ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Mobil yang membawa Ayash dan Prita mulai memasuki area bandara. Sesekali terdengar suara pesawat yang melintas di udara. Area parkir bandara sudah mulai penuh dengan jajaran kendaraan yang berbaris rapi. Sepagi ini bandara sudah terlihat ramai dan sibuk oleh lalu lalang orang-orang.


Di depan terminal keberangkatan, mobil berhenti. Beberapa orang berpakaian rapi tampak berjalan mendekat ke arah mobil mereka.


Prita panik. Reflek ia memegang erat tangan Ayash dan menyembunyikan wajahnya di sana.


Ayash mengerutkan kening, heran melihat tingkah Prita yang tiba-tiba menempel kepadanya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Mereka ada di sini. Aku takut." Prita berkata sangat lirih hingga seperti berbisik.


Ayash melihat ke arah kaca. Orang suruhannya telah datang bersama lima orang anak buahnya.


"Jangan takut, mereka orang-orang yang akan menjaga kita sampai naik pesawat."


Ayash mengeluarkan masker dari dalam saku jasnya, "Pakai ini." pintanya.


Prita menurut. Dipakainya masker berwarna hitam itu untuk menutupi wajahnya. Ayash menggandeng tangannya dan membawanya keluar dari dalam mobil. Prita kembali menempelkan tubuhnya pada Ayash ketika berhadapan dengan orang-orang asing yang penampilannya mengingatkan dia pada para bodyguard yang selama ini berjaga di sekitar Bayu.


"Semuanya sudah kami siapkan, Pak. Mari kami antar ke VIP room."


Ayash memeluk Prita, mencoba memberikan keamanan dan seakan mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan dia tidak perlu takut.


Mereka memasuki pintu masuk khusus bandara yang berbeda dengan orang umum. Aksesnya sangat privat, membuat mereka tak perlu berpapasan dengan orang banyak. Tak perlu waktu lama, mereka telah sampai di VIP room. Di ruangan itu mereka bisa beristirahat sembari menunggu waktu boarding pesawat.


Ayash menyuruh Prita untuk duduk santai di sofa. Sementara, ia berjalan agak menjauh untuk berbicara dengan orang kepercayaannya.


"Apa Tiger King sudah mulai bergerak? Apa mereka sudah ada di sini?" Ayash berbicara lirih.


"Belum ada, Pak. Sepertinya Bayu belum tahu dan dia masih belum pulang dari Kota P."


"Bagaimana dengan daftar penumpang lainnya? Sudah kamu cek?"


"Sudah, Pak. Semuanya hanya penumpang biasa yang tidak berkaitan dengan Tiger King. Lebih baik Anda juga memakai masker supaya tidak dikenali. Untuk berjaga-jaga saja, jika ada kru pesawat atau orang yang merupakan anak buah Tiger King."


"Oke, baiklah. Terima kasih untuk semuanya."


*****


"Ben... sampai berapa lama pesawatnya delay?"


"Akan saya tanyakan ke pihak maskapainya."


Bayu kesal. Sudah satu jam menunggu tapi pesawatnya belum juga ada tanda-tandaa akan boarding. Tangannya sibuk bermain-main dengan ponselnya.

__ADS_1


"Ini kenapa CCTV nya tidak ada yang bisa diakses, Ben?"


Belum sempat Ben pergi, bosnya sudah mengeluhkan hal lain. Bayu tak bisa mengakses CCTV yang terpasang di hotel tempat Prita menginap. Ia ingin tahu kondisi wanitanya.


"Coba kamu telepon anak buahmu dan suruh cek!"


"Baik, Bos."


Ben langsung menghubungi para bodyguard yang ia tempatkan di hotel itu. Anehnya, tidak ada yang mengangkat teleponnya.


"Tidak ada yang menjawab telepon, Bos."


Mendengar ucapan Ben, Bayu langsung mendapat firasat buruk. Pasti ada sesuatu yang terjadi di sana. Bersamaan dengan itu, terdengar pengumuman boarding pesawat yang akan dinaikinya.


"Bos, sebaiknya kita masuk sekarang ke pesawat."


Dengan enggan, Bayu bangkit dari kursinya dan berjalan mengikuti staff bandara yang memandu mereka. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Sampai di dalam kabin pesawatpun, ia tetap melamun memikirkan keadaan Prita di sana.


Selama perjalanan, ia tak bisa tertidur. Penerbangan yang memakan waktu 90 menit itu terasa sangat lama. Hanya kumpulan awan dan langit biru yang bisa ia pandang dari balik kaca pesawat.


