
"Apa Ayash tahu?"
Prita mengangguk.
"Dimana dia sekarang?"
"Dia pergi."
Irgi mengeratkan giginya. Ia geram, Ayash tega meninggalkan Prita sendirian. Meskipun tak bisa menerima kondisi kehamilan Prita, setidaknya Ayash tak meninggalkan Prita sendirian begitu saja.
Irgi menggenggam tangan Prita, "Ta, kamu tidak perlu takut. Masih ada aku yang akan membantumu."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ir? Rasanya aku mau gila.... Apa aku gugurkan saja bayi ini?"
"Kamu jangan gila, Ta! Itu sama saja kamu jadi pembunuh! Bayi itu tidak bersalah."
"Aku tahu... tapi, orang-orang pasti akan menghinanya saat ia lahir."
"Aku juga bingung, bagaimana cara menjelaskan semua ini kepada orang tua Ayash. Mereka pasti sangat kecewa padaku. Mereka sudah susah payah mempersiapkan pernikahan, tapi aku justru mengandung anak orang lain. Aku harus bagaimana?"
"Apa Ayash benar-benar tak mau menerimamu?"
Prita tertawa getir, "Dia langsung pergi setelah mengantarkan aku pulang ke apartemen, Ir. Dia tak mau bicara denganku. Mana mungkin dia mau menerima wanita seperti aku."
"Aku benar-benar akan menghajarnya jika bertemu dengannya!"
Prita menggeleng, "Ini bukan salah Ayash, Ir. Kamu tidak boleh marah padanya."
"Tapi ini juga bukan salahmu, Ta! Apa kita laporkan saja si brengsek Bayu itu?"
"Jangan, Ir!"
"Kenapa kamu melarang? Apa kamu ingin meminta pertanggungjawaban padanya?"
"Bukan seperti itu... kamu belum tahu siapa dia. Dia bukan orang sembarangan yang bisa mudah masuk penjara."
"Kalau kita punya bukti yang kuat, dia tetap akan dipenjara, Ta."
"Ini bukan kasus pencurian, Ir. Ini kasus pemerkosaan. Tidak ada bukti yang kuat. Polisi pasti akan menyuruh kami berdamai atau bahkan menikah. Aku tak mau menikah dengannya. Aku tak mau bertemu dengannya lagi."
Irgi mengusapkan telapak tangan pada wajahnya. Lelaki yang bernama Bayu itu benar-benar bangsat. Dia tega melakukan hal itu kepada Prita, sahabatnya.
"Ta, pergilah ke Singapura untuk waktu setahun atau dua tahun sampai anakmu lahir. Kamu bisa tinggal bersama mama papaku. Mereka juga pasti akan membantumu. Jika kamu tidak menginginkan anak itu, aku yang akan merawatnya. Kamu bisa memulai hidupmu setelah melahirkannya."
"Kenapa kamu sebaik ini, Ir. Raeka bisa salah paham lagi kalau tahu semua ini."
"Ini tidak ada kaitannya dengan Raeka, Ta. Aku yang akan merawat bayimu sendiri. Aku tak akan merepotkan Raeka."
"Ir.... "
__ADS_1
"Ta, sudah aku bilang kamu bisa mengandalkanku. Kamu sudah aku anggap adikku sendiri. Jika kamu ada kesulitan, aku akan membantumu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
Prita terdiam.
"Kamu pikir kenapa aku kembali dan berencana membuka bisnis di sini? Itu karena aku khawatir padamu, Ta! Waktu mendengar kamu diculik si brengsek Bayu, pikiranku juga tidak tenang. Aku sedikit kecewa kepada Ayash yang tidak bisa menjagamu."
"Itu bukan salah Ayash."
"Ya, kamu pasti akan terus membelanya. Sekarang, dia tega meninggalkanmu, dan kamu juga masih membelanya."
"Ayash memang tidak salah, Ir. Semua ini terjadi di luar kehendak kita."
"Awalnya aku merasa akan lega jika kalian menikah. Aku merasa rugasku sebagai seorang kakak akan berakhir setelah kamu menikah dengan Ayash, Ta. Tapi entah mengapa semua malah jadi seperti ini."
"Maafkan aku."
"Sebaiknya kamu tidur, Ta. Kamu harus menjaga kesehatan apalagi kamu sedang hamil. Tidurlah di kamarku, biar aku tidur di ruang tengah."
"Ir.... "
"Kita lanjutkan besok saja. Kamu cepat tidur."
Irgi menarik Prita masuk ke kamar, kemudian menutup pintunya. Ia merebahkan dirinya di sofa ruang tengah. Sebenarnya ada tiga kamar di rumahnya, tapi hanya satu kamar yang ia fungsikan. Dua kamar lain masih ia jadikan gudang.
*****
Irgi terbangun dari tidurnya. Badanya terasa pegal dan kaku. Mungkin karena efek tidur di sofa. Ia meregangkan tangan dan sedikit memijat bagian leher. Semalam ia hanya sempat tidur beberapa jam. Ia kesulitan tidur karena memikirkan masalah Prita.
