
Prita berdiri termenung menatap bintang-bintang di langit lewat balkon kamarnya. Malam kembali menyelimuti. Ia mengedarkan pandangan jauh ke depan. Di luar pagar tinggi yang mengelilingi mansion tempat tinggalnya, bisa ia lihat hanya berupa hutan lebat yang gelap. Hanya area mansion saja yang terang. Penjaga masih bersiaga di setiap sudut.
Terbersit niatnya untuk mengakhiri hidup dengan melompat dari tempatnya berdiri. Hidupnya seakan sudah tak berarti lagi setelah dilecehkan oleh lelaki yang mengurungnya di sana. Tapi ia terlalu pengecut untuk melakukannya. Ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
Matanya sembab karena setiap mengingat kejadian malam itu membuatnya hancur. Dalam kondisi kesedihannya, Bayu masih terus mengancamnya. Tadi siang, ia dipaksa untuk makan meskipun tidak nafsu. Akhirnya ia memaksakan diri untuk makan.
"Nona, makan malamnya saya bawakan."
Prita menoleh ke arah suara ternyata Bi Ratna lagi yang masuk kamarnya. Ia segera meninggalkan balkon dan menjumpai Bi Ratna.
"Nona, kenapa belum mengganti pakaian?"
Prita tahu arah pembicaraan itu. Bi Ratna memintanya memakai pakaian tidur, yaitu lingerie yang telah disiapkan Bayu. Nafsu makannya semakin hilang mendengar perkataan itu.
"Nanti setelah makan saya akan mengganti pakaian saya." ucapnya.
Prita mengambil nampan makanan yang dibawakan Bi Ratna, kemudian menaruhnya di meja. Ia duduk seraya mulai menyantap makanannya. Walaupun kurang berselera, tapi ia tetap memaksakan makan agar Bi Ratna tidak menjadi sasaran kemarahan Bayu.
Bayu tidak akan segan untuk menyiksa pelayannya jika ia berani membantah. Mau tidak mau ia hanya bisa menurut.
Bi Ratna masih berdiri di sana, memastikan Prita benar-benar memakan makanannya. Itu adalah tugas yang Bayu berikan.
"Saya minta maaf jika perilaku saya membuat Anda tidak nyaman."
"Tidak usah meminta maaf, Bi. Saya tahu Bi Ratna hanya menjalankan tugas." Prita menjawab sambil terus menyantap makanannya.
Beberapa menit kemudian, Prita berhasil menghabiskan makanannya. Memang, porsi yang diberikan tidak terlalu banyak agar Prita mudah menghabiskannya.
"Nona, minuman di cangkir harus Anda habiskan." perintah Bi Ratna.
Prita memperhatikan cangkir kecil di samping gelas air putih, "Ini minuman apa?"
"Minuman kesehatan, Nona. Supaya Nona lebih segar."
Prita kemudian meminumnya sampai habis tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
"Aku sudah selesai. Bibi bosa membawanya keluar. Saya mau berganti pakaian."
"Baik, Nona."
Bi Ratna mengambil nampan dan membawanya keluar kamar. Sementara Prita menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti pakaian.
*****
__ADS_1
"Dimana Prita?" itu pertanyaan Bayu ketika baru menginjak rumahnya.
"Di kamarnya, Tuan." jawab Bi Ratna.
"Apa dia sudah makan malam?"
"Sudah, Tuan."
"Apa dia meminum minuman yang aku berikan?"
"Iya, Tuan. Nona meminumnya sampai habis."
Bayu menyeringai. Hanya dia yang tahu apa kegunaan minuman yang ia berikan. Bahkan, Bi Ratna hanya tahu kalau itu minuman kesehatan. Padahal, minuman itu bisa menimbulkan hasrat tanpa menghilangkan kesadaran orang yang meminumnya.
Artinya, orang itu akan merasa 'ingin melakukan' dengan kesadaran yang masih ada. Dia akan mengingat apa yang dilakukan tanpa tahu kenapa dia ingin melakukannya walaupun dalam hatinya tidak mau.
Bayu sengaja melakukannya agar Prita sadar, kalau lambat laun dia bisa menerimanya. Prita akan merasa dia juga menginginkan dirinya.
"Mmaaf, Tuan. Kenapa wajah Anda memar?" Bi Ratna memberanikan diri bertanya. Sebenarnya sejak tadi ia penasaran, karena majikannya pulang dalam keadaan muka memar-memar.
"Ah, ini. Biasalah, hanya perkelahian kecil." kilah Bayu.
