ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Terkepung


__ADS_3

Dear readers, beri like ya, agar author semakin semangat untuk menulis. 💕💕💕


---------------------------------‐------------------------------------------------


Malam semakin larut. Tiupan angin pantai terasa dingin menusuk hingga tulang. Prita dan Ayash duduk di atas pasir pantai sambil memandangi gulungan ombak yang datang silih berganti.


Setelah acara makan malam bersama, Irgi dan Raeka memutuskan untuk pulang lebih dulu. Sementara Ayash dan Prita masih ingin menikmati suasana malam di pantai.


Malam itu suasana cukup lengang. Hanya ada beberapa orang yang terlihat di sana, seperti Prita dan Ayash.


Ayash melingkarkan tangannya ke lengan Prita, menyuruhnya menyandarkan kepala di bahu. Cahaya temaram dari lampu-lampu yang terpasang sepanjang tepian pantai menciptakan suasana romantis.


"Tiga tahun lamanya kita pacaran. Rasanya jarang sekali kita menghabiskan waktu bersama seperti ini. Bahkan meskipun setiap hari kita bertemu, tapi kita seperti berada di dunia berbeda. Kita lebih banyak bersenang-senang justru saat kita berteman di SMA dulu." ucap Prita.


Ayash mengeratkan pelukannya, "Maafkan aku. Aku belum bisa meluangkan banyak waktu untukmu."


"Aku tidak sedang menyalahkanmu. Aku hanya kadang rindu dengan masa-masa dulu. Saat kita remaja, kita tidak pernah memikirkan betapa susahnya orang dewasa mencari uang. Yang kita tahu hanya main, main, dan bersenang-senang. Sekarang, saat kita sama-sama dewasa, pikiran kita penuh dengan pekerjaan. Tidak ada waktu lagi untuk main dan bersenang-senang. bukankah itu lucu?"


"Usia kita memang bukan saatnya lagi bermain-main. Kita harus menginvestasikan waktu kita untuk masa depan yang lebih baik." jawab Ayash dengan bijak.


"Bagaimana kondisi perusahaanmu sekarang?"


"Yah... lumayan. Perusahaan sudah banyak menjalin koneksi dengan perusahaan lain. Semoga saja perusahaanku bisa berkembang baik seperti perusahaan papa dan kakakku."


"Ah, iya. Bagaimana kabar kak Arga? Dia tidak pernah pulang ke sini, ya?"


"Dia sepertinya betah tinggal di Kota J. Aku juga selama kuliah di sana jarang bisa bertemu kakakku. Sibuk sekali dia mengurusi beberapa perusahaan miliknya. Hah... kadang aku iri, kakakku sudah memiliki 3 perusahaan sendiri. Sedangkan aku... satu perusahaan saja belum papa percayakan padaku."


"Bersabarlah... kamu hanya perlu membuktikan kalau kamu benar-benar mampu membuat perusahaan lebih maju. Aku percaya kamu bisa. Aku selalu mendukungmu."


"Terima kasih. Aku semangat bekerja juga karenamu. Aku ingin segera menikah denganmu."


"Ah! Kak Arga kan juga belum menikah. Apa boleh kita nanti melangkahinya?" Prita ragu.


Ayash menghela nafas, "Hah... aku juga tidak tahu kakakku itu menyukai wanita atau tidak. Dia tidak pernah sekalipun pacaran. Sepertinya pacarnya itu ya pekerjaannya."

__ADS_1


"Masa, sih?"


"Beneran. Aku kan pernah tinggal di rumahnya juga. Nggak pernah dia bawa pacar. Bahkan weekend juga dia tetap bekerja. Wajar sih, dia sangat sukses sekarang. Kakakku memang pekerja keras."


"Kalau kamu sendiri, waktu SMA pernah pacaran nggak sih?"


Ayash menghadapkan wajah Prita padanya, "Menurutmu...?" ia membulatkan bola matanya.


"Mmm... Aku memang tidak pernah melihatmu pacaran, sih... "


"Ya berarti nggak pernah!"


"Siapa tahu kan kamu pacaran sembunyi-sembunyi..."


"Mana ada yang seperti itu? Setiap hari aku terus bersamamu, Irgi, Vino, dan Andin."


"Iya, sih... Mmm... Kalau waktu kuliah... kamu pernah pacaran?"


"Nggak pernah juga."


"Memangnya kamu nggak pernah pacaran dengan Irgi?"


