Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
S2_gadis pengagum


__ADS_3

malam ini Sabrina dan Devan datang untuk menginap di apartemen milik Bunga.


keduanya bebas, karena orang tua keduanya sedang ke luar negeri, begitupun Devan yang sedang naik gunung.


"ya.. kau gila melakukan itu!" teriak Sabrina saat kembarannya itu mencampur adukkan kue miliknya dengan perasa bluberi.


"maaf sengaja, hahaha... biarkan pria itu keracunan jika bisa, atau biarkan dia mati tersedak karena kue mu, ha-ha-ha," tawa Davin menggoda Sabrina.


"ada apa sih kalian ini, masak aku di kamar saja kedengaran loh suara Kalian?" kata Bunga menghampiri dua orang itu.


"kakak ... lihat Davin membuat kue coklat ku terasa seperti bluberi," kesal Sabrina.


"maaf, tapi rasanya enak, coba saja cicipi sebentar," kata Davin.


bunga pun mencicipi adonan itu, dan tak buruk menurutnya, Bunga pun tetap mencetaknya.


"kamu bisa membuatnya lagi, biar ini kakak yang akan makan," kata bunga menjewer Davin.


"terima kasih kak," kata Bunga yang kembali semangat.


gadis itu sedang sibuk membuat kue, karena dia tau jika David akan pulang.


Darwin dan Aldo datang untuk mengunjungi wanita cantik itu, tapi saat sampai di apartemen itu.


Darwin kaget karena dia terkena lemparan bantal sofa karena Davin yang ingin keluar.


"kak Darwin!" kaget Bunga.


Darwin yang kaget, mencoba tetap tersenyum, sedang Davin yang berulah ingin lari, tapi Darwin menarik baju pria muda itu.


"mau kemana kamu? sini dulu Davin," kata Darwin menyeretnya.


Davin pun terpaksa menurut karena dia tau tak mungkin bisa lepas dari Darwin


sedang Aldo tersenyum melihat itu, tapi senyumnya tiba-tiba hilang saat melihat Sabrina.


"kakak kuenya matang," kata gadis itu.


"kemarikan Sabrina, lihat siapa yang datang," panggil Bunga.


Sabrina pun membawa piring itu ke ruang tamu, tapi Sabrina langsung cemberut melihat sosok Aldo.

__ADS_1


"kenapa melihatku, mau di colok tu mata!" ketus Sabrina.


"aduh cantik, kenapa sih kok jahat banget, jangan gitu dong, nanti lari dong kalau ada cowok yang suka dengan mu," kata Darwin.


"jangan gitu lah kak, kalau boleh sih bantuin aku deketin kak David dong," kata Sabrina yang duduk di samping Darwin.


"kenapa David, kalau menurutku kamu lebih cocok dengan Dylan daripada David," kata Darwin.


Sabrina langsung cemberut dan pergi menuju ke arah Bunga dan memeluk gadis itu.


"kenapa kamu tak suka Dylan, dia itu ganteng, baik, dan juga sempurna dalam segala hal bukan, dia juga memiliki tubuh yang bagus," puji Bunga.


"emm ... sayangnya aku gak suka, dia itu terlalu perasa, terutama kalau sama wanita, itu yang bikin jengkel tau."


Darwin tertawa mendengar perkataan Sabrina, dia mengakui hal itu, pasalnya Dylan itu memang suka menolong orang.


"sudah kalian semua ikut ibu keluar yuk, ayo nak Aldo antar kami belanja, biar nak Darwin dan bunga di rumah," ajak Bu Nova menarik semua orang.


"baik Bu," jawab Aldo.


"tapi kue ku belum selesai Bu, nanti gosong," protes Sabrina.


akhirnya keempat orang itu membiarkan dua orang itu berduaan.


"kemarilah sayang," panggil Darwin pada Bunga.


"tidak, aku masih marah dengan mu, jadi jangan harap aku mau mendekati mu," kata Bunga ingin tertawa.


pasalnya wajah Darwin langsung berubah total, pria itu begitu sedih seperti bocah yang ingin makan coklat.


