Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
obat dari Darwin.


__ADS_3

Pagi ini Darwin sudah siap dengan baju santai karena dia tak ikut ke perusahaan.


Mama Laura mengajaknya ke rumah Hafsah untuk mengawasi persiapan pesta.


Hafsah menyambut kedatangan keduanya, Darwin pun melihat sosok Hafsah sambil memiringkan kepalanya.


"Kenapa Darwin?" tanya mama Laura.


"Om ini adalah orang terkaya di Eropa bukan, dia memiliki perusahaan perhiasan dan pertambangan juga," jawab Darwin sambil menunjuk Hafsah.


"Kamu benar, kamu mau memiliki salah satu perusahaan ku pria tampan," tanya Hafsah berjongkok di depan Darwin.


"Boleh, tapi aku tak bisa memberikan mama ku Krena dia sudah milik papa," jawabnya sambil melipat tangannya di dada.


Mendengar itu Hafsah tertawa, pasalnya bukan Adelia yang di cintai tapi Wanita lain.


"Aku tidak akan merebut mama mu dari papa mu itu, lagi pula aku sudah bersama dengan wanita yang aku cintai," jawab Hafsah.


"Apa aku boleh melihatnya, lagi pula pekerjaan semua hampir selesai bukan? dan aku penasaran dengan wanita yang kamu cintai itu?" tanya mama Laura.


"Tentu, Darwin juga ikut ya ketemu Oma cantik, dan semoga dengan kedatangan Darwin Oma bisa sadar," kata Hafsah mengendong Darwin.


"Siap om, tapi kenapa Darwin harus panggil Oma?" tanyanya dengan wajah binggung.


"Karena dia adalah ibu dari mama mu nak," jawab Hafsah.


"Bukan om, Oma dari mama sudah di sisi Tuhan, bahkan Darwin sering di ajak ke makam Oma sama mama," jawab Darwin.


"Tunggu maksudmu ibu dari mama Darwin, Vena...." lirih mama Laura kaget dan langsung meneteskan air mata.


Mereka pun sampai di lantai tiga rumah itu, di lantai itu begitu banyak penjaga yang menjaga satu pintu itu.


"Kalian lihat saja, biar nanti aku yang jelaskan pada mu," kata Hafsah membuka pintu itu.

__ADS_1


Para perawat pun berbaris menyambut Hafsah, mama Laura dan Darwin. Dia tau sosok wanita yang terbaring itu.


"Bangun yuk sayang, mama akan buatkan makanan kesukaan mu, ada bunga lili kesukaan mu juga, dan ingat Pangeran tampan akan menjemput mu dengan kuda putih," kata Darwin yang menginggat cerita masa kecil Adelia.


"tapi Adek masih mau tidur," jawab Hafsah.


"kalau kamu tidur, pangeran akan pergi tanpa putri cantik mama Vena ini," lanjut Darwin.


tiba-tiba tangan Vena bergerak dan perlahan menunjukkan perkembangan yang baik, "mama Adelia pernah bilang, kalau Oma Vena itu menyukai bunga lili pink, itu sebabnya Oma punya kebun lili, mama selalu menangis saat menginggat Oma."


mama Laura menangis melihat sosok Vena yang terbaring lemah dengan bantuan semua alat di tubuhnya.


Darwin sudah berada di sisi Vena dan menempelkan tangan wanita itu ke Pipinya.


"Ya Tuhan, cepat sembuhkan mama cantik ini, karena aku tak mau mama kesakitan, lebih baik aku yang sakit dari pada mama, karena aku mencintainya..." lirih Darwin.


Vena pun membuka matanya, dia menginggat putri kecilnya yang selalu berdo'a saat dia sakit.


"Delia...." panggil Vena melihat sosok Adelia pada Darwin.


Semua orang terkejut melihat itu, "Vena!" panggil Hafsah menangis bahagia.


Akhirnya Hafsah bisa memeluk vena lagi, dan Vena juga tersenyum melihat Hafsah.


Arkam memeriksa kondisi dari Vena, sedang Darwin bermain dengan dua pengawal.


Hafsah tak mengira kedatangan putra Adelia bisa membuat Vena yang telah koma kini bisa sadar.


"Terima kasih sudah datang mengajaknya Laura, dia seperti obat untuk Vena," kata Hafsah.


"Sebenarnya apa yang terjadi, bukankah dia sudah mati dan di makamkan?" tanya mama Laura.


flashback...

__ADS_1


Mama Vena mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah, bahkan kepalanya juga terbentur trotoar.


Hafsah yang mengetahui itupun langsung terbang dari Paris ke Surabaya.


Saat sampai Hafsah melihat mama Vena susah terbaring koma, dan Adelia kecil menangis di sisinya bersama dengan pengasuh Vena.


Hafsah menemui dokter, tapi dia mendengar perkataan yang membuatnya terbakar amarah.


"Buat dia mati agar tak membebani kami, lagi pula tak ada gunanya dia hidup."


Hafsah begitu marah melihat sosok Yusrin dan Yumna disana, dia pun berencana membawa mama Vena pergi.


Tapi dia terlambat, karena Yumna masuk ke ruang rawat mama Vena saat dia baru selesai menyiapkan semuanya.


Yumna menyuntikkan obat yang meracuni mama Vena, tapi dia dan tim dokter berhasil menyelamatkan mama Vena, tapi Hafsah harus tega meninggalkan Adelia kecil tinggal bersama pengasih ibunya.


Dan terpaksalah dia membawa mama Vena kembali ke Eropa sesegera mungkin dan mengantikan mama Vena dengan jenazah lain.


Hafsah juga menyuap rumah sakit atau dia mengancam akan membuat semua orang mati saat mengatakan kejujuran itu.


flashback off....


Mama Laura terdiam, dia tak mengira jika Yumna bisa melakukan apapun demi harta dan Yusrin.


"Aku harus membuatnya membayar segalanya Laura, maka aku buat pesta malam ini, dan merebut semua yang menjadi hak Adelia dan putranya," kata Hafsah.


"Iya kak, aku mendukungmu, lagi pula putra Adelia bukan anak biasa, dia adalah seorang yang genius di usianya," jawab mama Laura.


Hafsah pun bisa melihat itu, di usianya Darwin terlalu pintar dan juga kritis.


Arkam memberitahu kondisi dari mama Vena yang sekarang sangat baik, tapi mungkin harus terapi berjalan karena terlalu lama terbaring.


Hafsah pun masuk bersama Darwin dan mama Laura, mereka tersenyum melihat mama Vena duduk sambil bersandar di kepala ranjang.

__ADS_1



__ADS_2