Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Semua orang terdiam melihat Tasya yang marah dan berani menampar Hans.


"Kenapa semua yang aku inginkan selalu di rebut oleh Viona, apa aku tak bisa bahagia, aku lelah terus mengalah ..." tangis Tasya.


Adelia pun bangun dan berjalan kearah Tasya, ia kemudian memeluk Tasya begitu erat.


"Aku mengerti rasa sakitnya Tasya, aku juga pernah ada di posisimu, aku di buang oleh keluargaku sendiri," kata Adelia.


"Kenapa kak, kenapa, aku tidak ingin lahir sebagai anak dari selingkuhan papa, tapi aku tak bisa memilihnya, tapi kenapa aku yang harus terluka seperti ini ..." kata Tasya lagi.


"Tak seharusnya dulu papi memberikan mu ke keluarga itu, maafkan papi sayang," kata papa Federico ikut sedih.


"Aku akan mengirimmu ke Canada, lanjutkan hidupmu dan biar kami menyelesaikan semuanya disini," kata Joshua.


"Itu bukan solusi," kaya Adelia.


"Tidak kak, kak Jojo benar, aku akan pergi dari sini saja, karena aku butuh kehidupan baru, di sini tak ada orang yang benar-benar bisa menerima diriku," jawab Tasya melihat Hans dengan tatapan dalam.


"Novan, ikut aku untuk mengambil barang-barang milik Tasya dan besok penerbangannya akan siap," perintah papa Federico.


"baik tuan besar," jawab Novan.


Tasya pun melewati Hans begitu saja, tapi Hans merasa dia ikut terluka, Novan sudah ikut papa Federico, mereka menuju ke rumah mewah keluarga William Gusman.


Di mobil papa Federico mengobati tangan Tasya, tapi gadis itu memasang wajah datar.


Saat ini bukan rasa sakit di tangannya yang terasa, tapi rasa sakit di hatinya yang menghancurkan segalanya.


Novan melirik dari kaca spion mobil, dia tak pernah melihat Tasya begitu pendiam seperti ini.


Mobil pun sampai di rumah mewah itu, William menyambut kedatangan dari kakaknya itu.


Tasya pun sudah di kawal Novan dan beberapa pengawal masuk kedalam rumah.


"Ada apa ini kak?" tanya William binggung.


"Tenanglah, aku hanya mengantar putri kesayangan Laura mengambil barangnya, karena besok dia akan berangkat ke California," jawab papa Federico berbohong.


"Tapi kenapa om, kak Joshua selalu tak adil dengan ku," protes Viona.


"Tenanglah cantik, kamu tinggal minta tiket untuk liburan darinya, besok datang ke kantornya langsung," perintah papa Federico.


"Baik om," kata Viona memeluk papa Federico senang.


Novan mengikuti Tasya, tapi dia binggung karena mereka menuju ke area belakang rumah yang biasanya ada kamar pembantu.

__ADS_1


Benar saja Tasya membuka sebuah kamar paling ujung, kemudian mengambil koper miliknya.


"Nona, anda tinggal di kamar ini," tanya Novan terkejut.


"Memang apa yang kamu bayangkan, kamar mewah dengan segala fasilitas, aku hanya seorang gadis yang tak diinginkan disini, aku adalah aib di keluarga ini," jawab Tasya.


Novan tak mengira jika kehidupan Tasya akan seburuk ini, mereka pun kini keluar dari rumah itu hanya membawa sebuah koper berukuran sedang.


Viona merasa senang dengan perginya Tasya, tapi William merasa aneh karena tiba-tiba Joshua mengirim gadis itu pergi.


Tasya tinggal di apartemen milik Joshua, sedang di rumah milik Hans, pria itu sedang binggung.


Dia tak bisa melupakan tatapan marah, sedih dan luka di mata Tasya saat melihatnya.


Hujan deras turun membasahi bumi dan kilat menyambar, tiba-tiba Hans mendengar bel pintu berbunyi.


Saat membuka pintu, Hans terpaku melihat sosok gadis yang sedang di pikirkan sudah basah kuyup di depan pintu.


"Nona,kenapa kesini, ayo masuk jika tidak kamu akan sakit," kata Hans menarik Tasya masuk ke rumahnya.


