
Rombongan Hafsah sampai di bandara dan pengamanan begitu ketat.
Semua wartawan mengerumuni ke datangan dari pengusaha kaya raya itu, yang makin membuat penasaran adalah dua wanita di sampingnya.
Bahkan Hafsah memeluk Keduanya dan terus tertawa bersama, para bodyguard pun mengamankan ke-tiga orang itu agar tak terluka.
Hafsah langsung mengajak mama Vena dan Adelia pulang ke rumah besar Amadea.
Saat iring-iringan mobil itu masuk tuan Georgio dan Nyonya Arsya sudah menunggunya di ruang tamu.
Mama Vena terdiam melihat rumah yang sudah beberapa puluh tahun tidak diinjaknya itu tak berubah sedikitpun.
Hafsah mengajak keduanya masuk ke dalam rumah, tak lama Joshua dan Darwin juga datang.
Akhirnya mereka berlima masuk ke dalam rumah, tuan Georgio melihat kedatangan mereka dengan dingin.
"Akhirnya kamu pulang Vena, bagaimana apa pria pilihan mu itu baik?" tanya tuan Georgio.
"Maafkan Vena papi," kata mama Vena lirih.
"Sudahlah papi, dia sudah sadar dan aku juga mengajak putri Vena dan keluarganya," kata Hafsah.
"Kemarilah sayang," kata nyonya Arsya pada Adelia.
Adelia pun menghampiri nyonya Arsya dan langsung memeluk wanita itu.
Sedang Darwin menghadang tuan Georgio agar tak bisa melukai Adelia.
"Jangan melihat mama ku, dia terlalu lemah dan rapuh," kata Darwin.
"Aku hanya ingin melihat cucu perempuan ku, minggir dasar cicit tak sopan," kata tuan Georgio yang melihat wajah Adelia.
"Wanita yang cantik, sayang punya suami dan anak yang menyebalkan," kata tuan Georgio memeluk Adelia.
"Kemari Vena, Hafsah, kalian tak ingin memeluk mami," kata nyonya Arsya.
Mama Vena pun bergegas menghampiri wania yang sudah begitu dia rindukan.
Hafsah memeluk sang papa, dan mereka pun melepaskan rindu yang sudah bertahun-tahun tertahan.
"Baiklah kalian semua ayo makan dulu, karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan nanti," kata tuan Georgio.
Mereka pun makan malam keluarga, Adelia membantu putra nya itu, sedang Joshua juga sedang berbincang dengan Hafsah.
Setelah makan malam, semua sedang berkumpul di ruang keluarga untuk membahas sesuatu.
"Hafsah papa ingin kamu menikah," kata tuan Georgio.
__ADS_1
"Papa kita sudah membahas ini, aku tak ingin menikah," jawab Hafsah.
"Tapi papa sudah menemukan calon yang pas untukmu," kata tuan Georgio.
"Saya permisi ke belakang untuk mengambil minuman dulu," pamit mama Vena.
"Tunggu Vena, aku ingin kamu juga mendengar siapa calon istri dari Hafsah," kata tuan Georgio menahan mama Vena.
"Baiklah pap," jawab mama Vena kembali duduk di kursinya.
"Papa ingin kamu Hafsah menikah dengan Vena, karena papa sudah sadar jika memisahkan kalian pun tak ada gunanya, karena kalian juga bukan saudara kandung, jadi pernikahan pun bisa di lakukan," kata tuan Georgio.
"Opa buyut terbaik," kata Darwin senang.
"Kalau begitu peluk opa buyut mu dong," kata tuan Georgio pada Darwin.
Darwin pun dengan senang hati memeluk pria yang terus di memusuhinya itu.
Adelia pun merangkul Joshua ikut bahagia, sedang mama Vena dan Hafsah masih belum percaya.
"Papa serius mengizinkan kami menikah? tapi kenapa?" tanya Hafsah masih binggung.
"Karena papa dan mami ingin menghabiskan masa tua kami di Indonesia bersama keluarga, kami kesepian di sini, apalagi setelah kamu pergi dan sudah jarang menemui kami Hafsah," kata nyonya Arsya.
"Baiklah mami, berarti kami tinggal merencanakan semuanya," kata Hafsah.
"Tidak perlu, Karena kami sudah menyiapkan semuanya," kata Joshua.
