ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Psikolog


__ADS_3

"Bagaimana dengan Prita?"


"Masih sama."


Ayash dan Irgi tampak sedang berbincang-bincang di ruang tamu apartemen Ayash. Mereka berbicara dengan nada yang pelan dan lirih. Prita masih sibuk memasak makan malam di dapur. Mereka tak ingin Prita sampai mendengar percakapannya.


"Dia belum mau bercerita?" Irgi menekankan pertanyaannya.


"Dia tidak bercerita sedikitpun tentang apa yang dia alami. Kadang, hal kecil yang bisa mengingatkannya saja dia langsung menangis. Aku tidak berani bertanya."


"Beberapa hari aku menemaninya di sini, aku sering melihatnya melamun. Dia memasak sambil melamun, mencuci piring sambil melamun, nonton tv juga melamun. Kalau tidak aku ajak ngomong, mungkin dia akan melamun seharian. Aku juga pernah mendengarnya menangis saat mandi."


"Heh! Kamu ngintip Prita?" Ayash melotot mendengar perkataan Irgi.


"Siapa yang ngintip? Aku bilang kan cuma dengar, sialan!" Irgi meninggikan suaranya


"Pelankan suaramu, bodoh!"


"Kamu yang membuatku emosi!"


Mereka berdua melihat ke arah Prita. Untungnya dia tidak mendengar keributan yang mereka buat karena masih fokus memasak.


"Prita aku ajak keluar juga tidak mau. Bahkan, aku ajak ke kafenya saja tidak mau. Katanya mau di rumah saja."


"Apa dia jadi takut dunia luar? Takut bertemu orang?"


"Sampai separah itu?"


"Ya, aku ajak ke kantor juga tidak mau. Makanya aku menyuruhmu menemaninya di sini. Setiap tengah malam, ia selalu terbangun dan minta pindah tidur di kamarku."


"Heh! Kalian tidur bareng? Dasar brengsek cari-cari kesempatan!" umpat Irgi.


"Itu kemauan Prita.... "


"Halah! Kemauanmu juga kan?"


"Prita takut, aku bisa apa kalau dia nyaman di dekatku? Lagipula, aku kan pacarnya. Kalau kamu iri, lakukan saja dengan Raeka."


"Yayaya... terserahlah. Aku kan hanya menjaga jodoh orang."


"Menurutmu, apa perlu kita datangkan psikolog untuk Prita?"


"Jangan asal memanggil psikolog, kita harus meminta pendapat Prita dulu. Kalau dia mau, ya kita carikan psikolog."


"Kalau dia tidak mau?"


"Ya jangan memaksa, lah!"


"Sibuk membahas apa sih kalian? Sejak tadi kelihatannya seru banget." tiba-tiba Prita datang menghampiri mereka sambil melepas apronnya.


"Makan malamnya sudah siap, yuk makan bareng." ucapnya sambil tersenyum.


Kedua lelaki itu langsung diam. Mereka berpindah dari ruang tamu ke ruang makan mengikuti Prita.

__ADS_1


Prita mengisikan nasi di piring Ayash, Irgi, kemudian piringnya sendiri.


"Wah, mantap! Cumi asam manis dan cah kangkung buatan Chef Prita. Ini favoritku." Irgi tampak semangat mengambil lauk yang ada di meja.


Prita hanya senyum-senyum melihat kelakuan temannya itu.


"Yash, kamu mau tempe gorengnya?"


"Ya, ambilkan dua." Ayash tersenyum ke arah Prita, menyambut baik tawarannya.


Mereka makan sambil membahas hal-hal sepele. Sesekali ada tawa ketika Irgi berusaha melucu. Suasana makan malam itu menjadi seru.


"Ta... kita boleh nggak ngomong sesuatu?"


Suasana riang tiba-tiba hilang ketika Ayash seperti ingin membahas hal yang serius.


"Apa?" Prita tersenyum kaku.


"Kamu mau nggak ketemu psikolog?" celetuk Irgi.


Ayash menghela nafas. Temannya itu suka keceplosan bicara. Dia saja butuh persiapan untuk bicara malah sudah didahului.


"Psikolog?" Prita penasaran.


"Mmm... iya. Kamu pasti tahu kan, kalau aku dan Irgi sayang banget sama kamu." Ayash mencoba mencari kata-kata yang tidak menyakiti Prita.


"Aku sering lihat kamu melamun, Ta. Mungkin kalau kamu tidak bisa cerita masalahmu kepadaku atau Ayash, kamu bisa cerita ke psikolog." lagi-lagi Irgi menyerobot.


"Ta... kamu paham maksud kita, kan?"