Tasya hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun, "kamu mandilah dulu, agar tidak masuk angin, nanti ganti dengan bajuku dulu," kata Hans.


Pria itu membuatkan segelas jahe hangat, tapi Tasya keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya.


"Ini aku buatkan jahe hangat," kata Hans terhenti melihat gadis itu hanya mengenakan handuk.


"Aku mencintaimu," kata Tasya pada Hans.


"Jangan bercanda, kamu lebih pantas jadi adik kecilku," jawab Hans


"Aku tidak berbohong, aku mencintaimu," kata Tasya melepaskan handuk yang di pakainya.


"Nona Tasya, kamu jangan gila," kata Hans marah.


"Aku sudah gila karena mu," kata Tasya mendorong Hans ke sofa.


Tasya pun langsung mencium bibir Hans dengan *****, Hans pun mencoba mendorong gadis itu.


Tasya pun terdorong hinga jatuh, Hans menutup tubuh gadis itu dengan selimut yang tadi sudah di siapkan.


Tasya menangis karena dia di tolak oleh Hans, "kenapa? apa kamu tak bernafsu pada ku, karena aku memiliki tubuh yang begitu buruk," kata Tasya.


"Bukan seperti itu, ini tak boleh terjadi, aku tak bisa merusak mu," jawab Hans.


"Tapi aku sudah rusak, apa kau tak melihat semua luka ini, setidaknya berikan hadiah perpisahan ini untukku sebelum aku pergi," jawab Tasya memohon.

__ADS_1


Hans pun langsung membungkam mulut Tasya dengan bibirnya, Tasya pun mengalungkan tangannya pada leher Hans.


Malam panjang mereka pun terjadi, Tasya sedang menikmati setiap sentuhan dari Hans.


Hans bahkan mengecup setiap bekas luka di tubuh Tasya, keduanya pun menyatukan keinginan.


Tasya memimpin dan Hans merasakan hal yang baru kali ini dia rasakan.


Keduanya pun tidur berpelukan saat selesai melakukan hal terlarang itu, Tasya pun mengecup bibir Hans saat pria itu tidur.


"Aku mencintaimu, dan maaf...." kata Tasya.


Keesokan paginya, Hans bangun dan sudah tak melihat Tasya, bahkan dia melihat kamarnya sudah acak-acakan karena pertempuran semalam.


Hans tak mengira akan melakukan hal itu dengan Tasya, saat dia ingin ke kamar mandi, dia membuka selimut dan melihat bercak darah, Hans pun makin merasa bersalah pada Tasya.


Dia pun bergegas untuk mandi dan datang untuk mengantar kepergian dari Tasya.


Saat dia sampai di rumah Joshua, terlihat semua orang sedang terlihat khawatir.


"Pagi bos, dan tuan besar," sapa Hans.


"Pagi Hans," jawab Adelia.


"Maaf ada apa ini?" tanya Hans.


"Tasya kabur dan meninggalkan semua ATM yang di berikan oleh papa, dan Darwin sedang melacaknya," jawab Joshua.


"Maafkan saya tuan besar, karena saya-" kata Hans terpotong karena isyarat mama Laura.


Hans terdiam, mama Laura mengeleng pelan pada Hans jika dia tak mengizinkan Hans menjelaskan segalanya.


"Ada apa Hans," tanya Joshua.


"Mungkin sebaiknya kita sebar anak buah untuk mencarinya, takutnya nona Tasya membuang ponselnya," kata Hans memberi usul.


"Baiklah, kamu pimpin mereka untuk mencari Tasya," kata Joshua.


"Baik bos," jawab Hans.


Ya mama Laura tau apa yang di lakukan Tasya dan Hans, itupun terjadi atas izinnya.


Mama Laura hanya ingin mengabulkan keinginan dari Tasya, dan juga mama Laura sudah mengirim gadis itu jauh.


Darwin juga tak sepenuhnya membantu, pasalnya mama Laura sudah menjelaskan pada cucunya itu.

__ADS_1


Kini Hans seperti orang gila mencari Tasya, dia tak bisa mengabaikannya karena tanpa sadar gadis itu sudah membuat tempatnya sendiri.



__ADS_2