"Benar, dan aku juga membantu," kata Darwin ikut mengangkat tangan.
Mereka pun tertawa bersama, malam ini Joshua menginap di rumah keluarga Amadea bersama Darwin.
Sedang bocah itu kini sedang berada di kamar opa buyutnya, Darwin begitu menyukai suasana kamar itu.
Kini Darwin tidur di antara kedua orang tua itu, "opa buyut, aku suka kamar seperti ini, bisakah membuatkan satu untukku nanti," kara Darwin.
"Untuk apa buat, ini akan opa buyut pindah nama untukmu, jadi semuanya ini akan menjadi milikmu," kata tuan Georgio.
"Benarkah? tapi untuk apa aku disini?" tanya Darwin.
"Untuk mengembangkan bisnis dan juga kesukaan mu, di negara ini kamu bisa kuliah," kata tuan Georgio.
"Aku ingin keliling dunia melihat keindahan, tapi sayang aku tak bisa melakukannya sekarang," kata Darwin.
"Tunggu usia mu tepat, dan ajaklah istrimu nanti untuk keliling dunia bersama mu, itu bisa menjadi pengalaman nyata yang menarik," kata tuan Georgio.
"Pasti opa, aku akan melakukan nya bersama istriku nanti, karena aku sudah memiliki seorang untuk ku ajak pergi," kata Darwin tertawa.
__ADS_1
"Baiklah, tuan besar dan tuan muda kecil, sekarang kita harus tidur karena besok harus menghadapi hari baru," kata nyonya Arsya.
"Siap nyonya besar," jawab keduanya kompak.
Sedang di kamar Adelia dan Joshua, keduanya sudang memadu kasih, karena kerinduan berpisah seminggu ini.
Joshua terus membuat Adelia menjerit karena ulahnya, dan beruntung kamar mereka kedap suara.
Adelia pun kelelahan saat Joshua mengakhiri kegiatan panas mereka.
"Kamu keterlaluan sayang, kamu bahkan tak membiarkanku istirahat sedikit pun," kata Adelia.
"Aku menagih janji mu sayang, dan aku sudah seminggu ini bermain sendiri saat begitu menginginkan mu, jadi sekarang aku akan menerkam mu sampai aku merasa puas," jawab Joshua.
Adelia terkejut mendengar ucapan mesum suaminya itu, sedang h
Joshua mengecup bibir Adelia gemas.
Sedang di taman Hafsah dan mama Vena sedang duduk sambil menikmati waktu malam hari.
Keduanya bersulang dan minum bersama, "aku tak mengira jika papa akhirnya menyetujui permintaan ku dari lama," kata Hafsah.
"Apa ini memang rencana anak-anak," tanya mana Vena.
"Sepertinya, karena sebelum Laura berangkat dua mengatakan akan ada kejutan besar untuk kita menunggu nantinya," kata Hafsah menjawab.
"Sepertinya memang sudah di rencanakan," kata mama Vena tertawa.
"Ya entahlah sebenarnya apa yang mereka katakan, hingga berhasil membuat papa setuju," jawab Hafsah.
Keduanya pun masuk ke rumah dan beristirahat karena merasa lelah, apalagi hari makin malam.
Keesokan paginya, Adelia bangun dan menuju ke dapur untuk membut sarapan.
Para pelayan melarang tapi Hafsah datang setelah berolahraga, "biarkan saja dia melakukan apapun keinginannya," kata Hafsah pada para pelayan.
"Baik tuan besar," jawab para pelayan.
Adelia pun menyiapkan sarapan, setelah selesai dua naik untuk bersiap dan membangunkan suaminya.
Tapi saat masuk ternyata Joshua sudah mandi, Adelia pun masuk ke kamar mandi untuk melihat suaminya itu.
Tapi tak terduga Joshua malah menerkam dirinya lagi, akhirnya kegiatan panas itu terjadi di kamar mandi di bawah guyuran shower.
Joshua seakan terus ketagihan dengan aroma dan kehangatan istrinya itu.
Adelia pun akhirnya kembali takhluk dan tak bisa berjalan karena lemas, sedang Joshua tersenyum pada istrinya itu.
__ADS_1
"Hentikan senyuman mesum mu itu, aku tak tahan melihatnya," kata Adelia menutup wajah Joshua karena malu.