wanita itu
"aku memang seperti ini, bagaimana bisa di katakan kesalahan, saat Tante dengan sengaja mengirimkan semua pesan itu pada mama, dan membuat orang tuaku bertengkar hingga akhir Keduanya kecelakaan dan mati, Tante belum puas melakukan itu, dan sekarang kenapa rante disini?" kata Bunga yang sudah bisa menahan amarahnya
"jadi wanita yang di pergoki oleh ku dan Sena waktu itu kamu Yasmin," kata Adelia.
"kamu ini bilang apa? buat apa aku menganggu keluarga miskin itu, toh aku bahagia dengan keluarga ku saat ini," jawab Yasmin.
bunga yang melihat tuan Wijaya pun memilih pergi, dia tak ingin makin melukai pria itu.
"Bunga tunggu dulu, apa kamu menuduhnya tanpa bukti? tanya Joshua.
"papa yakin mau bukti, apa papa siap di tinggalkan mama, jika tidak jangan berani memancing ku, terlebih mencoba mengusik istriku," suara Darwin membungkam Joshua
keduanya kini berjalan naik ke lantai tiga, David pun tertawa melihat ini, sedang Adelia tau jika kedua putranya itu sudah tau segalanya.
sedang di lantai tiga, Darwin menaruh putranya itu di ranjang bayi dan langsung memeluk bunga dengan hangat.
"apa yang kamu lakukan,lepaskan," kata bunga memohon kepada Darwin
"tidak mau, akui gin terus seperti ini, jangan menyuruh ku untuk tak melakukan ini," jawab Darwin.
"tapi putra mu melihat kita,"kata Bunga mencubit hidung mancung suaminya.
darwin pun langsung mencium bibir istrinya itu dengan hangat, bunga pun di buat tak berdaya oleh Darwin.
Bunga mendorong suaminya, "dasar kau ini mas, malu sama baby Ale, minta David untuk menjaganya, sebelum kamu meminta ku melakukan itu,"
"siap bos," jawab Darwin yang langsung mengendong putranya itu.
Darwin pun turun ke lantai dua, dan memberikan baby Ale pada David.
"titip dua jam, ini susunya, dan jika habis minta Bu Ajeng," kata Darwin yamg langsung kembali ke lift.
"kakak kamu gila!!" kata David melihat keponakannya yang hanya diam
"baby are you oke? kenapa dia tidak menangis saat aku berteriak?" bingung David.
bahkan bayi Ale hanya diam melihat om keduanya itu, ya baby e me.sng bayi yang jarang menangis.
Darwin pun langsung mr Gunco pintu dan mengendong istrinya, Keduanya pun menikmati waktu bersama.
sedang di kamar David, pria itu malah tidur sambil menemani baby Ale yang tidur juga.
setelah Yasmin dan suaminya pulang,Adelia pun merasa aneh karena anak-anaknya begitu tenang.
Adelia tau jika Darwin dan Bunga, tapi David tak biasa sepi seperti ini, Adelia pun masuk ke kamar putranya itu.
dan betapa kagetnya Adelia yang melihat David tidur dengan posisi yang sama dengan keponakannya itu.
mama Laura memanggil papa Federico dan Joshua ke perpustakaan, wanita itu ingin menanyakan sesuatu yang penting.
"kalian jujur, atau tetap bungkam tapi saat dia tau, kau Mati," kesal mama Laura.
__ADS_1
"jujur ma, sebenarnya dulu Yasmin pernah menjebak ku, tapi aku berhasil lari, tapi dia mengancam ku dengan mengunakan Wijaya, itulah kenapa aku membohongi keluarga ku agar aku bisa mundur dari perusahaan," terang Joshua.
"kamu tak percaya istrimu, hingga merasa bisa menyelesaikan semuanya sendiri, kau merasa begitu tinggi huh," kesal Adelia mendengar perkataan suaminya.
"bukan begitu sayang, dia terus menekan ku, Wijaya jiha memohon, jadi lebih aman saat aku tak lagi menjadi Presdir di perusahaan Gusman."
"tapi kamu sekarang mengorbankan putra mu, dan juga pernikahannya,"
"kalau begitu coba bujuk Yasmin, bagaimana pun kamu itu sahabatnya dan lagi kanu kan Adelia," kata Joshua.
"papa ..."
Adelia pun tak mengira jika suaminya itu berubah, apalagi setelah semua yang terjadi.
