
pagi ini, Adelia mengumpulkan semua orang termasuk Joshua dan ketiga putranya.
wanita itu nampak tak senang, terlebih berita tentang Dylan tercetak di koran.
"coba jelaskan," kata Adelia melempar koran itu ke atas meja.
semua mata tertuju pada berita itu, Bahkan Dylan tak mengira jika dirinya terpampang di koran itu menjadi topik utama, saat adu jotos dengan temannya yang kalah balapan.
"mama aku bisa menjelaskan," kata Dylan memohon.
"menjelaskan, menjelaskan apa, mama memintamu untuk kuliah dengan benar, bukan balapan tak jelas seperti ini Dylan, apa kurang semua yang mama berikan, jawab!" teriak Adelia yang tak bisa menahan dirinya lagi
"maafkan aku ma, aku hanya merasa jadi anak paling tak berguna saja, terlebih melihat kak Darwin, David dan semua orang di keluarga kita," lirih pria itu.
"mama hanya ingin kamu menjadi pria normal, bukan pria urakan dan raja jalanan, jika kamu mati, menurut mu kamu tak membuat kami semua terluka hah!" Adelia benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya.
"mama sabar-"
kata David terhenti karena gerakan tangan Adelia, "jangan ikut campur, kamu saja terluka semalam karena meneruskan usaha milik kakek buyut mu, jadi kenapa kamu tak membunuh mama saja, agar kalian bebas melakukan semuanya!" kata Adelia lepas kendali.
"maafkan kami ma, ini terakhir kali kami membuat malu dan melukai diri kami sendiri," jawab David.
"iya ma, dan aku akan melindungi mereka, dan jika perlu kirim Dylan untuk kuliah keluar negeri," kata Darwin memberi usul.
"tidak akan, karena David akan berangkat ke Austria, jadi Dylan harus tetap tinggal disini, tanpa bantahan," kata Adelia
"baiklah mama, sekarang ayo sarapan dulu, kak Darwin sudah telat untuk bekerja, begitupun aku," bisik Bunga tersenyum merangkul lengan mertuanya.
"baiklah, ayo semuanya," jawab Adelia sedikit luluh, melihat Bunga dan Adelia sempat merasakan gerakan dari perut Bunga.
Joshua tak mengira jika bunga bisa
begitu mudah membujuk Adelia yang sedang marah.
setelah sarapan, Adelia juga bersiap untuk menuju ke perusahaan milik suaminya itu, setelah Samuel setuju merekomendasikan dirinya di sana.
keduanya berangkat dengan mobil yang berbeda, tapi sama-sama mengunakan mobil mewah keluaran terbaru.
Darwin langsung menuju ke ruangannya, sedang Bunga harus menghadap bagian HRD, baru kemudian di antar ke bagiannya.
dia memang satu lantai dengan Darwin, Bunga pun di perkenalkan dengan Dio dan Dico.
kedua pria itu kaget melihat Bunga yang berpenampilan cupu dengan perut yang sudah cukup besar.
"tuan Dico ini adalah pegawai dari Carter internasional Corp, dia akan menjadi rekan anda selama proyek bersama perusahaan Carter," kata kepala HRD.
"baiklah, kamu bisa pergi," jawab Dico.
"tolong perkenalkan dirimu pada yang lain," kata Dico dingin
"hallo semua, perkenalkan nama saya Bunga Aurora G, dan saya berkerja di bidang desainer interior utama di Carter internasional Corp," kata bunga.
"selamat datang Bunga, perkenalkan aku Dio, dia Dico, dia Angga, Iwan dan Anna," kata Dio menunjuk satu persatu orang di ruangan itu.
"mohon bantuannya," kata Bunga sopan.
Aldo datang dan kaget melihat penampilan bunga, "ya Tuhan ku," kata pria itu.
"kenapa penampilan anda, maaf tuan Presdir memanggil anda ke ruangannya, dan mohon bawa desain yang sudah Anda miliki," kata Aldo bersikap profesional.
"baik pak," jawab Bunga sopan.
saat wanita itu pergi, Anna tertawa mengejeknya, pasalnya penampilan norak itu tak mungkin bisa menggoda Darwin.