Guyuran air dari shower membuat tubuhnya terasa segar. Rasa kantuk yang menderanya juga ikut hilang. Jarang-jarang ia mandi sepagi ini. Biasanya ia mandi siang hari kecuali jika ada janji pergi dengan Raeka.
Prang!
Di tengah aktivitas mandi, samar-samar Irgi mendengar suara benda jatuh. Ia memusatkan fokus pada pendengarannya. Terdengar suara seorang wanita sedang marah-marah. Semakin lama ia dengarkan, suaranya semakin jelas dan ia mengenali suara itu.
Bergegas ia mengakhiri mandinya dan memakai baju ganti yang sebelumnya ia siapkan.
"Dasar Jalang!"
Plak!
"Raeka!" Seru Irgi.
Ia melihat Raeka ada di kamarnya, sedang menjambak rambut Prita dan sempat menampar.
Kemunculan Irgi justru semakin membuat Raeka salah paham. Prita tidur di kamar Irgi, dan Irgi baru saja keluar dari kamar mandi. Pikiran yang tidak-tidak terbayang di pikiran Raeka. Ia merasa dikhianati. Hatinya terasa sangat sakit.
"Ra, lepasin Prita. Aku bisa jelaskan." pinta Irgi.
Dengan gemetar, Raeka melepaskan jambakannya. Ia tertawa pilu, "Hahaha... jadi begini ya, bentuk persahabatan kalian. Bodoh sekali aku sengaja datang pagi untuk membawakanmu makanan dan berniat memperbaiki hubungan kita. Ternyata kamu sama sekali tidak memikirkan aku. Kalau tidak menyukaiku bilang terus terang! Putuskan aku dengan jelas, Irgi!" nada suara Raeka meninggi. Wanita yang biasa bertingkah manja dan kekanakan itu seakan menunjukkan sisi lainnya ketika marah.
__ADS_1
"Ra, kamu hanya salah paham." Irgi mencoba menenangkan.
"Benar, Ra. Ini tidak seperti yang kamu kira."
Perkataan Prita justru membuat Raeka semakin naik pitam.
"Diam kamu! Dasar wanita tidak tahu diri! Dari dulu sifatmu tidak juga berubah! Wanita murahan! Jalang.... !" Raeka kembali menjambak Prita dengan sekuat tenaga.
Prita tak melawan sama sekali. Bahkan, ketika Raeka berusaha mencekiknya, ia hanya memejamkan mata dan menangis.
"Raeka, hentikan!" Irgi menarik Raeka, menjauhkan dari jangkauan Prita.
"Lepaskan aku! Dasar murahan.... !"
Plak!
Satu tamparan Irgi seketika membuat Raeka terdiam. Tamparan itu tidak sakit, tapi hatinya terasa sangat sakit. Irgi masih saja membela Prita.
Raeka mendorong kuat tubuh Irgi menjauh darinya.
"Ra... maafkan aku." Irgi berusaha mendekati Raeka. Ia tidak sengaja kelepasan sampai menampar Raeka.
"Sudah, jangan mengatakan apapun. Perbuatanmu sudah menjelaskan semuanya. Aku benci kalian berdua."
Raeka berlari pergi.
"Raeka!"
"Huek! Huek! Huek!"
Irgi yang hendak mengejar Raeka menghentikan langkah ketika mendengar suara sepertinya Prita ingin muntah. Ia membatalkan niatnya mengejar Raeka dan kembali menemui Prita.
"Ta, kamu nggak apa-apa?" Irgi tampak sangat cemas.
Prita mengangguk, "Jangan khawatirkan aku, aku hanya sedikit mual saja. Lebih baik kamu susul Raeka, jangan sampai dia salah paham."
Irgi memandangi Prita. Rambutnya acak-acakan, pipinya merah, dan pada lehernya terdapat kemerahan bekas cekikan Raeka. Ia tidak menyangka Raeka bisa seagresif itu.
Irgi pergi ke dapur, mengambil es batu dari dalam kulkas dan membalutnya dengan sapu tangan. Ia kembali ke kamar menghampiri Prita.
"Ir... kenapa masih di sini? Cepat kejar Raeka!"
Irgi menempelkan sapu tangan berisi es batu ke pipi Prita yang tampak memerah.
"Ir.... "
"Nanti aku akan minta maaf padanya, Ta." Irgi tetap fokus mengompres. Dari area pipi ia berpindah ke area leher. Ada sedikit luka lecet di sana.
"Maafkan aku, Ir. Aku membuat hubunganmu dengan jadi makin buruk."
__ADS_1
"Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Aku bisa menyelesaikannya nanti. Kamu tidak usah khawatir. Kamu fokus saja jaga kesehatan, jangan memikirkan apapun yang bisa membuatmu stres. Ingat, Ta. Kamu sedang hamil. Kamu bukan hanya menjaga dirimu sendiri, tapi juga bayimu."