
setelah bekerja seharian ini bunga pun pulang bersama yang lain, tapi Bu Nova tak di ijinkan pulang karena malam ini mereka akan melakukan rencana besar.
"pak Jhon, hari ini tolong ikuti aku dan mama, tapi bapak harus menyamar oke," kata bunga.
"memang kenapa nona, apa anda akan melakukan hal yang berbahaya?" tanya pria itu.
"ya itu benar pak, aku harus membongkar dan menyingkirkan Wanita itu yang ingin melukai kami, karena mereka ingin merebut papa mertua dan juga suamiku," kata bunga.
"baiklah, apapun untuk mu bahkan kalau perlu aku mengorbankan nyawa ku," jawab pak Jhon yang bersiap.
tak terduga Lulu dan Wilma juga menemani Bu Nova, sedang Aldo, Darwin. dan Joshua akan bergabung dengan pak Jhon untuk mengikuti kedua wanita itu.
bunga dan Adelia sudah siap dengan baju yang cukup terbuka dan menunjukkan lekuk tubuh mereka.
ingin rasanya Darwin membungkus istri itu karena tak rela para pria melihat tubuh indah istrinya.
sedang Joshua sudah menggambek melihat Adelia yang tak kalah seksi dari menantinya itu.
keduanya pun membawa mobil Lamborghini yang sudah di pasang pelacak.
mereka pun si ikuti dengan dua mobil sports lainnya, Aldo bersama pak Jhon.
sedang Darwin bersama Joshua, mereka tak kalah tampan malam itu dan langsung menuju ke area minuman.
sedang dua wanita itu naik ke lantai dua untuk bertemu dengan teman-teman Adelia.
mereka pun mulai minum, tapi bunga tak bisa minum alkohol dan hanya bisa minum jus ringan tanpa soda.
dia tak ingin terjadi sesuatu dengan janin di kandungannya, terlebih ini masih trimester pertama.
mereka pun mulai mabuk bersama, sedang bunga memilih duduk Ternyata datang para berondong muda dengan penampilan yang begitu seksi.
Ben juga datang bersama pria yang lain, terlebih ada Yasmin juga di tempat itu.
bunga pun tak berminat, terlebih dari jauh pak Jhon dan Aldo mulai mendekati mereka agar langsung tau jika ada pergerakan yang aneh.
tak lama adelia mulai terpengaruh minuman alkohol, sedang bunga pura-pura mabuk karena ternyata hus itu sudah di campur alkohol.
mereka berdua pun di bawa oleh dua pria muda ke area tempat istirahat, tapi tak lama keempat pria itu di tahan oleh pengawal mereka.
tanpa kata langsung menghajar mereka tanpa ampun lagi, setelah itu mereka langsung meminta polisi untuk mengerebek tempat itu.
pasalnya tadi mereka juga melihat ada beberapa pengunjung yang sedang sakau, bahkan tembakau gorila begitu bebas di club itu.
semua orang sudah heboh katrna polisi, tapi tak eyang bisa kabur karena Jhon mengerahkan anak buahnya menutup senua jalan keluar.
Joshua langsung menghampiri Parwati dan menampar wanita itu, "kau celaka kali ini, asal kau tau anakmu sudah tak bisa pergi dariku, dan aku akan menyiksanya sampai dia minta mati sendiri, dan aku akan membuatmu membusuk di penjara," bisik Joshua.
"apa kamu sejahat itu, apa salah kami?" kata Parwati merens kerah baju Joshua.
"karena kamu punya pikiran buruk pada keluarga ku, dan ini yang akan kalian dapatkan, jadi rasakan saja," kesal Joshua.
Joshua menjadi saksi untuk pihak kepolisian, dan malam ini polisi bahkan menemukan begitu banyak barang bukti di club itu.
sedang Bunga sudah di larikan ke rumah sakit karena tiba-tiba perutnya sakit, padahal tidak meminum apapun.