"Hah... kok pacaran dengan Irgi? Ya nggak pernah, lah! Kenapa kamu bisa sampai berpikir begitu?"


"Ya siapa yang nggak bakalan mikir kalau kalian pacaran. Orang hubungan kalian itu bahkan sudah seperti pengantin baru, kemana-mana bareng terus." ucap Ayash ketus. "Gara-gara itu, dulu aku maju mundur mau menyukaimu." lirihnya.


"Iihh... Kalau suka ya tinggal bilang! Aku juga suka banget dulu sama kamu. Tapi aku takut, kalau kamu tolak nanti kita nggak bisa bersahabat lagi."


"Mana bisa begitu. Melihat kalian saja sudah membuatku mau mundur. Sampai terakhir rencana kuliah, kamu juga mau mengikutinya kuliah di Singapura, kan?"


"Ah, itu karena kamu bilang belum tahu mau kuliah dimana. Dan Irgi bilang di Singapura ada universitas bagus untuk jurusan teknik perminyakan. Hahaha... aku dulu aneh juga, pernah ingin jadi sarjana teknik perminyakan." Prita kembali menatap Ayash, "Kalau kamu sendiri, kenapa dulu bilang mau ikut kuliah di Singapura?"


"Ya, karena ingin belajar bisnis." jawab Ayash asal. Sebenarnya alasannya ingin kuliah di Singapura karena mengikuti pilihan Prita.


"Terus, kenapa akhirnya kuliah di Kota J?"

__ADS_1


"Karena aku tidak mau jauh-jauh dari kamu." ucap Ayash sembari mendaratkan kecupan di bibir Prita. Mereka berciuman di bawah temaramnya lampu pantai diiringi suara kesunyian, hanya terdengar deru ombak dan hembusan angin malam.


"Ayo kita pulang sekarang." ajak Ayash. Ia meraih tangan Prita untuk membantunya berdiri.


Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju tempat parkir yang cukup jauh.


Ketika mereka melewati jalanan yang sepi, belasan orang berpakaian hitam mengepung mereka. Prita mengeratkan genggaman tangannya. Kejadian ini sama persis dengan yang pernah ia alami satu bulan lalu. Ia ketakutan.


"Jangan takut." lirih Ayash untuk menenangkan Prita. Prita hanya mengangguk.


"Kalian mau apa?" tanya Ayash


"Ikut kami dengan baik-baik dan kami tidak akan melakukan hal kasar." jawab seorang di antara mereka yang berambut gondrong dengan tangan penuh tato dan kaosnya berlogo Kalong Merah.


Ayash mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencoba membaca situasi. "Tidak mau!" tegasnya.


Ayash melepaskan gandengan tangan Prita. Ia langsung maju menghajar orang-orang yang mengerumuninya. Meskipun keroyokan, ia masih mampu melawan dengan teknik bela diri taekwondo yang pernah ia ikuti saat SMA.


Ayash terus melakukan aksinya, meninju dan menendang lawan-lawannya hingga satu persatu dari mereka berjatuhan dengan kondisi babak belur.


"Hantikan!" Seru salah satu orang.


Ayash membalikkan badan ke arah suara. Matanya membulat dan tangannya mengepal ketika melihat orang itu menodongkan pistol ke arah Prita.


"Ikut kami. Kalau tidak, aku tembak wanita ini!" ancamnya.


Prita hanya mematung di sebelah orang yang sedang mengancamnya. Orang itu menyeret Prita masuk ke dalam mobil.


Ayash diam di tempatnya dan sudah tidak melawan lagi. Seseorang mengikat tangannya ke belakang dengan seutas tali. Kemudian ia membawanya ke dalam mobil yang sama dengan Prita. Di sisi kanan kiri mereka ada yang menjaga agar mereka tidak kabur.


Prita memandangi wajah Ayash dengan tatapan ketakutan. Rasanya ingin sekali dia menangis saking takutnya. Namun melihat Ayash tersenyum padanya dan memberikan isyarat agar ia tidak takut, hatinya menjadi tenang.


Mobil yang mereka naiki mulai bergerak. Di bagian depan, belakang, samping kanan dan kiri ada mobil pengiring. Sepertinya tidak ada celah untuk kabur sama sekali.


Ayash sebenarnya sudah beberapa kali menghadapi kondisi seperti itu. Namun ia selalu berhasil lolos dari mereka. Kali ini, mungkin ia sedikit lengah sehingga keamanannya dan Prita kembali terancam.

__ADS_1


__ADS_2