
Joshua menunggu Darwin dan Adelia selesai mandi, dia memilih menunggu di depan kamar.
Adelia dan Darwin datang dan ikut duduk di kursi Joshua menatap keduanya.
"Sudah mainnya, kalian berdua tidak lihat sudah jam berapa malah asik main di kolam," kata Joshua.
"Kami hanya ingin bermain-main saja papa," jawab Darwin.
"Aku di tarik putra mu hingga tercebur ke kolam," bela Adelia.
Joshua langsung menatap tajam Adelia, "maaf.. kami tak kan mengulanginya lagi, hachih..." jawab Adelia sambil menggosok hidungnya.
"Sudahlah, sekarang makan sup dan minum air madu itu," kata Joshua mengawasi keduanya.
Adelia pun makan sesuai perintah Joshua, sedang Darwin di bantu Joshua karena bocah itu bisa menyakiti dirinya jika makan sendiri.
Joshua pun mengendong putranya yang sudah menggantuk, dia tau jika dia memang harus lebih memperhatikan putranya yang mulai tumbuh.
Pak Yun dan beberapa pelayan membereskan semuanya, Adelia sudah di kamar dam mengambil iPad miliknya.
Dia pun sedang mencoba membuat sketsa untuk butiknya, dia memiliki beberapa ide jas untuk suaminya.
"Kamu belum tidur sayang?" tanya Joshua melihat Adelia.
"Belum mas, lagi mencoba membuat desain jas untuk mu dan Darwin," jawab Adelia tersenyum.
"Sudah hentikan, ayo kita tidur dulu, atau kamu akan sakit," perintah Joshua yang langsung mengendong nya.
"Baiklah, aku rasa aku ingin sesuatu," kata Adelia mengecup bibir suaminya.
Joshua pun langsung menjatuhkan tubuh Adelia ke ranjang dan menguncinya.
Mereka pun melewati malam yang begitu panas, Joshua memperlakukan Adelia dengan begitu lembut.
Setelah puas, mereka pun tidur sambil berpelukan, Adelia terlalu nyaman dengan pelukan erat suaminya.
Keesokan paginya, Joshua merasa perutnya begitu mual, akhirnya dia pun berlari ke kamar mandi.
Sedang Adelia yang merasa pergerakan suaminya pun melihat dan kaget melihat Joshua yang sedang muntah-muntah.
"Mas kenapa?" binggung Adelia.
"Gak tau tiba-tiba perutku merasa begitu mual, tolong minta pak Yun membuatkan air madu," lirih Joshua terduduk lemas.
Adelia pun menghubungi dapur, dan pak Yun bergegas naik membawa pesanan Adelia.
__ADS_1
Pak Yun masuk dan melihat Joshua yang terlihat lemah di ranjang, "Nyonya apa lebih baik kita panggil dokter keluarga saja," usul pak Yun.
"Boleh pak Yun, aku tak tega harus melihat suamiku seperti ini," jawab Adelia.
"Baik nyonya, saya akan menelpon dokter Rivan sekarang," pamit pak Yun yang di angguki Adelia.
Adelia pun menyuapi Joshua dengan air madu hangat, Setelah itu dia juga membersihkan kamar dan mandi.
Darwin datang dan tidur di sebelah Joshua, Adelia pun tersenyum melihat putranya itu.
"Darwin kenapa sayang?"
"Darwin mau temenin papa agar cepat sembuh," jawab Darwin sambil memeluk Joshua.
"Baiklah, mama ke bawah sebentar ya, kamu jaga papa, biar mama buat sarapan untuk kalian."
Darwin pun mengangguk melihat sang mama sudah pergi, Joshua pun memeluk Darwin.
"Papa cepet sembuh ya," kata Darwin sambil mengusap pipi Joshua dengan tangannya.
"Terima kasih sayang," jawab Joshua.
Adelia binggung karena rumah cukup sepi, pak Yun menghampiri Adelia.
"Semua orang sedang keluar nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Yun.
"Baik nyonya muda," jawab pak Yun.
Adelia pun bergegas ke dapur dan membuatkan bubur untuk Joshua dan juga sandwich untuk Darwin.
Ia tak ingin mengecewakan Joshua yang sedang tak enak badan, sedang di kamar tidur Darwin memijat lengan Joshua.