"Bos.... " Ben disebelahnya mencoba mengajak bicara.


"Hm.... "


"Anda ingin makan atau minum sesuatu?"


Suasana kembali hening. Ben hanya bisa memandangi bos mudanya yang tampak galau karena seorang wanita. Ini pertama kalinya Bayu memperlakukan wanita dengan sangat baik. Biasanya, ia hanya memanggil wanita saat ia butuh menyalurkan hasratnya saja. Tak pernah ada yang dipertahankan begitu lama selain wanita yang bernama Prita Asmara.


Ia sendiri masih belum bisa percaya, Bayu yang telah diikutinya selama 15 tahun itu bisa jatuh cinta pada seorang wanita.


Pesawat terus melaju menerobos satu per satu gumpalan awan. Detik demi detik berlalu hingga akhirnya pesawat mendarat dengan begitu mulus di Kota J.


"Ben, kita langsung menuju Zero Tower Hotel." perintah Bayu.


Keduanya berjalan beriringan dengan langkah yang cepat. Bayu sudah tidak sabar bertemu Prita. Ia ingin segera tahu apa yang terjadi.


Bruk!


"Ah!" seorang wanita jatuh tepat di atas Bayu setelah menabraknya.


Pandangan mata keduanya bertemu. Bayu ingin sekali mengumpat kasar seandainya dia bukan seorang wanita.


"Eum, maafkan saya." wanita itu perlahan bangkit kembali berdiri.


Ben membantu bosnya berdiri.

__ADS_1


"Ah! Lenganmu berdarah!" seru wanita itu ketika melihat bercak darah pada kemeja putih yang Bayu kenakan.


Bayu melihat lengannya sendiri. Benar, ada darah yang merembes dari luka bekas tembakan itu. Lukanya kembali terbuka karena tabrakan tadi.


"Ayo, saya antar ke klinik!"


Wanita itu meraih tangan Bayu dengan perasaan panik. Namun, tangannya ditepis oleh Bayu.


"Kita pergi sekarang."


Bayu langsung pergi mengabaikan wanita yang tadi menabraknya. Ben mengikutinya.


"Pak, sepertinya luka Anda perlu dirawat."


"Aku baik-baik saja, Ben. Ini tidak sakit." Bayu terus berjalan dengan langkah cepat mengabaikan lukanya yang sebenarnya mulai terasa nyeri.


Di pintu keluar terminal kedatangan, sudah ada mobil yang menjemput mereka. Ben terpaksa menghubungi anak buahnya yang lain karena orang-orang yang ia tempatkan di hotel masih tak ada yang bisa dihubungi.


Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di Zero Tower Hotel. Bergegas mereka menaiki lift menuju lantai 70.


Brak!


Bayu membuka kasar pintu kamar hotel. Suasana ruang tengah tampak berantakan. Sepi, tak ada siapapun. Dengan panik ia berlari ke arah kamar utama, tempat mereka sebelumnya tidur.


"Prita.... "


Kosong. Tak ada seorangpun di sana. Prita tak ada. Ia beralih ke arah kamar mandi. Di sana juga kosong. Ia mengepalkan tangannya. Betapa tidak becus anak buahnya menjaga Prita.


"Bos.... " Ben datang memberi isyarat agar Bayu mengikutinya.


Bayu menghela nafas. Ia mengikuti Ben yang berjalan ke arah kamar lain. Saat pintu dibuka, ada 12 pengawalnya yang disekap di sana dalam kondisi terikat dan mulut dilakban. Bayu membuang muka kesal.


Ben melepaskan ikatan tali pada anak buahnya. Ia kasihan melihat kondisi mereka yang sangat memprihatinkan. Dua belas orang berdesakan di dalam satu kamar dengan mulut dilakban dan badan terikat.


"Siapa yang melakukan ini?" tanyanya.


"Kami tidak kenal, Pak."


Ben menghela nafas, "Sejak kapan kalian begini?"


"Sejak semalam, Pak. Mereka datang sekitar jam 11 malam."


"Pak... sepertinya orang itu juga bukan orang sembarangan. Dia sempat menunjukkan kartu akses VIP dan berpura-pura salah kamar."


"Ben, minta rekaman CCTV hotel sekitar jam kejadian. Bawakan hasilnya ke apartemen. Kamu urus semua ini."

__ADS_1


"Baik, Bos."


Bayu langsung pergi meninggalkan kamar hotelnya. Ia tak ingin kemarahannya meledak dan menyebabkan kekacauan di sana. Ia butuh menenangkan diri.


__ADS_2