
Joshua sudah merasa baik kan, dia pun menghampiri Hans dan Darwin yang setia menunggu keadaan dari Novan.
"Bos duduklah, aku sudah dapat kabar jika ketiga jenazah itu akan di kremasi besok pagi," kata Hans.
"Baiklah, Darwin ayo istirahat nak, ini sudah pukul satu pagi," kata Joshua lemah.
"Kalian bisa istirahat di kamar di kamar lantai atas, Hans tolong ajak mereka ke atas," kata Lena yang nampak begitu sedih.
"Lena, sekali lagi aku minta maaf karena ku, sekarang Novan mengalami semua kejadian buruk ini," kata Joshua.
"Tidak Jo, ini memang konsekuensi dari pekerjaan kami, dan jangan menyalah kan diri kalian," jawab Lena mencoba menguatkan diri.
Darwin pun memeluk Lena, "aku berjanji akan berubah saat ini, aku akan melakukan pekerjaan dengan baik, dan tak akan merepotkan om Novan lagi," kata Darwin menghibur Lena.
"Iya Darwin, Tante selalu percaya padamu, karena Tante juga bisa sampai sekarang juga berkat dirimu," kata Lena.
Hans pun mengantar keduanya untuk beristirahat di lantai atas, karena besok acara mereka masih banyak.
Sedang di rumah keluarga Gusman, Adelia sudah tidur di awasi oleh mama Laura, tak di duga ada sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Mama Laura pun kehilangan rasa lelahnya, dia tak bisa menahan amarahnya setelah membaca pesan itu.
Pasalnya dia menerima semua bukti tentang perselingkuhan yang di lakukan oleh suaminya di masalalu.
Mama Laura langsung turun menghampiri papa Federico yang sedang duduk bersama Felix.
"Federico Gusman, apa maksudmu dengan memiliki seorang selingkuhan dan memiliki putra darinya," kata mama Laura yang melemparkan ponsel miliknya ke arah papa Federico.
"Laura apa maksud mu, kamu kenapa? aku tak pernah memiliki selingkuhan, aku hanya memiliki mu sebagai istriku," kata papa Federico.
"Terus maksud pesan itu, apa maksud nya, jangan membohongiku Federico," kata mama Laura marah.
Papa Federico mengambil ponsel milik mama Laura dan membaca semua pesan itu.
Dia bahkan binggung dan tak pernah mengenal wanita Asia di ponsel itu, "Aku tak mengenalnya," kata papa Federico.
"Apa Kamu yakin kak? tak mengenal wanita cantik keturunan Asia itu?" tambah Felix yang makin memperkeruh suasana.
"Apa maksudmu, semua keluarga juga tau jika aku memiliki kekurangan yang kini aku turunkan pada Joshua, aku bahkan tak pernah mengenal wanita di foto ini," bantah Federico.
"Tapi nama mu dan juga bukti transfer dan juga foto itu, bagaimana bisa, dan lagi dia sudah memiliki putra seusia Joshua," kata mama Laura.
"Tenanglah menantu, pria di foto itu bukan suamimu, melainkan William, kamu lupa jika suamimu dan William kembar, lagi pula kamu juga tau benar kondisi dari suamimu," kata tuan Frenky.
Mama Laura pun sedikit melemah, papa Federico pun memeluk istrinya itu.
__ADS_1
"Papa sudah tau semuanya, dan sudah berbuat yang terbaik, tapi sayang wanita itu hilang dari penjagaan dari anak buah kita," kata tuan Frenky.
"Kenapa papa tak membiarkan mereka menikah dulu," kata papa Federico marah.
"Ya kamu tau sendiri bagaimana keluarga kita ini, aku juga sudah jadi korban, kamu lupa," kata Felix sewot.
"Maafkan keegoisan papa dulu, dan sekarang yang papa takutkan jika putra dari William menuntut balas tapi dia mengincar dirimu," kata tuan Frenky.
"Tidak boleh pa, aku tak ingin kehilangan Joshua, Adelia, Darwin atau calon cucu ku, aku harus menemukan pria itu," kata Federico.
"Tapi dia bisa membunuhmu," kata tuan Frenky.
"Tak masalah, asal aku tak harus kehilangan anak dan cucuku," kata papa Federico.
