
"apa yang kau katakan Bunga, bagaimana pun mereka adalah orang yang juga berjasa di hidupmu," kata Samuel.
"tapi mereka terus diam, saat tau yang membunuh orang tua ku adalah Keluarganya, bahkan mereka begitu sayang padanya, aku sakit Samuel, aku sakit!!!" tangis Bunga memeluk Samuel.
"tenang Bunga, ingat kesehatan dirimu oke, kita hanya perlu melihat Darwin, dan setelah itu kamu bebas memilih jalan hidup mu, begitu kan Tante?" tanya Samuel.
Adelia mengangguk pasrah, dia masih tak mengerti dengan perkataan dari Bunga.
"baiklah Tante dan Dylan kembali ke Austria, aku dan Samuel akan menyusul saat aku siap."
"tolong secepatnya ya kak, kami semua mencemaskan keadaan kak Darwin," kata Dylan yang di angguki oleh Samuel.
keduanya pun pamit, Adelia tak bisa terlalu lama meninggalkan putranya Darwin.
sedang Bunga melihat Samuel, "kenapa kamu tak membawa ku pergi, setidaknya kamu bisa membalas sakit hatimu?"
"aku tak pernah bisa melihat seorang ibu menangis, aku juga tak sejahat itu, jadi aku akan mengantarkan mu kesana, jika kamu ingin pergi menjauh aku siap bersama mu, jika kamu ingin menetap aku juga akan ikut bahagia selama kamu juga bahagia disana, maaf sudah menyeret mu dalam kebencian ku," kata Samuel.
"aku tak pernah menganggap itu masalah, aku sadar jika semua yang terjadi tak benar, maka aku juga ingin membesarkan dia sendiri, cukup semuanya, aku tak mau dia juga terancam karena Sasha," kata Bunga.
Samuel pun mengangguk, dan mereka berangkat untuk kuliah, dan lusa akan terbang ke Austria demi mengunjungi Darwin.
semua berjalan lancar, bahkan perusahaan yang dirintis oleh Samuel, dan juga dia tetap memegang kendali perusahaan Carter meski hanya sebagai pengawas.
karena Samuel juga baru tau jika dia memiliki saham empat puluh persen, saham itu atas nama sang mama yang kini jadi miliknya.
sedang Bunga yang sudah tak bisa lagi memegang alat musik, memilih menjadi seorang desain interior Setelah sembuh dari semua syok yang dia alami.
dia bekerjasama dengan perusahaan Graham untuk mendesain beberapa proyek yang di tangani langsung oleh Samuel.
keduanya hanya sebatas sahabat, dan sudah seperti saudara, Samuel terus memposisikan Bunga sebagai kakak yang perlu di lindungi.
di rumah sakit keadaan dari Darwin begitu buruk, dia bahkan belum sadarkan diri.
dan semangat hidupnya sudah redup, tak disangka kedatangan Adelia bersamaan dengan pulangnya. Sasha.
__ADS_1
Joshua langsung memeluk Adelia yang nampak begitu sedih, bahkan wajahnya nampak kebingungan.
"ada apa sayang, apa mereka mau datang menemui Darwin?" tanya Joshua
"dia akan datang tapi tidak sekarang, dan aku baru tau jika salah satu dari Keluarga kita yang membunuh orang tua Bunga, siapa dia dan kenapa?" tanya Adelia tak terima.
semua orang saling pandang, pasalnya keluarga itu yang menjadikan pasangan itu sebagai orang tua angkat Bunga.
jadi tidak mungkin jika mereka juga yang menyingkirkannya, dan Joshua merasa jika Samuel hanya mengada-ada.
Dito yang khusus di panggil Hafsah pun kini menjadi dokter ketua untuk menangani kasus Darwin.
pria itu juga meminta agar Samuel melupakan segala kemarahan yang dia miliki.
pasalnya Darwin juga tak sepenuhnya salah dengan apa yang terjadi, dan beruntung keponakannya itu mau mendengarkan.
Samuel sedang duduk sambil melihat Bunga yang jatuh di pangkuannya, "entah sudah berapa kali musim gugur, aku masih belum bisa menemukannya, kemana dia sebenarnya?" gumam Samuel.
