
Darwin masih bersama dengan Bunga, pria itu tak pernah pergi sedikitpun dari sisi istrinya.
dua tak mau jika terjadi sesuatu pada Bunga, apalagi setelah semua yang harus mereka lalui.
pukul dua belas malam,dokter yang di tunggu oleh keluarga Gusman pun datang.
setelah bertahun-tahun tsk pernah pulang ke Surabaya, akhirnya kaki Nev kembali menginjak tanah kelahirannya.
deretan pengawal dan mobil mewah sudah menunggunya, "kita ke hotel dokter?" tanya pengawal.
"tidak, kira langsung ke rumah sakit," jawab Nev.
iring-iringan mobil itu pun menuju ke rumah sakit, Nev tak mengira jika penjemputan akan seheboh ini.
"bukankah kemarin aku minta agar tak perlu di lakukan pengawalan, tapi kenapa harus seperti ini?"
pria itu serius melihat pemandangan kota Surabaya yang begitu ramai di waktu malam hari.
"ini perintah tuan muda, karena beliau tak ingin dokter telat, terlebih dia takut kondisi istrinya yang akan menurun lagi," jawab supir itu.
Nev pun memilih diam, ternyata kita kelahirannya sudah banyak berubah. mobil sampai di lobi rumah sakit.
Nev pun langsung bergegas menuju ke ruangan rawat dari Bunga yang ternyata sedang beristirahat.
"laporan kesehatan, dan sudah melakukan tes apa saja!" tanya Nev sambil memeriksa setiap keterangan itu.
dia pun mencatat resep obat, kemudian dia masuk dan melihat Darwin yang sedang tertidur sambil menggenggam tangan bunga.
"bagaimana dokter?" tanya seorang perawat.
"kita kembali dulu, biarkan mereka beristirahat, dan jangan menganggu mereka," perintah Nev yang kemudian keluar.
Bukan apa, Nev taj ingin menganggu kebersamaan mereka, terlebih dia seakan melihat masalalu yang kelam.
dia pun memilih berjalan di lorong koridor, tak terduga dia bertemu dengan Qia yang sedang duduk di depan jendela.
"lebih baik kamu istirahat, pasien tak seharusnya duduk disini," kata Nev.
"tidak ada urusan dengan mu, mau duduk atau bagaimana, jangan mengangguku," jawab Qia ketus.
Nev pun pergi begitu saja, dia tak ingin berurusan dengan wanita aneh seperti Qia.
__ADS_1
sedang dia menginggat kembali bagaimana dia bisa terpisah dan berakhir di jalanan.
dia ingat bagaimana dia di paksa Shasa untuk ikut mengendarai mobil dengan alasan ingin ke minimarket.
"ayolah Qia, temani aku jangan disini kamu bisa menganggu kak Darwin," kata gadis yang sudah beranjak remaja itu.
"tidak mau, aku tidak boleh main jauh-jauh," jawab Qia kecil.
"Virgoun dan Harvey ikut, ayo ..." kata Sasha langsung menarik tangan Qia dengan kasar.
mereka berempat pun menuju ke sebuah proyek terbengkalai, bahkan mobil itu menuju ke luar kota.
"Sasha ini pergi ke mana? kamu ingin melakukan apa!" bentak Harvey.
"aku ingin membunuh kalian bertiga, terutama Qia yabg berani menggoda kak Darwin, asal kalian tau jika hanya aku yang boleh menjadi wanita yang di lihatnya," kata Sasha mengeluh pisau.
setelah itu remaja itu mengorok leher supir hingga tewas, Harvey langsung mencoba mengambil alih mobil.
tapi sayang Sasha membenturkan kepala Harvey ke stang pengemudi hingga pingsan.
melihat Sasha yang lepas kendali, Virgoun melindungi adiknya, dia menohok wajah dari Sasha, tapi karena kalah besar.
Sasha melompat keluar dan berhasil selamat, tapi dia langsung membuka mobil dan menyelamatkan Virgoun dan memukul kepala bocah itu dengan batu.
sedang untuk Qia, gadis itu di biarkan hanyut ke sungai setelah melukai pergelangan tangan gadis kecil itu.
