ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Lelaki Gila


__ADS_3

Setelah selesai makan, Bayu mengajak Prita dan Leo untuk pulang. Rencananya ia akan mengantar Leo terlebih dahulu kemudian mengantar Prita. Sebelum pulang, Leo meminta membeli mainan di toko. Mereka mengikuti kemauan anak itu. Wajah Prita sudah sangat kesal tapi Bayu justru merasa senang. Setelah puas memilih beberapa mainan, akhirnya Leo mau diajak pulang.


Bayu mengemudikan mobil Ferrari miliknya. Leo tampak sudah terlelap di pangkuan Prita karena kelelahan. Prita hanya terdiam sembari memandangi jalanan lewat kaca samping.


“Terima kasih, ya, sudah mau menemani Leo hari ini.” Ucap Bayu untuk memecah keheningan.


“Ya.” Balasnya singkat.


“Kamu marah?” goda Bayu.


“Seperti yang kamu lihat.” Jawabnya ketus.


“Ah!” seru Prita saat tiba-tiba tangan Bayu menyentuh tangannya dan menggenggamnya. “Apa-apaan sih! Lepas!” ia mengibaskan tanggannya hingga genggaman itu terlepas. Sorot matanya tajam mengarah kepada Bayu yang tertawa lepas dengan responnya.


“Kalau mau marah, ya marah saja. Keluarkan semua umpatan di hatimu. Aku siap mendengarkan.” Ujar Bayu dengan nada menggoda.


“Lebih baik kamu fokus menyetir saja. Aku sudah sangat ingin pulang!” pinta Prita yang tak mau memperpanjang perdebatan.


*****


Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di sebuah rumah mewah bercat putih bergaya klasik. Bayu segera keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil di sebelah Prita. Ia mengambil Leo yang tertidur di pangkuan Prita dan menggendongnya.


“Ayo masuk.” Ajak Bayu.


Lagi-lagi Prita hanya bisa mengikuti. Seorang pelayan mempersilahkan mereka masuk dan memandu ke arah ruang tamu. Bayu memberikan Leo kepada pengasuhnya untuk dipindahkan ke kamar. Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.


Beberapa saat kemudian, Jimmy berjalan menuruni tangga setelah diberitahu bahwa Bayu sudah datang. Ditengah-tengah tangga, ia menghentikan langkahnya. Matanya mengamati sosok wanita yang ada di samping Bayu.


“Ya Tuhan… itu gurunya Leo? Cantik banget… kalau tahu begitu, aku yang akan menjemput Leo setiap hari.” Gumannya dalam hati.


“Jim!” seru Bayu.


Jimmy meneruskan langkah menghampiri tamunya. Pandangan matanya tetap terpaku pada Prita.


“Mana Leo?” tanyanya.


“Sudah dipindahkan ke kamar oleh pengasuhnya.” Jawab Bayu. “Ini Miss Prita, gurunya Leo.”


“Oh, halo, Bu Guru. Saya Jimmy, ayahnya Leo.” Jimmy mengulurkan tangannya.


“Prita.” Jawabnya sembari membalas uluran tangan Jimmy.

__ADS_1


“Maaf ya, Bu Guru. Leo sudah merepotkan.”


“Tidak apa-apa, Pak.”


“Saya dan istri sama-sama bekerja, jadi memang tidak punya banyak waktu untuk Leo. Sedangkan Pak Ahmad tadi mengantar adikku ke bandara. Jadi, saya meminta tolong kepada Bayu untuk menjemput Leo.”


“Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama di sini, Pak. Saya harus segera pulang.”


“Lho, Bu Guru tidak sekalian menunggu istri saya pulang? Nanti kita makan bersama?”


“Ah, mungkin lain kali, Pak. Saya pulang dulu, ya.” Pamitnya seraya menjabat tangan Jimmy dan berjalan keluar rumah.


“Aku juga pamit, ya. Mau mengantar Miss Prita.” Sahut Bayu dan langsung mengikuti Prita.


“Lho, minumannya baru diantar kok tamunya sudah pulang, Pak?” ujar salah seorang pelayan yang baru muncul membawa minuman.


Jimmy tersenyum, “Dibawa lagi saja ke belakang, Bi.” Katanya.


“Baik, Pak.” Pelayan itu kembali membawa nampan berisi minuman itu ke belakang.


