ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Kunjungan Psikolog


__ADS_3

"Ta... ini Ibu Rianita, yang akan menemani sesi konselingmu."


Irgi membawa seorang wanita berusia 38 tahun ke apartemen Ayash dan mengenalkannya pada Prita. Rianita Jayanti adalah seorang psikolog sekaligus dosen di Universitas Kota S. Usianya masih tergolong muda, namun pengalamannya sudah tidak bisa diragukan lagi. Dia merupakan salah satu psikolog terbaik di negeri ini.


"Halo, panggil saja saya Ibu Ria." Ibu Ria mengulurkan tangannya sembari mengulas senyum di bibir.


"Saya Prita, Prita Asmara." Prita menjabat tangan itu. "Silakan masuk, Bu."


Prita mempersilakan Ibu Ria untuk duduk di ruang tamu. Ayash dan Irgi mengekori.


"Prita mau konseling ditemani mereka berdua atau sendiri?"


Prita memandang ke arah Ayash, seakan minta pendapat.


"Sebentar, ya, Bu Ria. Saya perlu berbicara sedikit dengan Prita." Ayash menarik tangan Prita, mengajaknya masuk ke kamar untuk berbicara berdua.


"Kamu lebih nyaman konseling sendiri atau ditemani?"


Prita menunduk, "Sepertinya aku tidak yakin bisa melakukan ini." hari ini tiba-tiba Prita ragu untuk melakukan konseling.


Ayash mensejajarkan wajahnya dengan Prita, kedua mata mereka saling bertemu.


"Sayang, aku yakin kamu pasti bisa melakukannya. Ibu Ria tidak akan membocorkan hasil konsultasi kalian kepada siapapun termasuk aku. Aku dan Irgi bisa menunggu di luar sementara kalian konseling. Aku menyayangimu, Ta. Apapun yang terjadi, aku tetap menyayangimu."


Ayash mendaratkan sebuah ciuman di bibir Prita. "Hadapi masalahmu, Ta. Jangan lari. Aku dan orang-orang yang menyayangimu akan selalu ada untukmu."


Prita mengangguk, "Aku akan melakukannya."


Ayash tersenyum dan memberikan sebuah pelukan hangat.


Setelah selesai bicara berdua, mereka kembali menemui Ibu Ria di ruang tamu.


"Saya dan Irgi keluar dulu. Silakan Ibu Ria bisa memulai sesi konselingnya."


Ayash mengajak Irgi keluar dari apartemen, memberi waktu kedua wanita itu untuk saling bicara.


Prita tampak canggung. Ia kembali ragu untuk berbicara kepada psikolog yang dibawa Irgi.


"Prita santai saja, ya. Segala hasil pembicaraan kita tidak akan diketahui oleh orang lain."


Prita mengangguk.


"Orang yang mau menemui psikolog saat merasa ada yang tidak beres dalam dirinya adalah seorang pemberani. Berani mengakui bahwa dalam dirinya memang ada kekurangan diri."


"Saya di sini, hanya sebatas bisa mendengarkan dan membantu menenggambarkan solusi untuk permasalahan yang Prita hadapi. Tapi, kembali lagi, yang harus menghadapi masalah itu adalah Prita sendiri. Prita juga yang harus menemukan solusi itu. Karena, masalah tidak akan selesai jika kita hindari. Kita harus berani menghadapinya. Sekalipun harus mengorek luka lama yang coba untuk dilupakan."


Prita kembali mengangguk.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, apa yang Prita rasakan atau Prita takutkan saat ini?"


"Saya terkadang bisa tiba-tiba merasa sedih dan menangis terutama saat sendirian. Saya takut sendirian di rumah. Kadang, pikiran negatif datang. Saat saya sendirian, ada penjahat masuk rumah. Saya juga takut keluar rumah, takut bertemu orang lain, terutama orang asing. Sekarang, saya juga takut ditinggalkan oleh Ayash."


"Ayash? Ayash pacarmu, ya?"


Prita mengangguk.


"Awalnya saya kira pacar kamu itu Irgi dan Ayash kakak kamu. Soalnya Irgi bersikeras meminta saya datang kemari, katanya ada orang penting yang perlu bantuan saya. Pasti hubungan kalian juga dekat, ya?"


"Iya. Irgi sahabat baik saya sejak SMP. Kami sudah seperti keluarga. Saat ini, hanya Ayash dan Irgi yang membuat saya merasa nyaman."


"Beruntung sekali kamu dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangimu. Tapi, kenapa kamu bilang takut ditinggalkan Ayash? Ayash pasti juga sangat mencintaimu, kan? Apa kamu melihat tanda-tanda Ayash ingin meninggalkanmu?"


"Tidak."


"Lalu, kenapa kamu berpikir begitu?"


Prita terdiam sejenak, "Saya merasa tidak pantas untuk Ayash. Tapi, sayang ingin tetap bersamanya."


"Tidak pantas? Kenapa tidak pantas? Apa Ayash pernah mengeluhakan kekuranganmu?"


Prita menggeleng. Dadanya rasanya sesak dan bergemuruh. Pertanyaan itu menggali lagi kejadian yang ingin ia kubur dalam-dalam.


"Prita, kamu harus berani membuka lukamu untuk menyelesaikan masalahmu."


Ibu Ria memberi waktu Prita untuk menangis.


"Kenapa hal itu membuatmu merasa tidak pantas untuk Ayash? Apa kamu melakukannya dengan selingkuhanmu?"


Prita menggeleng.


"Apa dengan Irgi, temanmu sendiri?"


