Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
Hati Ke Hati


__ADS_3

Hans pun terlihat santai menikmati pemandangan dari ketinggian, sudah lama dia tak seperti ini.


"Bagaimana dengan hubungan mu om Hans, apa gadis itu benar-benar membencimu setelah aku mengaku bila aku putra mu," tanya Darwin penasaran.


"Dia sudah menikah dengan pilihan orang tuanya," kata Hans menghela nafas lemah.


"Mau aku carikan jodoh, lihat saja om Novan yang sekarang begitu bahagia bersama aunty Lena," kata Darwin.


"Aku sudah tak memiliki keinginan itu," jawab Hans.


"Om yakin, kita lihat saja nanti setelah kita mendarat," kata Darwin.


Hans hanya melihat bocah di sampingnya itu, dia tak tau harus mengatakan apa.


Pasalnya Darwin tak seperti bocah sebelas tahun, dia memiliki pemikiran begitu begitu dewasa.


Bahkan Joshua sering bercerita kalau berbicara dengan Darwin seakan menemukan kecocokan dalam pola pikir dalam memajukan perusahaan.


Helikopter pun terbang rendah di sebuah pulau pribadi, saat helikopter mematikan mesin.


Para pengawal pribadi milik Darwin sudah berbaris, ini adalah hadiah pulau pribadi dari Hafsah.


Darwin pun akan menunjukkan ini pada Hans karena dia percaya jika Hans bisa menyimpan rahasianya.


"Tuan muda, ini adalah pulau pribadi hadiah itu?" tanya Hans.


"Iya om, sekarang aku akan menunjukkan sesuatu padamu," kata Darwin masuk ke mobil Jeep Wrangler.


Mereka pun sampai di sebuah bangunan luas seperti istana di tenah hutan.


Ruangan itu begitu luas hingga seperti tempat ballroom hotel, tapi bedanya tempat itu memiliki arsitektur khas Eropa.


Darwin berjalan ke ujung ruangan bersama Hans, ada sebuah harpa yang di simpan dalam lemari kaca.


Harpa itu begitu mewah dengan lapisan emas dan berlian di ukiran yang menghiasi.


Hans tau jika hanya satu gadis yang akan bisa memainkan harpa itu.


"Apa kamu menyiapkan ini untuk seseorang yang spesial Darwin?" tanya Hans.


"Iya om, dan ada satu ruangan lagi yang harus om lihat," ajak Darwin berjalan membuka pintu besar itu.


Ternyata sebuah ruangan seperti ruang berlatih, begitu banyak pedang, pisau berbagai ukuran.


"Ini tempat apa?" tanya Hans.

__ADS_1


"Ini adalah tempat berlatih ku, aku dulu sering berlatih sambil mendengarkan dia bermain harpa, dan sekarang aku hanya bisa mendengarkan rekaman saja," kata Darwin menekan sebuah tombol.


Tak lama ada pancaran proyektor yang menampilkan video Salsha bermain harpa.


Kemudian Darwin mulai mengambil pedang dan mulai berlatih, Hans bisa melihat bagaimana kedua hal itu menyatu.


Tak sengaja saat akan pergi Hans menabrak seseorang, "maaf aku tak sengaja," kata Hans pada wanita itu.


"Tak masalah tuan," jawab wanita itu.


Wanita itu pun mematikan video dan menghentikan latihan Darwin, "Tuan muda, anda harus segera kembali, karena sepertinya ada masalah besar," kata wanita itu memberikan iPad pada Darwin.


"Hanya semut kecil, minta om Novan membereskan semuanya, dan tolong ajak pria itu ke pantai untuk menikmati suasana laut," kata Darwin menunjuk Hans.


"Baik tuan muda," jawab wanita itu pergi bersama Hans.


Mereka berdua sudah berganti baju, wanita itu cantik dengan baju santai yang terbuka.


"Aku belum mengenalmu, nama ku Hans," kata Hans mengulurkan tangannya.


"Devina, kamu bisa memanggil Devi," jawab gadis itu.


