
Novan sedang di tahan Lena, Novan duduk di sofa sedang Lena menahannya.
"Nona aku mohon jangan seperti ini," kata Novan mencoba lepas.
"Berhentilah berontak, atau aku akan melepaskan semua yang ada di tubuhmu," ancam Lena.
"Hei itu pelecehan, dan itu melanggar hukum, dan hak asasi," jawab Novan mencoba lepas.
"Berhenti Novan, lagi pula Joshua sudah berjanji untuk membuatmu menemaniku sebulan ini, jadi kamu tak boleh menolak," kata Lena menarik dasi Novan.
"Ya tapi posisi kita jangan seperti ini, kau terlalu mesum nona," kata Novan.
"Bukankah bagus jika wanita lebih inisiatif, apalagi menghadapi pria seperti mu," kata Lena mengelus adik kecil.
"Tolong hentikan, aku tak pernah melakukan hal itu," dorong Novan.
Lena pun terdorong hingga jatuh terduduk, Lena pun tak terima.
"Ya! kau begitu kasar pada wanita ternyata," marah Lena.
"Karena kamu ingin melakukan pelecehan padaku, itu menyebalkan," kata Novan.
"Pelecehan apa, aku hanya ingin menggoda mu," jawab Lena yang berdiri kemudian mendorong Novan hingga terduduk.
Kini Lena duduk di pangkuan Novan dan langsung mengalungkan tangannya.
Lena pun mencium bibir Novan dengan buas, Novan awalnya Dian saja tapi akhirnya ikut terhanyut.
"Ini baru namanya pelecehan, tapi kamu juga menikmatinya bukan," bisik Lena.
"Nona, kau merebut ciuman pertamaku..." lirih Novan.
Lena terkejut mendengar itu, "Kau pria apa tak pernah berciuman, jangan-jangan kamu juga masih perjaka?" tebak Lena.
Novan pun mengangguk, "Dasar, ternyata selera ku benar-benar aneh," kata Lena tertawa.
"Apa maksudmu nona," kata Novan tak terima.
"Tidak usah di pikirkan, nanti malam jemput aku kita pesta, dan aku akan menunjukkan dunia padamu," kata Lena.
"Baiklah jam tujuh malam aku akan menjemputmu, tapi tolonglah setelah sebulan jangan mengangguku," kata Novan.
"Tenang saja, pasti kamu yang akan memohon padaku, ingat itu," kata Lena pergi setelah memberi kecupan pada bibir Novan.
Sedang Joshua menemani Adelia menunggu Lena yang akhirnya turun dari ruangan Novan.
__ADS_1
Dia datang dengan wajah ceria dan bahagia, "terima masih, mainan baru ku begitu menyenangkan, dia polos tapi punya sisi kasar, aku suka itu," kata Lena senang.
"Asal jangan sampai kau membuatnya terluka, apalagi aku harus sampai mencari asisten dan kepala IT baru," peringatan Joshua.
"Tentu, mungkin aku akan sangat merawat dan menyayangi mainan ku itu," jawab Lena tertawa.
Lena pun mengajak Adelia dan Darwin pulang, pengawalan tetap begitu ketat.
Tapi sebelum pergi Darwin melihat tiga resepsionis yang masih terlihat sedih itu.
"Kalian bertiga tidak jadi di pecat, tapi ingat jangan berani menahan ku dan mama lagi," kata Darwin.
"Baik tuan muda kecil, kami minta maaf," jawab ketiganya.
Kini mereka bertiga pun masuk ke mobil yang akan membawa mereka ke kediaman keluarga Gusman.
Karena rumah keluarga Sukoco masih di renovasi, dan setelah selesai Adelia dan keluarga akan tinggal di rumah itu.
Maka dari itu Joshua benar-benar membuat rumah itu menjadi hunian yang nyaman.
Saat sampai, mama Laura menyambut mereka, tak lama mama Vena juga datang sambil membawa beberapa makanan.
