ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Ayo Lakukan Itu Sekarang


__ADS_3

Yash, tolong kembali ke kafe. Perutku sakit.


Ayash masih dalam perjalanan menuju gedung yang akan dijadikan tempat pernikahannya ketika Prita mengirimkan sebuah pesan. Rasa khawatir langsung menyelimuti pikirannya. Tanpa pikir panjang, ia langsung memutar balik kendaraan menuju kafe.


Padahal tadi pagi Prita terlihat sangat sehat dan bersemangat untuk datang ke kafenya. Baru setengah jam mereka berpisah, Ayash mendapat pesan seperti itu.


Ia mengambil ponselnya, menghubungi nomor Egi.


"Halo?"


"Maaf, Egi. Aku harus mengganggu akhir pekanmu."


"Ada apa, Pak?"


"Tolong gantikan aku ke Hotel Mayapada bertemu vendor pernikahanku. Aku tidak bisa menghadirinya karena ada urusan penting. Aku serahkan semua padamu, Egi."


"Tapi, Pak.... "


"Akan aku anggap kamu lembur hari ini. Besok uangnya aku transfer."


"Saya.... "


Klik


Ayash langsung mematikan teleponnya. Entah apa yang hendak Egi sampaikan, ia tak punya waktu mendengarkan. Ia harus fokus melihat jalan agar bisa segera sampai di kafe.


Lima belas menit kemudian, akhirnya ia sampai di kafe.


"Prita dimana?" tanyanya kepada salah satu karyawan yang ia temui.


"Ah, em, sepertinya masih di ruangannya, Pak."


Ayash bergegas menaiki tangga menuju ruangan Prita.


Klek


Pintu terbuka setelah menekan kata sandi.


"Hoek... hoek... hoek.... "


Prita masih mual-mual di tempat wastafel. Ayash membantu memijit lehernya.


"Bagaimana kondisimu?"


Prita melabuhkan pekukan ke tubuh Ayash. Setidaknya pikirannya lega meskipun tubuhnya masih lemas.


"Apa kita ke dokter sekarang saja? Wajahmu pucat dan tubuhmu terlihat lemah. Aku khawatir padamu."


Prita menggeleng, "Aku mau pulang." jawabnya dengan nada lemah.


Sejak tadi dia terus mual. Bahkan setelah semua isi perutnya keluar, ia masih mual-mual. Memang wajar saat wanita hamil muda terkadang merasa mual. Tapi, kali ini adalah yang terparah bagi Prita. Selain rasa mual, perutnya seperti kram dan terasa sakit.


Melihat kondisi Prita yang sangat lemas, Ayash menggendong Prita keluar dari ruangannya.


"Bu Prita kenapa?" tanya Geri khawatir ketika melihat Prita digendong dan wajahnya sangat pucat.

__ADS_1


"Geri, aku pulang dulu karena tidak enak badan."


"Mba Prita... Mba Prita kenapa?"


Tia heboh melihat Prita dalam gendongan Ayash. Karyawan yang lain ikut-ikutan mengerumuni ingin tahu.


"Tolong titip kafe, ya. Aku tidak enak badan."


"Baik, mba." jawab mereka serentak.


"Mba Prita kenapa, ya... bukannya tadi waktu datang masih segar begitu, kok tiba-tiba mukanya pucat?" tanya Tia.


Mereka mulai bergerumul membicarakan bosnya yang sudah pergi.


"Aku juga tidak tahu."


"Tapi tadi ada orang yang keluar dari ruangan Mba Prita, kan? Apa karena orang itu, ya?"


"Siapa? Siapa.... ?" Yeni yang tidak tahu sangat antusias bertanya.


"Nggak tahu, soalnya pakai topi dan masker. Tapi kalau dari gesturnya, itu cowok sih."


"Siapa ya, kira-kira?"


"Tapi Pak Ayash keren banget, kelihatan benar-benar sayang sama Mba Prita. Suami idaman pokoknya. Pasangan sakit langsung cepat-cepat datang."


"Heh, kok malah ngrumpi? Sebentar lagi kafe harus buka, lho! Kerja kerja!" seru Geri yang baru turun dari lantai atas.


"Ger, ada apa sih di atas? Kok tiba-tiba Mba Prita jadi sakit?"


"Mana aku tahu... aku kan kerja, bukan mata-matain Bu Prita. Kerja kerja!"


Kerumunan segera bubar setelah mendapat jawaban ketus dari Geri.


Sesampainya di apartemen, Prita masih terdiam sambil memeluk Ayash di sampingnya.


"Apa perutmu masih sakit?"


Prita menggeleng.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Katakan saja, aku akan mendengarkan."


Prita semakin mempererat pelukannya.


"Sayang.... "


Belum sempat melanjutkan ucapannya, Prita sudah mendorongnya ke sofa. Dengan tatapan yang sulit diartikan, tiba-tiba Prita menciumnya.


