
Tuan Georgio berkumpul bersama yang lain, mereka pun sarapan bersama.
Salsha melihat ke arah lift, dia berharap agar Darwin segera datang begitupun dengan Adelia dan Joshua.
"Salsha kamu menunggu Darwin, dia tak datang nak, dia sedang tak enak badan," kata Hafsah lembut.
"Kenapa papa, apa bisa aku melihatnya," tanya Salsha.
"Tentu, tapi kamu harus habiskan sarapan mu dulu," jawab mama Vena.
"Iya mama," jawab Salsha.
Salsha pergi ke lantai tiga bersama dengan nyonya Arsya, tapi saat sampai dia sedikit takut dengan Joshua.
"Baiklah sayang, aku berangkat ke kantor dulu, dan Darwin ingat untuk beristirahat, jangan sampai kamu terus bermain," kata Joshua mengusap kepala Darwin.
"Siap papa," jawab Darwin.
"Kamu hati-hati ya sayang," kata Adelia melihat Joshua pergi.
"Aku berangkat dulu Oma," pamit Joshua.
"Tentu, hati-hati di perjalanan," kata nyonya Arsya.
Hafsah dan mama Vena sudah berangkat ke perusahaan, sedang Joshua memutuskan untuk membawa mobil sendiri.
Dia tak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja, apa lagi begitu banyak proyek yang berjalan.
Mobil mewah itu sampai di perusahaan, semua orang kaget melihat Joshua yang datang telat.
Joshua menghampiri ruangan Hans terlebih dahulu, "minta Novan mengirimkan apa yang aku minta seminggu yang lalu," perintah Joshua.
"Baik bos," jawab Hans yang memberi hormat.
Joshua pun langsung masuk kedalam kantor miliknya, dia mau mengerjakan semua berkas yang sudah menumpuk itu.
Novan datang dengan dua amplop besar di tangannya, Novan mengetik pintu sebelum masuk ke ruangan.
"Ini adalah berkas yang anda minta, dan aku berhasil mengumpulkan semua informasi, tapi sayang kita sudah kehilangan gadis itu tuan," kata Joshua.
__ADS_1
"Tak masalah, setidaknya aku sudah tau kebenaran yang terjadi, dan kembali ke tempatmu," perintah Joshua.
"Baik tuan, permisi," pamit Novan.
Joshua menyimpan berkas itu kedalam brangkas kantornya, setelah itu dia pun kembali bekerja.
Sedang di rumah. Darwin sedang belajar dengan Salsha, sedang Adelia sedang menyiapkan makan siang untuk Darwin dan Salsha.
Adelia juga meminta Bu Anne mengantar makan siang ke perusahaan Joshua.
"Bu Anne, tolong antar makan siang ini ke suamiku ya, setelah itu sebelum pulang tolong belikan yang ada di catatan ini ya Bu, ini kartu ATM nya," kata Adelia.
"Baik nyonya," jawab bu Anne.
Bu Anne pun berangkat di antar oleh bodyguard, yang juga putra dari Bu Anne.
Jalanan Surabaya cukup ramai siang itu, belum lagi cuaca yang cukup panas.
Di Kantor, Joshua sedang duduk karena sudah masuk jam makan siang.
Joshua lupa tak membawa bekal hari ini karena keadaan Darwin, Adelia juga tidak menyiapkan bekal untuknya.
Hans menghampiri ruangan Joshua, "Bos besar, mari kita makan siang di kantin," ajak Hans.
Tapi saat di lobi, ternyata Bu Anne sudah datang bersama firman.
"Bu Anne, firman ada apa?" sapa Joshua.
"Tuan, ini ada titipan nyonya besar untuk mengantarkan makan siang untuk tuan," jawab Bu Anne.
"Terima kasih Bu, aku tak mengira jika dia tetap menyiapkan makan siang," kata Joshua dengan senang megambil makanan dari Bu Anne.
Setelah itu Bu Anne dan firman pamit, sedang Joshua bersama Hans menuju ke kantin.
Joshua terkejut saat melihat isi kotak makan miliknya, ternyata Adelia membuatkan iga bakar kesukaannya.
Dan juga nasi merah dan sayuran campur, Hans memesankan teh hangat untuk bos-nya itu.
Setelah makan siang, ternyata Felix sudah berada di ruangan Joshua, pria itu sedang minum sendirian.
__ADS_1
Joshua pun tak terkejut melihat paman terkecilnya itu, "kenapa disini galau, jangan minum banyak bisa mati muda lama-lama," kata Joshua duduk di kursi kebesarannya.
"Cih... mulutmu tetap saja pedas Padaku, tak bisakah kamu mengatakan hal yang manis," kesal Felix.
"Tak pantas, kata manis ku hanya untuk istriku, bukan untukmu, sudah hentikan minum, ada apa?" tanya Joshua kesal.
"Entahlah, aku binggung, aku merasa Ayu berubah padaku, dia begitu dingin, padahal setelah menikah aku sudah mengatakan jika aku pernah tidur dengan seorang wanita, dan suatu saat bisa saja wanita itu datang membawa anak, tapi dia menjawab tak masalah, tapi-" kata Felix memijat keningnya.
"Ya begitulah wanita, merasa kuat tapi nyatanya tidak, mungkin dia merasa buruk karena putra kalian meninggal, sedang Yasmin memiliki dua anak dari ku," jawab Joshua.
"Tapi aku tak bisa jika harus perang dingin dengan nya, Ayu adalah orang yang begitu hangat, tapi sekarang aku malah di diamkan seperti ini," lirih Felix.
"Kalau begitu ajak kencan romantis saja, setelah itu jelaskan jika hanya dia saja di hidupmu, dan juga jelaskan jika om juga harus bertanggung jawab dan minta saran darinya, libatkan dirinya juga, ingat jangan pernah mengambil keputusan sendiri," saran Joshua.
Felix merenungkan ucapan dari Joshua, dan dia mengatakan hal yang benar, seharusnya dia tetap melibatkan Ayu sebagai istrinya yang sah.
"Baiklah, dan boleh pinjam kartu VIP milikmu, setidaknya kami akan mengunakan kamat private mewah milikmu," kata Felix
"No, itu khusus milikku, mending pakai presidential suite saja, itu juga sudah begitu mewah," protes Joshua.
"Ayolah kau pelit sekali, ini demi keberlangsungan hidup dan keturunan keluarga Gusman," kata Felix.
"Tidak akan, aku sudah bisa melanjutkan nama Gusman, sudah pergi sana," usir Joshua.
"Bagi kartu itu untukku, atau aku akan menunjukkan foto aib mu waktu kecil," ancam Felix.
"Ya, kau berani menunjukkan itu, aku akan membuatmu menyesal," ancam Joshua.
"Terserah, setidaknya Adelia akan tau bagaimana cantiknya suami gagahnya saat memakai rok dan di kuncir dua," kata Felix menunjukkan ponselnya.
"Hapus om, jangan membuatku marah," kata Joshua mencoba merebut ponsel milik Felix.
"No, kemari kan dulu kartu VIP milikmu, sebelum aku kirim ini ke Adelia," ancam Felix mengulurkan tangannya.
"Sialan, cepat hapus atau aku membunuhmu," kata Joshua marah.
Felix pun mencium kartu itu, setidaknya dia akan merencanakan semuanya untuk Ayu.
Joshua bernafas lega melihat Felix pergi, setidaknya pria itu tak menganggunya setelah mendapatkan kartu akses itu.
__ADS_1
Meskipun Joshua memberikan kartu akses bukan di hotel yang diinginkan oleh Felix, tapi pria itu terlihat bahagia.