ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Pertemuan yang Terencana


__ADS_3

Raya duduk di bangku taman kota menunggu kedatangan Egi. Hari ini, mereka sepakat akan jalan berdua untuk lebih saling mengenal. Sebenarnya kurang tepat disebut kesepakatan, karena Raya yang memaksa. Tapi, Egi begitu dewasa untuk menerima permintaan Raya. Entah ada kelanjutan atau tidak setelah hari itu, yang penting mereka sudah mencoba.


Raya mengenakan setelan kaos polos warna putih dan celana jeans. Alas kaki ia pilih sepatu kets putih agar tidak membuat kakinya lecet saat berjalan. Meskipun ia serius ingin mengenal Egi, namun ia tak menampilkan imej orang lain. Ia tampil sesuai dengan yang ia rasa nyaman tanpa berpura-pura sok feminim seperti sebelum-sebelumnya.


"Apa saya terlambat?" suara berat seorang pria membuatnya terkejut.



Raya terperangah menatap sosok yang ada di hadapannya. Ia seperti melihat sisi lain Egi. Seorang yang biasa fokus dengan pekerjaannya, pembawaannya serius dan selalu berpakaian rapi, kini bisa tampil begitu santai. Hampir Raya tak mengenali.


Egi kelihatan lebih muda dalam balutan sweater dan celana jeans berwarna senada. Tidak tampak jika dia sudah berusia 30-an lebih, malah masih pantas sebagai mahasiswa.


"Ah, tidak kok. Saya aja yang kepagian." Raya tersipu malu.


"Kita mau kemana?"


"Saya punya dua tiket gratis ke kebun binatang. Bagaimana kalau kita ke sana?"


"Baiklah. Kamu mau tunggu di sini atau sekalian ikut saya ke parkiran? Saya parkirnya agak jauh."


Raya bangkit dari duduknya, "Saya ikut Pak Egi saja."


"Mmm... boleh saya tanya sesuatu?"


Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir.


"Tanya apa, Pak? Tapi jangan yang susah-susah."


"Hahaha... memangnya ini ujian. Saya hanya mau tanya, em.... menurut kamu penampilan saya bagaimana?" Egi menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Bagus kok, Pak. Anda jadi kelihatan lebih muda."


"Memangnya saya biasanya kelihatan sudah tua, ya?"


"Em, tidak juga sih. Kalau memakai pakaian kerja, Pak Egi kelihatan dewasa dan berwibawa."


"Ini sebenarnya yang memilihkan pakaian teman saya. Katanya kalau saya dandan seperti biasa nanti dikira om-om jalan bareng keponakan."


Raya menahan tawanya. Omongan teman Egi memang ada benarnya.


"Saya takutnya salah penampilan dan membuat kamu malu atau tidak nyaman jalan sama saya."


"Tidak apa-apa. Pak Egi mau berpakaian formal juga saya tidak merasa terganggu. Seharusnya Bapak berpenampilan senyamannya saja."


"Sesekali berpenampilan begini juga nyaman, kok."


"Pak Egi sampai memikirkan penampilan untuk pergi dengan saya. Padahal semua ini saya yang menginginkannya. Maaf ya, Pak. Kalau membuat Bapak merasa terbebani."

__ADS_1


Ada rasa tak enak hati dalam diri Raya. Ia tak menyangka kalau Egi bisa sampai seperti itu untuk memenuhi permintaan jalan bersamanya. Padahal, dia saja berpenampilan sangat casual. Ia trauma dengan kencan-kencannya yang dulu. Dia selalu berusaha tampil maksimal, memaksakan diri memakai sepatu hak tinggi, namun pada akhirnya tetap saja dia dicampakan.


"Ah, tidak sama sekali. Ini juga keinginan saya. Sesekali pergi saat akhir pekan lumayan menyenangkan. Tidak perlu memikirkan jadwal dan tumpukan berkas yang harus di teliti. Pokoknya, hari ini kita harus bersenang-senang sampai puas."


Raya tersenyum. Jawaban Egi sedikit melegakan hatinya.


*****


"Sayang, aku mau langsung cek gedung sekalian ketemu vendor pernikahan kita. Kamu jangan terlalu lelah bekerja, ingat, kamu sedang hamil. Nanti siang aku jemput lagi untuk check-up ke dokter."


"Iya."


