ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Dunia Baru


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan Kafe Saranghae beroperasi dan susasananya masih seramai saat awal-awal buka. Prita sedang mengerjakan laporan keuangan kafe di ruangannya. Dia bersyukur telah dipertemukan dengan Yoga oleh Ayash. Dia telah banyak mengajari Prita membuat pembukuan keuangan dengan cara yang simpel dan mudah dipahami.


Terwujudnya Kafe Saranghae tak lepas dari jasa Icha, Brisia, Yoga, dan Pak Didi. Mereka telah mempersiapkan dengan baik pondasi kafe sebelum Prita menjalankannya. Mereka hanyalah orang-orang yang menjadi batu loncatan bisnis Prita. Karena setelah kafe berjalan, mereka tidak lagi terlibat dalam pengelolaan. Prita sendiri yang kini menjalankannya bersama para karyawannya.


Meskipun sudah tidak ikut mengurusi kafe, Prita masih tetap menjalin komunikasi dengan keempat orang hebat itu. Prita akan menghubungi Yoga ketika mengalami kesulitan dalam hal pembuatan laporan keuangan. Ia juga akan bertanya kepada Brisia jika berkenaan dengan kinerja karyawannya. Ia kadang juga membahas menu masakan baru dengan Pak Didi. Sedangkan tentang interior kafe, ia berdiskusi dengan Icha untuk penataan interior kafe agar tidak membosankan.


Bertemu dengan orang-orang baru, melakukan hal-hal baru, membuat Prita seperti mendapatkan dunia baru. Sebelumnya ia hanya mengerti dunia mengajar, bertemu anak-anak. Juga orang-orang di restoran meskipun ia hanya sebagai tukang cuci piring selama lima tahun. Kehidupannya kini sangat berbeda dengan lima tahun lalu. Ia bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang yang tepat.


Drrt... Drrt...


Ponsel Prita bergetar. Dilihatnya kontak penelepon pada layar ponselnya. Nomor ibu Ayash. Prita agak gemetar untuk mengangkat telepon dari calon ibu mertuanya.


"Halo... " sapanya.


"Halo, Sayang... apa kabar?"


"Baik, tante. Tante dan om di sana juga apa kabar?"


"Kami di sini baik, Sayang... Lama sekali ini suami tante, pekerjaannya belum selesai juga. Tante sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Rasanya tante ingin pulang sendiri ke sana."


"Jangan, Tante, kasian om nanti kesepian."


"Hahaha... iya, sih. Kalau tante tidak ada, suami tante suka telat makan. Repot kalau maag nya kambuh. Ayash itu sama seperti ayahnya, punya riwayat maag. Makanya tante juga sering khawatir dengannya. Untungnya ada kamu, Sayang. Tante jadi tidak terlalu khawatir."


"Iya, Tante. Ayash selalu sarapan pagi sebelum berangkat kerja. Sakitnya juga tidak pernah kambuh sekarang."


"Syukurlah. Tante dengar kalian tinggal di apartemen, ya?"


Jantung Prita berdetak lebih kencang mendengar pertanyaan itu. Ia merasa ragu untuk memberi jawaban. "Mmm... iya, tante. Kata Ayash lebih dekat kalau ke kantor daripada tinggal di mansion."


"Ya sudahlah, itu terserah kalian. Tante lebih senang jika kalian tinggal di mansion. Di sana ada banyak orang. Tante khawatir Ayash akan macam-macam kalau hanya tinggal berdua saja di apartemen."


Wajah Prita memerah karena malu.


"Prita... "


"Iya... "


"Apa... kalian sudah tidur bersama?"


Rasanya Prita ingin segera menutup teleponnya. Ia benar-benar malu dengan pertanyaan ibu Ayash yang selalu menjurus ke arah itu.


"Ttidak, Tante... kami selalu tidur terpisah." jawab Prita dengan nada sedikit gugup.


"Syukurlah. Tante harap, kalian bisa menahannya ya, sampai menikah."


"Iya, Tante."


"Kalau melihat kepribadian Ayash, sebenarnya mustahil kalau dia bisa menahan diri dengan keberadaanmu."

__ADS_1


Prita menggigit bibir bawahnya, mengingat Ayash memang sering mengajaknya berciuman bahkan terkadang menyentuhnya meskipun tak sampai kelewatan. Membayangkan kemesumam itu saat bertelepon dengan calon mertuanya membuatnya sangat merasa malu. Untunglah ia hanya di ruangan itu sendiri.


"Sekitar satu bulan lagi tante akan pulang. Nanti kita bahas pernikahan kalian setelah tante pulang, ya. Sementara ini, kalian harus tetap menjaga hati. Jangan sampai kebablasan."


