ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Mengejar Waktu


__ADS_3

Bayu mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa berat dan sakit. Di tangannya telah terpasang selang infus tanpa ia tahu kapan benda itu terpasang. Terakhir kali kesadarannya masih ada saat di atas truk sedang berbincang dengan Ben hingga ia tertidur.


Perlahan Bayu mengangkat badannya dan duduk di atas ranjang perawatan. Bahu kanannya masih terasa sangat sakit.


Ceklek!


Pintu ruangan terbuka. Ternyata Ben yang datang.


"Apa Anda sudah merasa baikan, Bos?"


"Lumayan. Berapa lama aku tidur?"


"Sejak semalam Anda pingsan."


"Tolong ambilkan ponselku."


Ben menuju ke arah nakas tempat meletakkan ponsel milik bosnya.


"Sepertinya ada banyak panggilan dan pesan masuk." kata Ben sembari menyerahkan ponsel kepada Bayu.


Bayu lantas menghidupkan layar ponselnya. Tampak ada beberapa daftar panggilan tak terjawab, paling banyak dari Alex. Ia juga memeriksa pesan-pesan yang masuk. Ada pesan dari teman-temannya di Kota J, pesan dari Jimmy, dan pesan dari Alex.


Kapan main ke klub? Aku rindu traktiranmu. Hahaha...


-Tio-


Bayu, sesekali mampirlah ke apartemenku. Aku butuh kehangatanmu ❤


-Karla-


Karla terus menanyakanmu. Sepertinya dia butuh asupan dana darimu.


-Angga-


Aku dengar kemarin kamu sempat pulang ke Kota S, kan? Kenapa tidak mampir? Prita, mantan guru Leo yang kamu kejar-kejar itu beberapa hari lagi akan menikah.


-Jimmy Marshall-


Bayu membelalakkan matanya membaca pesan dari Jimmy. Ia baca berulang-ulang bagian 'akan menikah'. Tangan kirinya mencengkeram kuat seprei ranjangnya. Urat-urat wajahnya tercetak jelas. Amarahnya memuncak. Tidak ada yang boleh memiliki Prita selain dirinya.


Ia kembali mengecek pesan yang masuk dari Alex, orang yang ia suruh mengawasi Prita sekitar sebulanan ini.


Nona Prita tidak lagi datang ke kafe beberapa hari ini.


Nona Prita tinggal di Orion Tower apartemen.


Pengamanannya sangat ketat. Saya tidak bisa mencari tahu apapun. Tapi sepertinya Nona Prita tidak pernah keluar dari apartemennya.

__ADS_1


Saya dengar Nona Prita akan menikah. Apa yang harus kami lakukan?


Bos, beberapa hari lagi Nona Prita akan menikah di Hotel Mayapada. Kapan Anda pulang?


Kenapa bos susah dihubungi?


Bagaimana dengan Nona Prita?


-Alex-


Serentetan pesan dari Alex membuatnya semakin geram. Pesan-pesan itu dikirim seminggu yang lalu dan ia baru bisa membacanya.


Hari ini hari pernikahan Prita. Sementara ia masih berada jauh di pulau P. Ia tidak terima kalau Prita dimiliki lelaki lain selain dirinya.


"Halo, Bos."


"Aku sudah membaca pesanmu."


Bayu sedang berbicara dengan Alex lewat telepon.


"Apa yang harus kami lakukan?"


"Kapan acaranya?"


"Malam ini."


"Siapkan mobil untukku di bandara. Aku akan pulang hari ini juga."


"Ben... carikan private jet yang bisa terbang sekarang juga."


"Tapi Anda belum pulih sepenuhnya."


"Lakukan saja apa yang aku minta. Bayar berapapun yang mereka inginkan asalkan bisa terbang sekarang juga!"


"Baik, Bos. Saya akan cerikan untuk Anda. Tapi, setidaknya makan sarapan Anda untuk mengisi tenaga."


Ben kembali keluar untuk melaksanakan tugas yang bosnya berikan. Bayu hanya memandangi makanan yang sudah tersaji di mejanya. Rasa laparnya entah hilang kemana padahal sejak semalam ia belum makan.


Bayu kembali menatap layar ponselnya. Ia mengetikkan kabar pernikahan antara Prita dan Ayash pada kotak pencarian. Tak ada satupun berita online yang memuat kabar itu. Keluarga Hartadi termasuk pengusaha sukses di Indonesia. Tidak mungkin jika berita pernikahan anaknya tidak diliput media.


