
Hans yang melihat pun langsung mengendong wanita itu ke UGD, ternyata dia sudah mau melahirkan.
Saat Hans akan pergi, seorang suster menahannya, "maaf pak, tolong temani istri anda untuk melahirkan, itu akan sangat membantu."
"Tapi maaf suster, saya bukan suaminya, saya hanya kebetulan membantunya," jawab Hans dingin.
Suster pun langsung terkejut, pasalnya wanita itu terus mengenggam tangan Hans.
"Tolong tinggallah di sini, aku mohon..." mohon wanita itu.
"Maaf Indah, kamu bisa memanggil suamimu, dan ku harus kembali bekerja," kata Hans dingin.
Hans pun melepaskan genggaman tangan Indah, dan berjalan pergi dari ruangan bersalin itu.
Indah hanya bisa terdiam melihat pria yang pernah dia cintai itu pergi begitu saja.
Hans sudah melepaskan Indah, dia tak ingin terjebak masa lalu, dia pun kembali ke ruangan rawat Adelia.
Adelia pun sudah di bawa keluar oleh Joshua dengan mengunakan kursi roda, ternyata Adelia tak harus rawat inap.
"Sayang kamu janji akan membawaku belanja," kata Adelia pada Joshua.
"Baiklah, tapi kamu harus tetap di kursi roda," jawab Joshua.
"Tentu," jawab Adelia senang, sesaat dia melupakan rasa sakitnya.
Hans pun memerintahkan manager umum untuk mengosongkan mall, bagaimana pun Joshua ingin Adelia nyaman.
Pengamanan di perketat, tak sembarang orang bisa masuk, selama mereka berbelanja.
Mereka pun mulai berbelanja di mall itu, tapi tak di duga seorang gadis berhasil menerobos masuk.
Bahkan beberapa pengawal di buat kesakitan, mendengar laporan itu, Hans langsung turun tangan sendiri.
Gadis itu berlari dan menabrak sosok Hans yang berdiri di depan matanya.
"Hallo ganteng, maaf tapi aku mau ketemu om Federico," kata gadis itu tersenyum.
"Maaf tapi anda tak boleh masuk," kata Hans menahan gadis itu
"Lepasin, ih... tolong om Federico, asisten kak Joshua ingin memperkosaku!" teriak Tasya.
Mendengar teriakan itu mama Laura menghampiri keponakannya itu, ternyata Hans hanya memegang tangannya.
"Hais... gadis ini, lepaskan Hans, biarkan dia kemari," kata mama Laura.
Hans pun langsung melepaskan lengan dari Tasya, Tasya pun kesal dan mempunyai ide gila.
"Om om kesini deh, nunduk dikit," panggil Tasya.
__ADS_1
Hans pun terpaksa mengikuti gadis itu karena mama Laura masih memperhatikan dirinya.
Tasya menarik dasi Hans, Tasya pun langsung mencium pipi Hans di depan mama Laura.
"Wah lipstik nya waterproof, jadi gak nempel kalau buat cium pipi," kata Tasya yang tertawa senang.
Gadis itupun lari dan menggandeng mama Laura, meninggalkan Hans yang terdiam karena serangan mendadak.
Tasya adalah putri kedua dari William Gusman, gadis itu selalu ceria tapi saat di rumah dia seperti putri yang terbuang.
"Halo om Federico, kak Jojo dan kakak ipar," kata Tasya yang langsung memeluk Adelia.
"Tenang Tasya,kamu bisa melukai kakak ipar dan calon keponakan mu," kata Joshua melihat keduanya berpelukan.
"Maaf, aku terlalu senang, maklum setelah sekian purnama aku di kurung nenek sihir di istana mewah, akhirnya bisa keluar juga," kata Tasya tertawa.
"Yang kamu panggil nenek sihir itu ibumu sayang," kata mama Laura.
"Bukan, ibuku sudah meninggal dunia, lagi pula aku adalah aib bagi keluarga William Gusman ...." lirih Tasya.
"Tapi kamu adalah gadis kesayangan keluarga kami," kata Joshua.
"Itu pasti karena aku putri cantik mama Laura," jawab Tasya memeluk mama Laura.
Mereka pun melanjutkan berbelanja, sedang Hans memilih merokok di luar gedung.