__ADS_1
"dasar kampungan, dia lulusan luar negeri, cih tak sadar diri dan mukanya jelek sekali," ejek Anna.
"tutup mulutmu Anna, bagaimana pun dia rekan kerja kita, dan jika kau tak bisa diam lebih baik aku meminta Presdir memindahkan dirimu," ancam Dico.
Anna pun memilih tutup mulut, sedang di ruangan IT perusahaan Gusman, Edo sedang menjaga agar tak terjadi kebocoran lagi.
Darwin melihat istrinya itu, dan memanggilnya untuk mendekat. dan sekali tarik wanita itu jatuh ke pelukannya.
"bagaimana desain yang aku minta?" bisik Darwin.
"tuan Presdir Gusman yang terhormat, anda bisa memilih dari keenam desain ini, dan aku jamin ini bukan hasil plagiat, karena semua desain yang aku buat punya ciri khas yang sama dan hanya aku yang tau," bisik Bunga.
"baiklah, aku pilih dirimu saja kalau begitu, bukankah sama saja," kata Darwin mengecup leher belakang dari Bunga.
"jangan berulah kak, ini kantor, sudahlah aku harus bekerja kembali," kata bunga yang keluar.
Darwin pun memilih dan melihat semua desain yang di buat dan itu sangat sempurna, tapi Darwin tak bisa menemukan kode yang dimaksud.
Bunga kembali ke meja yang sudah di siapkan di antara Dio dan Dico, karena ini permintaan khusus dari Darwin.
bahkan Bunga begitu fokus dalam bekerja, Dico tak menyangka jika wanita yang dia Anggap lemah.
tapi begitu profesional dalam pekerjaannya, pantas saja seorang Samuel yang selalu terkenal sebagai pria yang perfeksionis sangat mudah bekerja dengan bunga.
bahkan wanita itu menyiapkan semua sendiri, dari minuman hingga cemilan khusus, "Dico mau?" tawar Bunga.
"aku mau," jawab Dio.
keduanya tak mengira jika kue yang di bawa Bunga adalah cookies sayuran.
ternyata keluarga Gusman benar-benar memperhatikan kondisi menantu mereka.
tak terasa waktu istirahat siang pun tiba, bunga pun ikut ke cafetaria bersama dengan yang lain.
menemukan tempat duduk kosong.
Anna mengejeknya, tapi tanpa di duga, Dio mengajaknya untuk keruangan khusus mulik Presdir.
"brengsek, kenapa wanita cupu itu malah ke ruangan khusus sih, gue aja belum pernah," marah Anna.
"tenang saja, pasti nanti juga di usir oleh pak bos, kamu juga tau pak bos tak suka ada orang yang lancang duduk di ruangan pribadi miliknya," jawab karyawan yang lain.
"iya kamu benar, kita lihat saja," kata Anna ingin tau hiburan yang menarik.
tak terduga rombongan dari Darwin dan Aldo serta Edo datang, tapi Darwin terlihat biasa bahkan malah duduk di samping Bunga.
tak lama makanan milik Darwin datang, bunga pun melihat buah pisang.
"kamu mau?" tanya Darwin.
Bunga mengangguk, Darwin pun mengupas kan buah itu dan bunga memakannya dengan lahap.
semua karyawan tak mengira akan melihat pemandangan langka itu, dimana Darwin yang begitu baik dan murah senyum pada bunga.
Anna pun kesal dan langsung pergi, sedang Iwan, Angga tau jika Bunga bukan wanita sembarangan.
itulah kenapa wanita itu bisa dekat dengan semua petinggi perusahaan.
jam istirahat hampir usai, bunga menuju ke kamar mandi, bahkan saat di dalam kamar mandi ada seorang pengawal khusus yang menyamar untuk memastikan keamanan bunga.
Anne yang ingin mengerjai Bunga pun tak bisa berkutik pasalnya ada cleaning servis yang sedang membersihkan toilet itu.
sedang Edo juga meretas semua grup perusahaan yang tersembunyi jadi dia tau ada yang sedang mereka rencanakan.
