
Malam semakin larut. Suasana kota masih saja ramai meskipun sebentar lagi hari akan berganti. Kota ini terasa tak pernah mati. Sekalipun malam hari, masih ada sebagian orang yang tetap beraktivitas.
Ayash fokus mengemudikan mobilnya. Sesekali matanya melirik ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Prita tampak gelisah. Sejak tadi ia terus meremas-remas kedua tangannya. Ia kebanyakan menunduk atau sesekali mengalihkan pandangan ke arah kaca jendela.
Hening. Tak ada yang mau memulai pembicaraan. Pertemuan yang mereka nantikan justru terasa sangat canggung.
Ayash merasa Prita masih syok dan butuh waktu untuk bicara. Hari-hari yang Prita jalani pasti sulit, sama seperti yang ia rasakan.
"Yash... kita mau kemana?" tanya Prita ketika mobil yang Ayash kendarai semakin mendekati bangunan yang ia kenali.
"Hari sudah larut, kita istirahat dulu di apartemen yang aku sewa. Besok, baru kita pulang."
Tiba-tiba Prita menangis. Tangannya dengan gemetar memegang tangan kiri Ayash. Melihat hal itu, Ayash langsung menghentikan mobilnya di depan The Crown Apartemen.
"Sayang, kamu kenapa?" Ayash tampak khawatir melihat Prita.
"Yash... hiks... hiks... " Prita tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Ayash meraih Prita membawanya kedalam dekapan dan mencoba menenangkannya.
"Tenanglah, aku ada di sini." Ayash mengelus puncak kepala Prita. Sepertinya Prita ketakutan. "Apa yang kamu takutkan?"
"Jangan kesini.... mereka ada di sini.... hiks... hiks.... "
Ayash masih mencerna kata-kata Prita. Siapa sebenarnya yang Prita takuti? Kenapa dia takut dengan apartemen itu?
Deg!
Ayash tiba-tiba ingat percakapannya dengan orang yang menjadi mata-matanya. Prita pernah disekap di salah satu unit apartemen itu. Unit yang selalu dijaga oleh banyak anak buah Tiger King. 'mereka' yang Prita maksud mungkin orang-orang Tiger King.
"Jangan takut. Aku tidak akan membiarkan mereka membawamu lagi. Kita hanya akan masuk sebentar, mengambil barangku. Setelah itu, kita langsung pergi."
Prita mengeratkan pelukannya, "Jangan masuk... aku mohon bawa aku pergi jauh dari sini."
"Sayang.... "
"Please.... " Prita tetap kekeh tak mau masuk.
"Oke. Kita tidak akan masuk ke sana. Kita pergi sekarang."
Prita merasa tenang. Ia melepas pelukannya. Dipandanginya wajah Ayash dengan mata berkaca-kaca. Itu benar-benar Ayash.
Ayash mengusap sisa air mata yang membasahi pipi kekasihnya itu. Wajahnya tampak sayu.
"Jangan menangis lagi. Kita akan segera pergi."
Ayash kembali menghidupkan mesin mobil membawanya keluar dari area apartemen. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo... kamu masih bangun, kan?"
".... "
"Tolong ambilkan barang-barangku yang ada di The Crown Apartement dan antarkan ke hotel tempatku menginap sebelumnya."
__ADS_1
".... "
Ayash memandang ke arah Prita. Wanita itu masih meremas-remas tangannya. Ayash menggenggam tangan itu. Prita memandang ke arahnya dengan tatapan mata yang tetap sayu.
"Kita akan baik-baik saja. Aku akan menjagamu."
Ucapan Ayash dan genggaman tangannya membuat Prita sedikit tenang. Ia masih tak menyangka akhirnya bisa bersama Ayash lagi.
*****
Ayash memandangi Prita yang tertidur di sampingnya. Sesampainya di hotel, Ayash langsung menyuruhnya tidur karena wajahnya terlihat pucat kelelahan. Prita menurut, dengan syarat Ayash tak boleh meninggalkannya. Tangan Ayash bahkan masih terus dipegang erat meskipun sudah terlelap. Seperti mengisyaratkan jika Ayash tak boleh pergi dari sisinya.
Prita menjadi lebih pendiam. Gestur tubuhnya mengisyaratkan kekhawatiran dan rasa takut tapi tak mau mengungkapkannya. Ayash juga tak ingin memaksa Prita untuk menceritakan semuanya. Ia akan mendengarkan ketika Prita sudah siap bercerita.
Ting tong....
Ada yang menekan bel kamar. Perlahan Ayash melepaskan tangannya dari genggaman Prita. Ia beranjak menuju pintu.
Klek!
Orang yang Ayash telepon akhirnya datang mengantarkan barangnya.