Prita kembali menggeleng.


"Lalu, dengan siapa kamu melakukannya?"


Prita menegarkan hatinya, "Saya diperkosa, Bu."


"Oh, Ya Tuhan.... " Ibu Ria langsung berpindah duduk di sebelah Prita dan memeluknya layaknya seorang kakak. Membiarkan Prita menangis di pundaknya.


"Kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri? Kamu itu korban, tidak salah. Yang salah adalah pelakunya, orang yang sudah merenggut paksa sesuatu yang berharga darimu." Ibu Ria kembali memberi waktu kepada Prita untuk menenangkan diri.


"Bisa kamu ceritakan kronologinya?"


"Awalnya, sekelompok gangster ingin menculik Ayash. Tapi, karena saat itu saya sedang bersamanya, jadi saya ikut dibawa. Ternyata, ketua kelompok mereka adalah orang yang saya kenal. Ayash mereka pukuli sampai hampir mati. Dia memberi saya pilihan, Ayash mati atau saya harus menuruti semua keinginannya." Prita bercerita sambil berderai air mata.

__ADS_1


"Dan kamu memilih opsi kedua?"


Prita mengangguk.


"Setelah itu, apa yang dia lakukan padamu?"


"Dia membawa saya ke rumahnya setelah mengantar Ayash ke rumah sakit."


"Apa selama bersamanya kamu mendapat kekerasan fisik?"


Prita menggeleng, "Satu-satunya kekerasan yang dia lakukan adalah kekerasan seksual terhadap saya. Hampir setiap malam dia meminta saya berhubungan intim dengannya. Jika sedang emosi, dia bahkan melakukannya dengan sangat kasar sampai saya kesakitan. Dan dia tidak peduli. Saya merasa hanya dijadikan budak **** yang tidak ada harganya."


"Berapa lama dia menahanmu?"


"Sekitar satu bulan."


"Bagaimana kamu bisa pergi dari laki-laki itu?"


"Ayash yang menolong saya. Dia menjemput saya di tempat saya disembunyikan."


"Apa laki-laki itu tahu kamu kabur?"


Prita meremas-remas tangannya, "Saya tidak tahu... mungkin sekarang sudah tahu."


"Hem, sepertinya itu sebabnya kamu takut keluar rumah? Kamu takut bertemu dengan laki-laki itu?"


Prita mengangguk.


Ibu Ria memegang tangan Prita, "Prita, kamu tidak salah, kamu tidak perlu takut. Justru, yang harus takut adalah pelakunya. Kamu harus melaporkan orang itu. Dia harus mempertanggungjawabkan kejahatannya. Kalau kamu takut lapor, saya siap mendampingi. Kamu tidak berhak menderita dan ketakutan seperti ini, Prita."


"Bu, masalah ini tidak sesederhana yang Ibu bayangkan. Dia bukan orang sembarangan. Dia orang yang punya uang dan kekuasaan. Tidak mungkin saya bisa melawannya. Bisa terlepas darinya saja suatu keajaiban besar. Lagipula... saya tidak memiliki bukti kuat yang bisa menjebloskannya ke penjara."


"Perlakuan yang kamu terima itu bukti kuat... kamu disekap selama sebulan, dipaksa melayani nafsu bejatnya, itu semua tindak kejahatan besar."


Prita tersenyum kaku, "Nanti, saat penyidikan, pasti yang polisi tanyakan 'apakah saya suka keluar malam?' , 'apakah saya suka memakai pakaian terbuka?', 'apakah saya ikut menikmati hubungan intim itu?', 'apakah saya orgasme?' "


Ibu Ria mengeratkan genggaman tangannya pada Prita. Ternyata, Prita memiliki wawasan yang luas tentang sistem hukum di negara ini terutama untuk kasus pemerkosaan.


Negara ini adalah satu dari sekian negara yang sangat pemaaf terhadap pelaku perkosaan. Bahkan pelaku bisa terbebas dari hukuman jika dia mau menikahi korban. Lucunya, aparat hukum pun mengamini proses damai tersebut.


Pencarian keadilan korban perkosaan juga seringkali diberatkan oleh sistem hukum yang berat sebelah. Saat penyidikan, korban perkosaan kerap mendapatkan perlakukan berbeda dari korban kejahatan yang lain. Para korban dipaksa menunjukkan bukti bahwa mereka diperkosa, jika tidak kasusnya akan berhenti ditengah jalan.


"Bu, terus terang saya pernah menikmati aktivitas **** yang kami lakukan. Saya merasa munafik! Itu pemerkosaan tapi saya menikmatinya." Prita menelungkupkan tangan ke wajahnya dan menangis sesenggukan. Dadanya kembali sesak karena merasa bersalah.


"Prita, saat seseorang terpaksa melakukan hubungan seksual di bawah tekanan itu adalah perkosaan. Bahkan jika itu dilakukan oleh pasangan mereka sendiri. Jadi, walaupun perkosaan itu dilakukan di tempat yang pantas, dilakukan oleh seorang yang dekat, dan dilakukan tanpa adanya kekerasan fisik seperti pemukulan, namun jika si korban melakukan itu tanpa persetujuan, itu tetap dikategorikan sebagai perkosaan."


"Orgasme itu sebenarnya hanyalah respon biologis tubuh seseorang. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan rasa cinta atau rada menikmati. Yang namanya menikmati hubungan itu, kalau kedua pihak sama-sama merasa suka rela. Kamu tak perlu merasa bersalah karen hal itu."

__ADS_1


__ADS_2