Tak di duga Tasya sudah duduk di sampingnya, dan mengambil rokok di tangannya.
"Manis loh, bekas bibir om Hans," goda Tasya sambil menghisap rokok itu.
"Kamu perempuan buat apa ngerokok," kata Hans mengambil puntung rokok dan membuangnya.
"Om Hans tau, aku merokok selalu berharap bisa mati cepat, atau setidaknya aku di usir keluar dari rumah setan itu," kata Tasya.
"Kenapa kamu begitu membenci orang tua mu," tanya Hans.
"Om tau kisah ibu tiri yang kejam, tapi kisah ku ada ayah dan ibu yang kejam, bahkan tubuhku saja penuh luka karena siksaan mereka," kata Tasya tersenyum getir sambil melepaskan jaket yang di pakainya.
"Apa sakit sekali," kata Hans melihat lengan Tasya penuh luka.
gadis itu mengangguk, "kenapa tak membalas Tasya, kamu bisa karate," seru Hans kasihan.
"Aku tak mau jadi Putri yang durhaka karena melukai dan menentang keinginan keduanya," jawab Tasya.
Hans terdiam mendengar jawaban dari gadis di depannya itu, dia saja bisa memilih pergi daripada harus menurut pada orang tuanya.
"Hei... kalau mau pacaran kami tinggal nih," teriak Joshua pada keduanya.
"Ya! kenapa berteriak," jawab Tasya tak kalah keras.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Tasya, Joshua langsung menghampiri gadis itu.
Tasya pun bersembunyi di balik tubuh kekar Hans, "maaf bos, kami akan segera ke sana, permisi," kata Hans pergi sambil menarik Tasya.
Joshua pun melotot karena Hans sudah meninggalkan dirinya.
Di dalam mobil mereka hanya Dian tak ada yang bicara, karena bosan dengan iseng Tasya memutar lagu K-Pop.
Dan kini dia dan Adelia sudah bernyanyi, Adelia bahkan terlihat begitu senang dan terus tertawa.
"Sayang ingat kmu baru enakkan," kata Joshua menginggatkan.
"Tak masalah, aku sudah baik kok," bantah Adelia.
Mobil pun sampai di rumah Joshua dan Adelia, Bu Anne membantu membawakan semua belanjaan mereka.
Tasya membantu Adelia turun, tak di duga Novan datang dan mengatakan hal besar.
Adelia pun tersenyum melihat Tasya yang begitu memanjakan dirinya karena takut pada Joshua.
Tasya membantu Bu Anne membuat minuman, meski sudah di larang tapi gadis itu tetap ngotot.
Semua berkumpul di ruang tengah, "Bos sepertinya kita harus menjalankan rencana kita saat ini, karena William terus membuat gerakan mengejutkan," kata Novan.
"Baiklah, aku mengerti, dan Hans kami butuh bantuan mu, tapi jika kamu menolak aku akan mencari pria lain," kata Joshua.
"Aku mengerti bos, aku akan membuat gadis itu menggilai ku," kata Hans datar.
"Apa hanya ini caranya, bukankah ada cara lain," kata Adelia.
"Maaf ini cara termudah," jawab Joshua.
"Tapi haruskah Hans menikah dengan Viona," kata Adelia.
Pyaar.... nampan itu jatuh dari tangan Tasya, gadis itu terkejut mendengar perkataan mereka.
"Maaf.." lirih Tasya sambil memunguti pecahan gelas itu.
"Tasya biarkan, kamu bisa terluka," kata mama Laura yang menghampiri gadis itu.
Tapi Tasya tak peduli, dia terus memunguti pecahan gelas itu, meski tangan nya sudah terluka parah.
Tasya seakan memunguti hatinya yang hancur berkeping-keping saat ini.
Hans yang tak bisa melihat adegan itupun, langsung menarik Tasya menjauh, "Lepaskan aku, aku akan membereskan kekacauan yang aku buat, aku mohon," kata Tasya mendorong Hans.
"Hentikan, kamu sudah terluka dan berdarah," geram Hans.
Tasya langsung menampar Hans cukup keras, bahkan kini darah di tangannya sudah menempel di pipi pria itu.
__ADS_1
"Tutup mulutmu!" teriak Tasya.