"Terima kasih sudah mengantarkan barangku." ucapnya.
"Apa ada hal lain yang harus saya kerjakan?"
"Prita sudah ditemukan. Kalian tidak perlu lagi mencarinya. Tapi, besok pagi, lakukan pengamanan di bandara. Aku dan Prita akan pulang ke Kota S, jangan sampai Tiger King menghalanginya."
"Baik, Pak."
Orang itu mengangguk dan langsung pergi. Ayash membawa barangnya masuk ke dalam kamar. Prita masih tidur. Ia mengambil ponsel dan mendial nomor Irgi.
Drrrt... Drrrt... Drrrt....
Cukup lama panggilan tak juga diangkat oleh Irgi. Ayash mencoba menghubungi sekali lagi.
"Hmmm... Halo.... " Irgi mengangkat telepon dengan nada suara seperti orang masih ngantuk.
"Kamu belum tidur?" Ayash bertanya basa-basi tanpa rasa bersalah.
"Belum tidur katamu? Aku terbangun gara-gara teleponmu, sialan! Kenapa pagi-pagi buta begini menelepon?"
Wajar Irgi marah. Ini masih jam 2 dini hari.
"Besok tolong jemput aku di bandara. Aku ambil penerbangan pagi. Jangan terlambat."
"Hah, apa!? Kamu pikir aku sopirmu? Berani-beraninya memerintahku. Memangnya kamu siapa? Kita tidak sedekat itu ya. Sialan, pagi-pagi buta mengganggu tidurku cuma untuk jadi sopirmu. Hubungi Egi saja sana! Dia kan asisten kesayanganmu kenapa malah menyuruhku!"
Nada bicara Irgi terdengar sangat kesal. Ayash dengan entengnya memerintah dia sesuka hati.
"Kamu kan masih pengangguran, Ir. Banyak waktu luang, kan? Aku kasihan kalau harus merepotkan Egi. Dia kan banyak kerjaan, butuh banyak istirahat."
Bukannya meminta maaf, Ayash justru mengeluarkan kata-kata yang semakin membuat Irgi kesal. Bercandaannya terlaku serius dan menohok.
__ADS_1
"Heh, dasar songong! Siapa juga yang mau menjemputmu. Pulang saja sendiri!"
"Yakin, nggak mau jemput aku?"
"Nggak mau! Sudah-sudah... aku mau lanjut tidur."
"Aku pulang bersama Prita."
"Hah!? Apa... ? Prita? Kamu sudah menemukannya? Berikan telepon padanya. Aku ingin bicara dengannya."
"Hem, dia masih tidur."
"Kamu pasti bohong kan? Aku tidak percaya kalau belum bicara dengan Prita."
"Dasar bodoh! Masa aku harus membangunkannya. Tunggu sebentar!"
Ayash menekan tombol kamera dan mengarahkannya pada Prita.
Klik!
Ia mengambil satu gambar Prita kemudian mengirimkannya kepada Irgi.
"Oh, syukurlah. Baiklah, besok aku akan jemput kalian di bandara."
"Ir.... "
"Ya?"
"Besok jangan membahas atau bertanya apapun yang berkaitan dengan peristiwa penculikan kepada Prita."
Percakapan yang tadinya dipenuhi canda kini berubah menjadi sedikit serius.
"Kenapa?"
"Biarkan dia yang menceritakan sendiri tanpa kita harus bertanya. Jika dia tidak mengatakan apapun berkaitan dengan hal itu, artinya dia memang tak mau membahasnya."
"Maksudmu... Apa sepertinya dia punya tanda-tanda trauma."
"Iya. Dia lebih pendiam. Raut wajahnya juga penuh ketakutan dan kecemasan."
"Ah, aku tak bisa membayangkan. Pasti sudah banyak hal sulit yang harus ia jalani."
"Kita buat dia nyaman tanpa harus mengungkit hal yang mungkin tak ingin ia ingat. Pokoknya, bersikaplah biasa dan hilangkan rasa ingin tahu."
"Ya, pasti aku lakukan. Kamu juga harus jaga dia dengan baik. Jangan sampai hal kemarin terulang lagi. Aku akan menganggapmu musuh jika tidak bisa mebjaga Prita."
"Pasti."
"Ya sudah. Aku mau lanjut tidur supaya besok tidak telat menjemput kalian."
"Thanks sebelumnya."
"Ya."
__ADS_1
Klik.
Sambungan telepon terputus. Ayash meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Ia bergegas menaiki ranjangnya, membaringkan tubuh di sebelah Prita. Tak bosan-bosan ia memandangi wajah cantik itu. Ia labuhkan sebuah kecupan di bibir Prita sebelum akhirnya ikut memejamkan mata di sebelahnya.