
Adelia pun berdiri bersama dengan Lena untuk menanyakan tentang keadaan ketiganya.
Meski Darwin adalah putra yang kuat dan terlatih, bagaimana pun dia tetap seorang bocah dua belas tahun.
"Apa kami boleh pulang, aku tak suka berada di tempat seperti ini," kata Hafsah turun dari ranjang.
"Tunggu papi, sebentar lagi ada anak buah opa yang akan menjemput kita," jawab Adelia.
Hafsah pun duduk di ranjangnya, begitupun dengan Joshua, sedang Adelia menghampiri Darwin.
Adelia menenangkan putranya itu, tak lama tiga orang datang untuk menjemput mereka.
Sesampainya di rumah keluarga Joshua semua orang melihat ke arah ketiganya, tuan Georgio melihat Darwin yang pucat.
"Kenapa tiga pria ini lemah dan menyedihkan sekarang, kalian bertiga mengecewakan aku," kata tuan Georgio.
"Tak masalah opa, aku masih bisa melindungi mereka, bagaimana pun aku tak ingin mereka terluka," jawab Adelia.
"Baiklah, tolong antar mereka beristirahat, dan setelah sembuh kalian harus mulai berlatih lagi, terutama Darwin, karena kamu adalah harapan dari dua keluarga besar," kata tuan Georgio.
"Baik opa buyut," jawab Darwin sedih.
Adelia pun langsung mengambil putranya itu dari seorang pengawal, dan membawanya ke kamar untuk beristirahat.
Adelia bahkan mengendong putranya itu di punggungnya, dan tak memperdulikan dirinya sendiri.
Mama Vena tak menyukai apa yang di lakukan oleh Adelia, dia pun takut jika Adelia akan ikut terluka.
"Adelia!" panggil mama Vena.
"Maaf, aku harus menjaga putra ku, bagaimana pun dia adalah hidup dan nyawa ku," jawab Adelia yang meninggalkan semua orang.
Joshua tau benar apa yang di pikirkan Adelia, karena Darwin adalah satu-satunya alasan untuk Adelia bertahan sampai saat ini.
"Kenapa dengan gadis itu?" kata tuan Georgio.
"Tidak apa-apa opa, Adelia mungkin hanya sedih dan marah melihat seseorang berani menodongkan pistol pada putra kami," jawab Joshua yang duduk di samping Hafsah.
Adelia pun menidurkan Darwin di ranjang dan memeluk putranya itu, Darwin pun tenang berada di pelukan sang mama.
"Mama tak akan membiarkan siapa pun berani melukai mu, itu janji mama," lirih Adelia.
Setelah memastikan Darwin tertidur, Adelia pun bangun untuk melihat Joshua.
__ADS_1
Adelia pun turun ke lantai bawah ternyata Joshua sedang bersama Hans dan Novan.
Dia pun memilih ke dapur untuk membuat makan siang meski sudah terlewat.
"Apa nyonya sepuh sudah pulang?" tanya Adelia pada para pelayan.
"Belum nyonya, nyonya sepuh dan nyonya besar sedang berada di kamar tuan Dylan dan David, sedang tuan sepuh dan tuan besar sedang beristirahat," jawab Susi.
"Kalau begitu antar makan siang ini ke kamar mereka masing-masing, dan saya akan membawa ini ke depan," perintah Adelia.
"Baik nyonya," jawab para pelayan yang langsung bergerak.
Adelia membawa minuman dan juga makanan ringan untuk suami dan dua asistennya.
"Selamat siang menjelang sore nyonya," sapa Novan dan Hans.
"Iya, apa ada masalah?" tanya Adelia yang duduk di samping Joshua.
"Aku hanya belum menemukan bukti tentang kejahatan dari Reymond, dan lagi bagaimana dia bisa memiliki anak buah dari geng hitam," kata Joshua memijat keningnya.
"Tenang sayang, tunggu sebentar lagi akan datang sendiri orangnya," kata Adelia tersenyum menyeringai.
Novan dan Hans pun saling pandang, mereka baru kali ini melihat sisi lain dari Adelia.
Adelia pun masih menikmati teh miliknya saat Joshua, Hans dan Novan terkejut.