"Baik, Tante."


"Ah, iya. Kata Ayash, kamu sudah membuka kafe, ya?"


"Iya."


"Itu bagus. Wanita harus bisa mandiri agar bisa tetap bertahan hidup jika kelak harus hidup tanpa suami. Jangan seperti tante."


Prita terdiam. Ia sudah pernah mendengar cerita tentang ibunya Ayash.


"Ah, tante jadi berbicara panjang lebar begini. Maaf, ya, padahal kalian sudah dewasa, tapi tante masih ikut campur dengan kehidupan kalian."


"Tidak apa-apa, Tante. Artinya Tante perhatian dengan kami berdua. Kami juga akan berusaha untuk tidak membuat Tante kecewa."


"Ya sudah, tante pamit dulu. Kamu juga pasti sedang sibuk bekerja. Jaga dirimu."


"Iya."


Tut.


Sambungan telepon dimatikan. Prita menghembuskan nafasnya kencang. Seperti ada kelegaan di hatinya. Entah kenapa perbincangan dengan ibu Ayash masih membuatnya canggung, padahal ia tahu, ibu Ayash orang yang sangat baik dan lemah lembut.


Trililit... Trililit...


Prita mengangkat gagang telepon, "Halo?"


"Bu, ada tamu yang ingin bertemu."


"Persilakan masuk ke ruangan saya."


"Baik, Bu."


Tut.


Prita meletakkan kembali gagang telepon. Prita kembali duduk di kursi kerjanya menyelesaikan laporan yang tadi ia buat.


Tok tok tok...


Suara pintu diketuk.


"Masuk." pinta Prita.


Ceklek


Seseorang masuk ke ruangan. Prita langsung berdiri dari duduknya dan berlari ke arah tamunya.

__ADS_1


"Raya... " serunya seraya memeluk erat tubuh Raya.


"Ayo, duduk sini." Prita mempersilakan Raya duduk di sofa.


"Aku senang sekali kamu datang."


"Iya, ini aku dari sekolah langsung mampir kemari. Maaf ya, baru sempat datang."


"Nggak apa-apa. Kamu bisa datang saja aku sudah senang. Aku juga minta maaf karena jarang bisa menghubungimu."


"Iya, kamu kan harus fokus mengurusi bisnis barumu ini. Kafemu bagus banget."


"Hehe... makasih."


"Setelah kamu berhenti dari TK, pekerjaan jadi numpuk, Ta. Biasanya aku ada teman ngobrol kalau sedang mengerjakan administrasi. Aku juga mengajar sendiri di kelas. Repotnya minta ampun mengurusi anak-anak." keluh Raya.


"Memangnya belum ada guru pengganti, ya?"


"Belum. Kalau yang daftar sih ada beberapa. Tapi Bu Retno belum mengambil keputusan."


Prita menghela nafas, "Aku juga kadang kangen mengajar anak-anak."


"Kita sekarang saling sibuk di dunia masing-masing, ya, Ta. Aku sibuk mengajar, kamu sibuk berbisnis. Sepertinya ini memang duniamu, deh. Kamu cocok berbisnis."


"Makasih, Ray. Kita saling mendoakan semoga kita bisa sukses di jalan masing-masing."


"Pasti."


"Ah, iya. Kamu harus mencicipi menu kafe ini, ya. Aku juga butuh review-mu juga untuk kepentingan promosi." Prita mengerlingkan sebelah matanya.


"Hahaha... jiwa bisnismu jalan. Aku mau coba jjajangmyeon saja. Sering lihat di Drama Korea, ingin juga tahu rasanya."


"Oke."


Prita lantas menghubungi karyawannya yang ada di dapur untuk membawakan dua jjajangmyeon, lemon tea, dan air mineral ke ruangannya.


Tak berapa lama, seorang karyawan datang membawakan pesanan yang diminta Prita.


"Ayo kita makan." ajak Prita.


"Wah... berasa jadi artis Korea ini." Raya segera mencicipi jjajangmyeon yang ada di hadapannya.


"Gimana rasanya?"


"Enak, Ta! Aku bakalan rekomendasikan ke teman-teman di TK untuk mampir kesini. Mantap!"


"Hahaha... aku jadi kangen nonton Drama Korea bareng kamu. Kita sampai nangis-nangis segala."


"Hem, harus kita agendakan untuk nonton bareng!"

__ADS_1


Keduanya menikmati jjajangmyeon sambil terus berbincang dengan hal random yang membuat mereka sesekali tertawa.


__ADS_2