__ADS_1
Darwin pun mengawasi dan memastikan jika istrinya akan baik-baik saja.
bunga pun harus membuat susu hamil, dia pun menuju ke pantri khusus di lantai itu.
"aduh kasihan melihatnya, seorang wanita hamil masih harus bekerja keras, paling dia hamil tak bersuami," ejek para karyawan.
Bunga tak peduli dengan ucapan mereka, yang terpenting dia harus membuat susu dan segera kembali ke mejanya.
"eh norak .... gak usah kecentilan ya, kamu itu jelek jadi gak usah mimpi bisa dekan para petinggi di perusahaan ini," kata Siska.
"maaf ya mbak, aku tak perlu kecentilan, mereka sudah mendekatiku, terlebih aku bekerja dengan otak, bukan dengan mulut dan mengandalkan wajah saja," kata Bunga yang kemudian pergi.
saat ada yang ingin mendorong bunga, seorang cleaning servis menutup pintu hingga tangan wanita itu memukul pintu cukup keras.
"aduh sakit!" teriak wanita itu
sedang Bunga tak mau ambil pusing, toh suaminya tak pernah mengejek penampilannya saat di kantor.
Bunga pun duduk di kursinya sambil menikmati susu panas, dan juga cemilan khusus miliknya.
sebuah pesan masuk ke ponselnya, ternyata pesan dari Darwin yang menginggatkan untuk minum susu.
Bunga pun memotret gelas dan juga cemilannya dan mengirimnya pada Darwin, "tenang aku sedang melakukan pembesaran diri sekarang," balas Bunga sambil menambahkan emoticon cium.
"tapi istriku tetap tercantik kok," kata Darwin.
Bunga sedang mengerjakan desain untuk lobi hotel yang akan di buat lebih megah dan ramah anak-anak.
apalagi konsep hotel yang di inginkan oleh Samuel dan Darwin adalah hotel keluarga.
setelah cukup lama Bunga pun melakukan peregangan, karena dia sudah lama tak bekerja nonstop di depan komputer.
Dio pun tak mengira istri Presdir yang biasanya memilih ongkang-ongkang kaki di rumah.
tapi tidak dengan Bunga yang tetap bekerja meski sedang hamil, bahkan dia tetap produktif.
pukul lima sore Bunga bersiap untuk pulang,"maaf Dio dan Dico apa aku bisa pulang, bukankah di perusahaan pulang pukul lima sore," kata Bunga.
"tentu, jika pekerjaan mu selesai kamu bisa pulang," kata Dico.
"tunggu, kamu sebagai orang baru tak ada traktiran sopan sih, traktir kopi kek buat kami," kata Anna.
"Anna kamu tak cacat, pergi beli sendiri dan tak perlu merepotkan orang lain," marah Dio.
"udah tidak apa-apa, kalian mau kopi apa, biar aku belikan," kata Bunga.
"capuccino tiga, americano dingin satu dan americano panas satu, dan jangan lupa Pizza dengan ukuran besar," kata Anna.
"oke, tunggu ya," kata bunga yang berbalik malah kaget melihat Edo.
"kenapa belum pulang?" tanya pria itu dengan suara dingin dan tatapan tajam.
"aku harus membelikan kopi perkenalan dulu untuk teman-teman, jadi bisa kita pulang nanti saja," kata Bunga.
"kamu disini untuk bekerja, bukan jadi pembantu, sekarang pulang, biar mereka beli sendiri, mereka di gaji bukan untuk menindas karyawan baru," kata Edo menatap tajam kearah semua orang.
"aku sudah menyuruhmu pulang, lebih baik cepat pergi sebelum kami dapat masalah," kata Dico.
"ah maaf, dia memang dingin seperti tembok, aku permisi," kata Bunga mendorong Edo agar pergi.
Bunga pun langsung turun dengan di awasi oleh Edo, mobil mewah itu sudah sampai di lobi.
Edo pun membukakan pintu untuk bunga, "antar nyonya dengan selamat," kata Edo pada supir dan pengawal di dalam mobil.
__ADS_1
"baik bos Edo," jawab kedua orang itu.