Darwin sudah panik bukan main, pasalnya wanita begitu pucat dan kesakitan.
sesampainya di rumah sakit, bunga sudah di bawa ke ruang UGD, ternyata hanya sakit perut biasa.
dan Darwin baru tau jika bunga hamil setelah dokter memberitahu dirinyalah.
"jadi rencananya sampai kapan kamu menyembunyikan ini dariku, sampai mau melahirkan?" tanya Darwin kesal.
"maafkan aku, bukan tak mau jujur, aku takut jika mas akan melarangku bekerja, terlebih mas begitu posesif," jawab bunga.
"aku melakukan hal itu karena menghawatirkan mu, jadi kamu harus menurut jika tidak tak usah bekerja lagi," kata Darwin mengancam.
"iya mas, aku akan menurut pada mas, apapun kata mas,"pasrah bunga yang tak punya pilihan lain.
sedang kini Edo sedang menunggu wanita yang akan pergi bersamanya menuju ke Vietnam.
karena mereka harus mengikuti judi batu giok, dan Wilma memiliki kepekaan yang sangat besar untuk itu.
karena dia adalah keturunan orang China lama, Edo terkejut melihat dandanan dari Wilma yang begitu tomboi.
bahkan gadis itu mengunakan baju kaos oblong, jaket dan celana jeans.
__ADS_1
"kamu Edo, ayo berangkat pesawat sudah menunggu bukan," kata Wilma.
"kau gila, kau bahkan telat dan dengan mudahnya kamu bilang cepat," protes Edo.
"kamu banyak omong ya, ku kira rekan ku pendiam ternyata banyak bicara, cih" kata Wilma.
"tarik ucapan mu, awas saja kau kalau disana tak dapat apa-apa aku akan membuatmu menyesal selamanya," marah Edo.
"kita lihat saja, jika aku bisa membawa pulang giok terbaik, aku akan menjadikan mu pembantuku selama sebulan," kata Wilma.
"baiklah aku setuju, jika kau yang kalah aku akan menjadikan mu istriku, dan kau pasti tak akan mau itu bukan," kata Edo tertawa.
"kata siapa? kamu memang tau, sebelum itu telpon orangtuamu dan tanya Xiah apa mereka kenal, dari keluarga Ling Zhi," kata Wilma.
Edi terdiam, keluarga Ling Zhi adalah keluarga terkenal asal China, dan keluarganya memiliki hutang pernikahan dengan keluarga.
"hei kenapa kamu diam, kamu tak ingin berangkat huh!" maki Wilma.
Edo pun menuju kearah pesawat pribadi yang akan membawa mereka ke Vietnam.
di dalam pesawat Wilma sedang santai bermain catur dengan seorang pramugari.
sedang Edo memilih membaca buku ensiklopedi, ya pria itu menyukai buku tebal yang berisi tentang semua pengetahuan.
tak butuh waktu lama, keduanya sampai di Bandara internasional Vietnam.
mereka pun langsung menuju ke hotel, mereka bahkan memesan satu kamar dua kasur, karena tak perlu boros uang toh mereka cuma dua hari di sana.
Wilma memilih langsung langsung tidur, sedang Edo memilih membersihkan wajah terlebih dahulu.
mereka pun tidur demi bisa memiliki stamina untuk menghadapi dinia yang baru untuk Edo.
bunga juga tak bisa tidur, terlebih dia belum melihat keadaan Putranya.
sedang Darwin sudah terlelap di sofa runah sakit, Bunga pun memilih keluar dari ruang rawatnya.
dia sedang duduk di lorong rumah sakit, entah dia merasa sedih bahkan air matanya tak terbendung.
bunga pun menangis terisak di kursi tunggu itu, entahlah dia pun ingin menangis.
setelah puas, dia pun mulai sedikit tenang, bunga pun berdiri dan melihat Darwin.
