
Senja telah hadir menyelimuti Kota J. Semburat warna jingga terlukis indah di ufuk barat. Suasana temaram nenciptakan kesan romantis pada kota berpenduduk padat yang tak pernah tidur ini.
Sebuah mobil mercedes Ben* merah berhenti tepan di pelataran Zero Tower - salah satu hotel bintang lima tertinggi di Kota J. Bayu segera keluar dari kursi kemudi, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu Prita.
Malam ini Prita tampil sangat anggun dengan balutan dress brokat putih dengan high heels warna senada. Sebelum pergi ke tempat makan malam, Bayu mengajaknya masuk butik untuk mencari dress yang cocok digunakan. Karena tempat yang akan mereka kunjungi mengharuskan tamunya untuk berpakaian formal. Sementara, Bayu memilih memakai kemeja putih dan celana hitam. Tampilan mereka sangat serasi.
Restoran yang akan mereka kunjungi merupakan sebuah restoran berkonsep sky-dining bernama Yushin. Letaknya berada di puncak gedung setinggi 80 lantai. Yushin tak hanya menawarkan panorama indah Kota J dari ketinggian, tapi juga sajian kulinernya yang unik perpaduan citarasa Jepang dan Peru. Yushin merupakan bagian dari hotel Zero Tower.
"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang resepsionis saat mereka telah memasuki lobby hotel Zero Tower.
"Kami ingin makan malam di Yushin." jawab Bayu. Ia merengkuh pinggang Prita dengan posesif. Seolah memberitahukan kepada semua orang bahwa wanita di sampingnya itu adalah kekasihnya.
"Apa sebelumnya telah melakukan reservasi?"
"Atas nama Bayu Bagaskara."
Resepsionis segera mengecek nama yang dimaksud. Yushin setiap hari biasanya sudah full booking. Jadi, memang harus reservasi terlebih dahulu. Bayu memang telah mempersialkannya beberapa hari yang lalu untuk menikmati malam romantis bersama Prita.
"Reservasi atas nama Tuan Bayu Bagaskara di private room lantai 80. Silakan ikuti pelayan yang akan mengantar Anda berdua ke sana."
Resepsionis memanggilkan seorang pelayan pria berpakaian rapi untuk memandu mereka. Bayu dan Prita mengikuti pelayan itu menuju sebuah akses lift yang khusus digunakan menuju restoran.
Prita dan Bayu menghabiskan waktu sekitar 1 menit 20 detik di dalam lift untuk sampai di lantai 78. Untuk mencapai Yushin, bisa menggunakan lift khusus dari lobby hotel Zero Tower. Lift tersebut akan langsung mengantar pengunjung ke Yushin di lantai 78 tanpa transit di lantai manapun. Ya, lift tersebut memang hanya sampai ke lantai 78 dari lantai dasar. Sisanya, mereka harus menaiki tangga kaca.
Pemandangan indah sudah menyambut mereka ketika pintu lift terbuka. Prita terkesima melihat panorama Kota J saat malam hari dari atas ketinggian. Sangat indah.
Di lantai 78 mereka melewati area bar terbuka dan lounge yang sudah mulai dipenuhi pengunjung. Bayu terus memegang posesif pinggang Prita. Apalagi melihat beberapa pasang mata yang terus mengekori Prita. Malam itu, Prita memang sangat cantik.
Mereka terus berjalan menapaki satu per satu anak tangga berlantai kaca yang memberikan sensasi seperti melayang di langit.
Menapaki lantai 79, terdapat restoran utama. Banyak sekali pasangan yang sedang menikmati makan malam romantis sambil menikmati pemandangan malam kota. Desain lantai ini didominasi kayu, interior Yushin yang memadukan kekhasan desain Jepang yang sederhana dengan sentuhan kontemporer menciptakan nuansa yang hangat sekaligus intim.
__ADS_1
Setelah melewati tangga kaca kedua, akhirnya mereka sampai di private room lantai 80. Bayu benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Private room yang ia pesan didesain sangat elegan. Pencahayaan redup dari puluhan lilin yang menyala menciptakan suasana penuh kehangatan. Ditambah dengan view Kota J yang bisa dinikmati dari balik jendela kaca yang luas membuat Prita terkesima melihatnya.
Cup!
