Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
bonus chapter


__ADS_3

Adelia sudah selesai membuat sarapan untuk semua orang, pasalnya hari ini Salsha akan kembali ke Paris untuk melanjutkan sekolahnya.


"sayang, ayo sarapan," panggil Adelia pada semua keluarganya.


"ya mama," kata Joshua turun sambil membawa dua anak kembarnya.


"loh, papa libur?" kaget Adelia melihat Joshua mengenakan pakaian santai.


"ya, papa hari ini bebas, karena Darwin yang akan ke kantor bersama Hans dan Novan."


"oke dech sayang, tapi mana putramu," tanya Adelia mencari sosok Darwin.


"mungkin dia sedang berlatih," jawab Joshua.


Adelia mengangguk, dan memberikan sarapan pada si kembar, kedua bocah itu begitu lahap makan.


sedang Joshua sarapan sambil menyuapi Adelia, mereka tak mengantar Salsha karena mereka harus ke dokter.


Salsha datang untuk berpamitan pada Adelia dan keluarga, kemudian Hafsah mengajak dia pergi.


Salsha bahkan tak bisa berpamitan dengan Darwin karena pria itu tak ingin di ganggu.


Darwin ingin tetap fokus pada pelatihannya, yang sudah tertunda selama dua Minggu tak berlatih karena kesibukannya jalan-jalan.


Darwin sedang berlatih dengan para pengawal, dia seakan terus teringat tatapan dari bunga padanya.

__ADS_1


Darwin tak menyukai tatapan itu yang begitu terluka saat melihat dirinya karena Salsha di sampingnya.


"Darwin berhenti dan segera sarapan, dan kamu harus ke kantor hari ini," kata Joshua datang sambil membawa baki berisi makanan.


"iya papa, aku akan berangkat, minta om Novan menjemput ku, dan papa bisa berangkat ke rumah sakit terlebih dahulu."


"baiklah, kalau begitu kami pergi dulu," pamit Joshua.


"iya pa," jawab Darwin.


Joshua berangkat bersama Adelia dan yang lain, sedang Darwin memilih mencari baju casual miliknya.


dia memilih memakai baju kesukaannya karena dia tak menyukai jas seperti Joshua.


dia selalu merasa tua jika memakai jas, saat sampai di perusahaan semua sudah menyapanya dengan hormat.


dia mulai mengerjakan pekerjaan proyek baru yang sedang berlangsung, apalagi proyek itu adalah proyek atas nama Adelia.


Darwin tak ingin ada kesalahan sedikit pun yang terjadi, apalagi dia yang memberikan ide dan semua desain yang di pakai.


Hans datang dengan laporan dari tim devisi yang bertanggung jawab atas proyek itu.


Darwin pun merasa penasaran dengan pembangunan sekolah itu, "apa om mau ke desa itu, karena aku ingin melihat semua pembangunan secara langsung."


"tapi itu membutuhkan tiga jam dari sini, dan kita bisa-bisa menginap di sana," lirih Hans.

__ADS_1


"tapi om orang sana, harusnya itu tak jadi masalah, jadi ayo berangkat," minta Darwin menyeret Hans.


"tapi aku sudah bertahun-tahun tak pulang ke desa itu," kata Hans agar tak di ajak ke desa lamanya.


"apa kamu pernah melakukan perbuatan tercela, apa kamu pernah melakukan perbuatan kotor?"


"tidak, aku hanya pernah membuat malu karena Kesalahan kecil," Jawab Hans.


"berarti ini waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa om sudah sukses, dan lagi mungkin orang tua om juga merindukanmu, jadi kita coba pulang saja," kata Darwin.


Hans juga tak bisa menolak, dia pun terpaksa ikut Darwin dan menuju desa asri itu.


butuh tiga jam untuk sampai, akhirnya siang hari mereka baru sampai desa itu.


setelah itu mereka langsung menuju ke pembangunan sekolah dan pembangunannya sudah tujuh puluh persen.


Darwin pun kagum melihat hasil pembangunan yang cukup cepat dari apa yang di kira.


tanpa sadar Hans melihat sosok orang tuanya, diapun langsung merasa sedih saat melihat sosok ayahnya yang sudah sepuh.


"kakek Hilman!" panggil Darwin dan membuat pria itu menoleh.


Hans terkejut karena Darwin memanggil ayahnya, pria sepuh itu pun menghampiri Darwin dan Hans tak berani berbalik badan.


dia masih ketakutan akan kemarahan dari sang ayah seperti halnya dulu.

__ADS_1



__ADS_2