Prita melabuhkan pelukan kepada Ayash. Calon suaminya sangat perhatian. Setiap hari rela antar jemput dirinya di kafe. Akhir pekan seperti ini Ayash masih sibuk untuk mempersiapkan pernikahan. Walau tidak digelar secara besar-besaran atau katanya biasa saja, tapi kelihatannya tetap banyak yang harus diurus. Semuanya tidak akan beres jika tidqk ada campur tangan Mama Maya.


Kali ini Ayash harus melihat sendiri gedung pernikahannya dan bertemu orang-orang yang akan mendukung kelancaran acara. Tak terasa kurang dari dua minggu mereka akan menikah.


"Kalau begitu aku masuk dulu ya. Anak-anak juga sepertinya sudah berangkat semua."


Cup


Prita memberikan ciuman singkat di bibir Ayash sebelum turun dari mobil.


"Pagi, Mba Prita." sapa Yeni, salah satu karyawan yang sedang mengepel.


"Pagi, Yen. Dika sudah datang belum?"


"Oke."


Prita menuju ke arah dapur. Di sana sudah ada enam orang karyawannya yang sedang sibuk menata bahan-bahan, bumbu dan peralatan. Ada pula yang sedang memasak.


"Eh, Mba Prita sudah datang." sapa Tia.


"Gimana masakannya, sudah selesai?"


"Sebentar lagi selesai mba."


"Dika mana?"


"Tadi sepertinya ke gudang belakang ambil tepung."


"Ya sudah, dilanjutkan saja masaknya. Aku ke gudang dulu."


Prita kembali berjalan menuju area belakang.


"Dika.... "


Dika yang hampir mengangkat kantong tepung menghentikan kegiatannya ketika mendengar panggilan dari Prita. Ia segera berjalan menghampiri Prita di depan pintu gudang.

__ADS_1


"Ada apa, Mba?"


"Catatan yang saya minta sudah selesai belum?"


Dika menepuk kepalanya, "Maaf, Mba. Saya lupa. Hehehe.... " Dika pasrah jika harus dimarahi karena kelalaiannya.


"Aduh, bisa lupa begitu. Mikirin apa sih, Bang Dika?"


"Anak-anak dapur dari tadi minta bantuan terus, Mba. Jadi saya belum sempat mengerjakan catatan yg Mba Prita minta."


"Setelah ini akan langsung saya kerjakan, Mba."


"Ya sudahlah, nanti kalau sudah selesai bawa ke ruangan saya, ya."


"Siap, Mba."


Prita berjalan meninggalkan area belakang kafe menuju tangga ke lantai atas. Di atas, ada Geri yang yang sedang membereskan area atas.


"Pagi, Ger."


"Pagi, Bu."


Prita sudah sampai di depan pintu ruangannya. Ia menekan enam digit nomor sandi untuk membuka pintunya.


Klik.


Pintu terbuka. Ia masuk ruangan dan menutup kembali pintunya.


Saat menutup pintu, sepertinya di belakang tubuhnya ada sosok orang lain selain dirinya. Prita mulai cemas. Instingnya mengatakan ada hal buruk yang akan terjadi. Ia sangat takut untuk berbalik.


Prita berniat menekan pin pintu dan keluar. Sebelum niatnya terlaksana, tangannya dihentikan oleh orang itu.


Srek!


Lelaki itu menarik tangan Prita dan memojokkannya ke pintu. Seorang lelaki memakai topi dan masker yang menutupi wajahnya. Sorot matanya tajam. Ia melepas maskernya dengan sekali tarikan.


Mata Prita membulat. Tubuhnya tiba-tiba gemetar dan rasa takut menguasai dirinya.


Bayu. Lelaki itu adalah Bayu.


Orang yang paling tak ingin ditemui Prita kini sudah ada di hadapannya. Mengapa orang seperti dia bisa dengan mudah datang sesuka hati dalam hidupnya. Ketika ia mulai menerima kondisi dirinya, tiba-tiba luka yang dulu ada seakan kembali terbuka lagi.


"Apa kamu merindukanku?" Bayu membelai lembut wajah Prita, menyelipkan anak rambit yang terjuntai menutupi wajah ke belakang telinga.


Tubuh Prita seakan kaku tak berkutik. Alam bawah sadarnya mengingat jelas bahwa tubuhnya harus mematuhi lelaki itu jika tak ingin terluka. Ia kembali dalam jerat rantai yang baru saja terlepas. Bayu tak akan membiarkannya pergi.


"Kamu masih terlihat cantik. Aku sangat merindukanmu."

__ADS_1


__ADS_2