Bayu mendaratkan sebuah kecupan di pipi Prita, "Kamu suka?" tanyanya.
Prita tertunduk malu, "Iya. Ini indah sekali."
Bayu menggandeng Prita berjalan menuju meja mereka yang letaknya persis di dekat jendela. View Kota J sangat indah. Mereka duduk berhadapan. Keduanya saling bertatapan. Wajah Prita tiba-tiba bersemu merah karena terus diperhatikan oleh Bayu.
"Malam ini kamu cantik sekali." puji Bayu.
"Terima kasih." balas Prita. Sebenarnya dia sangat tidak nyaman saat ini. Ia tidak nyaman terus diperhatikan.
Beberapa saat kemudian, dua orang pelayan dan seorang koki datang mengantarkan hidangan pembuka. Koki itu memperkenalkan diri bahwa ia adalah seorang Nikkei. Artinya, dia keturunan Jepang yang lahir dan hidup di luar negeri, yaitu Peru. Dia adalah generasi ketiga Nikkei yang direkrut menjadi chef di Yushin.
Hidangan pertama yang mereka sajikan adalah Cebice Nikkei, cincangan salmon mentah segar dicampur dengan air lemon khas peru, saus cabai panca, dan krim wasabi. Prita yang menyukai kuliner Jepang tampak sangat menikmati hidangan itu.
Masuk ke menu utama, mereka disajikan Rollos Nikkei Yushin, sushi dengan toping unagi, hati angsa panggang, dengan potongan udang goreng dan isiannya terbuat dari cincangan kepiting pedas dan alpukat. Rasanya Prita ingin menangis bisa mencicipi masakan selezat itu. Ini benar-benar pertama kalinya ia mencoba makanan baru namun langsung pas dengan lidahnya.
Drrrt.... Drrrt....
Ponsel Bayu bergetar. Ada panggilan masuk dari Ben. Kalau Ben yang telepon, biasanya ada informasi penting yang ingin ia sampaikan.
"Halo, Ben?"
"Bos... sepertinya yang tadi siang Nona Prita lihat adalah Tuan Ayash."
Deg! Bayu seketika berubah murah. Dipandanginya Prita yang masih tampak asyik menikmati makanannya. Prita heran, kenapa tiba-tiba Bayu memandanginya seperti itu?
"Kenapa?" tanyanya untuk memastikan.
Bayu tersenyum, "Tidak, ini hanya Ben. Lanjutkan saja makannya."
__ADS_1
Walaupun merasa ada yang janggal, Prita tetap melanjutkan makannya.
"Lanjutkan, Ben." Bayu kembali berbicara dengan Ben di telepon.
"Tadi siang dia bersama timnya mengadakan rapat pembahasan Proyek Pulau S di sana."
"Proyek Pulau S?"
"Ya. Perusahaannya jadi kontraktor proyek itu."
Bayu kembali melirik ke arah Prita sekilas. Ia berusaha menjaga sikapnya meskipun pikirannya tiba-tiba menjadi kalut. Ia tak mau Prita menaruh curiga dengan percakapannya.
"Apa itu proyek sama dengan yang ditangani ayahku?"
"Benar, Bos."
Bayu mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa ia tidak tahu kalau Ayash ada di Kota J? Apalagi menangani proyek yang sama dengan perusahaan ayahnya. Sementara, dia malah disuruh mengurusi bisnis ayahnya ke luar pulau. Ia menarik nafas dan menghembuskannya kasar untuk menahan emosi.
"Apa dia masih di sana."
"Tidak, Bos. Mereka sudah kembali ke hotel tempat menginap setelah rapat. Dugaan saya, mungkin hanya Nona Prita saja yang sekilas melihatnya."
"Bagus kalau begitu. Terus kabari aku jika ada informasi lain."
"Baik, Bos."
Klik
Bayu memutuskan sambungan telepon dan menaruh kembali ponselnya di saku celana.
"Sepertinya ada masalah penting, ya?" Prita mencoba membaca gelagat lelaki di hadapannya.
Bayu tersenyum mendengar pertanyaan itu. Sepertinya Prita curiga padanya, "Hanya masalah bisnis saja. Besok aku kan sudah harus pergi ke luar kota. Bahkan ke luar pulau."
__ADS_1
"Oh, oke."