
Adelia sedang beristirahat sambil menyusui kedua putranya secara bergantian.
"Papa sayang, boleh minta tolong untuk membuatkan susu dua botol, sepertinya David belum kenyang."
"Tentu mama sayang, sebentar biar aku buatkan," jawab Joshua meletakkan laptop miliknya di meja dan mengakhiri pekerjaannya.
"Dylan, David kakak datang!" teriak Darwin sambil menerobos masuk ke kamar Adelia dan Joshua.
David kecil yang terkejut pun langsung menangis, Adelia pun meletakkan Dylan di ranjang.
Adelia mengendong bayi David agar diam, setelah tenang Darwin pun menghampiri kedua adik laki-laki nya.
"Kedua adik kakak yang tampan, kenapa kalian gampang sekali menangis sih, terutama kamu David, kalau kalian besar aku akan melatih kalian menjadi pria kuat dan tak boleh cengeng," kata Darwin mencium kedua adiknya.
"Bagaimana tidak menangis adiknya, kamu masuknya teriak-teriak gitu Darwin, oh ya kamu tidak ke rumah Opa buyut untuk berlatih?" tanya Adelia pada putranya itu.
"Tidak, kata Opa buyut, aku disuruh untuk istirahat dan membantu merawat duo kembar sampai Oma Laura memilih baby sitter untuk mereka," jawab Darwin.
"Kalau begitu bantu papa untuk memegang botol untuk David dan Dylan, papa mau ambil makanan untuk mama," kata Joshua.
"Baik bos besar, dua adik kakak harus minun yang kenyang biar cepat besar," kata Darwin memegang botol untuk keduanya.
Darwin pun terus membuat wajah lucu dan terus mengajak kedua adiknya berbicara.
Adelia begitu bahagia melihat Darwin yang menjaga kedua adiknya dengan sepenuh cinta.
Joshua datang dengan membawa kereta dorong yang berisi makanan yang cukup banyak.
"Sayang kamu ini mau memberi makan, atau ingin aku jadi gemuk dengan semua makanan itu," kata Adelia sedikit cemberut.
"Kami bisa membantu, mari kita membesar bersama," kata Joshua semangat.
"Aku juga mau, dan dua bayi ini juga selesai minum," kata Darwin berlari setelah memberikan guling untuk menjaga adik-adiknya.
Mereka bertiga pun makan bersama, tapi Darwin masih menginginkan pasta lebih.
Jadilah pak Kim yang datang membawakan pasta dan cemilan buah potong untuk Adelia.
"Papa, bagaimana keadaan dari Bu Anne, aku ingat dia melindungi ku dan anak-anak kita saat kecelakaan," tanya Adelia khawatir.
"Tenang saja sayang, Bu Anne tidak mengalami luka serius karena mobil Opa memiliki keamanan yang cukup bagus, mungkin bulan depan beliau bisa kembali bekerja pada kita," terang Joshua.
__ADS_1
"Iya ma, kemarin aku sempat berkunjung ke rumah beliau, dan aku sempat berfoto bersama," kata Darwin mengulurkan ponsel miliknya pada Adelia.
Adelia pun bersyukur karena ketiga orang yang bersamanya baik-baik saja.
Sedang di rumah keluarga Gusman, mama Laura masih membujuk papa Federico agar mau makan.
Pria itu stress karena dia baru mengetahui segalanya, mama laura tak bisa melihat suaminya seperti itu.
"Papa, jangan seperti ini, mama jadi ikut sedih melihatnya," kata mama Laura memeluk papa Federico.
"Terus Papa harus bagaimana lagi ma, papa binggung dengan semuanya, papa tiba-tiba tak bisa berpikir jernih," jawab papa Federico.
"Papa tolong lihat putra mu dan ketiga cucumu sekarang, bahkan Darwin siap membantu mu menyelesaikan semuanya, jadi papa harus tegar dan kembali beraktivitas seperti biasa, ada ribuan karyawan yang harus kita pikirkan juga pa," kata mama Laura.
"Iya, mama benar, papa harus bangkit dan tegar karena perusahaan Gusman harus berjalan seperti biasa," jawab papa Federico.
"Ini baru suamiku yang begitu aku cintai, sekarang papa mau makan apa? biar mama buatkan ya," kata mama Laura.