"tenang saja, Darwin dan Bunga pasti bisa mengatasi semua ini, dan lebih baik kalian liburan berdua, nikmati masa indah kalian," perintah mama Laura.
"kebetulan papa punya tiket kapal pesiar mewah sama tiga bulan mengelilingi dunia, dan kalian bisa pergi, biar kami yang menjaga kekuarga ini," kata papa Federico.
"baiklah pa, jika ini keinginan kalian, aku dan Adelia menurut saja," jawab Joshua.
Adelia pun mengangguk, dan uang di katakan oleh mama mertuanya itu benar, mereka memang butuh liburan berdua.
saat makan malam, semua sudah berkumpul, dan baby Ale sudah bersama pengasuhnya.
"mana dan papa ingin liburan, jadi kaloan berdua menurut pada Oma dan opa, dan Darwin jaga keluargamu, jangan biarkan wanita manapun menghancurkan keluarga Kalian," kata Adelia.
"pasti ma, karena sekarang aku yang menghadap semua pelakor, dan jika putra mama berani menghianati ku, boleh aku memotong miliknya itu, setidaknya dia tidak mungkin bisa selingkuh lagi," kata Adelia.
"tapi jika di potong kaku tidak memiliki kesenangan itu juga dong?"
"David siap kok membantu," kata pria itu.
"kau ingin mati di tangan ku hah, lagi pula buat apa aku berselingkuh, toh istriku sudah begitu cantik."
"siapa tau kau khilaf, benar tidak kakak ipar?"
Bunga mengangguk, dia pun kemudian menghampiri Adelia dan mama Laura dan berbincang.
ketiga wanita itu nampak begitu santai berbincang sambil menikmati waktu malam.
Dylan pun baru pulang dari kantor, dia tak mengira jika pekerjaannya kali ini begitu berat, terlebih Darwin membuatnya tengelam dengan proyek yang bermasalah.
"malam ma," sapa Dylan.
"baru pulang nak, cepat mandi dan apa kamu mau di buatkan sesuatu?" tanya Adelia.
"tidak perlu ma, aku sudah makan di kantor tadi, tapi tolong minta Bu Ajeng untuk mengantarkan beberapa cemilan dan juga Kim telur rebus ya, terima kasih ma," kata Dylan.
dia juga menyapa mama lagi dan juga bunga, "eh mana nih sih ganteng?" tanya Dylan.
"sedang main dengan papa," jawab Bunga.
Dylan mengangguk kemudian naik ke atas, dia tak mengira jika dia satu-satunya keluarga di sana yang baru pulang.
tapi dia tak mengira jika Darwin membawa pekerjaan pulang, terlebih ada proyek baru bersama klien baru asal Jepang.
terlebih Darwin sangat menjunjung tinggi setiap pekerjaan yang berjalan harus sempurna, karena dia tak menyukai jika itu ada sebuah kesalahan sedikitpun.
David sedang melihat semua laporan yang di kirimkan oleh orang kepercayaannya.
"kau baru pulang Dylan?" tanya David yang sedang fokus.
"menurut mu, kamu sedang main," tany Dylan melihat laptop saudaranya itu.
"kamu mu mati, sejak kapan aku main seperti ini," kata David kesal.
"sorry bos, itu laporan mengunakan bahasa Inggris, membuatku pusing, aku mandi dulu dan aku perlu bantuan mu sebentar ya," kata Dylan.
"baiklah," jawab David.
Bu Ajeng naik dengan dua mangkok berisi lima buah telur rebus, satu piring buah potong dan juga dua jus jeruk.
tak butuh waktu lama untuk Dylan mandi, dan kembali bergabung dengan David.
"kamu mau minta bantuan apa?" tanya David menghentikan aktivitasnya.
dia menunjukkan sebuah laporan dari proyek yang akan terjadi, dan saat David melihatnya dia tertawa bukan main.
"kamu kenapa? aku tak mengerti sedikitpun?" tanya Dylan.
"sampai kau tua dan keriput juga tak akan tau, orang pakai bahasa Jawa, memang siapa yang memberimu ini?" tanya David.
"kakak Darwin," jawab Dylan polos
__ADS_1
"wah gila, kakak Darwin bisa mengerjaimu seperti ini," Kata David.
"kakak!!!" kata Dylan yang malu, dua belum sempat melihat berkas itu yang ternyata kerjaan dari Darwin.