"Wah Oma Vena bawa apa itu?" tanya Darwin berbinar melihat mama Vena.
"Tolong pak Yun di siapkan, dan Adelia kemari sayang," panggil mama Laura.
"Ya, Oma Laura tak menyayangiku lagi Oma," kata Darwin memeluk mama Vena.
"Tenang masih ada Oma Vena, nanti Oma belikan semua keinginan mu sayang, hei Lena jangan minum di siang hari," panggil mama Vena.
"Ayolah ma, kebetulan hari ini aku libur tidak ada pasien, aku lelah tiap hari harus melihat darah dan berbagai organ dalam manusia, sekali-kali ingin aku duduk menikmati minuman bersama kekasihku," kata Lena yang sudah menenggak minuman beralkohol dari botolnya.
"Kamu lupa, nanti malam ada janji dengan Novan, jangan sampai kau pingsan hingga melupakan janji itu," kata Adelia.
"Kau tau, aku bisa tahan hingga tiga botol nyonya muda, jadi tenanglah," kata Lena duduk sambil membawa botol anggur dengan kadar alkohol tinggi.
"Dasar dokter mabuk," kata mama Laura.
Mereka pun tertawa, setelah semuanya siap, mereka pun makan bersama.
Dan yang membuat terkejut, Lena yang hampir mabuk malah sadar setelah makan dengan lahap.
Sedang Darwin menikmati sushi kesukaannya, Adelia menyukai mie ayam.
Itulah perbedaan besar antara ibu dan anak itu, seperti yang di ketahui jika Darwin memiliki DNA lebih banyak dari gen Joshua.
__ADS_1
Akhirnya Lena memilih beristirahat di rumah keluarga itu, mama Laura dan mama Vena bergosip dan membahas yayasan mereka.
Sedang Adelia tidur siang bersama Darwin, Adelia begitu nyaman siang itu.
Apalagi Darwin persis Joshua saat tidur, tak terasa waktu sudah sore hari.
Joshua pulang dari kantor, tapi hanya melihat sang mama, setelah menyapa mama Laura.
Joshua pun naik kedalam kamarnya dan melihat dua orang itu sedang tidur nyenyak.
"Ya Tuhan, kalian berdua tidur kenapa seperti belalang sentadu yang lagi kelelahan," kata Joshua menaruh tas kerjanya di sofa.
kemudian menghampiri Adelia, dan mencium kening wanita itu, "emm... tunggu sebentar lagi sayang, aku mengantuk," jawab Adelia mengigau.
"Tapi ini sudah sore, bahkan sebentar lagi sudah pukul enam sore," bisik Joshua.
"Apa!" kaget Adelia langsung bangun hingga membentur kepala Joshua.
"Au... sakit sayang, kamu terlalu bar-bar," kata Joshua memegangi kepalanya.
"Maaf, aku terkejut karena mendengar perkataan mu mas," jawab Adelia yang memeluk Adelia.
Joshua pun langsung mengendong Adelia ke kamar mandi, keduanya pun mandi bersama.
Joshua membantu agar luka Adelia tak terkena air, karena itu bisa berbahaya.
Setelah itu Joshua juga mencoba membangunkan putranya Darwin, setelah bangun Darwin langsung memeluk Joshua.
"Sayang, bangun terus mandi yuk," ajak Joshua.
"Mau air hangat, terus papa yang mandiin ya," lirih Darwin.
"Baiklah, bangun dulu yuk," kata Joshua saat sampai di kamar mandi.
Sedang Lena sudah siap dengan baju terbaiknya, dia tinggal di kediaman Gusman untuk menjaga Darwin.
"Widih, mau kemana non," tanya Joshua.
"Mau kencan, tapi aku lupa dia aku suruh jemput jam tujuh," jawab Lena enteng.
"Baik-baik ya, aku akan sulit mencari pria seperti itu jika kamu merusak dirinya," kata Joshua.
"Tidak tuan, tenang saja," jawab Lena tersenyum menyeringai.
__ADS_1