
Bayu telah selesai menjalani operasi kecil pengangkatan peluru yang bersarang di lengannya. Beruntung, peluru tidak terlalu dalam tertanam sehingga tak butuh waktu lama untuk mengambilnya.
Ini hari kedua Bayu berada di ruang perawatan rumah sakit. Kondisi Bayu masih cukup lemah setelah kehabisan cukup banyak darah. Tapi, selemah-lemahnya Bayu, ia tetap tampak gagah seperti orang sehat. Luka bekas tembakan telah dijahit dan dibalut rapi dengan perban. Di tangannya masih terpasang selang infus.
Ben duduk di sofa menemani bosnya yang sedang bersandar di ranjang pasien. Di depan pintu ada dua orang yang berjaga.
"Barang kita sudah sampai dimana?" Bayu bukannya mengkhawatirkan kondisinya sendiri malah memikirkan barangnya.
"Sudah sampai seberang, Bos."
"Baguslah. Apa semuanya aman?"
"Katanya tidak ada yang curiga sama sekali, Bos. Sepertinya barang kita nanti bisa tiba tepat waktu."
"Aku harap begitu. Kamu harus tetap memantaunya. Siapkan penerbangan besok pagi ke Kota J."
"Dokter menyuruh Anda istirahat satu minggu sampai kondisi Anda membaik."
Bayu mencebikkan bibir, "Kamu pikir aku selemah itu?"
"Saya hanya mengatakan pesan dari dokter."
"Lama-lama di sini aku bisa mati bosan. Kerjakan saja perintahku. Aku sudah tidak apa-apa."
Sebenarnya Bayu masih lemah. Ia hanya menguatkan diri saja agar secepatnya bisa pulang. Sudah tiga hari ia meninggalkan Prita di Zero Tower Hotel.
"Baik, Bos. Akan saya urus kepulangan Anda besok."
Ben tak bisa membantah kemauan bos mudanya. Bayu orang yang keras kepala, percuma ia mau menasihati apapun tak akan didengar.
*****
22.00 WIB
Yushin Bar and Lounge
"Usiamu sudah kepala tiga. Uang ada, rumah ada, bisnis lancar, masih belum juga ingin menikah? Apa gunanya kerja keras kalau bukan untuk membangun keluarga?"
Arga hanya tersenyum mendengar pertanyaan Frans, teman masa kuliah dan rekan bisnisnya. Frans seorang pengusaha muda sukses sama seperti dirinya. Dia sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak.
Sudah lama mereka tidak nongkrong bareng karena kesibukan bisnis masing-masing. Tapi, sekalinya bertemu, Frans selalu menyindirnya yang masih betah menjadi pria single.
__ADS_1
Malam ini mereka duduk santai di salah satu sudut Lounge Yushin setelah sebelumnya mengadakan rapat proyek baru di meeting room Zero Tower Hotel. Seperti biasa, suasana di Yushin selalu ramai. Semakin larut semakin ramai.
"Kalau kau kesulitan mencari wanita baik-baik untuk dijadikan istri, aku siap membantu mencarikannya." Frans meneguk wine dari gelasnya.
"Aku belum siap punya aturan jam malam sepertimu, Frans."
"Hey, kau menyindirku."
"Hahaha.... Kenyataannya memang begitu, kan? Kamu harus pulang sebelum jam 11 malam. Kalau tidak, siap-siap kamu tidur di ruang tamu."
"Ya, ya, ya... Bukankah itu tidak buruk? Setiap kali pulang, ada istri yang akan menyambutku. Dan anak-anak manis yang lucu menggemaskan. Bandingkan dengan dirimu. Pulang tak pulang tak ada yang menunggumu. Tinggal di rumah besar tapi kesepian. Uuhh... bisa-bisanya kau betah hidup seperti itu."
Lelaki yang belum berkeluarga tidak akan pernah tahu nikmatnya memiliki istri dan bahagianya memiliki anak.
"Kalau aku kesepian, tinggal cari jalang. Beres. Aku hanya perlu membayarnya untuk sekali pakai. Kalau aku bosan, aku bisa mencari jalang yang lain. Aku tak bisa membayangkan, apa kamu tidak bosan hanya dengan satu wanita? Istrimu? Atau jangan-jangan kamu punya wanita lain di belakang istrimu?"
