ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Samuel Bagaskara


__ADS_3

"Apa perlu saya antar ke rumah sakit, Pak?" tanya Glen setelah melihat kondisi bosnya yang penuh luka.


Arga merebahkan dirinya di sofa seraya menghela nafas, "Tidak perlu!"


"Kenapa Tuan Ayash tiba-tiba datang kemari dan memukuli Anda? Sebenarnya ada masalah apa?"


Arga memijit keningnya yang terasa sedikit pening, "Hah! Seperti yang bisa kamu tebak. Dia sudah tahu semuanya."


"Maksud Anda?"


"Ya... dia sudah tahu kalau aku yang menyuruh Tiger King untuk menculiknya. Aku juga sudah mengatakan alasan kenapa aku melakukannya karena dia itu bukan adik kandungku. Sepertinya dia juga kaget."


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Glen tampak khawatir mendengar penjelasan tuannya. Ia tahu, kedepannya tuan mudanya itu akan menghadapi masalah yang rumit.


"Ya apa? Ya sudah biarkan saja." jawab Arga santai.


"Tuan Reonal pasti akan sangat marah jika tahu, Pak."


"Biarkan saja papa tahu. Syukur kalau dia bisa sadar kalau anak kandungnya itu hanya satu, yaitu aku. Aku tidak sudi melihat wanita murahan itu merebut harta keluarga Hartadi sekecil apapun."


"Pak.... "


"Sudah, sudah! Jangan dibahas lagi! Lebih baik kamu keluar, tutup pintu dan pastikan tidak ada satupun orang yang masuk ke ruanganku. Aku mau istirahat!" Arga memejamkan matanya.


"Baik, Pak." Glen segera keluar ruangan untuk melaksanakan perintah tuannya.


Glen hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap keras kepala Arga yang sudah didampinginya selama belasan tahun. Sejak dulu sifatnya sangat keras dan tak bisa dibantah. Satu hal yang ia heran, dulu Arga menyayangi Ayash layaknya adik sendiri. Tapi, seketika semua berubah ketika Tuan Reonal mempercayakan perusahaan pertamanya kepada Ayash. Arga berbalik memusuhi adiknya dan berusaha untuk menyingkirkan dari perusahaan yang tampaknya sangat berarti untuk Arga. Entah apa alasannya, Glen juga tidak tahu.


*****


Prita keluar dari kamar memakai celana selutut dan kaos polos lengan pendek. Diraihnya ikat rambut yang tergeletak di atas kulkas kemudian mengikat rambutnya asal. Ia berjalan ke arah dapur, mengambil piring berisi lauk yang sebelumnya sudah ia masak dan menyusunnya di atas meja makan.


Tadinya, ia tengah menghabiskan waktunya di kamar sambil menonton Drama Korea favoritnya. Tiba-tiba saja Bayu menelopon, mengatakan kalau siang ini ia ingin makan siang bersama dengannya.


Bayu memang tidak menyuruhnya memasak. Dia bisa saja mengajaknya makan di restoran. Tapi, hari ini dia sudah memasak. Sayang kalau sampai tidak dimakan. Jadi, dia menyuruh Bayu untuk pulang saja dan makan siang di rumah.


Makanya, bergegas ia menata makanan yang sudah ia masak. Ada udang saus asam manis, ayam goreng, tempe goreng, cah kangkung, dan sambal terasi. Tak lupa ia mengambil buah-buahan dari dalam kulkas.


Ting!


Prita menghentikan aktivitasnya ketika mendengar bunyi lift terbuka. Ia heran, cepat sekali Bayu sampai padahal tadi di telepon bilang baru perjalanan ke rumah.


'Ah, mungkin dia berbohong saat di telepon.' batinnya. Ia lanjutkan lagi mencuci piring.


Suara langkah kaki perlahan semakin mendekat ke arahnya. Prita tetap bersikap santai. Tapi, tiba-tiba langkah kaki itu terhenti. Prita merasa aneh. Seperti bukan Bayu yang datang.


"Ah!" Prita terlonjak kaget melihat sosok asing yang kini berdiri di hadapannya.


__ADS_1


Seorang lelaki berumur berbadan tegap memakai sweater turtleneck dipadu jas abu-abu dan celana panjang berwarna senada kini tengah menatap tajam dengan mata elangnya. Dari raut wajahnya, masih dapat dilihat sisa-sisa ketampanan saat mudanya. Semakin diperhatikan, auranya mirip dengan Bayu namun dalam versi tua.


Mungkin usianya sekitar 50-60 tahun. Tapi sungguh, dia masih terlihat tampan. Baru kali ini Prita bertemu orang seperti gambaran novel: Sugar Daddy.


"Siapa kamu?"


Pertanyaan itu membuat Prita tersentak. Ia merapatkan diri ke arah kabinet. tangannya bertumpu pada tepi wastafel.


"Mmm.... Ssaya... Ssaya.... " suara Prita bergetar. Ia bingung harus memperkenalkan dirinya sebagai siapa.


Dia sudah bisa menebak kalau lekaki yang ada di hadapannya adalah ayah Bayu. Dia ingat ucapan Angga saat di pesta waktu itu. Jangan sampai dia bertemu dengan ayah Bayu. Berarti, dia orang yang sangat berbahaya yang harus dihindari. Tapi, kini orang itu tiba-tiba saja datang disaat dia sendirian.


