
Lena terbangun dari pingsang, dia pun terisak tanpa sadar, dia merasa rapuh karena pria yang di cintainya tak bisa mengingatnya lagi.
"Boy lihat mommy, mommy menangis karena Daddy tak mengenalinya tadi, dia ternyata seorang wanita biasa," kata Novan pada putra mereka.
Lena pun menoleh dan melihat Novan yang sedang bersama putra mereka sambil tersenyum kearah Lena.
"Sayang kamu mengingat ku?" tanya Lena senang.
"Tentu, bagaimana aku bisa melupakan wanita yang begitu aku cintai," kata Novan tersenyum.
"Iya nak, Novan sudah cerita, jika tadi itu dia cuma bercanda mengatakan jika melupakan dirimu, eh taunya kamu malah syok dan pingsan," kata ibu mertua Lena.
"Kamu jahat banget, hatiku sakit saat kamu bilang tak mengingatkanku," kata kena terisak-isak.
"Maaf ya mommy, sekarang mommy gak boleh nangis lagi, kalau gak adik yang di perut mommy ikut sedih," kata Novan.
"Adik, di perut ku...." lirih Lena sambil mengusap perutnya.
"Iya nak, kamu sedang hamil, uh.. ibu tak sabar mau menimang cucu lagi," kata ibu Novan begitu senang.
Hans pun masuk sambil membawa buah dan cemilan sehat, "kamu sudah pulang, bagaimana semuanya?" tanya Novan.
"Berantakan, sekarang tuan sepuh yang menangani semua masalah, tapi bos besar tetap berusaha semaksimal mungkin menemukan penjahat itu," kata Hans.
"Semoga keluarga itu cepat mendapatkan titik terang," kata Novan.
Tiga jenazah sudah di kremasi, setelah itu abu mereka pun di bawa pulang dan menguburkannya di bawah pohon.
Juan sedang berada di sebuah makam, dia menaruh sebuah bunga di sana.
"Bu, aku akan membalas semua perlakuan mereka terhadap kita, mereka harus membayar semua rasa sakit yang ku rasakan," kata Juan sambil menggenggam tanah makam dari ibunya itu.
Kemudian Juan bergegas untuk pergi, dia harus mulai dari Joshua, karena pria itu menikmati semua hal yang seharusnya miliknya.
Juan menelpon Adelia untuk mengajak wanita itu bertemu, Adelia pun mengiyakan ajakan itu tanpa berpikiran buruk.
Darwin pun ikut dengan Adelia untuk bertemu Juan, pasalnya mereka sudah lama tak bertemu.
Darwin tak sabar bertemu Juan, karena pria itu adalah orang terdekat mereka dulu.
"Om Juan," panggil Darwin dari kejauhan.
__ADS_1
Juan pun langsung bergegas dan memeluk bocah itu, "uh... aku tak mengira kamu besar begitu cepat Darwin," kata Juan
"Tidak kok, aku tumbuh sesuai umur, om saja yang pergi terlalu lama, dan sekarang pulang pun kenapa tak mencariku," kata Darwin.
"Maaf saat baru sampai aku hanya mendengar jika ada keluarga Kalian meninggal, makanya aku sempatkan untuk melayat," kata Juan.
"Sudahlah, lebih baik kita makan dulu, aku sudah lapar," kata Adelia.
"Mama baru saja selesai makan di rumah, kenapa sudah lapar lagi," protes Darwin.
"Ya mau gimana lagi sayang, maklum orang hamil," bela Adelia.
Juan pun tertawa dan mereka pun makan bersama, sedang Joshua sedang bekerja di rumah untuk membantu papa Federico membereskan kekacauan.
Sebuah pesan di kirim ke ponsel Joshua, pria itu murka melihat foto itu.
Pasalnya di dalam foto itu Adelia, Darwin mereka begitu terlihat bahagia bersama Juan, bahkan Darwin menerima suapan dari Juan.
"Beraninya kalian melakukan ini di belakangku," kata Joshua yang pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja.
"Joshua mau kemana, Jojo berhenti, Jojo!" panggil papa Federico melihat Joshua yang pergi dengan wajah murka.