"Enak saja! Aku orang yang setia, kau tahu! "
"Bagus kalau kamu masih bertahan dengan kesetiaanmu sampai sekarang. Kita sama-sama tahu kalau kehidupan kita sangat dekat dengan godaan wanita."
"Ah! Sepertinya aku harus segera pulang. Istriku sudah menelepon. Kapan-kapan kita minum-minum bareng lagi, ya." Frans memakai jas yang tadi ia sampirkan di lengan sofa.
"Kesannya aku selingkuhanmu sekarang."
"Pak.... " Glen yang sedari tadi duduk bersama mereka dan tak dianggap tiba-tiba angkat bicara.
"Ada apa, Glen?"
"Sepertinya Bayu menyembunyikan seseorang di hotel ini."
Bayu. Mendengar nama itu Arga menjadi geram. Ia ingat request-nya yang ditolak oleh Tiger King. Meskipun uang muka yang ia berikan dikembalikan dua kali lipat, baginya itu adalah sebuah penghinaan yang tak bisa dimaafkan begitu saja. Gara-gara Bayu, Ayash bisa leluasa mengurusi proyek besar pertamanya. Jika proyek itu sukses, sudah bisa dipastikan ayahnya akan benar-benar menyerahkan perusahan pertama kepada Ayash.
"Siapa yang dia sembunyikan?"
"Seorang wanita."
Arga memicingkan sebelah matanya. Untuk apa seorang Bayu Bagaskara menyembunyikan wanita? Bukankah dia memang hobi membawa jalang, tak beda jauh dengan dirinya?
"Seorang wanita? Siapa?" Arga sangat penasaran.
"Saya tidak tahu. Kemungkinan orang yang penting. Dia menyewa kamar presiden suit untuk wanita itu. Ada sekitar 12 orang Tiger King yang menjaga kamarnya."
__ADS_1
"Darimana kamu tahu kalau ada wanita di dalam kamar itu?"
"Saat ingin mengecek kamar yang akan Anda tempati di lantai yang sama dengan yang Anda pesan, ada kamar yang dijaga oleh Tiger King. Awalnya saya kira Tuan Samuel sedang berkunjung ke Zero Tower. Saya memastikan hal itu dengan menanyakannya pada seorang cleaning service yang baru keluar dari kamar itu. Katanya, di dalam ada seorang wanita cantik yang sudah 3 hari tinggal di sana."
Arga menyeringai, "Kalau itu wanita istimewa Bayu, berarti aku harus mengambilnya. Aku ingin lihat reaksinya jika wanitanya hilang. Aku masih tidak terima dengan perbuatannya dulu."
Arga menenggak habis wine di gelasnya, "Glen... ayo kita datangi kamar itu tanpa membuat keributan."
"Baik, Pak."
*****
Ayash tengah memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Besok, ia akan mengambil penerbangan pagi untuk kembali ke Kota S.
Saat memasukkan baju terakhir, ternyata ada sweater Prita di sana. Ia hampir lupa ternyata ia masih membawa benda itu sampai ke Kota J. Sweater yang terakhir kali Prita pakai saat di taman hiburan.
Drrrt.... Drrrt....
Getaran ponsel membuat lamunannya terhenti. Diraihnya ponsel dari atas nakas. Muncul kontak Arga di layar.
'Kak Arga? Untuk apa malam-malam begini meneleponku?' batinnya.
Meskipun masih marah dengan kelakuan kakaknya, ia tetap mengangkat telepon itu.
"Halo... "
"Cepat datang ke sini, Zero Tower Hotel lantai 70 kamar president suite nomor 1303."
"Untuk apa?" Ayash sama sekali tak habis pikir kelakuan kakaknya. Mengganggu waktunya di malam hari hanya untuk mengundangnya ke hotel?
"Datang saja secepatnya. Nanti kamu akan tahu."
"Kalau hanya untuk basa-basi aku tidak ada waktu."
"Hahaha.... kamu akan menyesal kalau sampai tidak datang. Cepat ke sini kamu adik bodoh!"
Klik.
Arga memutuskan sambungan telepon. Ayash rasanya ingin kembali memukul kakaknya sampai babak belur.
"Awas saja kalau tidak ada yang penting."
__ADS_1
Ayash langsung menyambar jaketnya dan pergi ke tempat yang kakaknya katakan.