ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Prita sedang memeriksa satu per satu pintu ruang kelas. Memastikan sudah dalam keadaan terkunci. Lagi-lagi ia harus pulang paling akhir. Raya sudah pulang terlebih dahulu karena ada urusan. Di sana masih ada Leo yang sedari tadi bermain ayunan. Ya, kali ini anak itu yang terlambat dijemput orangtuanya. Jam menunjukkan pukul setengah dua siang. Seharusnya Prita sudah harus bersiap ke restoran. Tapi, masih ada muridnya yang belum dijemput. Beberapa kali ia mencoba meghubungi nomor ibu Leo, namun tidak tersambung.


“Leo, papa mamamu kenapa belum menjemput, sayang?” tanyanya.


“Tidak tahu, Miss. Tapi biasanya aku dijemput sopir. Pak Ahmad yang biasa menjemput. Papa mama kan sibuk bekerja.” Jawab Leo dengan santai. Ia masih asyik memainkan ayunannya.


‘Bisa terlambat kerja aku.’ Batin Prita.


“Leo…. “ tiba-tiba terdengar suara orang memanggil. Prita dan Leo serentak menengok kea rah asal suara.


Deg!


Prita terkejut mendapati orang yang menjemput Leo adalah Bayu. Seketika peristiwa ciuman itu Kembali terbayang dipikirannya.


Sementara Leo tampak ceria. “Uncle Bayu….. “ Serunya sambal melambaikan tangan di atas ayunan yang ia naiki.


Bayu berjalan mendekat ke arah Prita dan Leo. Pandangan matanya mengarah ke Prita yang mencoba membuang muka dihadapannya. Ia tersenyum. Leo turun dari ayunan dan langsung memeluknya.


“Hai, Miss Prita.”


“Ah, iya. Hai.” Prita membalas sapaan itu dengan tetap menyembunyikan wajahnya.


“Terima kasih sudah menjaga keponakanku. Dan maaf karena terlambat menjemputnya.”


“Iya.”


“Kenapa Uncle yang menjemputku? Mana Pak Ahmad?” tanya Leo dengan wajah polosnya.


“Pak Ahmad sedang mengantar Aunty Bella ke bandara, jadi tidak bisa menjemputmu. Papamu yang menyuruh Uncle kesini.”


“Oh, begitu.”


Prita tampak tidak nyaman dengan keberadaan Bayu dan Leo. Ingin rasanya dia menyuruh mereka segera pergi karena dia juga harus segera berangkat kerja. Diliriknya sebentar kea rah Leo, tampak Bayu sedang membisikkan sesuatu ke telinga Leo. Seprti pembicaraan rahasia yang tidak boleh ia ketahui.


“Oke, saatnya kita pergi.” Bayu bangkit dari posisi jongkoknya.


“Siap, Uncle!” seru Leo semangat. “Miss Prita, ayo ikut… !” pinta Leo sembari menari-narik lengan baju Prita.


“Hah!? Miss Prita tidak bisa, sayang… Miss Prita harus berangkat kerja.” Tolak Prita.


“Ayolah, Miss! Temani Leo makan siang. Mama papa Leo masih sibuk kerja, tidak bisa makan bareng.” Rajuk Leo sambal terus menarik-narik lengan baju Prita.


“Maaf, sayang… tapi Miss Prita benar-benar tidak bisa.”


“Sesekali nggak masuk kerja kan nggak apa-apa. Kasihan Leo kalua harus makan sendirian.” Ujar Bayu.

__ADS_1


Prita menoleh ke arah Bayu. Lelaki itu tampak tersenyum-senyum. Ia merasa pasti Bayu yang sudah membujuk Leo agar memaksanya ikut. Dilihatnya lagi raut muka Leo yang penuh harap. Akhirnya ia tak tega menolak.


“Baiklah, Miss Prita akan ikut.” Balasnya sambil tersenyum.


“Hore…. “ seru Leo. Anak kecil itu langsung menggandeng tangan Prita dan mengajaknya berjalan di belakang Bayu menuju arah parkiran.


Sesampainya di parkiran, Prita kembali melihat mobil Ferrari Spider warna hitam milik Bayu. Entah mengapa hal itu juga mengingatkannya pada ciuman sialan malam itu. Ia rasanya ingin mencopot otaknya yang selalu mengingatkan hal-hal mesum di kepalanya.


“Miss… Ayo masuk!” pinta Leo.


Lamunan Prita segera lenyap. “Iya, Sayang.” Jawabnya seraya membuka pintu mobil. Tampak Bayu sudah duduk di belakang kemudinya sambal terus tersenyum. Prita mendudukkan Leo di pangkuannya karena mobil itu hanya memiliki dua kursi.


