ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Tragedi 2


__ADS_3

Malam kian larut. Mobil Bayu masih melaju kencang menerobos kesunyian malam. Jalan cukup lengang untuk memberinya ruang mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Bayu tak paham mengapa dirinya begitu keras kepala untuk tetap pergi dengan kondisinya yang kurang baik. Ia tak memiliki alasan apapun kecuali hasrat yang kuat untuk memiliki Prita. Entah apa yang menarik dari wanita itu hingga ia begitu terobsesi untuk memilikinya.


Ini pertama kalinya ia begitu menginginkan sesuatu dalam hidupnya. Dan ia akan berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan. Mungkin ia harus mengamuk atau memukuli orang-orang di sana agar Prita bisa kembali padanya. Bayu tak memiliki rencana. Yang ia lakukan hanya menuruti kata hatinya untuk bertemu Prita.


Saat melewati kawasan tepi laut, pandangannya samar-samar tertuju pada sosok orang yang tampak sedang bermain di laut malam-malam. Sesuatu hal yang sangat tak lazim. Lambat laun sosok itu semakin jelas ia lihat. Seperti seorang lelaki dan seorang perempuan. Mungkin saja mereka sedang berpacaran.


Tapi, semakin dekat jarak mobilnya, terlihat jelas jika lelaki itu sedang berusaha menarik-narik si wanita untuk mengikuti langkahnya. Wanita itu mengenakan pakaian pengantin.


Bayu jadi teringat tentang Prita. Hari ini Prita menikah dan pasti juga mengenakan gaun pengantin. Tapi, tidak mungkin dia Prita. Mana mungkin Prita diseret-seret begitu kasar oleh suaminya.


Bayu kembali melajukan mobilnya, mengabaikan pemandangan yang baru saja ia lihat. Tujuannya adalah menuju ke hotel untuk menemui Prita, bukan untuk mengurusi urusan orang lain.


Lama-kelamaan, ia merasa terganggu dengan pikirannya sendiri. Ia tak bisa mengabaikan apa yang tadi ia lihat. Entah itu Prita atau bukan, rasanya ia ingin mengetahuinya. Akhirnya, ia memutuskan untuk memutar balik mobilnya.


Bayu merasa dirinya gila. Padahal, ia sedang terburu-buru menuju hotel. Tapi, ia justru kembali ke tempat tadi ia melihat wanita yang sedang diseret-seret seorang lelaki. Di tepi pantai hanya ada mobil kosong yang terparkir. Dua orang itu sudah tak terlihat lagi.


Bayu mengarahkan pandangan ke segala arah. Ada sebuah rumah di dekat tempat itu. Ia merasa mungkin orang itu masuk ke dalamnya. Bayu berjalan cepat mendekati rumah itu. Ia menahan sakit di bahu kanan belakangnya. Sepertinya lukanya kembali terbuka.


Dari dekat terdengar suara benda-benda pecah. Sesekali terdengar jeritan suara wanita yang memohon-mohon minta dilepaskan. Bayu hafal betul itu suara Prita. Tanpa basa-basi, ia menerobos masuk rumah dan mendobrak pintu kamar.


Tampak pemandangan yang begitu mencengangkan. Prita ada di sana dengan penampilan yang sangat berantakan dan gaun pengantin yang koyak. Seorang lelaki hampir telanjang menindih Prita di bawahnya. Mereka bertiga terkejut satu sama lain.


"Mario.... " pekik Bayu.


"Bayu.... "


Mario merasa sangat geram karena ada orang yang datang mengganggu kesenangannya. Ia turun dari ranjang dan meraih pistol yang diletakkannya di atas meja. Tanpa gentar ia mengacungkan pistol ke arah Bayu, orang yang pernah mengurung dan menyiksanya.


Bayu merasa menyesal dulu tidak langsung membunuh Mario. Seharusnya dia menghabisi Mario setelah mengurungnya. Memiliki rasa kasihan kepada musuh adalah hal yang fatal. Karena, saat musuh mulai merasa memiliki taring yang kuat, dia akan kembali berusaha menggigit.

__ADS_1


"Kamu pikir aku takut padamu?" ucap Mario.


Bayu mengarahkan pandangan kepada Prita yang tampak gemetar ketakutan. Pandangan mereka sempat bertemu. Mata Prita terlihat sayu.


