
Siang itu Prita sedang mengecek pekerjaan karyawannya di dapur. Ia mencicipi setiap menu untuk memastikan rasa masakan kafenya sesuai dengan standar resep yang dibuat Pak Didi.
Kafenya buka dari jam 10 pagi hingga jam 10 malam. Shift kerja karyawan dibagi menjadi dua, shift pagi-sore dan shift sore-malam. Puncak keramaian kafenya biasanya saat jam makan siang dan saat malam.
Kebanyakan yang datang malam hari adalah muda-mudi, karena suasana malam di sana cukup indah. Mereka biasanya datang berkelompok, menjadikan Kafe Saranghae sebagai tempat nongkrong. Berkat mereka pula, Kafe Prita cukup terkenal sebagai kafe kekinian di dunia maya. Sebab, banyak pengunjung yang mendokumentasikan kunjungan mereka di akun sosial media.
Kafe Prita terkenal dengan julukan kafe aestetik, harga merakyat. Karena harga di kafenya memang benar-benar murah dan rasa masakannya pun enak. Belum lagi pelayanan yang ramah dan suasana yang hangat. Pantas untuk dijadikan rekomendasi tempat nongkrong atau bercengkrama dengan keluarga.
"Eoseo oseyo... Selamat datang di kafe kami... " seorang pelayan berpakaian hanbok menyapa pelanggannya yang baru datang. Pelayan itu tampak terkesima dengan pengunjung pria itu. Wajahnya tergolong tampan, seperti oppa-oppa Korea.
"Saya ingin bertemu dengan Prita. Apa dia ada?" tanya lelaki itu.
"Ah! Eum... Bu Prita ada. Mari saya antar!" pelayan itu menjawab dengan sedikit teegagap karena sejak tadi ia melamun.
Lelaki itu berjalan mengikuti pelayan itu memasuki kafe.
"Bu Prita, ada yang ingin bertemu."
Prita yang sedang mencicipi masakan menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh ke arah asal suara.
"Hah, Irgi...!?" serunya.
Prita segera keluar dari dapur menghampiri Irgi. Ia memberikan pelukan singkat kepada sahabatnya itu.
"Kamu sudah pulang lagi?" tanyanya yang masih terkejut melihat Irgi mampir ke kafenya. Terakhir bertemu setelah insiden di hotel Irgi sempat menemuinya untuk berpamitan kembali ke Singapura.
"Iya, aku kangen kamu jadi ingin sering pulang."
"Hahaha... gombal!" Prita memukul lengan Irgi. "Ayo kita bicara di ruanganku saja." ajaknya.
Seperti biasa, Prita mengajak tamunya ke ruangannya di lantai dua.
"Duduk dulu, Ir."
Prita mengambil dua kaleng minuman ringan dari dalam kulkas kecil dan menaruhnya di atas meja.
"Kapan pulang?"
"Tiga hari yang lalu."
"Kok nggak menghubungiku?"
"Aku sudah menghubungi Ayash. Apa dia tidak memberitahu?"
Prita menggeleng. Ayash memang tidak membahas apapun beberapa hari ini.
"Dasar teman sialan dia!" gumam Irgi.
"Tumben sekarang bisa pulang-pulang terus."
"Soalnya sekarang ada pacar, Ta. Jadi ada alasan pulang."
"Lho, kamu sudah balikan sama Raeka, ya?" tebak Prita.
"Iya. Nggak apa-apa, kan... kalau aku balikan sama dia?"
"Ya nggak apa-apa. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Takutnya kamu nggak setuju... Dulu kan kalian musuhan."
"Dia yang musuhin aku, Ir. Padahal dari dulu aku nggak pernah melarang-larang kalian pacaran, lho. Aku nggak tahu kenapa dia benci banget sama aku."
"Nggak tahu juga. Tapi kalau kamu tidak setuju hubunganmu dengannya, aku juga akan menjauhinya lagi."
Tuk!
Prita menyentil dahi Irgi. "Itu sama saja membuatku dan Raeka musuhan lagi. Kamu itu ya, seharusnya lebih mementingkan pacarmu daripada aku!"
"Aku nggak bisa baik sama orang yang jahat kepadamu."
"Dia cuma cemburu saja, Ir. Sebenarnya Raeka tidak jahat."
"Apapun itu. Kalau dia membuat hubungan kita tidak nyaman, aku akan menjauhinya. Bagiku, kamu sudah seperti adikku sendiri." Irgi menepuk puncak kepala Prita.