"Ta, orang bertemu psikolog bukan hanya karena sakit jiwa, kan. Kadang, dengan bercerita kita bisa menemukan solusi dari suatu masalah."


Ayash memijat keningnya, "Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Kita tidak akan memaksa." Ayash menggenggam tangan Prita.


"Apapun keputusanmu, kita akan tetap mendukungmu, Ta."


"Ya, kalian berdua memang orang yang paling bisa membuatku nyaman saat ini. Akhirnya kalian tahu juga kalau aku sebenarnya juga tidak nyaman dengan diriku sendiri. Mungkin aku memang butuh pendampingan psikolog."


"Jadi kamu setuju, Ta?" Irgi bertanya dengan antusias.


Prita mengangguk. Ayash mengusap puncak kepalanya sebagai pujian atas keberanian Prita yang mau mendapatkan pendampingan psikolog.


*****


"Apa aku bilang! Wanita seperti Prita itu tidak cocok untukmu. Dia terlalu polos dan lugu. Menurutku, kamu lebih cocok dengan wanita yang liar dan agresif." ucap Tio sambil meneguk bir di gelasnya.


Bayu malam ini menghabiskan waktunya di club bersama teman-temannya. Apartemen rasanya hampa setelah Prita pergi. Ia ingin sedikit menghibur diri dengan menenggak alkohol.


"Kamu mau aku panggilkan teman wanita, Bay? Aku punya satu kontak cewek imut yang mungkin sesuai tipemu." kata Angga.


Bayu hanya tersenyum.


"Kenalkan juga padaku, Ngga!" Tio selalu semangat kalau membahas tentang wanita.

__ADS_1


"Aku menawarkan untuk Bayu, bukan untukmu."


"Berikan saja, Ngga. Aku juga tidak mau."


"Wah, baru kali ini Bos Bayu bilang tidak butuh cewek." Jaka ikut menyahut.


"Aku kemari khusus untuk minum-minum bersama kalian, bukan membahas wanita."


"Garing, Bay! Ranjang dingin kalau nggak ada selimut hidup."


"Tio... Tio... pikiranmu nggak pernah jauh-jauh ya dari ************."


"Hai semua... seru banget kayaknya. Boleh gabung, kan?" Karla tiba-tiba datang. "Hai Bay, lama juga ya tidak lihat kamu di club." dengan percaya dirinya Karla mengambil gelas ditangan Bayu kemudian meneguk habis isinya dengan gaya sensual.


"Wah, kebetulan Princess Karla datang. Teman kita Bayu sedang dilema."


Karla mengerutkan dahi mendengar ucapan Tio, "Hah, galau kenapa?"


"Prita pergi." sahut Jaka.


"Prita? Prita siapa?"


"Cewek yang Bayu bawa ke pestaku itu lho."


Karla baru ingat. Ya, Prita. Wanita yang bisa membuat Bayu sibuk dan tak pernah lagi berkumpul dengan teman-temannya.


"Oh, wanita itu ya. Aku sampai tak tahu namanya." Karla melirik ke arah Bayu yang tampak cuek dengan percakapan itu.


Karla menyuruh Tio untuk bergeser agar ia bisa duduk di sebelah Bayu. Bayu terlihat sedikit terusik.


"Kenapa wanitamu pergi? Apa karena pria lain?"


Bayu tak menjawab pertanyaan Karla.


"Dari wajahnya yang polos dia kelihatan seperti wanita baik-baik. Tapi, tampilan wanita seperti itu biasanya lebih menipu. Mereka itu tipe-tipe alim di luar saja, aslinya binal."


"Hahaha... kamu sedang ngomongin dirimu sendiri, Kar?" ejek Tio.


"Setidaknya aku tidak pernah mengkhianati Bayu seperti yang wanita itu lakukan."


"Memangnya kamu pernah jadi pacar Bayu?" tanya Angga.


"Kalau aku selama ini menganggap diriku pacar Bayu. Entah, Bayu mau mengakuiku atau tidak."


"Bagaimana, Bay? Karla pengin jadi pacar kamu itu."


"Maaf, Karla. Pacarku hanya Prita."


"Ya terserah saja. Aku tetap tidak menyerah." Karla mendekatkan wajahnya pada Bayu, "Kalau kamu butuh penghangat ranjang, aku siap 24 jam untukmu. Nomorku masih yang dulu." bisiknya sensual. Setelah mengatakan itu, Karla langsung pergi.


"Apa katanya, Bay?" Angga penasaran.


"Dia minta transferan uang." ucap Bayu enteng.

__ADS_1


Ketiga temannya langsung tertawa mendengar perkataan Bayu.


__ADS_2