Joshua pun tertawa melihat Darwin, tak lama Hans menghubungi nomor pribadi Joshua.
"Hallo om Hans, ada apa? papa sedang sakit dan tidak boleh kemana-mana,"jawab Darwin yang menerima telpon dari Hans.
"Baiklah kalau begitu, bilang kepada tuan Joshua, rapat akan aku undur sampai beliau sehat," kata Hans.
"Tidak perlu, aku bisa memimpin rapat itu melalui sambungan video, dan Hans tolong bereskan semua masalah dengan perusahaan sugiantoro," saut Joshua.
"Masalah itu sudah di bereskan oleh bos kecil tuan, dan untuk masalah yang lain biar tuan Federico yang menyelesaikan," jawab Hans.
"Baiklah, kalau begitu atur saja," kata Joshua yang berlari ke kamar mandi dan kembali muntah.
"Papa yakin bisa memimpin rapat, sedang dari tadi terus muntah," kata Darwin yang masih memegangi ponsel Joshua.
__ADS_1
Tak lama dokter Revan datang, dan di antar pak Yun ke kamar, tapi dokter Revan tak menemukan siapapun.
"Tuan muda," kata pak Yun yang bergegas ke kamar mandi.
Benar saja, Joshua sudah lemas karena terus muntah, pak Yun pun memapahnya ke ranjang.
Dokter rivan langsung memeriksa kondisi Joshua, kemudian Adelia datang membawakan sarapan.
"Hallo kakak ipar," sapa dokter Rivan.
"Hallo dokter Rivan, apa suamiku baik-baik saja? karena dia terus muntah dari tadi?" tanya nya pada dokter Rivan.
"Iya kakak ipar, dan sepertinya bos besar kita ini hanya sedang mengalami perubahan asam lambung, itu sebabnya di terus muntah," jawab Rivan yang langsung memberikan resep obat pada pak Yun agar segera di tebus.
"Kalau begitu mari sarapan dulu, Darwin, ajak om Rivan sarapan biar mama menyuapi papa mu dulu," kata Adelia.
"Siap mama, ayo om," ajak Darwin.
"Wah... kebetulan aku juga belum sarapan, terima kasih kak ipar," kata Rivan.
Adelia pun mengangguk dan duduk di samping Joshua, pria itu sudah terlalu lemah saat ini.
"Aku suapi ya mas?" kata Adelia menyodorkan sendok ke mulut Joshua.
Joshua pun memakannya, dan merasa sedikit baik kan, apalagi tadi Revan juga sudah memberikan suntikan.
Sedang di kantor polisi Yumna merasa begitu tersiksa, pasalnya para napi lain menindas nya.
Yumna sudah babak-belur jarena kesombongannya, hingga membuat napi wanita lain tak menyukainya.
Yusrin juga berada di penjara dengan segala kesadarannya, dia tau ini memang pantas dia terima.
Pasalnya dia telah menyia-nyiakan wanita yang membantunya dari nol demi wanita seperti Yumna.
Mama Laura, Hafsah dan mama Vena berkunjung ke penjara untuk menjengguk Yusrin.
Terlihat pria itu nampak baik, "apa kamu menikmati tempatmu sekarang Yusrin," tanya Hafsah.
"Ini tempat yang seharusnya, setelah apa yang aku lakukan pada Vena dan Adelia," jawab Yusrin sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu di hukum karena menyembunyikan barang bukti kecelakaan yang aku alami, dan juga bukti penyuapan yang kamu lakukan, dan kak Hafsah akan membantumu agar tak mendapat hukuman terlalu berat," kata mama Vena.
"Aku akan menerima apapun tuntutan hakim nanti, jadi kalian tidak usah repot-repot, tapi bisakah tolong mintakan maaf pada Adelia," kata Yusrin.
"Adelia pasti sudah memaafkan mu, gadis itu hanya perlu pelukanmu, pelukan yang selalu dia rindukan, dan asal kau tau saat kau mengantarnya menikah dulu, dia mengatakan jika hari itu, untuk pertama kalinya dia merasakan sebagai anakmu seutuhnya," saut mama Laura.
__ADS_1
"Aku papa yang buruk," kata Yusrin menangis.