
Pesta pun berakhir, Joshua menghampiri Bunga dan memeluk gadis itu.
"Terima kasih sudah mau datang, om senang bisa melihat mu, dan terus menjadi kebanggaan ya," kata Joshua tersenyum.
"Sama-sama om, ini semua berkat om dan keluarga hingga Bunga bisa menjadi seperti ini, tapi mungkin bunga akan sibuk di sekolah beberapa tahun ke depan," pamit Bunga.
"Tak masalah, nanti kalau kami berlibur ke Selandia baru pasti akan menghubungi mu," jawab Joshua.
Farhan pun berpamitan dengan semua orang kemudian pergi dari sana, sedang Darwin batu mencari Bunga setelah lepas dari Salsha dan adik-adiknya.
"Mama. kalian lihat keluarga om Farhan?" tanya Darwin sambil ngos-ngosan.
"Mereka baru saja pulang, karena besok pesawat mereja berangkat pagi," jawab Joshua.
Darwin pun menggertak kan giginya menahan marah, bahkan otot lengannya pun nampak menonjol.
"Kamu baik-baik saja Darwin?" tanya Adelia.
"Ya aku baik," jawab Darwin sekilas.
Darwin memilih pergi dari tempat pesta dan menuju ke ruang latihan.
dia mulai melepaskan jas, dasi dan kemejanya. pria muda itu mulai memukuli samsak dengan cukup brutal untuk melupakan amarahnya.
Darwin merasa gadis itu menjauhinya dengan sengaja, Darwin pun kembali teringat semua kejadian dimana dia dan Felix kehilangan Bunga.
"tak berguna kamu melampiaskan kemarahan mu ke benda mati itu," kata Joshua yang sudah berlari di treadmill.
__ADS_1
"setidaknya aku bisa meluapkan emosi ku pa. dan aku sedang membutuhkan itu."
"kamu tau kenapa aku begitu mencintai mama mu, karena dia adalah cinta ku, teman masa kecil ku, dia juga kekuatan ku, sebab itu tak ada gadis atau wanita yang bisa merebut posisinya di hatiku," curhat Joshua sambil tersenyum malu.
Darwin terdiam dia ingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Bunga.
gadis yang selalu sendiri dan juga hanya tersenyum bahagia meski hanya di berikan permen oleh Darwin.
"ah sudahlah, tiba-tiba aku merindukan mama mu, ingat Darwin tanya hatimu dan kamu akan melihat siapa yang tulus padamu," kata Joshua sebelum pergi.
" cerewet," jawab Darwin yang berhasil memancing tawa Joshua.
sedang Joshua tak sengaja melihat sosok Salsha yang berlari menjauh dari tempat gym pribadi rumah itu.
Joshua tak ambil pusing, karena dia harus segera menyelesaikan pekerjaan proyek luar kota.
"sayang tolong periksalah bagaimana desain yang di kirimkan oleh Hans, karena aku akan mandi dulu," pamit Joshua.
"tentu sayang," jawab Adelia berjalan menuju ke ruang kerja milik Joshua.
Adelia terkejut melihat jika itu adalah sebuah desain sebuah sekolah yang di buat oleh Joshua dengan namanya.
"apa kamu menyukainya?" tanya Joshua berbisik lembut.
"aku suka sekali, dan siapa yang akan jadi penanggung jawab di sana, dan lagi tempat itu terpencil," kata Adelia sedikit terkejut.
"itu aku serahkan pada mama dan Darwin, apalagi desa itu adalah kampung halaman Hans, dan ide ini datang dari putra mu."
__ADS_1
"ah... kalian memang pria terbaik," kata Adelia begitu senang.
Hans sedang berada di rumah miliknya, dia sedang menikmati pemandangan malam gelap itu.
pasalnya sudah tiga tahun ini dia tak bisa melacak Tasya, bahkan Darwin dan mama Laura terus menghindar saat di tanya tentang Tasya.
"aku merindukanmu Tasya, apa seburuk itu diriku, hingga kamu tak ingin menemui ku ...."
tak jauh berbeda halnya dengan Hans, Tasya juga sedang menikmati waktu malam hari di temani seorang gadis muda.
"mbak ini selimutnya, nanti sakit lagi?" kata gadis itu.
"terima kasih, apa semua sudah beristirahat?"
"ya, semua sudah tidur dan pria tercintaku itu juga nyenyak dengan tingkah pola nya saat tidur," jawab Hani tertawa.
"terimakasih ya Hani, aku merasa senang memiliki dirimu sebagai adikku," jawab Tasya merangkul gadis remaja di sampingnya itu.
"ah aku jadi terharu mendengar perkataan mbak Tasya, aku juga sangat senang saat memiliki kakak lagi, apalagi aku pernah kehilangan kakak pria ku dulu," jawab Hani sedih.
"kamu merindukannya, maka doakan dia, dan semoga dia melihat langit malam ini, dan kamu segera bertemu dengannya."
"iya mbak, tapi apa mbak tak merindukan dia?".
"tentu rindu, dan aku yakin suatu saat aku akan bertemu dengannya, karena aku percaya Tuhan yang menjodohkan kami," jawab Tasya sambil tersenyum kearah Hani.
__ADS_1