"memang tuan muda sudah kehilangan semua anak buahnya hingga tak bisa menemukan gadis itu?" tanya Bunga meledekny.
"bisakah kita tak perlu ke sana, aku takut pada Sasha, dia pasti akan mencoba menyakitiku," kata Bunga mengusap perutnya.
"aku akan membawa pengawal untuk kita, dan aku juga akan melindungi mu kakak ku yang cantik," puji Samuel.
malam pun datang keduanya sudah siap, bahkan Samuel juga sudah menyiapkan paspor dan visa untuk dirinya berangkat ke Amerika.
keduanya pun menuju Austria dulu, saat sampai di Bandara, lima pengawal siap menjaga mereka.
Dylan tau kedatangan mereka, tapi Samuel melarangnya untuk mengatakan apapun demi Bunga.
Dylan pun melihat keluarganya, "mama dan papa, tolong ajak yang lain untuk makan malam, biar aku dan opa Hafsah yang menunggu disini, tidak apa-apa kan," kata Dylan.
"itu benar, ayo sayang dan mama, kita makan dulu, buat Dylan dan papi disini," ajak Joshua yang di angguki semua orang.
mereka semua pun turun ke kantin, sedang di hampir waktu yang bersamaan.
__ADS_1
rombongan dari Samuel dan bunga naik ke ruang rawat Darwin, Dylan dan Hafsah kaget melihat semua pengawal itu.
"Dylan ajak Bunga masuk, biar aku tetap disini bersama om Hafsah," kata Samuel.
"ikutlah ..." Bunga memohon
"tidak, jika aku masuk bisa-bisa kondisinya makin buruk, jadi kamu masuklah dan buat dia sadar ya, pergilah, pergi ..." kata Samuel pada wanita itu.
para pengawal menjaga lorong itu, sedang Hafsah melihat Samuel, "jangan seperti itu opa, aku tau apa yang kamu pikirkan, tapi tunggulah Darwin yang menjelaskan segalanya,"
"kau persis seperti papa mu, terlihat tenang tapi sangat mematikan, bahkan kamu dengan mudah menguasai semua kelemahan Darwin," kata Hafsah
"opa ini memuji atau mengejekku, aku tersanjung sekaligus merasa terhina dengan ucapan Opa loh," kata Samuel santai
"itu benar, lihat saja kamu memiliki Bunga yang seakan tak mau berada di dekat Darwin, tapi dia begitu mempercayai dirimu."
"itu karena di keluargaku tidak ada penghianat dan pembohong besar, seharusnya opa sudah tau siapa yang aku maksud, jadi hati-hati saja, jangan sampai sesuatu terjadi pada keluarga opa," kata Samuel menginggatkan.
Hafsah hanya tersenyum, sedang Bunga sedih melihat tubuh Darwin yang terbaring tak berdaya.
"bisakah tinggalkan kami Dylan," mohon Bunga.
"tentu," jawab Dylan yang langsung meninggalkan ruangan itu.
bunga mengambil tangan Darwin dan menempelkannya di perutnya, "sayang, kak Darwin aku datang, dia hidup disini, hadiah dari Tuhan untuk kita, bangunlah aku mohon ... aku takut dia terluka bahkan terbunuh sebelum lahir dan melihat dunia ini, aku takut wanita itu akan menyakiti ku dan dia, jika kamu tak bangun karena aku setidaknya bangunlah demi calon anak kita," bisik Bunga sambil terisak.
Darwin pun mengerakkan tangannya, dia pun melihat kearah bunga yang menangis di samping ranjangnya.
"kau datang ...."
Bunga pun mengangguk lemah, Darwin pun tersenyum, dan bunga memanggil dokter.
Dito mengangguk dan memeriksa kondisi Darwin yang membaik, Bunga pun menghampiri Samuel.
"tinggallah disini beberapa hari, papa dan mama akan datang, dan kamu bisa ikut mereka pulang ke Indonesia nanti," kata Samuel.
__ADS_1
"tidak, urusan ku sudah selesai disini, aku ikut dengan mu, kita pulang bersama, aku tak mau disini," kata bunga yang sedikit takut.