Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
bonus chapter


__ADS_3

Hans langsung berlari menghampiri Tasya dan memeluknya, begitupun Tasya yang ikut bahagia bisa memeluk pria yang begitu ia cintai itu.


"kenapa kamu meninggalkan aku, setelah kamu memberikan segalanya padaku, kamu tau aku tak bisa menjalani hidupku seperti dulu lagi setelah kau membawa semuanya pergi," ucap Hans sambil terisak.


"maaf, tapi aku tak ingin jadi perusak pekerjaan kak Hans, aku tetap mencintai kak Hans," jawab Tasya.


"kamu bukan perusak, kamu itu anugerah dalam hidupku, jadi jangan pergi lagi, cukup aku kehilangan mu kemarin," kata Hans yang menciumi seluruh wajah Tasya dan kemudian memeluknya lagi.


pak Hilman, Hani, dan Darwin terperangah tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.


dan Darwin tak mengira reaksi Hans bisa sampai sebegitu hebohnya bertemu dengan Tasya.


"aduh om Hans, Tante Tasya tolong lihat kamu, kasihan eyang Hilman dan kak Hami binggung nih," kata Darwin sedikit kesal pada keduanya.


"oh maaf ...."


Hans pun melepaskan pelukannya dan mengenggam tangan Tasya, keduanya pun berjalan bersama ke rumah keluarga itu.


"bapak dan Hani, Tasya pernah bilang pada kalian semua kan tentang pria yang begitu Tasya cintai, ini dia orangnya," lirih Tasya.


"jadi ayah kandung putu ganteng ku ini, dia!" kata pak Hilman menunjuk Hans.


Tasya mengangguk, "Hani pegang Harvey dulu, dasar anak kurang ajar, kenapa biarin Tasya hamil sendirian," kesal pak Hilman yang langsung menjewer telinga Hans.


"ampun ayah, ampun, Hans tak tau jika Tasya hamil, habis Tasya hilang begitu saja," bela Hans.

__ADS_1


"iya pak, kak Hans tak tau karena Tasya tak ingin menyusahkan kakak, apalagi Tasya sendiri bahkan tak di harapkan oleh orang tua kandung Tasya," bela Tasya


"aduh ada apa sih kok ribut banget, Tasya mana tadi belanjaannya," kata Bu Hana keluar dari rumah.


"lihat Bu, putra mu baru pulang setelah anaknya gede ini gimana," kata pak Hilman.


Bu Hana pun langsung berlari dan memeluk Hans, putra yang sudah sepuluh tahun ini dia rindukan.


Darwin pun menjadi saksi berkumpulnya kembali keluarga Hans, tapi dia juga dapat jeweran dari Tasya.


"sekarang katakan, apa ini ide mu memintaku untuk tinggal di rumah keluarga ini," tanya Tasya.


"ampun Tante, ampun iya ini ide ku, habis hanya tempat ini yang gak akan pernah om Hans curigai," jawab Darwin memegangi kupingnya.


Tasya pun melepaskan jeweran itu, kemudian Bu Hana menghampiri Tasya.


"Hans, kalian sudah menikah atau?" tanya pak Hilman terhenti.


"belum ayah, aku melakukannya dengan Tasya tanpa ikatan, tapi kami melakukannya karena cinta, dan aku akan meminangnya secara resmi ke keluarga Gusman, dan akan memberikan pernikahan impian untuknya," jawab Hans yakin.


"bagus nak, sekarang ayo masuk kita makan, dan Harvey cucu eyang kita akan bersama selamanya ya," kata pak Hilman begitu senang.


karena bagi pak Hilman, baby Harvey adalah semangat dan cahayanya setelah Hans pergi dulu.


semua pun makan siang bersama dengan begitu hangat, Hans juga tak mengira jika Tasya selama ini bersama keluarganya.

__ADS_1


setelah makan siang semua berkumpul di ruang tamu untuk berbincang.


sedang Darwin termenung menatap langit yang sebentar lagi berubah jingga.


"kenapa tuan muda begitu sedih," tanya Hans.


"aku hanya merasa rindu seseorang, dan aku begitu terluka sat dia menatap ke arah ku dengan tatapan kekecewaan yang mendalam," jawab Darwin sedih.


"kalau begitu kejar fan jelaskan, dan yakinkan dia jika kamu mencintainya," kata Hans.


"tapi aku binggung," kata Darwin lagi.


"kenapa? kamu coba tutup mata dan tanya hatimu, siapa yang dia pilih, maka itu yang terbaik," kata Hans


Darwin pun menutup mata, "Tuhan, siapakah gadis yang menjadi takdirku, apa aku mengenalnya?" tanya Darwin dalam hati.


Darwin melihat sosok gadis cantik yang tersenyum kearahnya, tapi saat Darwin mendekat gadis itu berlari.


tapi Darwin kemudian melihat kilasan gambar dari pertemuannya dengan Bunga dan dirinya yang berada di panti asuhan.


Darwin ingat senyuman itu dan juga gadis kecil itu, kemudian Darwin melihat sosok itu berubah jadi Bunga kecil.


Darwin pun membuka mata dan menangis, dan Hans menenangkan pria itu.


"yakin suatu saat kalian akan bersama," kata Hans.

__ADS_1



__ADS_2