
Darwin pun pulang bersama para pengawal miliknya, saat sampai Joshua sudah menyambutnya dengan berkacak pinggang.
"Darwin jangan membahayakan nyawamu," pesan Joshua.
"Aku tidak biasa berdiam, aku harus membalasnya, dia telah melukai sahabatku," jawab Darwin berhenti melangkah.
"Jika kamu terluka, memang apa yang akan kami rasakan," kata Joshua.
"Tenang papa, itu tak akan terjadi," kata Darwin.
"Kalau begitu biarkan aku yang menghadapi pria itu, setidaknya bukan kamu yang akan terluka, dan aku tak harus melihat mama mu sedih," kata Joshua pergi meninggalkan Darwin.
Darwin terdiam, dia binggung dengan ucapan Joshua, dia tak mungkin membiarkan Joshua pergi.
Adelia mungkin bisa gila jika Joshua terluka atau bahkan mati, Darwin langsung berlari mengejar Joshua.
"Maaf papa, aku tak mengerti maksudmu melarang ku," kata pria kecil itu memeluk Joshua.
"Aku membiarkan mu selama ini karena aku yang mengawsimu, tapi jika kamu melakukan rencana itu maka papa pastikan kamu akan melihat sisi lain dari ku Darwin," kata Joshua.
"Iya papa, tapi bisakah kamu membantuku," kata Darwin memohon.
"Tentu, aku akan melakukan apapun untuk putra ku ini, tapi jangan pernah melakukan hal bodoh lagi, atau sampai membahayakan nyawamu," kata Joshua.
"Terima kasih papa," jawab Darwin memeluk Joshua.
"Baiklah sekarang kamu istirahat, dan temani mama mu, papa ingin pergi sebentar, dan besok kamu akan melihat hadiah spesial untukmu," kata Joshua.
"Papa hati-hati," kata Darwin.
"Tentu, jangan pernah ragukan papa mu ini," kata Joshua tersenyum.
Lena mengirimkan pesan pada Darwin, dan bocah itu tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Lena.
"Jemput aku sebentar lagi aunty," pesan Darwin.
Joshua sudah berangkat dengan mobil Jeep hitam miliknya, Jeep itu bahkan mobil Anti peluru.
Joshua menjemput Hans dan Novan, dan Novan mulai mengacak sinyal dari tempat persembunyian Chandra.
__ADS_1
Pria itu tak tau jika dia sudah menyinggung orang yang salah, dia ketakutan karena Joshua sudah menginggatkan dirinya.
Chandra bahkan meminta semua orang berjaga di rumah persembunyiannya itu.
Tapi dia lupa jika berhadapan dengan pria yang bisa melakukan apapun untuk melindungi keluarganya.
Joshua turun bersama dengan Hans, dan Novan bersiap untuk melakukan pergerakan jarak jauh.
Novan bisa melihat berapa orang di dalam rumah dari suhu tubuh mereka semua.
"Ada dua puluh orang, dan satu orang di kamar utama, dia sedang mondar-mandir," kata Novan tersenyum.
"Dia lupa julukan yang aku miliki Hand Of Death, dan hari ini saatnya bermain, Hans kita mulai," ajak Joshua.
Joshua dan Hans mulai bertarung di dalam, bahkan keduanya mengunakan sebuah pisau kecil yang mematikan.
Joshua dengan mudah membunuh setiap pria yang menghadang jalannya.
Begitupun Hans yang juga memiliki kecepatan dalam bertarung, keduanya dalam hitungan menit sudah membunuh semua orang.
Novan terkejut saat Darwin dan Lena datang dan bergabung, "kalian?" tanya Novan.
"Terserah saja, dan bagaimana mana dengan putra kita," tanya Novan pada Lena.
"Tenang saja, putra mu aman dengan ibu," jawsb Lena tertawa.
Novan pun tak ambil pusing, Sekarang Joshua dan Hans mendobrak pintu itu.
Dan nampak Chandra ketakutan melingat kedatangan Joshua dan Hans.
"Aku minta maaf, jangan membunuhku," lirih Chandra ketakutan.
"Seharusnya kau tak mencelakai para anak panti itu, kau lupa jika keluarga Gusman adalah penyumbang tetap di sana," geram Joshua.
"Aku hanya menjalankan perintah tuan besar yang ingin memiliki tanah itu," jawab Chandra.
"Hans ringkus dia, dan biarkan aku membunuhnya," kata Joshua memainkan pisau yang dibawanya.
"Aku mohon tuan, aku punya semua buktinya di lemari itu, dan juga sertifikat dari panti asuhan itu, aku akan memberikannya tapi lepaskan aku, aku mohon ... " tangis Chandra.
__ADS_1
"Terlambat, siapa pun yang melihat sisi gelap ku tak akan pernah bisa melihat sinar matahari lagi, termasuk dirimu," kata Joshua langsung memotong leher Chandra.
Darah pria itu mengenai seluruh tubuh Joshua, dan Joshua bahkan masih tersenyum begitupun Hans.
"Dia spikopat?" kata Lena melihat aksi keduanya.
"Kau pikir bagaimana kami naik secepat ini, kami bahkan sudah banyak membereskan orang yang menghalangi jalan kami," jawab Novan menyeringai.
"Sekarang aku yakin dari siapa aku memiliki semua sifat ku," kata Darwin tersenyum.
Kini ketiganya pun turun dan menuangkan bahan kimia di seluruh rumah itu.
Setelah itu Joshua dan Hans keluar dan melihat Darwin dan Lena. Joshua menatap tajam putranya itu.
"Aku memiliki sifat ini juga karena mu papa," kata Darwin tersenyum jahat kemudian melemparkan korek api ke rumah itu.
"Itulah kenapa aku akan membuatmu menjadi yang terkuat dan menyingkirkan semua orang dari jalan mu," kata Joshua dingin.
"Tentu, aku senang mendengarnya dari mu," jawab Darwin.
Mereka pun memutuskan pulang, Hans bersama Joshua dan Darwin.
Sedang Novan dan Lena pulang terlebih dahulu, tapi sebelum pulang mereka verhebti di rumah Hans.
Disana Joshua membersihkan dirinya, sedang Darwin minum susu hangat yang dibuatkan oleh Hans.
"Aku rasa Devi akan serasi dengan om Hans saat bertarung, karena Devi adalah tipe petarung jarak dekat," kata Darwin.
"Tapi aku tak suka di repotlkan," jawab Hans.
"Kenapa tak mencoba nya dulu, bagaimana pun kamu butuh seseorang di sampingmu," jawab Joshua yang baru selesai mandi.
"Papa, gantung handuk mu dengan benar!" bentak Darwin yang mendapatkan lemparan handuk basah dari Joshua.
"Cerewet persis mamamu," kata Joshua sambil menyeruput kopi panas miliknya.
"Baiklah jika bos besar mengatakan itu, aku bisa mencobanya," jawab Hans.
Joshua dan Darwin saling tersenyum memberikan kode. sedang Hans tau jika tak akan pernah menang dari kedua pasangan ayah dan anak itu.
__ADS_1