"Salam nyonya muda, saya sudah menjalankan perintah anda, saya bawa pria ini dan semua buktinya," kata Leo.
"Apa dia sudah mengaku?".
"Belum nyonya, tapi kami menemukan semua bukti kejahatan milik Reymond dan juga transaksi gelap," jawab Leo.
Adelia memberikan kode untuk Joshua tenang, kini ia berdiri dan menghampiri pria itu.
Wajahnya sudah babak belur, Adelia pun tersenyum melihatnya, "mbak Susi tolong bawakan air mendidih dan juga perkakas," kata Adelia.
"Baik nyonya," jawab Susi.
Tak lama para pelayan membawa apa yang di minta oleh Adelia, "mau mengaku atau aku harus membuatmu buka suara?".
"Terserah dirimu, tapi aku tak akan mengatakan apapun, kamu cuma wanita yang lemah, memang apa yang bisa kamu lakukan padaku," kata pria itu menghina Adelia.
Adelia pun tersenyum dan langsung memerintahkan Leo memasukkan tangan pria itu ke tempat air mendidih itu.
__ADS_1
Hans pun langsung menyumpal mulut pria itu agar suara tak menganggu penghuni rumah.
Setelah itu Leo pun menarik keluar tangan pria itu, Adelia pun bersiap dengan sebuah tang di tangannya.
Adelia pun kini berjongkok di depan pria itu. "wah kuku yang terawat, aku penasaran, apa ini akan sakit jika terlepas," kata Adelia langsung mencabut setiap kuku di tangan pria itu.
Pria itu kini terus berteriak kesakitan, tapi suaranya tertahan dengan kain yang menyumpal mulutnya.
Susi pun datang dengan garam, pria itu makin panik dan mengeleng kuat, Adelia tersenyum melihatnya.
"Mau bicara," tanya Adelia lembut.
Pria itu pun mengangguk, dia tak bisa merasakan siksaan yang begitu menyakitkan itu.
Leo pun mengarahkan wajah pria itu ke depan tempat berisi air panas itu, yang sudah di berikan garam dan cairan kimia oleh Susi.
"Kamu sekali menyentuh air itu, maka wajah dan hidupmu berakhir," bisik Leo menakuti pria itu.
"Mulai bicara dan katakan semuanya," kata Adelia duduk di sebelah Joshua sambil memeluk suaminya itu dengan manja.
"Aku hanya memberikan bantuan karena Reymond memberikan uang yang begitu banyak, dan lagi dia juga memberikan beberapa informasi tentang perdagangan narkoba terbesar yang selama ini dia lindungi, semua ada di flashdisk di tas yang di bawa asisten anda," kata pria itu sudah ketakutan.
Novan tak mengira Adelia memiliki sisi mengerikan seperti ini, dan dia masih bisa tersenyum menyerahkan flashdisk pada Joshua.
"Aku menemukan buktinya kan, jadi sekarang giliran mu, Leo bawa pria itu dan singkirkan," perintah Adelia.
"Baik nyonya, ayo Susi," ajak Leo.
Keduanya pun pergi, Joshua mencium kening Adelia. "aku baru mengerti sekarang, jika istriku ini suka bermain rupanya."
"Aku hanya tak ingin membuat mu kecewa bukan, lagi pula Lena yang mengajarkan segalanya," jawab Adelia.
"Wah... aku tak mengira istrimu begitu hebat Novan, terima kasih dan besok aku akan mengirimkan hadiah untuknya," kata Joshua.
"Terima kasih tuan," jawab Novan.
Adelia pun melihat kearah Hans, dia pun tersenyum. "tenang asisten Hans, kejutan untuk mu masih belum berlaku, kita menunggu saat yang tepat," kata Adelia.
"Saya sudah cukup mengabdikan hidup saya untuk melayani Keluarga ini, sudah sangat membanggakan," jawab Hans.
Tapi Adelia mengeleng lemah, "tidak cukup, karena aku ingin semua orang bahagia," kata Adelia.
Hans hanya mengangguk lemah, pasalnya saat ini yang dia inginkan adalah Tasya bukan harta atau kemewahan.
__ADS_1