Joshua langsung menuju ke restoran tempat mereka bertemu, Joshua langsung terbakar cemburu melihat kebersamaan yang dia lihat.
Joshua langsung menghampiri meja mereka, Joshua menyiramkan minuman kearah Juan.
"Berani kamu menganggu keluarga orang lain! dasar pria tak tau malu, apa orang tuamu tak mendidik mu dengan benar," kata Joshua murka.
"Sayang, aku bisa jelaskan, jangan marah seperti ini," kata Adelia menenangkan suaminya.
Sedang Darwin membantu Juan membersihkan bajunya yang basah, "papa ini bukan seperti itu, kami hanya makan bersama setelah lama tak bertemu," bela Darwin.
"Tapi kalian bahkan tak meminta izin padaku, dan kenapa kalian begitu dekat, apa kamu tak bisa menjaga dirimu dari godaannya," maki Joshua.
"Tuan tenanglah, aku dan Adelia hanya mengenang masa lalu saja, tidak usah bersikap berlebihan," kata Juan.
"Diam, aku tak bicara pada pria yang berani mengajak keluar wanita yang sudah menikah, dan kamu Adelia apa susahnya mengatakan dan meminta izin, berhenti menjadi wanita yang menyebalkan," kata Joshua.
Plak.... Adelia menampar pipi Joshua karena mengatakan hal yang menjengkelkan.
"Tutup mulutmu, jika kamu tak bisa menghargai diriku, lebih baik kita berpisah saja, toh kamu selalu sibuk dengan dunia mu," kata Adelia dengan air mata yang menetes.
__ADS_1
Semua orang di restoran menjadi saksi dari pertengkaran itu. keluarga harmonis itu kini terancam kandas.
"Baiklah, aku akan turuti semua keinginan mu, tapi anak yang akan lahir akan menjadi milikku," kata Joshua.
"Baiklah, kita berpisah kalau begitu," kata Adelia pergi menarik Darwin.
Juan pun mengejar Adelia, pria itu menenangkan Adelia yang sedang begitu kalut.
"Adelia tunggu, maafkan aku, karena aku kamu dan Joshua jadi bertengkar dan berpisah seperti ini," kata Juan menahan tangan Adelia.
"Tidak kak, dia sudah keterlaluan, padahal aku hanya bertemu dengan mu, dia bahkan menghina ku di depan umum, itu menyakiti hatiku," jawab Adelia menangis.
"Jangan menangis mama, aku di sini akan menjaga mama, biar aku menghancurkan pria itu," kata Darwin memeluk Adelia.
Juan pun memeluk keduanya untuk memberikan kekuatan, tapi Juan sebenarnya tertawa senang karena rencananya mulai berhasil.
Sedang Joshua memukuli kepalanya sendiri karena merasa bodoh, dan bergegas mengejar istrinya itu.
Tapi langkahnya terhenti karena melihat Adelia dan Darwin sudah di peluk oleh Juan.
Joshua pun merasa bodoh melihat istrinya di peluk pria lain, dia perlahan pergi dari sana, Joshua meninggalkan tempat itu dengan mobilnya.
Sedang dari jauh Devina dan Hans mengawasi semua pergerakan dari ketiganya, mereka juga tak mengira tebakan Darwin benar.
"Langkah pertama selesai," kata Joshua tersenyum menyeringai.
"Baik bos, kami akan memantaunya dari jauh," kata Hans.
Joshua pun pergi memimpin anak buahnya yang lain, dia harus ke suatu tempat dulu.
Sedang Adelia dan Darwin di antar pulang oleh Juan, sebenarnya Darwin memakai semua alat penyadap dan pelacak di tubuhnya.
"Om, bisakah kita ke rumah sakit, aku ingin mengunjungi seseorang, boleh ya om," kata Darwin memohon.
"Baiklah, aku akan selalu menuruti keinginan mu," kata Juan tertawa.
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit mereka terus berbincang-bincang.
Sedang Joshua sudah bersama anak buahnya melumpuhkan semua penjaga di sebuah rumah mewah.
__ADS_1