"aku tak tau, tapi aku merasa begitu sedih saat ini, aku ingin menangis saja sekuatnya," jawab bunga yang kembali menangis di pelukan Darwin.
"ayo kita masuk yuk sayang, kita istirahat," Darwin pun mengendong bunga.
mereka pun masuk dan Darwin pun memilih menemani istrinya tidur di ranjang
bunga pun tidur di dada Darwin, karena baginya detak jantung suaminya itu adalah suatu obat penenang yang sangat ampuh.
sedang dia tau jika bunga sedang tertekan saat ini, terbukti dengan suasana hati Bunga yang tak menentu.
sedang Aldo memindahkan Lulu yang tidur di rumah sewa itu sambil menjaga baby Ale.
terutama kondisi Bunga yang tiba-tiba drop dan juga Adelia yang mabuk karena ulah teman-temannya tadi.
Aldo pun memilih untuk duduk bersama pak Jhon, "ada apa Aldo? sepertinya kamu begitu terpikir sesuatu?" tanya pak Jhon
"tidak ada pak, aku hanya mendengar curhatan dari bos, dia merasa sedih, apalagi sekarang nyonya begitu tegas dan mandiri, bukan bos tak suka, tapi dia sadar jika selama ini dia salah, tapi bos takut jika Nyonya akan tertekan," kata Aldo.
"yakinlah jika bagi Bunga hanya suaminya tempatnya kembali, terlebih Bunga dari kecil mencintai pria itu," kata pak Jhon.
"jujur pak, aku tak percaya dengan cinta, aku biasanya hanya tertarik dengan seorang wanita tanpa cinta, bukan aku pria bajingan tapi aku sudah pernah kecewa, apalagi wanita yang aku cintai tak pernah melihatku," kata Aldo yang malah curhat tanpa sadar
"apa wanita itu yang memaksa mu untuk mencintai dirimu, apa dia yang memaksa mu menyukai dia?"
"tidak, aku menyukainya begitu saja, karena sikap baiknya dan juga dia yang selalu positif thinking," jawab Aldo.
"terus apa salah wanita itu, kamu tak mengutarakan perasaan mu, bagaimana dia tau, dan jangan salahkan semua orang karena sikap mu sendiri," jawab pak Jhon.
Aldo terdiam, apa uang di katakan pak Jhon benar, Aldo tak di min oleh Sabrina untuk mencintainya.
tapi kenapa dia marah saat mengetahui jika Sabrina mencintai David.
"terima kasih pak, setidaknya aku sadar sekarang," kata Aldo
mereka pun memutuskan untuk beristirahat, sedang do Vietnam dua orang sedang berjalan-jalan menikmati keindahan malam menjelang pagi.
__ADS_1
mereka sedang melihat-lihat sebuah pasar barang antik yang sengaja buka jam seperti ini.
mereka pun menghampiri seorang tua yang menjual batu dengan harga yang cukup murah.
"hei Wil, kenapa tidak cari di tempat lain, setidaknya akan ada banyak yang lain lebih menjanjikan, disini bahkan tak ada yang melirik," bisik Edo.
"diam atau aku akan mengikat mu dan menyumpal mulut mu," kesal Wilma.
Edo pun terpaksa diam, Wilma selalu butuh ketenangan saat memilih batu yang tepat.
wanita itu terlihat begitu fokus melihat setiap ciri-ciri yang terlihat, dia pun menemukan tiga batu yang berukuran cukup besar.
setelah membeli Wilma tidak langsung memotongnya karena itu akan beresiko.
mereka pun menuju ke hotel tapi langkah Wilma terhenti karena melihat sosok pria begitu dia cintai.
Edo yang menyadari tatapan Wilma pun sadar, dan secara reflek Edo memeluk Wilma.
"apa yang kamu lakukan ..." lirih Wilma.
"fokus padaku, aku suamimu, dan kamu tak boleh melihat pria lain," lirih Edo.
