Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
bonus chapter.


__ADS_3

Hilman pun langsung memeluk Darwin, karena bagaimanapun dia mengenal remaja pria itu.


karena dia membantu keluarga Gusman mencari tanah untuk di jadikan sekolah gratis nantinya.


dan semua urusan juga di bantu oleh Hilman, untuk mempermudah semua izin di desa.


"kamu sendirian Darwin, biasanya datang bersama dengan Novan?" tanya Hilman melihat remaja itu.


"aku bersama asisten papa eyang, om Hans kamu kenapa tak menyapa sih, itu gak sopan tau," kata Darwin tersenyum menyeringai.


Hans pun menguatkan diri untuk melihat ayah kandungnya itu, dan pak Hilman terkejut melihat pria kekar yang bersama Darwin adalah putranya yang sudah bertahun-tahun pergi.


"selamat siang ayah ...."


pak Hilman pun menghampiri putranya itu, kemudian menampar Hans berkali-kali.


"eyang Hilman!" kaget Darwin.


dia tak mengira jika tamparan yang akan di berikan oleh Hilman dan bukan sebuah pelukan hangat.


"Kenapa kamu baru kembali, begitu mudah kamu melupakan kami Keluarga mu, apa kamu sudah tak mengakui ayah mu ini, atau kamu ingin aku mati terlebih dahulu baru kamu mau melihat ku," sarkas pak Hilman.


"bukan seperti itu ayah, ayah berpaling dariku, aku merasa menjadi anak durhaka setelah kejadian itu," kata Hans berlutut sambil memeluk kaki Hilman.


"kamu tau bagaimana ayah mu ini Hans, seburuk-buruknya perlakuan ku, kamu tetap putra pertama ku, kenapa kamu tak menunggu amarahku mereda," kata pak Hilman membantu Hans berdiri.

__ADS_1


"maafkan Hans ayah ...."


keduanya pun berpelukan, Darwin ikut merasa senang melihat keduanya, apalagi si kecil harus segera berkumpul dengan papanya.


krukkk....


"maaf, bisakah kita makan siang, sepertinya perutku tak bisa di ajak kompromi sedikitpun," kata Darwin sambil menggaruk tengkuknya.


"tentu, mungkin eyang Putri juga sudah menyiapkan makan siang untuk kamu nak, ayo kita pulang, dan Hans temui ibu dan adikmu," ajak pak Hilman.


"iya ayah," jawab Hans.


ketiganya pun menuju ke rumah keluarga Hans yang ternyata tak ada perubahan sedikitpun.


di teras rumah terlihat sosok Hani yang bermain dengan seorang bocah laki-laki yang terlihat berusia satu setengah tahun.


"kakak pulang," kata Hani yang langsung berlari memeluk Hans.


"iya dek," jawab Hans yang menangis karena terharu bisa memeluk adiknya lagi.


sedang bocah kecil itu terlihat binggung, tapi bocah itu tiba-tiba berjalan menuju ke arah Hans.


"loh, putu eyang mau kemana?" kata pak hilman mengendong baby Harvey.


"yang...."

__ADS_1


kata Harvey yang di gendong oleh pak Hilman, Joshua pun mencubit pipi gemuk Harvey.


"idih si Harvey makin gemuk aja nih, bocah gembul kamu di kasih makan apa sama eyang Hilman?" tanya Darwin.


"hei jauhkan tangan mu dari putraku, idih dia itu cowok terganteng tau," kesal Hani memukul tangan Darwin.


"pelit kali kau," logat bicara Darwin berubah.


"sudah-sudah, jangan begitu Hani, bagaimana pun dia itu anak dari bos kakak," kata Hans.


"pria menyebalkan ini, aduh gak ada yang lainnya aja sih, tapi berarti bos kakak kaya banget dong," kata Hani senang.


"ya ya dong, aku aja pewaris dari dua keluarga besar, pasti orang tua ku kaya," kata Darwin sombong.


semua pun tertawa mendengarnya, dan dari jauh sosok wanita berjalan sambil membawa belanjaan.


"nda...."


pak Hilman pun menoleh dan melihat sosok Tasya dari jauh, "oh Harvey lihat bunda, panggil bundanya."


"kak Tasya," panggil Hani melihat sosok wanita itu.


"hallo Tante," sapa Darwin juga.


dan saat Hans berbalik melihatnya, keduanya terdiam dan saling membeku.

__ADS_1


setelah hampir tiga tahun mencari, kini Hans bisa melihat sosok Tasya di depan matanya lagi.



__ADS_2