"Cih! Memangnya kamu berani padaku?" tantang Bayu.


Dor!


Mario tak macam-macam. Ia benar-benar menembakkan pistolnya. Namun, Bayu bisa menghindari tembakan itu.


"Berhenti!" perintah Mario ketika Bayu berusaha melangkah maju.


Tanpa gentar, Bayu tetap maju mendekati Mario.


Dor!


Mario kembali menembakkan pistol. Naas, peluru menyerempet lengan kiri Bayu. Darah segar mengucur. Tapi, bukannya kesakitan, Bayu semakin agresif maju mendekati Mario. Kemarahannya memuncak. Mario panik. Ia kembali menekan pelatuk piatolnya. Namun, ternyata peluru pistolnya telah habis.


Bayu menghentikan pukulannya setelah Mario terkapar pingsan tak berdaya di lantai. Ia mengalihkan pandangan pada Prita yang sedang menangis sambil memeluk pakaiannya.


Meskipun kemarahannya memuncak, namun melihat Prita seperti itu ia menjadi tidak tega. Seharusnya ia sudah marah-marah dan menyiksa Prita karena berani mengabaikan ucapannya. Berani-beraninya Prita menikah dengan lelaki selain dirinya.


"Ikut aku!" perintahnya.


Tanpa mengucap sepatah katapun, Prita menurut. Ia menuruni ranjang dan mengikuti Bayu keluar dari rumah itu.


Tunggu di sini. Bayu menyuruh Prita menunggu di luar sedangkan ia sendiri kembali masuk ke dalam. Ia mengambil gunting yang tadi dilihat di atas meja kamar. Melihat Mario yang masih terkapar pingsan, ia jadi ingin melakukan sesuatu. Ia ambil pistol dari dalam saku celananya.


"Serangga sepertimu harus dimusnahkan supaya tidak berulah dan berkembang biak."


Dor!

__ADS_1


Bayu menembak Mario tepat di kepalanya. Dia memang sadis. Membunuh orang yang masih dalam kondisi pingsan setelah dia hajar habis-habisan. Setelah puas, ia kembali keluar menjumpai Prita.


"Apa yang kamu lakukan di dalam?" tanya Prita curiga.


Bayu memperlihatkan gunting yang ia bawa.


"Kenapa tadi ada suara tembakan?"


"Oh, dia kembali ingin menembakku tapi tidak kena."


"Eh, Kamu mau apa!" Prita menahan gaunnya ketika Bayu berusaha mengoyaknya dengan gunting.


"Mau pergi dengan pakaian seperti ini? Kamu kesulitan berjalan, kan?"


Prita terdiam. Ia membiarkan Bayu menggunting baju pengantinnya. Dilihatnya bekas tembakan di lengan kiri Bayu mengeluarkan darah. Bagian pundak kanan juga seperti ada darah yang merembes ke bajunya. Anehnya, Bayu sama sekali tak terlihat kesakitan sedikitpun.


Bayu selesai memotong gaun Prita di atas lutut. Kaki Prita tampak berdarah dan penuh luka lecet. Matanya membelalak ketika melihat ada darah yang mengucur di paha Prita.


"Ini... darah apa?"


Prita memperhatikan sela pahanya sendiri. Ada darah yang mengalir.


"Ah! Anakku.... " pekiknya.


Prita terduduk sambil menangis tersedu-sedu memegangi perutnya. Ia punya firasat buruk akan kehilangan anaknya.


Bayu masih mencerna ucapan Prita. Ia bingung, kenapa Prita menangis sambil memegang perutnya sambil memanggil-manggil 'anakku anakku'. Apa Prita sedang hamil?


Bayu membawa Prita dalam gendongannya. Ia membawanya pergi meninggalkan rumah itu. Prita masih terus menangis sambil bergumam menyebut anaknya.


Rasa sakit di lengan dan pundak semakin terasa ketika menggendong Prita. Dengan sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya hingga sampai di mobilnya.

__ADS_1


Lagi-lagi ia memaksakan diri menyetir mobil. Tenaganya hampir habis karena darah masih saja mengucur dari lengannya. Ia harus segera membawa Prita ke rumah sakit. Meskipun banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan, prioritas utama untuk menyelamatkan Prita lebih dulu.


__ADS_2