Wilma pun memeluk tubuh Edo dengan erat, pria yang tadi melihat Wilma ingin menghinanya.
tapi saat Edo memeluk wanita itu dia kaget, pasalnya dia tak tau jika wanita itu sudah bisa melupakan dirinya.
"wah lihatlah siapa ini, wanita yang biasanya memohon padaku, kenapa sekarang berada di pelukan pria lain, apa kamu sudah menemukan pengganti diriku, atau ini hanya akal-akalan kamu saja," ejek pria itu.
"siapa kamu berani menghina istriku, ingat sekali lagi kau menghinanya aku akan memotong lidahmu itu," ancam Edo.
"cih siapa yang kau gertak, asal kau tau aku adalah raja judi di wilayah ini," kata pria itu.
"tapi sayang kau salah pilih musuh," kata Edo tersenyum menyeringai.
pria itu mengambil pisau dari balik bajunya, dan mulai berjalan dengan santai.
saat anak buah pria itu menyerang Edo, pria itu hanya terlihat sedikit gerakan dan susah bisa membunuh semua orang itu.
dan kini hanya tinggal pria yang nampak ketakutan itu," jangan berani menyentuhku, ayahku kepala polisi," kata pria itu panik.
"kalau begitu ayahku raja asal kau tau," kata Edo melukai leher pria itu sambil tersenyum menyeringai ke arah Wilma
"jangan sedih, seharusnya dua menjaga mulut busuknya itu, kenapa harus menyakiti wanita secantik ini bukan," kata Edo sambil mengusap pipi Wilma.
melihat itu Wilma pun memeluk Edo, sedang pria itu tak percaya dengan apa yang dia dapatkan.
rombongan polisi datang, dan memilih mundur saat melihat siapa pria itu.
mereka masih sayang nyawa mereka, pasalnya pernah geng itu membunuh satu desa dalam hitungan jam.
Wilma pun sebenarnya sudah tau siapa Edo, tapi dia tak mengira akan secepatnya melihat sikap asli pria itu.
mereka pun pulang dan sesampainya di hotel, seseorang sudah menyiapkan alat potong batu.
dan dengan cekatan Wilma memiting batu itu, dan benar saja mereka mendapatkan dua batu giok hijau berukuran besar.
dan juga sebuah batu giok merah yang begitu langka, melihat apa yang di dapat, keduanya pun bergegas untuk pergi.
pesawat mereka pun siap dan langsung akan take off, apalagi Wilma tau jika sang kakek sudah tau dia sedang bermain di Vietnam dan ingin wanita itu pulang.
tapi sebelum pesawat itu terbang sebuah pesawat yang lebih besar menghadang mereka.
terpaksa Wilma dan Edo di minta pulang, saat sampai di rumah sang kakek.
Edo di minta untuk menunggu di sebuah taman keluarga, tapi tak terduga ada seekor singa yang lepas.
tapi Edo hanya diam dan singa itu langsung duduk di depan Edo, bahkan singa itu tak bergerak dan hanya memilih diam di samping Edo.
Wilma tak mengerti kenapa kakeknya malah mengawasi Edo dari jauh, "kakek ini sebenarnya ada apa?" tanya Wilma bingung.
"kau tau pria itu adalah putra tunggal dari keluarga Sukrasana, dia itu calon suamimu, terlebih dia itu bibit unggul dari keluarga yang status sosial tinggi," kata sang Kakek.
"aku tau, sudah biarkan kami pulang jangan menganggu," kesal Wilma.
akhirnya keduanya bisa pulang dengan lancar, terlebih setelah kakek dari Wilma menyerah dan membiarkan Keduanya pendekatan secara perlahan.
dia tak ingin kehilangan pria hebat itu untuk cucunya yang juga bukan wanita sembarangan.
__ADS_1
tapi dia tak mengerti kenapa kedua orang itu memilih menjadi bawahan orang di banding menjalankan bisnis keluarga.