"Terus kamu ingin meninggalkan aku sendiri, kenapa kamu tega sekali," kata mama Laura kembali marah.
"Aku percaya jika kamu bisa menjaga mereka Laura, lebih baik aku yang mati dari pada anak-anak kita," jawab papa Federico.
"Jangan gila deh, aku masih berusaha menyelidiki pria itu, tapi aku penasaran dengan pria yang tadi begitu dekat Adelia tadi, karena sepertinya aku pernah melihat pria itu di suatu tempat," kata Felix.
"Dia adalah bos yang dulu membantu Adelia mewujudkan impiannya, dia adalah pria keturunan Indonesia Eropa," Jawab mama Laura.
"namanya mbak?" tanya Felix.
"Juan Imanuel Marquez," kata mama Laura.
"Syukurlah," jawab semua orang.
Sedang Juan tersenyum, karena dia mulai merencanakan semua jalan untuk balas dendam.
Dia tak tau jika balas dendamnya salah alamat, karena bukan papa Federico tapi William yang membuat dia dan ibunya sengsara.
Keesokan paginya, semua keluarga Gusman sudah berada di tempat kremasi.
Sambil menunggu kremasi selesai, mereka pun menikmati waktu bersama sambil berbincang.
Sedang dari kejauhan pria itu tersenyum melihat keakraban keluarga itu.
"Nikmati saja kebersamaan kalian, karena sebentar lagi itu hanya bisa menjadi kenangan," katanya sebelum pergi.
Di rumah sakit, William sudah sadar dan terlihat syok saat tau kedua tangannya sudah di amputasi.
Akhirnya dokter Arkam memberinya obat penenang, dan juga kondisi Novan juga sudah membaik.
Lena bahkan tak berhenti mendoakan agar suaminya agar cepat sadar, Novan pun membuka matanya dan melihat Lena.
__ADS_1
"Air..." lirih Novan.
Lena pun segera mengambilkan air minum untuk suaminya itu, tapi Novan melihatnya dengan tatapan aneh.
"Terima kasih, tapi anda siapa?" tanya Novan melihat Lena.
"Aku istrimu Lena, apa kamu tak mengenali diriku," kata Lena sedih.
"Maaf, tapi aku tak mengenal anda,dan aku belum menikah, maaf nona tolong tinggalkan ruangan ku," kata Novan memalingkan wajahnya.
Lena pun meneteskan air matanya, "Tapi bolehkah aku memeriksa mu dulu, setidaknya aku yakin jika kamu baik-baik saja," kata Lena mencoba menguatkan dirinya.
"Kamu dokter," tanya Novan dan Lena pun mengangguk lemah.
Lena yakin jika operasi itu tak akan mempengaruhi otak Novan, tapi kenapa dia melupakan Lena.
"Apa kamu benar-benar tak bisa mengenaliku, tapi siapa namamu?" tanya Lena memastikan.
"Nama ku Novanto Pradipta," jawab Novan.
Lena pun menguatkan dirinya, "tahun berapa sekarang?" tanya Lena
"Tahun 2008," jawab Novan pada Lena.
"Baiklah, aku permisi dulu karena kondisi anda sudah baik tuan," jawab Lena dengan air mata tak terbendung.
Novan pun menahan tawanya melihat reaksi dari istrinya itu, pasalnya dia hanya menggoda Lena.
Tapi karena kelelahan dan kurang istirahat, Lena malah jatuh pingsan di ruangan rawat Novan.
"Sayang, suster!" teriak Novan melihat tubuh Lena jatuh ke lantai.
Novan segera menekan tombol bantuan, beberapa suster membantu Lena.
Dokter Arkam memeriksa kondisi Lena, dan meminta seorang suster untuk membawa alat USG.
Novan masih belum bisa bergerak, dia hanya bisa melihat istrinya dari samping saat di periksa.
"Dokter, istri saya kenapa? kenapa dia bisa pingsan," panik Novan.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, dia hanya kelelahan dan lagi sedang hamil muda, jadi dia harus menjaga kesehatan tubuh nya," jawab dokter Arkam.
"Apa? Lena hamil," kaget Novan sekaligus bahagia.
__ADS_1
semoga tak bosan ya, mohon dukungannya...πππ