Mengapa mereka bisa memutuskan untuk menikah? Apa mungkin Prita tidak menceritakan apapun pada Ayash? Mana ada lelaki yang mau menerima wanita yang sudah dijamah lelaki lain.


Tapi, melihat kepribadian Prita, tidak mungkin ia bisa berbohong. Umumnya wanita akan kembali pada lelaki yang sudah mengambil kesuciannya. Itu yang Bayu harapkan. Ia ingin Prita menganggapnya sebagai satu-satunya tempat kembali, satu-satunya orang yang bisa menjadi tempat bergantung.


Klek!


Pintu ruangan kembali terbuka. Tampak Ben datang bersama dua orang berseragam putih yang mungkin saja dokter.

__ADS_1


"Bos, saya sudah mendapatkan private jet yang bisa terbang sekarang juga."


"Baguslah."


"Eh, jangan!" sergah Ben saat Bayu hendak melepaskan infus di tangannya.


"Kenapa, Ben?"


"Saya membawakan dua dokter ini untuk memantau kesehatan Anda selama di pesawat. Tolong kerjasamanya, kali ini menurutlah atau saya batalkan reservasi pesawatnya." paksa Ben.


Bayu tersenyum sinis, "Baiklah kalau itu maumu. Lakukan sesukamu yang penting aku bisa cepat pulang."


Kedua dokter lelaki itu menghampiri Bayu. Mereka membantu melepaskan sementara selang infus di tangan Bayu dan membawanya menuju mobil yang telah disiapkan.


Dari rumah sakit perjalanan dilanjutkan ke bandara, dimana private jet yang mereka pesan terparkir. Perjalanan masuk pesawat perjalan mulus, berkat uang yang digelontorkan Ben.


Perjalanan udara akan memakan waktu berjam-jam. Bayu hanya berharap dirinya tidak telat untuk menghentikan pernikahan Prita. Entah bagaimana caranya ia akan menggagalkan acara itu belum terpikirkan.


Seharusnya mungkin sejak awal ia langsung bawa saja Prita ikut bersamanya ke Pulau P. Meskipun harus membawanya dalam bahaya, setidaknya Prita tetap bersamanya. Daripada melihat Prita bersanding di pelaminan bersama lelaki lain, itu lebih menyakitkan.


Seorang pramugari menyajikan makanan di hadapan Bayu.


"Anda sudah melewatkan sarapan. Anda harus makan. Kalau lukanya masih sakit, saya bisa membantu menyuapi."


Bayu terkekeh mendengar ucapan Ben. "Apa sekarang kamu sedang menjadi pengasuhku, Ben?"


"Apapun istilahnya, yang penting Anda selamat dan saya ikut selamat, Bos. Saya tidak ingin mendapat masalah di hadapan Tuan Samuel."


"Ya, kamu memang anak buahnya yang setia."


Bayu mulai menyuapkan makanan sebelum Ben kembali mengoceh. Rasa makanannya biasa saja, tidak terlalu enak di lidahnya. Namun ia tetap memaksakan untuk memakannya.


Selesai makan, dokter memberikan obat melalui suntikan yang dimasukkan ke dalam cairan infus. Ia juga tak protes dengan hal itu. Menurut kepada Ben saat ini menjadi jalan terbaik.


Bayu mengalihkan pandangan ke kaca jendela. Cuaca siang itu sangat cerah. Gumpalan awan berwarna putih bersih dan langit biru membentang tanpa ujung.


"Bos, apa rencana Anda nanti?"


"Aku belum tahu, Ben. Apa kamu ada ide?"


Ben tak berani bicara. Sebenarnya ia ingin menasehati agar Bayu membiarkan saja Prita bahagia dengan pilihannya. Tapi, Bayu pasti akan mencekiknya jika berani berkata seperti itu di depannya.


"Bagaimana kalau kita ledakkan hotel itu? Apa anak buah kita punya bom yang cukup besar untuk menghancurkan hotel?"


"Mereka tidak memiliki bom, Bos."


"Atau aku pakai M-16 untuk menghabisi mereka semua? Atau kita kerahkan semua anak buah untuk mengepung tempat itu?"

__ADS_1


"Itu terlalu berlebihan dan bisa memunculkan masalah baru. Anda pasti akan ditangkap polisi. Disana bukan Kota J, Bos. Anda tidak boleh sembarangan bertindak."


Bayu mengepalkan tangannya. Ia sedang memikirkan hukuman apa yang akan ia berikan saat bertemu Prita. Wanita itu sudah diperingatkan tetapi tetap saja bandel. Mungkin ia harus memberikan hukuman erat yang akan membuatnya jera dan tak berani meninggalkannya lagi.


__ADS_2