"Bunga ... tolong jangan seperti ini, aku harus apa agar kamu mau memaafkan ku," kata Darwin memeluk tubuh Bunga.


"buatkan aku steak daging atau kalau tidak nasi goreng juga?" kata Bunga.


"benarkah? apa kamu yakin hanya ingin itu, tidak ingin pulau pribadi, jet pribadi atau rumah mewah atau hotel atas namamu," kata Darwin bingung.


"tidak, aku hanya ingin hidup sederhana, bersama pria yang aku cintai, aku hanya ingin bersama pria yang aku cintai dan putraku nanti," kata Bunga tersenyum.


"kenapa begitu saja, bukankah hidup perlu uang, apa kamu begitu naif," tanya Darwin.


"aku tau itu, tapi kedua orang tua angkat ku selalu berkata, jika tak selamanya uang bisa mengembalikan waktu yang kita sia-siakan. seperti saat anak-anak sedang tumbuh, dia akan mengenggam tangan kita, belajar berdiri, berjalan dan berlari, dan itu tak bisa kita ulang," jawab bunga.

__ADS_1


Darwin diam, dia tak mengira jika permintaan dan impian Bunga sesederhana itu.


"maukah kamu menikah denganku, dan aku akan fokus pada kalian berdua," kata Darwin mencium tangan Darwin.


"tidak mau, kamu saja tak mau membuatkan aku nasi goreng, kamu tau aku sedang lapar," kata Bunga menarik tangannya saat Darwin ingin menciumnya.


Darwin pun tertawa, "baiklah, aku akan membuatkan kamu nasi goreng ya, jadi tunggu sebentar," kata Darwin mencium pipi bunga.


"hentikan kak, kamu selalu saja seperti ini," kata gadis itu Malu.


Darwin pun bersiap-siap untuk memasak, Darwin pun begitu mahir membuat masakan.


dia juga mencari daging, dan memanggangnya, kemudian Darwin menyuapi bunga saat nasi goreng itu matang.


kemudian ia juga memotong daging panggang yang baru matang, Bunga pun begitu menyukainya.


"kenapa kamu begitu ahli, aku bahkan tak bisa memasak seenak ini," katanya begitu senang.


"ini hanya masakan sederhana Bunga, dan jika kita menikah, kapan pun dan apapun yang kamu ingin makan, aku akan memasak nya untukmu," kata Darwin.


"benarkah? tapi bagaimana dengan keluarga besar mu kak, mereka pasti tak akan bisa menerima diriku," gumam Bunga sedih.


"kenapa bilang seperti itu, mama dan papa sudah merestui hubungan kita, apalagi tentang pernikahan kita, ini pasti akan jadi hal yang sangat membahagiakan untuk keluargaku," kata Darwin.


"baiklah, bisakah aku melihatnya sendiri?" kata Bunga.


"baiklah, sesegera mungkin kita bertemu keluarga besar ku, dan lihat saja semua pasti akan setuju," kata Darwin yakin.


bunga pun mengiyakan saja, dan memeluk Darwin, sedang rombongan yang sedang belanja malah heboh.


karena ulah Sabrina dan Aldo yang terus bertengkar seperti kucing dan anjing.


keduanya bahkan tak tau tempat, Sabrina yang seorang atlit Wushu karena kesal membanting tubuh Aldo di depan semua orang.


Davin dan Bu Nova kaget bukan main, "Sabrina, apa yang kamu lakukan, ingat nak kamu itu perempuan," kata Bu Nova.


"karena mulut pria ini menyebalkan, dan melebihi mulut seorang wanita ember, ya Tuhan ingin rasanya aku menginjak lehernya hingga patah!" teriak Sabrina di pelukan Davin.


"ya Tuhan Sabrina, ingat kamu itu cewek tolong jangan berlebihan seperti ini," kata Davin.


tapi Sabrina masih terus berusaha menghajar Aldo, sedang Bu Nova membantu pria itu bangun dari lantai.

__ADS_1


__ADS_2