"Devi, kamu sudah lama ikut Darwin?" tanya Hans yang kini duduk santai bersama Devi.


Hans mengangguk, Devi langsung mebarik tangan Hans untuk bermain di laut.


"Hei mau kemana?" tanya Hans.


"Kita harus melihat keindahan bawah laut," ajak Devi.


Keduanya pun snorkeling, tapi Hans bisa menyelam sambil menahan nafasnya.


Tak sengaja Devi kram dan Hans langsung memeluknya, dan membantu Devi ke pinggir pantai.


Keduanya pun menikmati suasana yang begitu tenang dan membakar kulit keduanya.


Sedang di perusahaan, Adelia datang sambil membawa makan siang untuk mereka bertiga.


Tapi Adelia kebingungan karena saat masuk ke ruangan suaminya begitu sepi dan kosong.


Tapi tiba-tiba Joshua memeluknya dari belakang, "Sayang maafkan aku, aku lupa jika papi Hafsah memiliki kenalan dokter hebat," bisik Joshua.


"Baiklah, aku juga yakin kemarahan mu tadi adalah demi kebaikan ku," kata Adelia berbalik dan mencium bibir Joshua sekilas.


"Urung putra kita itu menyadarkan diriku, oh ya aku juga sudah membuat janji dengan Lena untuk mencari second opini," kata Joshua.

__ADS_1


"Itu bagus, dan aku akan mengikuti apa katanya," jawab Adelia.


"Tapi jika aku tau Rivan melakukan kesalahan, aku akan membuatnya tinggal di Afrika selamanya," jata Joshua


"Itu terlalu kejam, sudahlah ayo kita makan," ajak Adelia.


"Boleh, dan sepertinya kita hanya makan berdua, karena Darwin sedang berkunjung ke suatu tempat bersama Hans," kata Joshua mengendong Adelia.


"Kita mau makan, kenapa kamu menggendongku," binggung Adelia.


"Aku ingin memakanmu dulu sebelum kita makan yang sesungguhnya, karena aku tak bisa menahannya lagi," kata Joshua membawa Adelia ke kamar pribadinya.


Adelia pun tersenyum dan meletakkan makan siang itu di meja, kemudian Joshua menidurkan dirinya di ranjang.


Mereka pun mulai menikmati waktu siang mereka berdua, Joshua benar-benar tak melepaskan Adelia.


Setelah selesai keduanya pun membersihkan diri dan baru makan siang.


Adelia bahkan kini di suapi Joshua, Joshua begitu memanjakan istrinya itu.


"Baiklah aku pulang ya, aku tak ingin di sini," kata Adelia.


"Tidak temani aku di sini, aku juga sudah tak ada pekerjaan karena pekerjaan ku selesai sebelum kamu datang," kata Joshua.


"Kamu selalu seperti ini, kalau begitu aku mau belanja, bolehkah kamu menemaniku sayang," kata Adelia duduk di pangkuan Joshua sambil melingkarkan tangannya.


"Tentu, aku tak pernah bisa menolak permintaan mu," kata Joshua.


Adelia pun tersenyum senang, keduanya pun keluar ruangan dan Joshua memberi pesan jika untuk menunda segala pekerjaan.


Joshua memutuskan untuk menyetir mobil sendiri, dan mereka menuju ke mall besar di kota itu.


saat sampai Adelia mengajak Joshua berkeliling terlebih dahulu, mereka pun seperti sepasang kekasih yang begitu menikmati waktu berdua.


Mereka juga menonton bioskop, saat di dalam Joshua sedikit panik karena mereka menonton film horor.


Dan lucunya Joshua malah menyembunyikan wajahnya ke tubuh Adelia saat hantunya muncul.


Adelia terus menahan tawanya, karena suaminya yang begitu penakut dengan hantu.


Dan bisa di pastikan nanti malam pria itu tak akan bisa tidur, jika Darwin tau sang ayah habis menonton film horor.


Karena bocah itu akan menakut-nakuti Joshua semalaman.


__ADS_1


__ADS_2