Lelaki itu mengerutkan dahi melihat Prita yang gemetar seperti orang ketakutan. Dialihkan pandangan ke arah meja, terdapat hidangan makanan yang telah tertata rapi. Pandangannya terhenti pada satu titik.


"Ah, apa itu sambal terasi?"


"Hah, apa?" Prita heran, lelaki itu tiba-tiba menanyakan sambal terasi.


"Aromanya kuat sekali. Aku bisa menciumnya saat baru memasuki ruang tamu tadi."


"Ah, I... Iya. Itu memang sambal terasi."


"Kenapa kamu seperti takut begitu? Apa kamu baru bekerja di sini?"


Ternyata lelaki itu mengira Prita seorang pembantu di apartemen Bayu.


"Oh." Lelaki itu mengangguk-angguk. "Apa ini semua untuk Bayu?"


"Iya." Prita merasa lelaki itu tertarik dengan masakannya. Terlihat dari pandangan matanya yang terus menelisik ke arah meja makan.


"Kalau boleh tahu, Anda siapa?" Prita memberanikan diri bertanya.


Lelaki itu tersenyum, "Saya ayahnya. Samuel Bagaskara."


Tepat sesuai dugaan Prita. Lelaki itu benar-benar ayah Bayu. Pantas wajah mereka memiliki persamaan.


"Karena saya ayahnya, bolehkah saya juga makan di sini?"


Prita tercengang, apakah lelaki itu sangat kelaparan? Sedari tadi yang dibahas hanya makanan. "Ah! Iya, tentu saja boleh."


Prita langsung berlari menarik kursi terdekat dan mempersilakan tamunya untuk duduk. "Silakan, Tuan."


"Terima kasih."


Tuan Samuel duduk di kursi tersebut. Di depannya, Prita mengambilkan nasi dan lauknya.


"Berikan sambalnya yang lebih banyak." pinta Tuan Samuel.


"Baik."

__ADS_1


Prita meletakkan piring tersebut tepat di depan Tuan Samuel. Kemudian dia menjauhkan diri beberapa langkah agar tamunya bisa menikmati makanannya. Dia memperhatikan Tuan Samuel yang mulai mencicipi hasil masakannya. Rasanya seperti sedang mengikuti acara kontes memasak.


"Hm, ini enak sekali. Sudah lama aku tidak mencicipi masakan rumahan seperti ini." puji Tuan Samuel. "Kamu pintar memasak."


"Terima kasih."


"Dimana Bayu?" Tuan Samuel bertanya sambil menikmati makanannya.


"Dalam perjalanan pulang dari kantornya. Mungkin sebentar lagi sampai."


"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"


"Iya."


"Sepertinya kamu masih sangat muda. Kenapa bisa jadi pembantu di kota ini?"


Prita terdiam sesaat. Sebenarnya dia juga tidak mau ada di sana kalau bukan karena ulah anaknya. "Saya hanya lulusan SMA. Sepertinya tidak bisa kalau harus pilih-pilih pekerjaan. Saya cari yang mudah saja sebagai Asisten Rumah Tangga."


"Oh." Tuan Samuel tampak sangat menikmati hidangannya, "Kalau suatu saat tidak betah kerja di sini? Kamu bisa bekerja di rumah saya. Nanti saya bantu untuk menyekolahkanmu ke perguruan tinggi." lanjutnya.


Prita tersenyum mendengar penawaran Tuan Samuel, "Terima kasih, Tuan."


Dalam hatinya, tentu saja Prita mengucapkan 'amit-amit'. Dia yakin, ayahnya sama seperti Bayu. Sama-sama bajingan.


Meskipun selama percakapan terlihat berwibawa, namun di balik itu semua ada sisi arogansi. Sama seperti Bayu. Karena buah yang jatuh pasti tak jauh dari pohonnya. Prita tetap dalam mode waspada. Dia berharap, lelaki itu segera pergi dari hadapannya. Jantungnya terus bergemuruh sejak tadi karena ketakutan.


"Ayah... "


Prita dan Tuan Samuel menengok ke arah datangnya suara. Bayu telah datang tanpa mereka sadari.


"Oh, kamu sudah pulang." Tuan Samuel dengan santainya meneruskan acara makannya.


Bayu melirik ke arah Prita. Pandangan mata mereka bertemu. Tampak jelas Prita ketakutan.


"Kenapa Ayah datang ke sini tanpa memberi tahu?" protes Bayu.


Sebenarnya Bayu ikut gugup. Dia tidak tahu apa yang sudah mereka berdua bicarakan sebelum dia datang. Beberapa waktu terakhir ini dia sering mengacaukan usaha ayahnya. Jika ayahnya tahu dia sibuk bermain wanita, habislah dia.


"Kalau aku tidak datang kemari, aku tidak akan menikmati masakan seenak ini."


Tuan Samuel melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Bayu yang masih mematung di sana.


"Ah, aku sudah selesai. Siapa namamu?" tanya Tuan Samuel kepada Prita.


"Prita."


"Terima kasih Prita atas makanannya." Tuan Samuel menyunggingkan senyum seraya beranjak dari ruang makan. Bayu mengekori dari belakang. Mereka berpindah ke ruang tamu.


Prita menghela nafas panjang. Akhirnya dia bisa terhindar dari kandang singa. Ia segera membereskan bekas alat makan yang digunakan Tuan Samuel.

__ADS_1


__ADS_2