
Sebuah pesawat Boeing sewaan baru saja mendarat di bandara internasional Juanda Surabaya.
Seorang bocah di tunggu oleh semua pengawalnya yang berjumlah ratusan orang, Devina memberikan laporan yang sudah Novan berikan.
"Bawa wanita itu ke rumah Amadea, jangan buat kesalahan sedikitpun, dan ingat bawa semua orang mu Devina, dan jangan lupa panggil Dave juga," kata Darwin dingin.
"Baik tuan muda," jawab Devina.
Saat Darwin berjalan semua pengawal menunduk hormat padanya, "selamat datang tuan muda," sapa semua pengawal.
"Kita berangkat, aku ingin segera melenyapkan semua yang berani mengusik mama ku hingga semua terjadi seperti ini," kata Darwin.
"Baik tuan muda," kata semua pengawal.
Darwin mengawasi semua pekerjaan dari anak buahnya itu, dia akan menunggu di rumah.
Darwin memang sama dengan Joshua, tapi dia menyukai bekerja di balik layar dan tak mengotori tangannya sendiri.
Darwin menghubungi Joshua yang masih di rumah untuk mandi dan mengambil barang Adelia.
"Hallo Darwin, kamu sudah mendarat," kata Joshua yang sedang bersiap akan berangkat.
"Tentu papa, dan sekarang papa fokus pada mama, biar aku yang menyelesaikan semua sisa masalah ini," kata Darwin.
"Baiklah nak, aku ingin lihat pekerjaan baikmu," kata Joshua yang bersiap berangkat ke rumah sakit.
Saat itu hujan deras, ada sesosok orang yang berdiri di depan rumah Joshua, saat mobil Joshua pergi.
Wanita itu menangis melihat mobil itu bahkan tak melihatnya, dia sudah tak punya siapa-siapa untuk di tuju.
Dan harapan satu-satunya adalah Joshua yang bisa menerimanya, dan itu demi seseorang juga.
Joshua sampai di rumah sakit, ternyata operasi Adelia sudah selesai.
Tuan Georgio langsung memeluk Joshua sambil menangis, "ada apa opa?"
"Selamat nak, kedua putra mu lahir sehat meski prematur, dan sekarang sedang menjalani perawatan khusus, dan operasi Adelia juga berjalan lancar," kata tuan Georgio.
"Syukurlah, setidaknya aku bisa memeluk mereka semua opa, dan sebaiknya Opa pulang karena Darwin punya kejutan besar untuk kalian berdua, dan biarkan aku disini," kata Joshua.
"Baiklah, dan sebentar lagi orang tua mu juga akan datang," kata tuan Georgio.
__ADS_1
"Baik opa," jawab Joshua.
Lena pun juga menunduk saat tuan Georgio dan nyonya Arsya pamit pergi sebagai bentuk kesopanan.
"Boleh aku melihat Adelia?" tanya Joshua.
"Kamu tak ingin melihat putra-putra mu dulu," tawar Lena.
"Tidak, aku harus melihat Adelia terlebih dahulu," kata Joshua sedih.
"Baiklah tuan besar, istrimu sedang beristirahat, dan beruntung semuanya normal dan semoga dia cepat sadar," kata Lena.
Joshua mengangguk dan langsung masuk ke dalam ruang rawat, Joshua pun langsung menghampiri istrinya yang masih belum sadar.
Joshua mencium kening Adelia, tak sengaja air matanya jatuh mengenai wajah istrinya itu.
"Sayang cepat bangun, kamu jangan tidur seperti ini, aku bisa gila tanpamu," kata Joshua terduduk di samping Adelia.
Sedang di ruang inkubator dua bayi itu mendapatkan perawatan begitu spesial.
Bahkan dokter Arkam memanggil beberapa dokter khusus untuk menangani kedua bayi itu.
Sedang di rumah Darwin sedang menunggu kedatangan wanita yang telah membuat Adelia seperti ini.
Devina melumpuhkan semua pengawal dengan senjata api, sedang Dave dengan pedang miliknya.
Dave adalah pria kepercayaan tuan Georgio, pria keturunan Jepang Indonesia itu bahkan sudah ikut keluarga itu dari ia kecil.
Dave bahkan sudah berada di kamar Anastasya, dia menyeringai seram melihat gadis itu tidur dengan nyenyak.
Dave langsung memasukkan gadis itu ke karung dan menyeretnya, sedang Devina dan dua pengawal membawa orang tua dari Anastasya.
Di Rumah tuan Georgio, Darwin sedang bersantai sambil bermain rubik.
"Sedang menunggu sesuatu Darwin?"
"Iya Oma buyut, sebuah kejutan untuk kalian, semoga kalian tak kecewa saat tau," kata Darwin menyeringai.
"Kamu tak usah mendengarkan pria kecil itu, lebih baik tidur, agar besok bisa mengantikan Joshua di rumah sakit," kata tuan Georgio.
"Baiklah, kalian selesaikan saja, aku istirahat dan jika butuh apa-apa minta pak Yun menyiapkan," kata nyonya Arsya.
__ADS_1
"Siap Oma buyut," kata Darwin tersenyum manis.
Saat nyonya Arsya pergi, Darwin langsung merubah ekspresi wajahnya.
Pak Yun membawakan susu dan cemilan untuk Darwin, tak lama rombongan dari Devina dan Dave datang.
Tuan Georgio terkejut melihat Indra dan istrinya di ikat oleh Devina,dan lagi Dave menyeret sebuah karung besar yang terdengar suara teriakan dari Anastasya.
"Kenapa kamu memasukkan gadis itu ke karung?" tanya Darwin pada Dave.
"Karena aku tak mau menyentuh wanita kotor ini," jawab Dave enteng.
Seorang pengawal membuka karung itu, Anastasya ingin menyerang Darwin tapi berhenti karena sebuah pedang menunggu di depan lehernya.
"Berani melangkah lagi, pedang ini menusuk lehermu," kata Dave.
"Jelaskan kenapa kalian yang anak angkat terbuang, berani mengambil tindakan untuk menyakiti mama ku," tanya Darwin.
"Karena itu harusnya jadi milikku, bukan milik mu, karena papa ku adalah anak angkat laki-laki keluarga ini," kata Anastasya menantang.
"Apa dia tak menghargai opa Hafsah yang anak sah?" tanta Darwin.
"Pria impoten itu, cih," kata Anastasya lagi.
Tuan Georgio marah dan langsung mengambil katana dari tangan pengawal dan langsung memenggal kepala Indra dan istrinya, di depan Anastasya.
"Sudah, dia sudah mati, sekarang kamu mau apa?" tanya tuan Georgio enteng.
"Opa...."
"Kamu kira aku tak bisa membunuh orang yang aku besarkan, tapi sayangnya aku bukan pria baik, jadi Darwin selesaikan," perintah papa Georgio.
"Jika kamu berani menyentuhku, maka aku akan membuat mu mati dengan memberi tahu-" kata Anastasya berhenti karena Darwin menebaskan pedang miliknya ke leher wanita itu.
"Berisik, aku bukan orang yang bisa kau sentuh dan bersabar," kata Darwin melempar pedang yang sudah berlumuran darah.
"Bereskan mereka, dan kasih ke semua peliharaan ku," kata Darwin tersenyum menyeringai.
"Baik tuan muda," jawab semua pengawal.
Kini semua orang sibuk membersihkan darah dari lantai rumah sebelum pagi.
__ADS_1