"Terima kasih, ya, Ir. Kamu membuatku merasa masih memiliki keluarga."
Irgi menyunggingkan senyum, "Kamu memang keluargaku, Ta. Kalau ada masalah apapun, kamu bisa mengandalkanku."
Ceklek!
Pintu ruangan dibuka. Ayash berdiri di ambang pintu karena kaget melihat ada Irgi di ruangan itu.
"Irgi... ngapain di sini?"
Segera Ayash masuk dan duduk di sebelah Prita. Ia menggeser posisi duduk Prita hingga menempel di dekatnya. Ia memeluk Prita dengan posesif.
"Hmm... berasa aku mau merebut Prita."
"Prita pacarku, Irgi."
"Sudahlah, Irgi hanya mampir ke sini." ucap Prita mencoba melepaskan tangan Ayash.
"Aku ingin mengajak kalian double date weekend ini. Apa kalian ada waktu?"
Ayash memicingkan matanya, "Double date? Memangnya kamu punya pacar?"
"Punya, lah... bisa nggak?"
"Bisa... kamu bisa nggak, Yang?" tanya Ayash pada Prita.
"Bisa."
"Kemana?"
"Taman hiburan. Nanti aku beritahu waktunya."
Irgi melihat jam tangannya, "Ah, sepertinya aku harus segera pergi. Aku juga mau mengganggu kalian. Aku pulang dulu, Ta."
Irgi bangkit dari duduknya. Prita ikut berdiri. Mereka berpelukan.
"Terima kasih sudah mampir ya." ucap Prita.
"Iya. Lain kali aku mampir lagi." Irgi menyunggingkan seulas senyum sebelum keluar dari ruangan.
Ayash tampak kesal melihat pacarnya akrab dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa?" tanya Prita.
"Kalian membicarakan apa?" pertanyaan Prita dibalas pertanyaan dari Ayash.
"Membicarakan tentang pacar Irgi."
"Siapa pacarnya?"
"Raeka."
"Hah? Raeka? Dia balikan dengan nenek sihir itu?"
"Hust! Jangan begitu."
"Ya dia kan memang nenek sihir. Dari dulu selalu menyulitkanmu."
"Mungkin dulu dia hanya cemburu karena aku dan Irgi cukup dekat."
"Terus, kenapa sekarang masih dekat-dekat Irgi? Nanti Raeka kumat lagi."
"Hahaha... makanya kita harus kencan bareng mereka, supaya Raeka tahu kalau aku juga sudah punya pacar, nggak mungkin pacaran juga dengan Irgi."
"Oh, iya. Kenapa tidak bilang kalau Irgi pulang?"
"Aku nggak suka kalian bertemu." jawab Ayash dengan sangat jujur.
"Kenapa?"
"Ya, kalian seperti orang pacaran kalau sudah berdua. Bukan hanya Raeka yang merasa begitu, aku juga sama!"
Prita mengerutkan keningnya, "Kamu cemburu?"
"Iya, lah! Kalian peluk-pelukan setiap bertemu. Siapa yang nggak cemburu, coba!" ketus Ayash.
"Sejak dulu kan memang selalu begitu. Kenapa baru cemburu sekarang? Kenapa waktu SMA nggak pernah protes?"
"Ya sekarang kan kita pacaran." jawab Ayash dengan nada lirih.
Prita hanya tersenyum. Padahal sejak SMA memang mereka berlima sering bergandengan tangan ataupun berpelukan biasa. Baru sekarang Ayash panas dengan sahabatnya sendiri.
"Sudahlah. Kamu mau makan apa?"
"Nasi goreng saja."
"Oke."
Prita berjalan ke mejanya, meraih gagang telepon. "Yaya... antarkan 2 nasi goreng dan lemon juice ke ruangan saya, ya. Makasih." Prita meletakkan kembali gagang teleponnya.
"Bagaimana dengan pekerjaan di sini, apa kamu merasa kewalahan?"
Prita menggeleng, "Tidak. Berkat Icha, Brisia, Yogi, dan Pak Didi, aku bisa menangani sendiri kafe ini."
"Kalau kamu merasa kewalahan, aku bisa menghubungi mereka untuk membantumu lagi."
"Sementara ini aku masih sanggup menangani sendiri."
Ayash menarik tubuh Prita mendekat padanya, "Tapi semenjak kamu mengurusi kafe, kita jadi jarang menghabiskan waktu bersama. Aku pulang malam, kamu juga pulang malam."
__ADS_1
"Setidaknya setiap makan siang kita bisa makan bersama."
"Iya."