*****


Di depan sebuah hotel bintang lima, Bayu menghentikan mobilnya. Ketiganya turun dari mobil dan berjalan memasuki area restoran yang ada di lantai tiga hotel tersebut. Sesampainya di sana, mereka langsung disambut pelayan restoran yang mengantarkan mereka ke salah satu meja makan dan memberikan buku menu. Prita menyerahkan pesanannya pada Bayu karena dia tidak terlalu paham dengan daftar menu yang diberikan.


Drrt… Drrt…


Ponsel Prita bergetar. Ia lantas mengambil ponselnya dan melihat kontak yang meneleponnya. Ternyata Bu Ayu, atasannya di restoran.


“Halo, Bu.”


“Prita, kamu hari ini tidak masuk kerja?”


“Oh, begitu. Ibu kira kamu kenapa-napa, karena biasanya kamu rajin sekali berangkat.”


“Maaf ya, Bu.”


“Iya, tidak apa-apa. Kamu lanjutkan saja urusanmu.”


“Iya.” Prita mematikan panggilan dan menaruh kembali ke dalam tas.


“Kalau kamu dipecat, kamu boleh pindah bekerja di restoranku. Menjadi pelayan pribadiku juga boleh. Akan aku beri gaji sepuluh kali lipat dari gajimu sekarang.” Celetuk Bayu dengan santainya.


Prita hanya memutar kedua bola matanya mendengar bualan lelaki di depannya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah dia ingin cepat-cepat pulang.


“Permisi… Maaf, sudah membuat Anda lama menunggu.” Ucap seorang pelayan yang baru saja datang mengantarkan pesanan. “Selamat menikmati.” Ucapnya lagi seraya meninggalkan tempat.


“Miss… Terima kasih ya, sudah menemani Leo makan siang.” Kata Leo.


“Iya, sayang. Sekarang, kita makan dulu, ya.” Balas Prita dengan menampilkan senyumannya.


Prita membantu Leo memotongkan steak menjadi kecil-kecil. Anak itu memakannya dengan lahap. Sepertinya steak adalah makanan kesukaannya. Ada rasa Bahagia di hatinya melihat wajah muridnya yang ceria itu.


Bayu sesekali mencuri pandang kea rah Prita di sela-sela kegiatan makanya. Ia senyum-senyum sendiri setiap mengingat dirinya memakai Leo sebagai alas an untuk mendekati Prita.

__ADS_1


Fashback on


“Hai, Bro… “ sapa Bayu yang langsung nyelonong masuk dan duduk di sofa ruang kerja Jimmy, ayah Leo.


“Ngapain kesini?” Jimmy merasa sedikit terganggu dengan kedatangan temannya itu yang tidak memberi kabar dulu.


“Kangen, Bro… sudah lama kita nggak ketemu.”


“Halah, alasan! Kamu kesini pasti ada maunya, kan?” kilah Jimmy.


Bayu langsung terkekeh karena tebakannya benar. “Jim…. Leo itu sekolah di TK Tunas Bangsa, kan?”


Jimmy melirik ke arah Bayu, “Kenapa kamu tanya-tanya tentang anakku?” tanyanya sinis.


“Ya, dia kan sudah seperti keponakanku sendiri. Pengin tahu saja.”


“Kamu itu kalau ingin tahu sesuatu pasti ada udang di balik batu.”


Bayu kembali terkekeh, “Ya, ya… aku tertarik dengan salah satu gurunya Leo. Jadi, boleh nggak hari ini aku yang jemput dia?”


“Oh, astaga… kamu suka orang sampai butuh bantuan anak kecil segala. Tinggal kamu kasih kartu kredit, wanita mana yang akan menolak? Kamu nggak lagi kere, kan?”


“Kalau sesimpel itu, aku nggak akan kesini. Wanita satu ini, nggak akan mau diiming-imingi uang atau barang.”


“Ya, wajar juga. Dia kan seorang guru yang baik. Jadi mungkin kamu yang harus ganti target. Kasihan ibu guru kalau sampai jadi sama kamu. Bu guru nanti tercemar” Jimmy menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sialan! Memangnya aku limbah!” seru Bayu dengan nada marah.


“Memang secantik apa sih guru itu? Sampai temanku ini terobsesi banget.”


“Lihat sendiri nanti sore ya, aku akan bawa dia sekalian mengantar Leo.”


“Oke…. “


“Awas jangan ikut naksir!”


“Ya Tuhan… Renata itu sudah sangat sempurna untukku. Nggak usah khawatir.”


“Ya sudah, aku pergi dulu jemput Leo. Kamu kabari Pak Ahmad supaya nggak usah jemput Leo.”


“Siap, Bro… jagain anakku ya!”


Bayu hanya mengacungkan jempol dan berlalu pergi.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2