Harvey tak tertolong, dia sudah mati karena terkena benturan dan pecahan kaca.
bahkan Sasha melukai dirinya sendiri agar siapa pun tak curiga jija ini semu bukan kecelakaan melainkan sebuah pembunuhan.
"tolong!!!" teriak Sasha.
para warga berdatangan membantu mereka, Tasya syok berat saat tau mobil yang di kendarai anak-anaknya mengalami kecelakaan.
Darwin pun meretas CCTV dia tak bisa mengatakan apapun karena mobil iyu hilang kendali dan masuk jurang.
Sasha mengalami patah tulang, sedang Virgoun mengalami luka berat di kepala.
Qia melihat Hans yang duduk di depannya, hans pun meneteskan air mata, "aku dulu bisa melindungi keluarga Gusman, tapi aku pria paling tak berguna, karena melindungi putri dan putraku saja tak bisa,"
"Qia takut ayah, Qia tak tau salah Qia apa?" lirih gadis itu.
__ADS_1
"tenang nak, ayah akan menuntut balas atas semua yang telah gadis itu lakukan padamu, terlebih dia telah membunuh Harvey."
Adelia Dian, dia tak mengira jika gadis yang dia selamatkan adalah seorang monster pembunuh.
bahkan di usianya yang masih terbilang muda itu bisa membunuh saudara dekat bahkan dengan sangat keji.
keesokan harinya, Nev sudah memeriksa kondisi Bunga, "bagaimana sebenarnya kondisiku, apa membahayakan janin kami?"
"tidak nyonya, anda hanya perlu beristirahat dan jangan terlalu stress, dan saya akan memberikan resep vitamin dan makanan yang wajib anda konsumsi sehari-hari, dan juga harus siap jika nyonya harus melahirkan tiba-tiba," kata Nev.
"baiklah, aku akan mempersiapkan segala yang di perlukan, dan tolong rawat istriku dengan baik," mohon Darwin.
"tentu, apalagi Nyonya Bunga saudara dari Samuel, pasti aku akan melakukan segalanya untuk menyelamatkannya," jawab Nev.
Darwin dan bunga tersenyum bahagiakan, setidaknya mereka sedikit tenang karena ada dokter yang menangani semuanya.
Aldo datang membawa berkas penting ke rumah sakit, karena Darwin tak bisa meninggalkan istrinya.
"Darwin kamu pergi kerja saja, biar kami yang menjaga bunga, dan apa jamu tak percaya pada mama mu ini?" kata Adelia.
"tidak perlu ma, aku hari ini tidak ada rapat, dan aku bisa bekerja disini sambil menemani istriku, dan mana bisa menjengguk Qia, apalagi tante Tasya pasti butuh mama sekarang," jawab Darwin.
"baiklah kalau begitu, mama ke ruangan sebelah dulu," pamit Adelia.
Darwin pun melihat bunga yang sedang tertidur karena efek obat, jadi dia bisa bekerja saat ini.
Adelia menuju ke ruangan rawat Qia, terdengarlah suara pertengkaran, saat Adelia masuk dia kaget melihat Hans yang sedang marah.
"ada apa ini?" tanya Adelia dingin.
"aku ingin membunuh wanita yang sudah membuat putri dan putra ku pergi selama ini," jawab Hans.
"silahkan, tapi tak akan semudah itu kamu menemukannya, karena hanya David yang tau dimana wanita itu," jawab Adelia.
"apa maksudmu?"
"setelah kejadian buruk yang menimpa bunga, David menyekap gadis itu di markas bawah tanah, tapi aku tak tau tepatnya di mana, terlebih bocah itu terlalu tertutup," kata Adelia
"aku bisa menemukannya, kau tentu belum lupa siapa aku," jawab Hans yang kemudian pergi.
Tasya tak mengira jika suaminya bisa bertindak nekat seperti ini, tapi dia hanya seorang ayah yang buruh keadilan.
__ADS_1