"Apa perlu saya panggilkan dokter?"
"Baiklah. Tuan, apa saya perlu menyiapkan makan malam Anda?"
"Tidak perlu. Saya akan langsung ke kamar saja. Silakan Bi Ratna istirahat."
"Baik, Tuan."
Bayu berjalan menapaki anak tangga menuju kamarnya. Ia tidak sabar melihat respon Prita melihat kedatangannya malam ini.
Ceklek!
Bayu membuka pintu. Dilihatnya Prita sedang duduk di tepi ranjang memakai baju tidur model lingerie warna pink. Ia tersenyum senang karena wanitanya mematuhi apa yang diinginkannya.
Bayu menghampiri Prita dan duduk di sebelahnya, "Selamat malam, Sayang."
Cup!
Bayu mendaratkan ciuman di bibir Prita. Prita hanya diam dengan perlakuan Bayu. Tapi matanya menatap intens memperhatikan Bayu. Sorot matanya seperti ingin bertanya sesuatu.
Bayu tersenyum, "Apa kamu penasaran, dariman aku mendapatkan luka-luka ini?"
__ADS_1
Bayu meraih remot dan menyalakan TV layar lebar di kamarnya. Ia menghubungkan akses rekaman CCTV kantornya dan ditampilkan ke layar. Ia memang sengaja mempersiapkannya untuk ditunjukkan kepada Prita.
"Tadi siang aku mendapat tamu istimewa di kantor."
Prita membelalak ketika melihat Irgi dan Egi tampil di layar.
"Kamu pasti mengenal mereka, kan?"
Prita menangkupkan kedua tangan menutupi mulutnya. Ia melihat adegan Irgi dan Egi berkelahi. Ia tahu, mereka pasti ke sana karena sedang mencarinya. Ia ngilu menonton adegan perkelahian yang sangat kasar hingga membuat orang-orang berhamburan dan barang-barang hancur. Tapi kemudian, banyak pengawal yang menyeret mereka keluar.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Prita dengan tangan bergetar.
"Aku hanya menginginkanmu."
"Kamu sudah mendapatkannya. Jadi, jangan sentuh orang-orang yang sebelumnya dekat denganku."
"Mereka yang lebih dulu datang mengacau ke kantorku. Aku tak pernah bermaksud mencari masalah dengan mereka. Justru mereka yang mencari masalah denganku. Kamu bisa lihat, kan, kantorku dirusak. Bahkan mereka membuatku terluka seperti ini. Kamu tidak lihat?"
Prita melihat sekilas ke arah Bayu, kemudian mengerjapkan matanya sekejap.
"Sebelumnya memang aku berniat balas dendam dengan perbuatan mereka. Tapi jika kamu bisa membuatku melupakan kekesalan ini, aku akan memaafkan mereka."
"Apa maumu?"
Bayu memeluk Prita, mendekatkan mulutnya ke telinga, "Aku ingin kita melakukan hal semalam lagi."
Tubuh Prita menegang. Lelaki itu pikirannya memang hanya dipenuhi hal mesum. Sepertinya hanya itu yang diinginkan darinya, tidak lebih.
"Kamu tidak malu, melakukan hal itu dengan cara mengancamku?"
"Hahaha... bagaimana lagi caraku agar bisa mendapatkanmu tanpa memaksa? Apa kamu bisa mencintaiku secara alami?"
Prita tertegun tak bisa menimpali kata-katanya. "Kenapa kamu menyukaiku? Kenapa bukan wanita lain saja?"
"Karena aku hanya mencintaimu. Aku hanya menginginkanmu, bukan yang lain. Apa perlu alasan untuk mencintai seseorang? Bagiku, jika aku sudah menginginkan seseorang, maka aku harus mendapatkannya. Entah itu dengan cara merayu, menculik, atau merebutmu sekalipun aku akan melakukannya asalkan bisa mendapatkanmu."
"Kamu tidak waras. Kamu gila."
"Kamu yang sudah membuatku gila."
Bayu langsung mengangkat tubuh Prita dengan entengnya dan memindahkan ke tengah ranjang. Ia mengunci tubuh Prita di bawahnya.
"Aku tidak akan menyentuh orang-orang terdekatku jika kamu mengijinkanku untuk menyentuhmu. Karena aku hanya menginginkanmu."
__ADS_1
Bayu mulai menciumi kembali bibir Prita dan mereka melakukan percintaan seperti semalam tanpa perlawanan. Entah karena obat atau karena ancaman, malam itu Prita begitu kooperatif mengikuti semua kemauan Bayu.