"Aku ingin makan pasta seperti dulu saat kita pertama kali menikah," kata papa Federico.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita turun ke bawah," ajak mama Laura.
Mereka pun bercanda bersama, setelah masakan matang keduanya pun makan satu piring berdua.
Sedang di rumah keluarga Amadea, malam ini semua sedang berkumpul di ruang Keluarga.
"Bagaimana dengan perkembangan Salsha, apa kalian jadi mengadopsi gadis kecil itu?" tanya tuan Georgio.
"Sepertinya tidak pa, kami tetap akan menyekolahkan Salsha sampai dia lulus kuliah, tapi kami tak bisa mengadopsinya karena aku tak ingin kesalahan yang pernah terjadi terulang," jawab Hafsah.
"Itu benar, apalagi kalian sebentar lagi juga akan memiliki anak sendiri, apa sudah tau jenis kelamin bayi kalian? tapi bagaimana dengan kesehatan keadaan ibu pengganti itu?" tanya Nyonya Arsya.
"Laki-laki ma, kebetulan ibu pengganti itu tinggal di villa yang di jaga khusus untuknya," jawab mana Vena.
"Baiklah, kalian pasti tak ingin wanita itu berulah setelah melahirkan nantinya, jadi lebih baik melalukan hipnotis untuk membuatnya melupakan semua ingatannya saat hamil," usul tuan Georgio.
"Baik pa, itu juga sudah kami konsultasikan dengan dokter, dan kami berharap tak akan ada masalah kedepannya," jawab Hafsah.
"Ah... aku tak mengira rumah ini dan keluarga ini akan sangat besar, dan akan banyak anak kecil berlarian nantinya," kata nyonya Arsya senang.
"Jangan senang dulu, jika kedua cucu kita adalah laki-laki, bisa di pastikan akan ada arena tinju bukan area bermain anak, apalagi dengan Darwin sebagai yang terbesar di antara mereka," kata papa Georgio yang sudah bisa membayangkan akan jadi apa rumah keluarga itu.
__ADS_1
"Tenang pa, kalau melihat dari sifat kami, semoga anak-anak kami tidak seperti Darwin," kata Hafsah tersenyum.
"Semoga saja," jawab tuan Georgio.
Sedang di sebuah bar cukup terkenal di kota itu, seorang gadis sedang bertemu seorang pria.
Keduanya saling berpelukan karena lama tak bertemu, apalagi keputusan pria itu datang demi putrinya.
Devina menyeringai, pasalnya gadis itu sedang menyamar bersama Dev untuk mengawasi Jenifer.
Mereka tertawa saat pria bodoh yang sedang di tunggu akhirnya menampakkan dirinya.
"Wah ini akan menjadi menyenangkan, terlebih lagi penipu ini ikut datang, Dave mau bermain dengan ku," kata Devina.
"Baiklah, permainan apa?" tanya Dev tersenyum menyeringai.
"Jika kamu bisa menjadi kepercayaan mereka, maka aku bisa mengabulkan dua permintaan mu, mau?" tanya Devina.
"Baiklah deal, aku mulai kau lihat saja," kata Dev pergi untuk menghampiri kedua orang itu.
Tapi sebelum pergi Dev menyempatkan mencium pipi dari Devina.
"Aku tak sabar saat kamu menyerahkan dirimu padaku secara suka rela," bisik Dev.
"Aku pun tak sabar untuk itu," jawab Devina tersenyum menggoda.
Dev pun mulai mendekati keduanya, Jenifer pun melihat pria dengan rambut pirang dan mata hitam yang begitu menawan.
Apalagi semua barang yang menempel pada tubuh pria itu adalah barang branded.
"Papi, bolehkah ku bermain, aku butuh kesenangan," mohon Jenifer.
"Silahkan saja, tapi ingat jangan lupa misi mu," jawab Reymond yang kemudian pergi.
Jenifer langsung mendekati Dev, Dev pun tersenyum melihat Jenifer yang begitu seksi.
Dev menyapa nya dengan lembut, tapi dia tersenyum penuh arti di dalam hatinya karena wanita ini ternyata sama saja.
Sedang dari kejauhan Devina mengangkat gelas untuk bersulang, karena pria yang berhasil dengan tugasnya itu.
__ADS_1