Ayash membelalakan mata Ketika Prita semakin agresif ******* bibirnya. Iapun terhanyut lalu menarik tengkuk Prita untuk memperdalam ciumannya. Suara cecapan dan ******* terdengar bersahutan.


"Prita!"


Ayash mendorong tubuh Prita hingga ciumannya terlepas. Ia terkejut karena tangan Prita tiba-tiba menjelajah ke area selangkangannya.


"Ta, kamu ngapain?"

__ADS_1


Ayash bertanya karena tangan Prita berada di dalam celananya dan memegang miliknya. Muka keduanya memerah.


"Uhhh.... " Ayash melengkuh saat Prita menggerakkan tangannya. "Lepas, Ta. Aku bisa nggak kuat kalau kamu gituin."


Prita menggeleng. Tatapan matanya tampak sendu, namun wajahnya memerah seperti orang yang sedang berhasrat.


Kalau boleh jujur, Ayash merasa keenakan dengan sensasi yang diciptakan oleh tangan Prita. Tapi, segera ia tepis pikiran mesumnya. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Prita sampai dia bisa seagresif itu.


"Ta, lepas tanganmu."


Prita akhirnya mau melepaskan tangannya. Namun, ia kemudian membuka resleting celana hingga sesuatu menyembul di sana. Ayash reflek menahan tangan Prita. Mukanya semakin memerah karena malu sekaligus mau.


"Cukup, cukup. Kita berhenti sampai di sini. Aku benar-benar sudah sampai batasku."


"Ayo kita lakukan saja." lirih Prita.


Ayash mematung mendengar ucapan Prita. Ada apa dengan dia? Sepertinya ada sesuatu yang sangat mengganggunya hingga membuatnya stres dan berbuat hal yang tak lazim.


"Uhhh.... " Ayash kembali melengkuh saat Prita meremas miliknya. "Kenapa kamu nakal sekali, Ta!" Ia menjauhkan tangan Prita dari miliknya. Dinaikkannya lagi resleting celana yang sempat Prita buka.


Kini Prita yang ada di hadapannya justru melepaskan blouse miliknya dengan sekali tarikan. Tanpa sungkan ia juga melepaskan bra hitam yang ia kenakan. Bukit kembar yang menyembul terlihat sangat padat dan lebih berisi dari terakhir kali yang Ayash pernah lihat.


Ayash memegang dahinya sambil mrnggeleng-geleng. Hari ini calon istrinya benar-benar menguji imannya.


Prita mengalungkan tangan ke leher Ayash. "Ayo lakukan itu sekarang." sorot matanya seperti anak kucing yang sedang memohon. Sangat imut.


Ayash memegang pipi Prita dengan kedua tangannya, "Bukan aku tidak mau. Tapi, hari pernikahan kita sudah sangat dekat. Kita lakukan urutan hubungan kita dengan benar, ya."


"Apa bedanya sekarang atau nanti? Tidak akan ada yang berubah." Prita menghela nafas. Matanya mulai berkaca-kaca ketika bertatapan dengan Ayash. "Ayash, aku bukan lagi seorang perawan yang patut kamu tunggu-tunggu di malam pertama setelah pernikahan. I'm not a virgin anymore and I'm pregnant!"


Ayash memeluk Prita yang menangis tersedu-sedu. "Sudah aku bilang jangan mengatakan itu lagi. Penilaian diriku terhadapmu tetap sama. Aku benar-benar tulus menerima kondisimu saat ini."


"Kenapa harus menunggu sampai menikah? Kamu bisa menyentuhmu saat ini juga."


"Karena aku menghormatimu. Bagiku, kamu masih seorang wanita baik yang harus didapatkan dengan cara yang baik pula. Aku akan menikahimu terlebih dulu sebelum menyentuhmu."


"Yash.... "


"Hm?"


"Tadi di kafe... Bayu datang menemuiku."


Deg!


Ayash jadi tahu penyebab Prita bisa bertingkah aneh seperti itu. Bajingan itu ternyata sudah kembali lagi. Ia merasa lalai.


"Apa yang dia lakukan padamu?"


"Dia bilang... dia akan datang lagi untuk membawaku kembali ke Kota J. Aku sangat takut. Aku tidak mau lagi ikut dengannya. Aku mau tetap di sini bersamamu."


"Kali ini, jangan menyerah padanya. Ayo kita sama-sama berjuang agar bisa bersama. Aku akan pasang badan untukmu."


"Bagaimana kalau dia muncul di pernikahan kita?"


"Nanti aku tempatkan banyak bodyguard di sana. Undangan pesta juga tak banyak, hanya teman dan kolega dekat saja. Tak sampai seratus orang. Bahkan karyawanmu juga tak tahu rencana pernikahan kita. Aku yakin dia juga tak akan tahu."

__ADS_1


"Rasanya aku tak bisa bersembunyi darinya. Dia bisa menemukanku dimana saja. Aku takut.... "


"Prita, aku serius. Kali ini kita hadapi saja dia. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untukmu. Jangan takut."


__ADS_2