ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Pengganti


__ADS_3

"Ayash... Ayash... Ayash... " Prita terus meneriakkan nama Ayash sementara Bayu tetap membawanya menjauh.


Ayash memberontak sekuat tenaga hingga orang-orang yang sedari tadi memegangnya jatuh terjungkal. Ia menghajar setiap orang yang hendak menahannya lagi. Ia membuat mereka kewalahan. Separuh dari mereka berhasil ditumbangkan.


Namun saat ia hendak berlari mengejar Prita, ada kaki yang menjegalnya. Membuat Ayash jatuh tersungkur. Beberapa orang langsung menahannya, mengunci tangannya di belakang tubuh.


"******* kalian semua! Lepaskan aku!" teriak Ayash.


Seseorang menghampirinya, berjongkok dan mendongakkan kepala Ayash, "Sudahlah, tidak perlu melawan lagi. Kau tidak akan bisa keluar dari sini."


"Ketua, kenapa bos malah membawa wanita itu? Bukankah urusan kita hanya dengan orang ini?" tanya salah satu anak buah orang itu.


"Mana aku tahu. Mungkin bos ingin mencicipinya." ucapnya sembari menyunggingkan senyum sinisnya di depan Ayash.


Ayash menatapnya dengan penuh amarah. Namun, tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan orang ini? Tenaganya kuat sekali. Teman-teman kita banyak yang terluka."


"Kita tunggu saja perintah dari bos."


*****


Brak!


Bayu menendang kuat pintu kamarnya hingga terbuka. Setelah masuk, ia menutup pintu dan menguncinya. Dipundaknya Prita masih memukuli punggungnya meminta diturunkan.


Bruk!


Prita dijatuhkan di atas kasur. Merasa ada kesempatan, ia langsung berguling ke sisi lain ranjang menjauhi Bayu. Kini posisi Bayu dan Prita berada di antara sisi ranjang yang berbeda.


Bayu menyeringai, "Oh, ayolah. Bukankah ini waktunya kita bermesraan?"


"Siapa kamu sebenarnya?"


Bayu mengerutkan keningnya, "Bukankah kamu sudah tahu? Aku Bayu."


"Maksudku, apa hubunganmu dengan orang-orang itu? Apa kamu pemimpinnya? Kamu pemimpin Kalong Merah, kan? Kamu gangster!"


Bayu terkekeh mendengar pertannyaan Prita, "Aku lebih besar dari itu. Kalong Merah hanya salah satu kelompok preman kecil yang menjadi sekutuku."


"Jadi, kejadian minggu lalu itu ulahmu juga?"


"Oh, itu bukan atas perintahku. Seharusnya kamu berterima kasih karena aku telah menolongmu."


"Aku hanya akan berterima kasih kalau kamu melepaskan aku dan Ayash!"


"Hahaha... mana mungkin aku melepaskan kalian. Terlebih dirimu... aku sangat senang kamu datang ke rumahku."


Ayash mulai berjalan mendekat ke arah Prita. Secepat kilat Prita menghindar dan berlari ke arah pintu. Ia mencoba membuka engsel pintu namun tak mau terbuka.


Bayu duduk di tepian ranjang sambil melihat tingkah Prita dengan santainya.

__ADS_1


"Buka pintunya! Buka... Buka... !" Prita terus berteriak-teriak dan mendorong-dorong pintu.


"Sudahlah... pintunya tidak akan terbuka. Lebih baik kamu disini. Duduk bersamaku." Bayu menepuk kasur di sampingnya, memberi isyarat agar Prita duduk di sebelahnya.


"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu membawa kami kesini?"


"Baiklah, karena kamu juga akan tinggal selamanya di sini, aku akan mengatakannya."


Bayu berjalan ke arah prita, "Seseorang menyuruhku untuk menghabisi pacarmu." bisiknya.


Prita membulatkan mata. Tubuhnya seperti membeku. Bayu mengangkat dagunya, membuat mata mereka bertemu.


"Kamu ingin tahu, siapa orang yang menyuruhku?" tanyanya seraya menyeringai. "Dia adalah Arga, kakaknya sendiri."


Prita mendorong Bayu agar menjauh darinya, "Tidak mungkin. Kamu jangan mengada-ada. Kak Arga orang yang baik. Tidak mungkin dia ingin membunuh adiknya sendiri."


"Hahaha... tidak ada hal yang tidak mungkin kalau sudah menyangkut urusan bisnis. Kamu terlalu polos, menganggap semua orang baik hati."


Bayu membelai rambut Prita, "Ayo kita tidur, aku ingin sekali tidur sambil memelukmu."


Plak!