‘Hmmm… Dasar Bayu gila! Guru imut dan lemah lembut begitu kok malah dikejar-kejar. Kasihan bu guru. Wanita seperti itu pasti tipe-tipe yang penyayang dan memanjakan. Ah, sayang aku sudah menikah dengan Renata.’ Batin Jimmy.


*****


Sesampainya di alun-alun, Bayu menghentikan mobilnya. Prita clingak-clinguk keheranan.


“Alun-alun? Mau ngapain lagi?"


"Ini kan masih sore, kita jalan-jalan sebentar."


Prita memutar kedua bola matanya. "Ah, Ya Tuhan. Aku sudah pengin pulang. Kamu jalan-jalan saja sendiri. Aku pulang naik taksi." katanya seraya membuka pintu mobil dan keluar.


Dengan cepat Bayu ikut keluar dari mobil dan menarik tangan Prita hingga tubuh Prita jatuh dipelukannya.


"Apa-apaan sih, lepas!" Prita berusaha mendorong tubuh Bayu, namun sia-sia.


Bayu mendekatkan bibirnya di telinga Prita, "Ini tempat umum, jangan bar-bar. Kalau kamu mau pulang, ayo masuk mobilku dan kita pulang." bisiknya.


Bayu melepaskan pelukannya. Beberapa pasang mata memperhatikan tingkah mereka. Bayu menggenggam kembali tangan Prita dan menariknya untuk mengikuti langkahnya menuju mobil.


Akhirnya Bayu mengalah dan mengantarkan Prita pulang. Sebenarnya dia ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu dengannya. Tapi, wanita itu memang sulit ditakhlukkan. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Prita sangat jengkel. Menurutnya, seumur hidup, hari ini benar-benar hari yang sangat membuatnya jengkel pada seseorang.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, mobil mereka sampai di depan rumah Prita.


"Kamu mau aku mampir?" tanya Bayu.


"Nggak! Aku sudah cukup jengkel hari ini. Kamu pulang saja!"


Prita bergegas melepas seatbelt yang ia kenakan, namun susah terlepas. Belum selesai melepas seatbelt, tiba-tiba Bayu mendaratkan ciuman dan ******* kasar di bibir Prita. Prita mencoba mendorong tubuh Bayu menjauh darinya, namun tak ada hasil. Lelaki itu terus mencium dan menyesapi bibirnya secara agresif.


"Auw!" teriak Bayu ketika Prita menggigit bibirnya. Terpaksa ia melepas ciumannya.


Ceklek!


Prita berhasil melepas seatbelt yang sedari tadi membelitnya. "Dasar orang gila!" umpatnya sebelum keluar dari mobil.


Bayu terkekeh sambil memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah. "Aku memang sudah gila, Prita, aku tergila-gila padamu." Sejurus kemudian, ia langsung memacu mobilnya meninggalkan rumah Prita.


Sementara Prita sudah masuk ke dalam rumahnya dan mengunci rapat pintunya. Ia lega ketika mobil Bayu sudah pergi.


"Ya Tuhan... kenapa aku harus ketemu dengan lelaki gila itu lagi." keluhnya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Hari ini benar-benar membuatnya kesal.


Drrt... Drrt...


Ponselnya bergetar. Dilihatnya layar ponsel, Ayash yang menelepon.


"Halo... "


"Sayang, aku ada di restoran. Kamu nggak masuk kerja, ya?"


Pertanyaan Ayash membuatnya menepuk jidat. Ia lupa memberitahu pacarnya kalau hari ini ia bolos kerja, "Ah, iya Sayang... maaf aku lupa memberitahu tadi. Tadi aku libur kerja. Sekarang, aku sudah di rumah."


"Kalau begitu, aku ke rumah, ya.... "


"Iya... "


"Kamu sudah makan malam?"


"Belum... "


"Mau aku belikan apa?"


"Pizza... "

__ADS_1


"Oke, tunggu ya."


Prita menghela nafas panjang. Tiba-tiba ia merasa bersalah kepada Ayash karena sudah dua kali dia membiarkan lelaki lain menciumnya dan ia tidak berani menceritakan apa yang dialaminya. Ia takut Ayash akan marah dan meninggalkannya.


__ADS_2