Prita mendaratkan satu tamparan keras hingga sudut bibir Bayu mengeluarkan darah. Bayu hanya menyeringai. Ia mengeluarkan sebuah remot mini dari dalam saku celananya.


Klik


Layar monitor besar yang ada di kamar itu menyala. Layar itu menampilkan berbagai sudut mansion yang dipantau CCTV. Tampak Bayu menekan-nekan remotnya hingga layar menampilkan ruang tamu.


"Lepakan dia. Lepaskan dia... !" Prita memukuli dada Bayu sambil berteriak-teriak.


Bayu menahan satu tangannya, "Aku akan menunjukkan satu tontonan menarik untukmu." seringainya. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, menekan nomor nomor seseorang."


"Halo, Bos?" di layar tampak seorang anak buahnya mengangkat telepon.


"Hajar orang yang bersamamu sampai pingsan. Kalau perlu sampai mati." tegas Bayu. Ia melirik ke arah Prita dan dibalas tatapan tajam.


Prita semakin keras memukuli Bayu dan menvoba melepaskan tangannya. Namun sepertinya tenaganya bukan berarti apa-apa bagi Bayu.


"Ttapi, bos... bukankah kita tidak boleh melukainya sedikitpun?"


"Lakukan perintahku, atau kalian semua yang akan aku habisi!" Bayu memerintah dengan nada membentak.


"Baik, Bos."


Sambungan telepon dimatikan. Bayu memegang kedua pundak Prita dan menghadapkannya ke monitor.


"Ayo kita tonton bersama. Ini pasti menyenangkan." bisiknya.


Layar monitor menampilkan Ayash sedang berkelahi dengan banyak orang. Meskipun ia cukup pandai bertarung, namun ia tetap kalah menghadapi banyak musuh. Sesekali tubuhnya terkena pukulan dan jatuh tersungkur.


Air mata meleleh di sudut mata Prita. Usahanya untuk terlihat kuat akhirnya runtuh. Ia menangis tersedu-sedu karena tak bisa melakukan apapun melihat Ayash dipukuli banyak orang.

__ADS_1


"Hentikan." lirihnya sambil terus terisak.


"Aku akan berhenti setelah dia mati."


Ayash sudah tergeletak tak berdaya, namun orang-orang itu masih saja memukulinya.


Prita membalikkan tubuhnya, menatap penuh amarah kepada Bayu. Matanya berurai air mata. "Lalukan sesukamu padaku. Aku akan mengikuti semua keinginanmu. Sebagai gantinya, lepaskan dia." kata Prita dengan suara parau menahan isakan.


Bayu tersenyum, ia mengambil kembali ponselnya dan menghubungi anak buahnya.


"Hentikan. Jangan pukuli dia lagi." perintahnya.


"Baik, bos."


Anak buahnya tampak sudah menjauhi Ayash yang sudah pingsan.


"Aku sudah menuruti keinginanmu. Sekarang, giliranmu. Ayo temani aku tidur, aku mulai mengantuk."


Bayu memegang lengan Prita, namun ditepis.


"Bawa dulu Ayash ke rumah sakit."


"Oh, ayolah. Dia tidak akan mati."


"Itu permintaanku."


"Baiklah, akan aku suruh anak buahku membawanya ke rumah sakit." Bayu hendak mengambil ponselnya menghubungi anak buahnya, namun Prita mencegahnya.


"Aku tidak percaya anak buahmu. Aku ingin mengantarnya sendiri bersamamu." tegas Prita.


"Permintaanmu membuatku repot."


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mencoba kabur."


"Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu. Jika sampai kamu membuatku marah, aku akan benar-benar membunuhnya." ancam Bayu.


Bayu menggandeng tangan Prita, membawanya keluar kamar menuju lantai bawah. Prita hanya bisa mengikuti. Air matanya kembali meleleh ketika melihat Ayash yang masih terkapar di lantai tak sadarkan diri.


"Kalian bawa dia ke mobil. Kita akan membawanya ke rumah sakit." perintah Bayu.


"Baik, bos."


Empat orang anak buahnya langsung mengangkat tubuh Ayash dan membawanya ke luar mansion menuju mobil.


Beberapa orang dari mereka tampak berbisik-bisik melihat Bayu dan Prita yang datang ke tengah-tengah mereka.


"Kenapa dengan wanita itu? Wajahnya sembab, apa bos baru saja memukulinya?" tanya seseorang dengan nada berbisik.


"Mana mungkin bos memukuli wanita. Yang ada wanita itu pasti sudah diajak bertempur di atas ranjang. Lihatlah wajahnya, dia pasti masih ketakutan." jawab orang di dekatnya.


"Masa, sih? Sepertinya tidak begitu."

__ADS_1


"Halah, kamu memang tidak tahu apa-apa!"


__ADS_2